
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Sejak salam perpisahan yang terakhir terulang kembali, Zoya hanya bisa mendesah pasrah, ia masih belum bisa mengendalikan perasaannya. Dirinya yang sejak pertama bertekad tak ingin memiliki ikatan emosional seperti pertemanan, perlahan satu per satu datang memberi warna baru dan juga perasaan baru yang belum pernah Zoya rasakan sebelumnya.
Zoya sangat menghargai setiap hubungan yang terjalin diantara dirinya, William maupun Jordan.
Teman-teman yang memberikan cukup banyak kenangan dan juga kebahagian untuknya.
Baik Jordan maupun William, masing-masing mengajarkan arti pertemanan itu sendiri pada Zoya, meskipun Zoya merasa dirinya belum menjadi teman yang baik, namun saat bersama teman-temannya terasa sempurna. Setiap waktu yang Zoya lewatkan bersama William ataupun Jordan, membuat Zoya belajar banyak hal, dan hal itu sungguh membuat Zoya merasa bahagia, dan utuh.
Namun apa yang dirasakannya ternyata tak bertahan lama. Satu per satu dari mereka meninggalkan Zoya, hanya dalam waktu yang terbilang singkat. Waktu menghentikan hubungan pertemanan yang mulai Zoya sukai. Apakah memang seperti ini akhir dari pertemanan nya? Mungkinkah yang Zen katakan benar, bahwa tak pernah ada pertemanan antara pria dan wanita, karena itu semuanya cepat berakhir?
Ataukah memang dirinya yang tak ditakdirkan untuk memiliki seorang teman? Sepertinya Zoya memang harus puas dengan hanya memiliki Zen dan keluarganya. Kenyataan yang seakan mengunci Zoya.
Selama perjalanan, Zen menyadari perubahan sikap kekasihnya. Zoya lebih banyak berdiam diri setelah mereka meninggalkan Villa. Saat Zen bertanya Zoya hanya menanggapi sekedar nya saja. Mungkinkah perubahan tersebut berhubungan dengan Jordan? Apakah Zen berlebihan?
Zen menyadari jika sikapnya sedikit kasar, egois, dan juga kekanakan, hanya saja ia benar-benar merasa tidak nyaman saat melihat Zoya bicara, ataupun tersenyum pada pria lain. Beginilah Zen, ia ingin bersikap biasa saja, namun sikap posesif sudah mendarah daging menyatu penuh dalam dirinya.
Sesampainya di airport Jakarta, supir pribadi keluarga Wijaya sudah lebih dulu menunggu mereka, sementara Mollie dan Ken hanya menunggu kepulangan Zoya dirumah.
Kurang lebih tiga puluh lima menit perjalanan dari Airport, mobil sudah terparkir di halaman rumah mewah keluarga Wijaya.
"sayang, kita sudah sampai." Zen menyentuh lembut tangan Zoya. Membangunkan Zoya yang sebelumnya sempat tertidur dalam perjalanan. Zoya mengerang pelan, melemaskan tubuhnya yang terasa kaku. "Kita sudah dirumah?" tanyanya lagi, dan mendapatkan anggukan dari Zen sebagai jawabannya.
Zen keluar lebih dulu, kemudian membukakan pintu mobil untuk Zoya. Dari dalam rumah, mommy Julie dan juga Ken menyambut gembira kedatangan nya.
Zoya tersenyum lebar saat melihat dua orang yang selama ini ia rindukan. Mommy dan adik kecilnya.
"Mom,Ken..?" serunya sambil merentangkan tangan, memeluk keduanya bergantian. "I miss you so much mom."
"I miss you too, baby." balas Julie yang sudah sangat merindukan gadis kesayangannya. "Zozo, apa kabarmu? apa kau membawa oleh-oleh untuk ku?" tanya Zen penuh harap.
__ADS_1
"aku membawa kan untuk semuanya, masing-masing sudah ku tuliskan nama, cari saja milikmu." Zoya melirik pada bagasi mobil.
"Mollie,.." Zen juga menyapa Julie. "Sayang, terima kasih sudah membawa putri kecilku kembali dengan selamat." Julie mencium pipi Zen. "Masuklah. Kalian pasti lelah, istirahatlah dulu, aku akan menyiapkan makan malam." perintah Julie pada keduanya.
"Yes mom, aku memang lelah." Zoya menunjukan wajah lelahnya, lalu tersenyum. "Sampai bertemu saat makan malam." pamit Zoya lalu menaiki tangga menuju kamarnya, disusul Zen yang membawa barang-barang Zoya.
"Mollie, aku juga.."
"Ya sayang, istirahatlah dulu." Julie membiarkan Zen menyusul Zoya.
"Mom, ini milikmu dan Dady." Ken menyerahkan paper bag yang bertuliskan nama mommy dan Dady nya. "dan, ini milikku." tambahnya lagi, tak sabar membuka hadiah yang Zozo berikan. "Tolong simpan dikamar mommy sayang." pinta Julie pada putranya. "Ok, mom." jawab Zen lalu segera naik ke lantai atas.
Zoya membiarkan pintunya terbuka menunggu Zen mengantarkan koper miliknya.
Zen mengetuk pelan, lalu masuk membawa koper Zoya. "Terima kasih kak, taruh saja disitu, akan ku bereskan nanti." ucapnya melirik sekilas pada Zen.
"Hmm. Bisa kita bicara setelah ini..?" Zen berdiri ditempatnya memandang pada Zoya. "Baiklah. Kita bicara setelah ini." Zoya menyunggingkan sedikit bibirnya, lalu menghilang ke dalam kamar mandi.
