My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
THE AGREEMENT


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


"Semua nya sudah selesai pak, akan saya kirim kan file nya ke email bapak." Calista membereskan semua berkas setelah pertemuan mereka dengan klien di sebuah restoran.


"Baiklah. O,ya Calista, tolong kosongkan jadwal saya siang ini, saya ada urusan diluar." pinta Zen pada sekretarisnya.


"Baik pak, akan segera saya kosongkan. Apa ada yang lain lagi pak..?" tanya Calista memastikan sekali lagi.


"Itu saja. Tidak apa-apakan kalau saya turun kan di depan kantor, saya ingin segera berangkat." tambah Zen.


Zen dan Calista pergi menggunakan mobil yang sama. Karena Zen sudah berjanji ingin menjemput Zoya, maka Zen tidak menggunakan supir.


"Tidak apa-apa pak."


Lima belas menit kemudian mobil Zen sudah memasuki halaman parkir perusahaan nya. Ia memberhentikan mobilnya tepat di depan Lobi dan membiarkan sekretarisnya turun di sana.


'Terima kasih pak, hati-hati saat mengemudi." Calista menundukkan sedikit kepalanya. "Selamat siang non.. " Sapa pak satpam yang menjaga pintu Lobi perusahaan besar itu.


"Selamat siang juga pak.." Balas Calista.


Mengingat jam makan siang tinggal sebentar lagi, Calista hanya naik ke ruangan nya untuk menaruh tas dan juga beberapa berkas, setelah nya kembali keluar untuk makan siang.


Calista bukan lah orang biasa. Meskipun ia hanya bekerja sebagai seorang sekretaris di perusahaan milik Zen, namun ia berasal dari keluarga terpandang.


Ayah nya adalah seorang dokter bedah terkenal, almarhum ibunda nya juga merupakan seorang dokter Jantung di sebuah rumah sakit besar, Calista juga mempunyai seorang kakak laki-laki yang berprofesi sebagai seorang jaksa terkenal di Ibu kota.


Dan Calista, ia memilih bekerja menjadi seorang sekretaris hanya sebagai batu loncatan sebelum ia menapaki karier nya yang lain.


Ia ingin belajar dari nol, dan perusahaan Zen lah yang ia pilih.


Calista pergi ke parkiran untuk mengambil mobilnya, kemudian pergi keluar untuk makan siang. Beruntung Zen adalah atasan nya, Zen tidak pernah menuntut Calista secara berlebihan sebagai seorang atasan.


Dan calista cukup tau posisinya, sehingga ia mengerjakan semua pekerjaan nya dengan baik, dan sebisa mungkin tanpa cela.


Lima belas menit perjalanan, mobil Calista sudah terparkir di depan Cafe X. Kebetulan pemilik Cafe ini adalah kekasih kakaknya.


BRUUKK..


Ponsel Calista terlempar jatuh dari tangan nya karena tubrukan tidak sengaja dengan orang di depan nya.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja." memungut dan mengembalikan ponsel Calista.


"Tidak apa-apa."


Calita menerima ponselnya.


"Sepertinya tergores.."


"Apa..?"


"Ponsel mu."


"Ahh, tidak apa-apa. aku akan memperbaikinya nanti." jawab Calista tetap ramah. "Aku benar-benar minta maaf. Nama ku Jordan. Kau...?"


"Calista." Keduanya saling bersalaman.


"Ingin makan siang..?" tanya Jordan lagi. "Ya."


"Kalau begitu aku traktir, anggap saja sebagai permintaan maaf ku."


"Tapi aku benar-benar tidak apa-apa. Tidak perlu melakukan itu."


"Aku memaksa.." Jordan tersenyum manis. "Baiklah."

__ADS_1


Mau tak mau Calista menerima tawaran Jordan. Mereka memilih tempat duduk yang biasa Jordan tempati saat datang kesana.


"Sering kesini..?" tanya Jordan.


"Cukup sering. Kau..?"


"Baru beberapa kali. Aku suka disini."


"Aku tidak bertanya."


"Oh. Baiklah."


HA-HA-HA..


"Dari penampilan mu, seperti nya kau seorang wanita karier." tebak Jordan menilai penampilan Calista.


"Tau dari mana..?"


"Fashion mu, dan juga name tag mu." tunjuk Jordan pada tanda pengenal yang masih Calista kenakan di kemeja nya.


"Ya kau benar. Dan kau.. ?"


"Aku tenaga pengajar."


"Kau seorang guru..? benarkah..?"


"Apakah setidak meyakinkan itu wajahku sebagai seorang tenaga pengajar..?" jawab Jordan. "Oh.. maafkan aku, aku tidak bermaksud."


'Tidak apa-apa. Sebenarnya aku seorang Dosen. Baru mengajar sekitar 2-3 bulan ini."


"Waw.. itu menakjubkan." puji Calista.


"Kau berlebihan nona. O, ya ku mau pesan apa..?"


"Aku? mereka sudah tau apa yang biasa aku makan disini.' jawab Calista.


"Hem, baiklah nona pelanggan."


...❄️❄️...


