My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
NEW PROFESI


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


Pukul 10 pagi Zoya sudah sampai di kampus. Hari ini ada berapa urusan yang harus ia selesaikan berkaitan dengan pengambilan cutinya. Meskipun dengan berat hati, tapi Zoya harus melakukan ini demi kelancaran proyek yang akan ia tangani nanti.


Ia tidak bisa melakukan dua pekerjaan yang berbeda sekaligus, ia tidak ingin bekerja asal-asalan, Zoya terbiasa melakukan segalanya dengan maksimal.


"Saya sangat menyayangkan pengambilan cuti anda Ms.Zoya. Tapi jika memang seperti keputusan anda, maka saya akan menyetujuinya. Saya harap, anda akan segera kembali setelah pekerjaan anda selesai." Mr.Robet menandatangi permohonan cuti yang Zoya ajukan. Mr.Robert adalah rektor di universitas tempat Zoya mengajar.


"Saya juga berharap demikian Mr.Robert, anda tau saya sangat mencintai pekerjaan ini, tapi tanggung jawab lain juga telah menunggu ku."


"Baiklah. Anda bisa mengambil surat-suratnya di bagian administrasi setelah ini, saya mendoakan keberhasilan anda Ms.Zoya."


"Terima kasih Mr.Robert."


Setelah selesai di ruangan rektor, Zoya menuju ke bagian administrasi untuk mengambil berkas lainnya.


"Ms.Zoya, saya dengar anda megambil cuti..?" salah seorang staf di ruangan tersebut menyapa Zoya.


"Hmmm. Benar. Saya harus mengambil cuti untuk sementara." jawab Zoya sambil menunggu di depan loket antrian.


"Berapa lama miss..?"


"Entah lah, sepertinya untuk waktu yang belum bisa di pastikan."


"Saya yakin murid-murid akan merindukan anda miss.."


"Saya harap demikian, karena saya tentu akan sangat merindukan kelas-kelas saya selama ini, mereka sangat luar biasa." puji Zoya mengingat pada semua mahasiswanya.


"Miss Zoya..?" panggil seorang staf administrasi,


"Ya saya.."


"Ini berkas-berkas anda, silahkan di cek kembali."


"Baik, terima kasih." ucapnya, lalu menoleh kembali pada staf sebelumnya. "saya permisi duluan,.." pamitnya lagi.


Setelah selesai dengan bagian administrasi, Zoya mencari keberadaan Jordan. Seingatnya teman nya itu ada jadwal pagi, jadi Zoya mencari keruangan tempat Jordan mengajar. Dan, benar saja. Jordan masih belum selesai dengan kelasnya. Sambil menunggu Jordan selesai, Zoya memilih untuk duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Jordan keluar dari ruangan. Zoya segera berjalan menghampiri Jordan.


"Mr.Jordan." sapanya formal.


"O, haii Ms.Vidette..? tumben, biasanya aku yang selalu mencarimu lebih dulu." senyum mengambang di wajah Jordan.


"Mau makan siang bersama..?" ajak Zoya.


"Makan siang..? Waw...Ini sebuah kemajuan, tidak biasanya, apa ada berita bahagia lainnya..?" selidik Jordan penasaran, mengingat pertemuan terakhir mereka, Zoya sedang dalam suasana hati yang tidak baik.


"Tidak ada. Aku hanya ingin berterima kasih padamu karena sudah menjadi temanku selama ini, dan juga.. aku akan cuti untuk sementara." Jelas Zoya singkat.


"Cuti..? Kenapa..? apa ini makan siang perpisahan..?" Jordan sedikit kaget dengan kabar tersebut.


"Ada pekerjaan yang harus ku kerjakan, dan itu membutuhkan totalitas ku, jadi untuk sementara aku harus mengambil cuti. Jadi bagaimana, mau makan siang bersama..?"


Jordan memeluk Zoya. Membuat Zoya mematung di tempat. Ia tak tau bagaimana harus bereaksi, Jordan adalah teman sekaligus rekan sesama dosennya.


Meskipun merasa sedikit tidak nyaman, tapi Zoya membiarkan Jordan memeluknya.


"Aku akan merindukan mu Vidette." katanya.


"Hemm. Aku juga akan merindukan mu dan juga kampus ini, serta semua mahasiswa ku." kata Zoya pelan.


Jordan melepas pelukannya. Pelukan itu tak berarti apa-apa, Jordan sudah menganggap Zoya sebagai salah satu teman baik dan juga sudah seperti adik perempuan baginya.


