My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
London University, Familiar people


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


...4 Tahun kemudian.......


Waktu yang berlalu begitu cepat, tanpa terasa sudah membawa Ken sampai pada titik ini..


Sejak 1 tahun lalu ia sudah menginjakan kakinya dan menetap di London untuk melanjutkan studinya. Ia pergi jauh dari rumah, meninggalkan mommy dan juga Dady nya. Seperti Zozo, Ken juga memiliki mimpinya sendiri. 


Tanpa ia sadari, ia semakin dekat dengan apa yang ia inginkan sejak lama.. mencapai kesuksesan secepat mungkin. Berdiri sebagai seorang penerus Zoya's Group, dan..


''Kelas lo padat banget hari ini? Jeremy sama Tania ngajakin kita ke party temen nya, katanya sih B'day party gitu, lo ikut?"


Leon menyapukan bokong nya di atas sofa yang tak jauh dari tempat Ken berdiri saat ini. 


Sejak 1 tahun yang lalu, Ken dan Leon sama-sama melanjutkan studi di London. Universitas yang sama hanya jurusan keduanya saja yang berbeda. 


''Males gue. Itu kan temen lo,- lo aja yang pergi- lagian sama aja kan?" tolak Ken yang sejak dulu memang tidak menyukai keramaian. Sejak kecil Ken hanya menyukai acara-acara formal yang hadiri sedikit orang dibandingkan dengan acara yang adakan bagi banyak orang. 


''Ya elah.. kan temen lo juga, udah sering gabung kan...?''


''Lo aja. gue masih banyak kelas, jadwal gue padat, gak kaya lo!'' tolak Ken lagi. 


'Eh? maksudnya apaan tuh kaya gue..? gue gak ada studi gitu.. atau apa sih.. eehh..?"


'Males gue ngomong sama lo!'' Ken beranjak dari tempatnya  lalu masuk ke dalam kamar untuk mengambil ranselnya. ''Beresin nih apartemen, giliran lo!'' peringatnya pada Leon. 


'Berangkat lo? pagi banget..?''


''Gak punya tujuan hidup lo? gak punya jam..?'' 


'Sialan lo!''


Leon memang selalu memaklumi sikap sahabatnya itu. Meskipun keduanya terkadang selalu berdebat, tapi sosok seorang Ken akan selalu tau batas, begitu juga dengan Leon, mereka tak akan sungkan untuk mengakui, jika mereka bersikap salah pada sahabatnya. Begitu juga dengan kata-kata sinis yang membuat telinga memerah, Leon sudah terbiasa dengan hal itu. Sahabatnya itu memang tidak pernah berubah, selalu konsisten dalam bersikap, berkata dan bertindak. 


'Woii.. ketemu di kampus ya.. tungguin gue disana..!''


seru Leon sebelum Ken menutup pintu apartemen mereka. Tak ada sahutan ataupun bahasa isyarat, Ken hanya mengabaikan Leon seperti biasanya. 


Satu tahun yang lalu, saat Leon mengetahui jika Ken akan melanjutkan studinya di London. Leon juga meminta kepada orang tuanya untuk melanjutkan studi nya bersama sahabatnya itu. 


Awalnya Ken menolak untuk tinggal bersama Leon, - tapi akhirnya Leon dapat membujuk sahabat Es nya itu. Dan jadilah mereka penghuni salah satu apartemen mewah di *1*07 street, London.


Keduanya kompak tak ingin menggunakan jasa pembersih rumah, Ken dengan sigap telah membuat jadwal untuk keduanya bergantian membersihkan apartemen yang mereka tinggali.

__ADS_1


Baik Ken maupun Leon, selalu menjaga area privasi mereka dengan baik. Masing-masing dari mereka tak boleh saling mencampuri urusan yang lainnya, dan tentang kesepakatan tersebut, semuanya adalah keinginan Ken, dan Leon hanya mengikuti apa yang di inginkan sahabatnya itu. Jika ia ingin tinggal lebih lama dengan Ken, maka Leon harus mengikuti setiap peraturan yang sudah Ken tetapkan. 


Bukan karena seorang Leon tak bisa mencari tempat tinggalnya sendiri. Keluarga nya lebih dari berkecukupan untuk melakukan itu, hanya saja Leon sangat menyukai Ken, melebihi saudara nya sendiri. 


Selama mereka berteman, meskipun Ken selalu bersikap dingin dan juga seadanya pada Leon, Ken adalah sosok yang jujur dan juga jauh dari kepura-puraan seorang teman pada umunya. 