Sesuai dengan Janjinya, Zen sudah berada di rumah Zoya pukul 11.30.


"Mollie... ?"


"Haii sayang, apa kau dari kantor..?" Julie menyambut Zen. "Ya mollie, dimana Zo'e..?"


"Zoya..? sepertinya masih di kamarnya."


"Hem. Baiklah. Aku naik dulu."


"Zen, mau makan siang bersama..? seru Julie.


"Aku sudah ada janji Mollie.. " jawab Zen sambil terus menaiki tangga. Julie hanya menggelengkan kepala.


Tok..tok...


Zen mengetuk kamar Zoya, namun tidak ada jawaban dari dalam. Zen membuka pelan kamar Zoya.


Pantas saja tidak ada jawaban, gadisnya sedang menggunakan earphone, mengerjakan sesuatu di atas meja kerja di pojokan kamar sambil menggerakkan kakinya.


CUP..


Zen mengecup pipi Zoya. Membuat Zoya terkejut dan melepas alat yang terpasang di telinga nya.


"Kakak...?"


"Selamat siang gadis kecil." Zen tersenyum manis pada Zoya, seolah kecupan itu hal yang biasa. Namun berbeda dengan Zoya, wajahnya kini tengah merona.


"Apa ni sudah waktunya..?" Zoya memalingkan wajahnya. "Santai saja. Aku memang menjemputmu lebih cepat, karena aku merindukan mu."


Blush..

__ADS_1


Sekali lagi wajah Zoya merona dan jantung nya berdegup lebih cepat. "Aku akan bersiap-siap. Kakak tunggu saja di bawah." Zoya mendorong pelan Zen agar keluar dari kamarnya.


"Apa itu tadi..??'' Zoya menangkup wajahnya. "Hentikan Zoya. Zen hanya menganggap mu sebagai adiknya!!" Zoya memarahi dirinya sendiri.


Zen kembali menemui Julie. "Sedang membuat sesuatu..?" Zen berdiri disisi Julie.


"Ya, ini Pai strawberry kesukaan Ken. Kau ingin satu..?"


"Lain kali saja mollie, Aku sudah janji ingin makan siang bersama Zoya. Bolehkan..?"


"Tentu saja. Kenapa tidak, Zoya adik mu." jawab Julie.


"Mollie,, dengarkan aku." Zen meraih tangan Julie, hingga mollie nya itu menghadap padanya. Zen hampir tersenyum melihat wajah polos mollie nya yang tidak pernah berubah meskipun diusianya yang saat ini.


"Mollie,, jika sesuatu berubah, apakah mollie masih akan menyayangiku..?" tanya Zen dengan wajah serius.


"Misalnya...?"


"Hubungan kita..?"


"Hubungan? Zen, sadarkan dirimu.. mollie sudah tua..!!"


"Hah..?"


Auto bengong dong sii Zen..


"Mollie hanya milik Daddy!" kata Julie lagi dengan tegas. "Mollie aku serius, jangan bercanda." Zen menahan tawanya.


"Mollie tau sayang. Mollie tau, sangat tau. Apa kamu pikir mollie tidak bisa merasakan nya..? Sejak kecil kamu bersama mollie, bagaimana mungkin mollie tidak bisa merasakan apa yang anak mollie rasakan."


Julie meremas pelan tangan Zen.


"Kau tau sayang. Mollie tidak yakin apa kau masih mengingatnya. Dulu, Mollie pernah berjanji akan mendukung mu dalam semua keputusan mu, asalkan kau bahagia menjalani nya." ucap Julie penuh kasih.


"Sekarang yang harus kamu lakukan adalah, membuatnya menyadari perasaan mu untuk nya. Bagaimana pun akhirnya, mollie akan tetap mencintai anak-anak mollie."


"Terima kasih mollie. Terima kasih. Aku mencintaimu."


Zen memeluk Julie erat. Wanita luar biasa yang selalu ada dalam hidupnya. "Apa ada sesuatu yang aku lewatkan..?"


Zoya melihat pembicaraan serius antara Zen dan mommy nya, oleh sebab itulah ia mendekat dengan pelan, namun ia tidak sempat mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Tidak ada. Hanya beberapa rahasia.. " Jawab Zen, mengakhiri pelukan nya. "Benarkan Mollie..?"


"Tentu saja sayang." jawab Julie. "Apakah putri kesayangan mommy ini menjadi sangat penasaran..?"


Julie menggoda Zoya.


'Aku..? Tidak. Untuk apa..!" balas Zoya memalingkan wajahnya.


"Aku akan memberitahu mu nanti gadis kecil." Zen mencolek hidung mancung Zoya. "Sudah siap..?"


Sementara dari tempatnya Julie memperhatikan keduanya dengan penuh cinta, betapa bahagia nya jika saja semua nya segera terwujud.


"Ya, seperti yang kakak lihat."


"Mollie kami akan berangkat sekarang." pamit Zen.


"Ya sayang.. hati-hati. ingat makan, makanan yang sehat."


"Bye mom.. muach.. " Zoya mencium pipi mommy nya.


"Bye sayang.. "


...Mommy akan mendoakan kebahagiaan kalian...


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2