"Ayo. Kita harus makan siang dengan spesial kalau begitu.." kata Jordan lagi.


Zoya hanya tersenyum. Perasaan nya menjadi hangat, memiliki pekerjaan yang ia cintai, dan juga teman yang sangat baik padanya. Zoya tak akan rela melepaskan semua ini begitu saja.


30 menit kemudian, Zoya dan Jordan sudah berada di Cafe favorit mereka. Jordan pun sudah memesan makanan dan minuman untuk keduanya.


...Drrrttt.. drrttt......

__ADS_1


...Ponsel Zoya bergetar, aku rasa kalian tau siapa yang menelpon 😊...


"Jord, sebentar ya.. aku mau..-- Zoya menunjuk ponselnya, sementara Jordan menganggukkan kepala mempersilahkan Zoyam


"Hallo kak..?"


"Sedang apa? apa urusan mu sudah selesai?"


"Sudah. Baru saja. O, ya aku sedang di cafe yang biasa, makan siang bersama Jordan." kata Zoya. "Mau makan siang bersama?"


"Sepertinya aku tidak bisa sayang, aku ada rapat setelah ini. Makan yang banyak, dan ingat harus makan makanan yang sehat." peringat Zen.


"Hmmm. Baiklah." Zoya tersenyum saat bicara pada Zen, mengingat bagaimana Zen begitu menjaganya.


"Jangan terlalu dekat dengan bocah itu, atau aku akan menggiling nya nanti!" Zen sedikit mengancam.


"Bocah..? Ha-Ha.. Jordan bukan bocah kak, dia dosen sepertiku." Zoya tergelak.


"Hmmm. terserahlah, bagiku seperti itu." kata Zen sedikit ketus. Sepertinya kekasih Zoya itu kembali cemburu.


"Baiklah. Aku janji hanya makan siang, setelahnya aku akan pergi menemui Dady."


"Baiklah, aku akan menjemputmu di sana. I Love you."


"Hemm. I Love you too."


Setelah mengakhiri panggilan nya, Zoya kembali menuju meja mereka.


"Hmmm..Seneng banget, ngapain sih..?" tanya Zoya pada Jordan yang sedang asyik dengan ponselnya, sapaan Zoya membuat Jordan langsung mengalihkan perhatiannya.


"Sebenarnya aku ingin mengenalkan mu pada seseorang. Jelas Jordan sambil tersenyum.


"Kekasihmu..?" tebak Zoya.


"Belum. Baru pendekatan, setelah resmi pacaran aku akan langsung memperkenalkannya padamu,, nanti."


"Semoga misi mu sukses teman ." tambah Zoya.


"O, ya ngomong-ngomong tentang proyek yang kamu ceritakan itu, dimana akan di bangun..?" Jordan mengalihkan topik.


"Jadi kamu akan stay di sana selama proyek ini berlangsung..?"


"Bisa di bilang begitu, hanya saja tidak di sana terus-terusan, aku pasti akan beberapa kali kembali kesini." Jelas Zoya.


"Apa Zen tau..?-- maksudku, tunangan mu itu terlihat sangat posesif.. aku rasa pasti akan sulit bagi kalian berdua."


"Aku rasa kak Zen akan bisa mengerti, lagipula ini proyek pertama ku, jadi aku harus profesional. Kak Zen juga seorang pengusaha, aku yakin dia lebih paham tentang ini."


Zoya memang berharap demikian, Zen memang sangat over protective pada nya, tapi Zoya yakin Zen tidak akan bersikap tidak professional, semoga saja.


Setelah menyelesaikan makan siang mereka, sekali lagi Jordan memeluk Zoya.


"Jaga dirimu dengan baik, aku akan mengunjungi mu sesekali di sana." kata Jordan lagi.


"Hmmm. Thanks Jord. Aku akan menantikan kunjungan mu dan juga calon pacarmu itu." Zoya tersenyum di balik pelukan Jordan.


"Pasti. Aku akan menghubungimu, bolehkan?"


"Tentu saja, kitakan teman."


Setelahnya Jordan dan Zoya berpisah. Masing-masing pergi ke tujuan nya.Jordan kembali ke kampus, dan Zoya pergi ke Zoya's Group.


20 menit kemudian, Zoya sudah berada di perusahaan Dadynya. Saat ini ia tengah berada di dalam lift.


Ting.


Lift sudah terbuka di lantai 10, tempat diadakannya rapat Eksekutif siang ini.


