My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
HIGH SCHOOL, KEN AND FRIEND's


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Seperti sekolah elite kebanyakan, sekolah yang Ken pilih ternyata menerapkan peraturan yang sama.


Siswa dengan nilai akademik di atas rata-rata atau yang sering juga dikenal dengan kata 'Kaum Genius' akan menempati kelas B Begitu juga selanjutnya dengan nilai menengah sampai dengan nilai rata-rata, mereka akan di bagi untuk mengisi ruang C sampai dengan E menurut standarnya masing-masing. Sementara sisanya, akan di tempatkan di dalam kelas A.


Untuk aturan di dalam kelas ini, hanya orang-orang tertentu yang bisa mengisinya, yaitu;


Haruslah seorang real genius atau di atas rata-rata orang genius. Haruslah kaum elite dengan latar belakang keluarga yang kuat dan terpandang.


Orang-orang populer yang di anggap sebagai Iconic untuk pencitraan sekolah, orang-orang ini termasuk anak-anak yang berprestasi seperti seorang model atau memiliki bakat dan juga prestasi non akademik lainnya.


Demikianlah Ken, Leon, dan Viona, ketiganya bergabung di kelas yang sama. "Hei, kita bertemu lagi." Leon mengulurkan tangannya pada Ken, yang saat itu tengah membaca buku di kursinya.


"Hmm. Ken." balasnya, menerima tangan Leon.


"Aku Leon. Boleh duduk di sampingmu kan? pecandu buku?" Leon mengedipkan matanya, dengan santai mengambil kursi untuk mengisi tempat di sebelah Ken.


Leon adalah salah satu siswa populer karena prestasi olah raganya, dia adalah seorang pemain basket yang banyak di kagumi oleh para gadis, baik didalam dan diluar sekolah.


"Kenapa harus bertanya jika kau tak perlu ijin untuk mendudukinya!" Ken mendumel sendiri. Ia tak ingin ambil pusing dengan teman sekelasnya tersebut, karena itu ia lebih memilih untuk melanjutkan bacaannya.


Ken sengaja memilih baris ketiga dan dekat dengan jendela agar dapat menikmati udara segar saat ia sedang membaca atau bermain game sebagai pilihan lainnya.


Tiba-tiba saja Ken kembali merasa terganggu saat Leon menyenggolkan sepatu ke kaki meja nya. "Hei.. dia datang!" pekik Leon, dengan suara antusias melihat kearah pintu.


Viona masuk ke dalam kelas bersama seorang siswi lainnya yang hanya mengantarkan sampai di depan pintu. Seperti yang selalu Ken duga, gadis itu akan bertingkah manis dan bersikap polos.


Hal yang selalu di lakukan putri-putri orang kaya pada umumnya. Dan Ken sudah sering melihat hal tersebut di sekolah nya sebelum ini.


Viona adalah salah satu siswi populer dari kalangan berbeda, dia adalah seorang model remaja yang sudah di akui sebagai seorang model profesional, mengingat wajah gadis itu juga terkenal sebagai brand make up dan juga fashion untuk para remaja putri.


"Vi, disini aja! kosong kok." seru Leon. Menunjuk meja dan kursi di depannya. Seperti dugaan Ken, tampa meleset sedikitpun, Viona berjalan malu-malu dengan tingkah manisnya menghampiri meja mereka.


"Bolehkah aku duduk disini?" tanya nya dengan mata berbinar tidak lupa juga senyuman ala-ala gadis populer yang dapat meluluhkan hati para pria naif seperti Leon.


"Apa sih yang gak buat kamu, duduk aja." Leon menarik kursi dan mempersilahkan Viona duduk, namun bukannya langsung duduk, Sebaliknya gadis itu memilih untuk mengambil kursi di depan Ken. "Aku akan duduk disini saja, disini lebih sejuk jika jendelanya terbuka." katanya lagi, masih bersikap manis.


"Oh.. kau bisa duduk disitu, sepertinya terlihat nyaman juga." ucap Leon dengan kikuk, sambil melirik pada Ken.


Sementara Ken hanya menatap jengah pada keduanya.."Kau ingin duduk disini?" bisik Ken pada Leon, saat Viona sudah duduk dengan santai.


Wajah kikuk Leon berubah berbinar mendengar tawaran tersebut, "Kita bertukar! Aku mohon." ucapnya bertekad yang membuat Ken hampir tertawa. Menurutnya terlalu konyol jika diawal studi yang pertama kali di lakukan adalah mengejar seorang gadis seperti yang di lakukan Leon.

__ADS_1


"Tidak!" jawab Ken dengan wajah yang berubah tanpa ekspresi.


Seketika Leon mengumpat saat mendengar jawaban Ken. Ini adalah kali pertama ia merasa di permainkan seperti ini.


Setelah hampir semua siswa menempati kursi, masih tersisa satu kursi lagi, yaitu kursi di depan Leon.


Tak ada yang berani mengisi tempat tersebut saat Leon memberikan tatapan tak bersahabat pada orang-orang yang ingin mendudukinya. Leon masih berharap Viona akan berubah pikiran.


Semua siswa saling tertukar sapa dan berkenalan sebagai teman sekelas, tak terkecuali Viona yang juga ikut membaur dengan gadis-gadis lainnya, sementara Ken masih bersikap dingin dan tak tersentuh, ia tak akan mengkhawatirkan urusan tak mendapatkan teman, toh sejak tadi Leon selalu duduk di depannya, dengan pandangan memuja yang selalu di tujukan pada Viona.


"Katakan saja kalau kau suka padanya." ucap Ken disela-sela kesibukan nya membaca.