Jika Ken berkata tidak, maka itu artinya tidak! Begitu juga sebaliknya. Sosok seorang Ken membuat Leon belajar banyak hal, meskipun terkadang Leon memiliki sikap pemberontak dalam dirinya, namun Ken selalu bisa membuatnya memiliki batasan diri. 


Setelah merapikan area ruang tamu, Leon mengambil vakum cleaner, Leon harus membersihkan semua nya sampai sebersih mungkin. Alasannya; karena Ken termasuk seseorang yang gila akan kebersihan.


Diawal-awal Leon tinggal bersama Ken, Leon hanya memperhatikan sahabatnya itu saat gilirannya membersihkan rumah.


Dan ketika giliran Leon tiba, apa kalian tau? Leon harus mengulang semuanya  sebanyak tiga kali. Tidak hanya menyapu, tapi semua pekerjaan, dan akan berhenti sampai Ken mengatakan semuanya bersih sesuai standartnya. Sejak saat itu Leon belajar untuk melakukan semua nya dengan baik  dan juga sangat-sangat bersih. 


Akhirnya semua pekerjaan Leon selesai, ruang tamu, atas meja, dapur, semuanya sudah bersih rapi, wangi dan tentunya bebas debu. Ahh.. Lama-lama Leon merasa dirinya bahkan lebih hebat dari seorang ART.


''Ahh.. aku lupa, seharusnya aku memeriksa semua email itu hari ini.'' Leon mengambil laptopnya dan memeriksa email yang di kirimkan teman nya semalam.


Selama ini Leon telah memeriksa begitu banyak akun dengan nama Shreya, dan kalian tau berapa banyak orang dengan nama itu?sangat banyak. Leon mencari dengan menggunakan nama keluarganya; Brasca, itu juga tidak berhasil. Di semua jejaring sosial juga tak luput dari pantauan Leon, namun sepertinya gadis itu juga tak menggunakan media sosial apapun.


Saat masih berada di Senior high school, sesekali Leon akan mengunjungi miss Casandra untuk menanyakan  kabar Shreya dan juga pak Damian, mengingat saat itu miss Casandra adalah kekasih pak Damian. Tapi kalian tau apa jawaban wali kelas Leon..? 


''Belajar saja yang giat, dan luluslah dengan cepat agar kalian bisa menyusulnya. Jangan hanya bertanya, yang pasti Shreya baik-baik saja di tempatnya saat ini.''


Hanya itu yang akan dikatakan oleh miss Casandra, saat Leon ingin bertanya lebih lanjut, miss Casandra akan memutuskan pembicaraan dengan meminta Leon kembali ke kelas.


Entahlah. Leon tak bisa menebaknya sedikit pun. Sejak Ken meminta kepada Leon untuk tidak lagi menyebut nama Shreya di hadapannya. Sejak itu pula Leon tak pernah menyinggung Shreya ataupun menyebut nama itu di hadapan Ken. Entah apa alasan sahabatnya itu, Leon tak pernah mempertanyakannya, yang ia tau Ken pasti memiliki jawaban nya sendiri, dan yang Leon tau juga bahwa Ken menyimpan perasaan untuk Shreya, si gadis barbar. 


Setelah melacak semua alamat akun yang dikirimkan, ternyata alamat tersebut bukanlah milik Shreya yang dicari Leon selama ini, sepertinya ia harus kembali bersabar untuk menunggu sedikit lebih lama. Jika memang tak bisa ditemukan, bukankah seharusnya mereka cukup mengenang Shreya? Dan mungkin inilah alasan Ken tak ingin menyinggung Shreya selama ini, karena ia tak ingin di kecewakan oleh kenyataan, seperti yang dirasakan Leon. 


...❄️❄️...


...Universitas London ......


Didalam kelas, perkuliahan sudah berlangsung kurang lebih selama dua puluh menit, dan Ken mendengarkan dengan seksama ketika Profesor menyampai materi kuliahnya.


Mata kuliah saat ini berkaitan dengan materi yang sangat penting bagi studi Ken. Bisa dikatakan ini adalah mata kuliah prioritas bagi nya.


Ditengah-tengah perkuliahan, pintu ruangan yang sudah tertutup rapat dengan suasana hening yang seharusnya, tiba-tiba saja pintu itu kembali terbuka, hingga profesor yang tadinya berbicara pun terdiam, dan mengarahkan pandangannya ke arah pintu masuk.


Ken menghela nafasnya, - entah mahasiswa dari jurusan mana yang berani berbuat seperti ini. Setahu Ken, profesor yang saat ini berdiri di depan kelas itu adalah salah satu profesor terkiller di kampus ini. 