Melihat sikap Zoya, Zen hanya bisa mengangguk kemudian berlalu ke kamarnya. Ia juga harus membersihkan diri.
"Ada apa? apa kakak dan Zozo bertengkar?" tanya Ken yang juga melewati kamar kakaknya sekilas melihat perubahan wajah Zen yang lesu. "Tidak. Kami hanya lelah, kakak harus ke kamar." kata Zen sambil tersenyum ramah pada Ken. Ken hanya mendengarkan, dan membiarkan kedua kakaknya itu menyelesaikan masalahnya sendiri. Itupun jika mereka memang sedang..
Selesai membersihkan diri, Zen langsung memeriksa email miliknya. Sebelumnya maria sudah mengirimkan pesan agar Zen memeriksa email yang sudah ia kirimkan, dan sekarang Zen melakukannya.
Setelah melihat isi email nya secara keseluruhan, Zen langsung mengambil ponsel untuk menghubungi maria.
"Hai, aku sudah melihat email mu. Aku suka. Terima kasih."
"Ya, baguslah kalau kau suka. Aku juga senang, kau sudah sampai di jakarta? bisa kita bertemu, saat kau sudah pulang, mungkin?"
"Ya, aku akan menemui mu, mungkin besok, malam ini aku akan menginap dirumah mollie, thanks Mar, sampai jumpa besok."
Zen menutup panggilannya pada Maria, juga meletakan kembali laptopnya.
"Kalian sudah bicara?" tanya Zoya yang sudah
berdiri di depan pintu kamar Zen. Ia sempat mendengar sekilas percakapan Zen, dan juga mendengar kekasihnya menyebutkan nama wanita itu.
"Hem. Masuklah sayang." Zen menghampiri Zoya, menarik tangannya pelan agar Zoya masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu. Zen ingin bicara serius pada Zoya.
__ADS_1
"Itu maria, yang barusan kakak telpon?" tanya Zoya. Ia duduk sambil bersedekap di atas tempat tidur Zen. "Hem. Kami baru saja bicara tentang pekerjaan."
Zoya mendelik mendengar pengakuan Zen.
"Pekerjaan, sungguh?" bukan Zoya tak mempercayai Zen, hanya saja pekerjaan apa yang bisa membuat keduanya tetap berhubungan, itulah yang kini Zoya pertanyakan.
"Ya, hanya pekerjaan." jawab Zen, kemudian menggeser Zoya agar mereka bisa duduk berdampingan.
"Apa sekarang kalian juga menjalin hubungan pekerjaan kak? sejak kapan? apakah sejak hari itu?" cerca Zoya sambil menatap Zen menyelidik.
"Apa maksudmu Zo'e? aku dan maria hanya berhubungan karena pekerjaan tidak lebih. Apa kau sedang cemburu sayang?" balas Zen.
"Haruskah?" tanya nya masih menjaga nada suara nya tetap tampa emosi. "Kapan pekerjaan kalian akan berakhir, apakah itu masih lama?" tambahnya lagi.
"Semuanya sudah hampir selesai, kenapa?" jawab Zen, enggan.
"Kalau kalian berhubungan hanya karena pekerjaan, berarti setelah pekerjaan ini selesai kalian tidak akan berhubungan lagi, benar begitukan kak?" Zoya membuat perangkap.
"Hmm. Kurang lebih begitu."---Nah "Apa kau sedang menginterogasiku sebagai seorang kekasih?" Zen mencubit pelan pipi Zoya, membuat kekasihnya terlihat lucu, namun Zoya hanya memberikan wajah datar tampa emosi. "Bisa aku memegang perkataanmu kak?" tanya Zoya lagi.
Zen mengerutkan keningnya, mencoba memahami arah pembicaraan Zoya. "Apa maksudmu sayang? jangan berpikir berlebihan tentang aku dan maria, tidak ada apa-apa antara kami, ini hanya tentang pekerjaan, tidak lebih. Percaya padaku. hem?"
"Tidak nyaman bukan?" balik Zoya, bersikap seolah tak perduli dengan fakta yang Zen katakan.
Kali ini Zen menatap serius pada Zoya. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin Zoya katakan padanya. Bukan ini yang Zen ingin bicarakan. Zen ingin semuanya baik-baik saja. Zen ingin minta maaf pada Zoya, tapi sekarang? Zen menghembuskan nafasnya pelan, mengatur kembali emosinya.
"Apa kau sedang membalas ku sayang? karena laki-laki itu, benar kah?" tanya Zen kini menatap marah pada Zoya.
"Apa kakak berpikiran begitu? Zoya menaikan kedua bahunya, baguslah jika Zen mulai mengerti maksudnya, mungkin seharusnya Zoya langsung saja mengatakan perasaannya.
"Apa kakak pikir aku tidak tau apa yang kakak lakukan, di belakangku? aku tau kakak mengawasi ku selama ini, karena itulah kakak tidak pernah ingin aku berteman dengan Jordan, dan William, meskipun hanya untuk urusan pekerjaan!" Zoya berbicara pelan. "Apa kakak tau, selama dua puluh tahun ini, selain kakak, mereka adalah teman-teman pertama untuk ku, dengan fakta itupun bahkan kakak tidak membiarkannya."
Zoya masih menahan emosi. "Tapi tidak apa-apa, aku akan terima bahwa saat ini aku tidak memiliki satu teman pun." Zoya menatap pada Zen, melihat lekat pada manik laki-laki itu. "Kakak juga harus melakukan hal yang sama, bukankah kakak sendiri yang mengatakannya, tidak ada pertemanan antara pria dan wanita. Benarkan?"
"Apa sekarang kau sedang menyalahkan semuanya padaku Zo'e?"
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...