"Apa pak Rehan diruangannya?" tanya Zoya pada sekretaris Rehan. "Pak presdir sudah berada diruang rapat nona, anda sudah ditunggu." jelas Dina.


"Baiklah, tunjukan ruangannya." Setelah berjalan beberapa menit, Zoya sudah sampai di depan ruangan yang di maksud.


"Silahkan nona."


"Hmmm. Terima kasih."

__ADS_1


Zoya menarik nafas dan menghembuskan nya pelan, ia berusaha menetralkan rasa gugupnya. Bagaimana pun ini adalah pertemuan perdana Zoya bersama dengan para pemegang saham lainnya.


...Tok..Tok.....


"Maaf saya terlambat.." Sela Zoya berdiri dengan percaya diri di depan kurang lebih 15 orang rekan bisnis Dadynya, termasuk William di sana, mata lelaki itu langsung mengawasi Zoya sejak pertama Zoya memasuki ruangan.


"Kemarilah Zoya." panggil Rehan pada putrinya.


"Saya rasa kalian sudah mengenal putri saya Zoya Wijaya, untuk proyek kali ini Zoya akan bertanggung jawab secara langsung pada pembangunan aset yang baru." jelas Rehan


"Dengan segala hormat, saya berterima kasih untuk kesempatan yang sudah anda sekalian percayakan, saya akan berusaha sebaik mungkin agar semuanya berjalan sesuai dengan harapan kita semua." Zoya menundukkan kepalanya.


...Prok..Prok.....


...Semua yang diruangan tersebut setuju dengan penunjukan Zoya sebagai salah satu Executive yang memegang langsung proyek baru di Zoya's Group....


Selain genius di usia yang sangat muda, Zoya tidak pernah diragukan dengan kemampuan dirinya.


"Selamat sayang." Rehan memeluk putrinya.


"Thanks Dad.."


"Nona Zoya, bisa bicara sebentar." William menyela keduanya. --- itupun jika anda tidak keberatan Mr.Rehan." William tersenyum ramah pada Rehan.


"Ah. Tidak apa-apa Mr.William, silahkan bicara dengan putri saya." kata Rehan melirik pada Zoya, seakan meminta persetujuan Zoya, dan Zoya pun menganggukkan kepala.


Setelahnya Rehan meninggalkan William bersama putrinya, ia kembali ke ruangannya lebih dulu.


"Ada apa Mr.William..?"


"Senang melihatmu lagi Zoya, aku pikir kamu akan melanggar perjanjian kita." William tersenyum lega.


"Kamu hanya mengkhawatirkan itu..?" Zoya menaikan satu alisnya. "Aku tidak akan lari dari tanggung jawab asal kau tau."


"Baik. Senang mendengarnya. Sampai jumpa di Bali." Lagi-Lagi William menunjukan senyuman ramah nya, dan tidak ada alasan bagi Zoya untuk tidak menghargai itu.


"Ya. Sampai bertemu lagi." balas Zoya.


Setelah selesai dengan William, Zoya kembali keruangan Dady nya.


Tok.. Tok..


"Dad,, aku, Kam Zen..?" Ternyata sudah ada kekasihnya di ruangan itu sedang berbincang dengan Dadynya.


"Hai sayang." Zen menghampiri Zoya sambil menyerahkan sebuket bunga. "Selamat, dan semoga sukses dengan pekerjaan barumu." Zen mencium kening Zoya.


"Hmmm. Terima kasih Kak."


"Mau kencan..?" bisik Zen lagi.


"Sekarang...?


"Setelah pekerjaan ku selesai."


"Hmmm. Baiklah.--- "Dad, kalau tidak keberatan, aku akan pergi dengan kak Zen sekarang." pamit Zoya.


"Hmmm. Pergilah sayang.-- Zen jaga Zoya."


"Baik Dad.. kami pergi."


Setelahnya Zen dan Zoya pergi bersama.


"Apa yang tadi William? yang bicara denganmu?"


"Kakak melihatnya..?-- Hmm. Itu William yang aku ceritakan." Jelas Zoya.


Zen tidak bicara lagi, ia hanya membawa tangan Zoya dalam genggamannya. Kalau sudah seperti ini, Zoya pun hanya bisa bersikap manis dan menuruti kekasihnya yang sangat posesif ini.. 😅😊


Semoga saja kencan mereka berjalan normal, Zoya tidak mengharapkan kencan kali ini hanya berkomunikasi melalui telepati..


AHH.. Jangan sampai..!


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2