''Permisi, maaf profesor,- 


DEG... 


Suara itu, suara yang sangat familiar ditelinga Ken. Setidaknya ia pernah mendengar suara yang seperti ini.. meskipun sudah cukup lama ia sudah tidak mendengarnya lagi.


''Saya mengambil kelas ini untuk satu semester ke depan , dan ini pertemuan pertama saya, maafkan saya sudah terlambat, saya tersesat.- ucapnya membuat mahasiswa lain terkikik mendengar alasan itu. 

__ADS_1


Ken memperhatikan dari tempatnya duduk. Seorang gadis berambut pendek di atas bahu dengan kemeja berlengan pendek berwarna cream, terlihat cukup familiar bagi Ken. 


''Siapa namamu? Karena ini hari pertama mu kau boleh duduk, jika kau terlambat lagi, kau tidak akan diterima di kelas ku.'' 


''Lova prof,-


DEG... 


''Penelova mosley,-


...Bukan Shreya Brasca, melainkan Penelova Mosley?...


''Baiklah miss Mosley, silahkan duduk dan kita lanjutkan materinya,- ujar Profesor, yang tak lama kemudian kembali pada materi perkuliahannya. 


''Mengapa aku merasa tidak asing dengan gadis ini? siapa dia sebenarnya..?''


Setelah perkuliahan berakhir, satu per satu semua orang pergi meninggalkan kelas. Ken sengaja bertahan menunggu sampai Lova meninggalkan kelas,- ia hanya ingin memastikan nya saja, jika ia benar-benar familiar dengan gadis itu. Saat Lova beranjak dari tempat duduknya, Ken juga meninggalkan tempatnya. Ia mengikuti Lova dengan jarak aman. Ia hanya ingin tahu gadis itu dari jurusan apa dan juga akan pergi ke kemana setelah ini. 


''Ken!''


Leon melambaikan tangannya saat melihat Ken yang berjalan cepat di lorong kampus. Tapi selalu saja seperti ini. Ken mengabaikannya, seakan Leon adalah orang asing. Jika sudah seperti ini, Leon tak punya pilihan selain mengejar Ken. 


''Woiii... lo mau kemana sih?" Leon mengalungkan tangan nya di pundak Ken saat ia dapat menyamakan langkah keduanya, membuat Ken terhenti sejenak.  ''Apa..? sana lo gue ada urusan!'' Ken melepaskan tangan Leon. Lalu kembali mempercepat langkahnya. 


Sekarang kemana perginya gadis itu? Ken bahkan sudah kehilangan jejaknya karena ulah Leon. Sahabatnya itu selalu saja datang disaat yang tidak tepat. 


Jika sudah seperti ini, Ken hanya bisa menunggu pertemuan berikutnya di kelas yang sama. Atau menunggu ia bertemu lagi dengan gadis itu entah dimana pun itu. Ken benar-benar merasa bahwa ia mengenal gadis itu. Tapi entah kenapa ia harus peduli? ini bukan seperti dirinya saja.. 


''Lo ngapain sih, nyariin siapa? perlu gue bantu?" tawar Leon yang saat ini sudah kembali berdiri di sebelah Ken sambil ikut mencari-cari, tapi entah apa yang ia cari.. 


Ken hanya terdiam, melihat wajah Leon. Terkadang ia sangat ingin bergulat dengan sahabatnya itu, Jika bukan karena Leon, saat ini mungkin ia sudah tau kemana perginya gadis bernama Penelova mosley itu. 


''Kenapa melihat ku begitu? apa aku terlalu tampan?- Jangan katakan kalau kau...-


Plak! 


Ken melayangkan tangan nya ke bahu Leon, membuat laki-laki itu meringis. ''Buang jauh-jauh pikiran mu itu!'' ucap nya lalu pergi. 


''Ken, woii gue bercanda kali.. tungguin gue!'' 


Ken dan Leon selalu saja menjadi pusat perhatian saat berada di kampus. Bukan hanya karena wajah keduanya yang terbilang tampan dan juga stylis. Tapi karena keduanya selalu bicara menggunakan bahasa indonesia- lebih tepatnya, bahasa gaulnya anak muda di indonesia. Salain bicara dengan dosen dan juga teman asing lainnya, keduanya akan selalu menggunakan bahasa indonesia. 


Menurut Keduanya, hal itu sangat praktis untuk menjaga privasi mereka. Mereka dapat mengatakan apa saja dengan bahasa yang hanya di mengerti oleh keduanya. Salah satu cara untuk mengurangi kadar kekepoan mahasiswa lain. 


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2