"Heh? kau bicara padaku?" jawab Leon yang kurang fokus pada apa yang Ken katakan. "Aku tidak akan mengatakannya di hari pertama kita sekolah, itu akan melukai harga diri ku kawan." ucap Leon, bersikap jual mahal.


"Untuk apa harga diri, jika tingkah mu saja sudah membuat seisi ruangan mengetahui niatmu!" kata Ken lagi, yang langsung di tanggapi serius oleh Leon.


"Aku? kapan? aku biasa saja." elaknya lagi, dengan gaya cool.


"Ya.. ya.. baguslah kalau begitu, atau lalat akan membuat kemah di mulutmu." sela Ken, dengan sikap cueknya.


Setelah bel berbunyi semua siswa kembali ke kursinya masing-masing, untuk menunggu wali kelas menemui mereka dan memulai perkenalan.


Seorang Wanita berusia diawal tiga puluh, memasuki ruangan dengan wajah penuh kharisma menatap tajam seisi ruangan.


"Hallo student. Perkenalkan, saya Casandra, saya akan menjadi wali kelas kalian selama kalian masih di tingkat pertama."


"Hei, bukan kah itu dia,- bisik seorang siswa lainnya. "Ssttt. Iya aku tau. Itu dia. Miss persahabatan." bisik seorang siswa lainnya.


Tuk..


Tuk..


Tuk..


Suara ketukan spidol di atas meja, membuat para siswi yang tadinya berbisik seketika menjadi diam. Ruangan kembali hening.


"Selama saya berada di dalam ruangan, saya harap kalian memperhatikan etika kalian. Kalian harus ingat apa yang membuat kalian berada di dalam kelas ini. Jangan lupakan itu!" peringat miss Casandra, pada semua siswa, yang langsung di angguki oleh siswa kebanyak.


"Yang duduk di barisan ketiga, meja nomor dua dari kiri, Students siapa namamu?" tunjuk miss Casandra pada Leon, yang sejak tadi tak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Viona. Kelas menjadi kembali riuh saat Leon tak kunjung memberikan respon.


Viona yang juga memperhatikan Leon tertawa kecil, bangga akan pesona yang ia miliki.


"Hei.. Leon..?" Viona setengah berbisik.


"Hmm..?" jawabnya sambil menopang dagu dan terus menebarkan senyuman kekaguman. "Psst. Miss Casandra memanggilmu!" kata Viona mengulang.


"Siapa..?" jawabnya. Yang seketika membuat miss Casandra melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memicingkan mata pada Leon.


"Wali kelas kita." ucap Viona lagi kembali berbisik, merasa sedikit tak nyaman dengan keributan yang baru saja Leon ciptakan.


"Biarkan sa,.. huh? Wali Kelas?" Leon yang baru menyadari kehadiran miss Casandra di ruangan tersebut seketika memucat.

__ADS_1


"Ya miss, saya disini." kata Leon berdiri dari kursinya memberi perhatian. Dan lagi-lagi tingkah Leon mengundang tawa seisi ruangan, kecuali Ken. Ia tak bergeming sedikitpun.


"Diam lah!" ucap Miss Casandra dengan tegas, membuat Leon semakin memucat.


"Untuk seukuran seorang pria muda yang cukup populer, tolong perhatikan etika mu! ini yang pertama dan terakhir." peringat nya pada Leon.


Miss Casandra masih memberikan kelonggaran pada Leon di hari pertama. Jika seperti hari-hari biasanya, maka Leon akan segera di perintahkan mencabut rumput di area Hidroponik, atau membersihkan lantai Aula sekolah. Namun kali ini, Leon masih diberikan kesempatan.


"Baik miss akan saya ingat." jawab Leon merasa lega, dan segera kembali duduk di kursinya.


"Kenapa kursi di depan mu kosong? apa masih ada yang belum mengisi tempat nya?" tanya miss Casandra lagi pada Leon. Ia kembali memeriksa absensi kelas. Seharusnya para siswa berjumlah dua puluh empat.


"Emm.. sebenarnya, saya..


Tok.. tok..


Pintu yang sudah tertutup kembali di ketuk. Ini juga baru pertama kali terjadi di dalam kelas miss Casandra selama ia menjadi seorang guru.


"Kelas ini sungguh diluar dugaan." gumam miss Casandra pada dirinya sendiri.


Setelah merubah raut wajahnya yang nampak sedikit kesal, miss Casandra memasang wajah professional menghadap ke pintu, masih dengan tangan terlipat di depan dada.


"Masuklah!" serunya. Yang juga menantikan siswa mana yang berani kembali berulah.


Seketika pintu itu kembali terbuka. Para siswa menantikan orang populer mana lagi yang akan mengisi ruangan tersebut.


"Maafkan saya, miss. Saya akan menerima hukuman saya." ucapnya dengan mengangkat tangan membuat simbol 'peace' disertai senyuman tak bersalah.


Miss Casandra menghela nafas, lalu raut wajahnya tak lagi menegang. "Masuklah Mr.." katanya lagi lebih lembut.


"Student, perkenalkan ini adalah Mr. Damian. Beliau adalah,..


"Saya adalah guru olah raga. Kita akan sering bertemu." Damian memperkenalkan diri.


"O'ya miss, saya mengantarkan seorang siswi yang tersesat." ucapnya, sambil mengedipkan mata. Miss Casandra hanya menganggukkan kepala, memberikan persetujuan.


"Masuklah student.." seru Damian dari dalam kelas.


...❄️...


...❄️...


...❄️...


...NEW CARACTER 😉...




...CARACTER BERIKUTNYA AKAN ADA DI NEXT CHAPTER.. 😉...

__ADS_1


__ADS_2