My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
Bad Reunion 3, The Prayer


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Betapa terkejutnya Lova saat pintu kamar kembali terbuka, padahal sebelumnya baru saja perawat yang bergiliran memeriksa kondisi Ken keluar dari sana.


Lova bahkan tidak bisa membuka mulutnya saat melihat pasangan suami istri yang masuk dengan wajah panik menghampiri kekasihnya.


Dalam kepalanya ia sudah bisa menebak jika itu pastilah orang tua dari kekasihnya.


Lova tak tau harus bersikap seperti apa. Ia hanya bisa bangun dari tempat duduk nya, melihat pemandangan di depannya.


Dan yang membuat Lova lebih terkejut lagi, saat ini ia malah melihat sosok yang ia kenal. Donatur nya.


''Kak Zoya..?" cicit Lova, masih sedikit kebingungan.


''Ken..? putra ku..?" Julie menghampiri Ken, Julie kembali menangis saat melihat putra nya yang masih belum sadarkan diri. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk dan mencium putra nya itu.


''Boo, lihat lah putra kita, kenapa Ken belum bangun juga?" tangis Julie pecah di dalam ruangan.


Rehan mencoba menenangkan istrinya. Ia memeluk Julie dengan begitu erat, Rehan juga merasakan apa yang istrinya rasakan. Melihat Julie menangis, membuat Rehan meneteskan air matanya.


''Tenang lah, Moo.. sebaiknya kita berdoa agar putra kita baik-baik saja.''


Tidak hanya Julie dan Rehan, bahkan Zoya pun tidak bisa menahan air matanya saat melihat adik kecilnya terbaring tidak sadarkan diri.


Lova merasa seperti seorang penonton yang sedang melihat pertunjukan drama di dunia nyata.


Lova pun ikut menangis melihat kesedihan dari keluarga kekasihnya. Namun ia tidak berani bicara. Ia hanya bisa mematung di tempatnya.


Sepertinya tidak seorang pun yang menyadari keberadaan nya disana.


Saat semua orang sudah lebih tenang; Zen baru menyadari sesuatu,


''Lova.. sedang apa,- Kau juga kenal Ken?" Zen buka suara, membuat yang lainnya mengarahkan pandangan mereka dan mulai menyadari keberadaan gadis yang sejak tadi berdiri di samping Ken.


''Kakak." Lova kembali menangis.- ''Syukurlah! Apa Ken adalah adik kakak?" tanya Lova pada Zen,


''Begitulah, tapi lebih tepatnya, Ken adik istriku, Zo'e.'' jelas Zen.


''Lova, kau juga berteman dengan Ken? syukurlah aku bisa melihat mu disini. Kau juga yang menolong nya dan membawa nya kerumah sakit kan ?- terima kasih Tuhan.'' Zoya menghampiri Lova lalu memeluknya.


Lagi-lagi tangis Lova pecah saat Zoya memeluknya, namun ia tidak mengeluarkan suara dengan keras.


Ia sangat bersyukur, ternyata keluarga Ken adalah orang-orang yang ia kenal.


''Syukurlah kak. Aku benar-benar takut. Ken tidak sadarkan diri sejak semalam. Dokter bilang jika tidak ada yang salah dengan kondisi nya, tapi entah kenapa Ken tidak sadar juga sampai sekarang.'' isak Lova.


''Ssssttt,... sudah lah jangan menangis. Kau pasti sangat takut. Kami disini, jangan cemas lagi.''


Setelah semua orang tenang, mereka mengambil tempat untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu. Kecuali Julie, ia memilih untuk tetap duduk di samping putra nya.


''Nak, bisa kau katakan apa yang terjadi pada Ken? dan bagaimana kau bisa menemukan nya?" tanya Rehan pada Lova.

__ADS_1


Lova pun mulai menceritakan kronologi kejadian yang menimpa Ken. Ia menceritakan secara keseluruhan, kecuali hubungannya dengan Ken. Ia tidak berhak mengatakan itu dalam situasi saat ini.


''Dimana Shreya?" tanya Zoya yang tidak melihat keberadaan gadis itu di dalam ruangan.


Shreya..? dia disini?


''Mungkin bersama Leon. Mereka juga teman bukan?" ujar Zen menjawab istrinya.


''Ahh.. benar. Aku lupa kak. O, ya Lova, bagaimana kau bisa mengenal Ken? aku bahkan tidak menyangka kalian akan berteman. Saat Remaja kalian bahkan saling bermusuhan.'' ujar Zoya.


''Kami? aku dan Ken bermusuhan?" ulang Lova masih tidak mengerti apa yang Zoya katakan. ''Apa aku dan Ken pernah bertemu sebelumnya kak, tapi dimana? aku tidak ingat.''


...Zoya tertawa kecil....


''Di dalam dunia ini sungguh banyak sekali kebetulan yang tidak disangka-sangka.- Kau ingat saat pertama kita bertemu? dirumah kakak mu, Megan?''


Lova mencoba kembali ke ingatan masa lalu nya. Ia berusaha Kembali mengingat bagaimana pertama kali ia bertemu dengan Zoya, wanita yang telah menolong keluarga nya itu.


''Hmm. Aku ingat.''


''Jadi, pastilah kau juga mengingat Ken?- Aku ingat saat itu kau bahkan mengatakan bahwa Ken seorang pencuri.'' Zoya kembali tersenyum.


''Aku..? Kenapa aku mengatakan Ken seperti itu?" Lova kembali mencoba membongkar semua memory di dalam kepalanya. Dimana ia menyimpan ingatan tentang Ken,-


''Ahh.. jadi Ken orang itu? bocah menyebalkan dan juga arogan.'' kata-kata itu keluar begitu saja dengan mulusnya dari mulut Lova saat ingatan tentang Ken kembali ia dapatkan.


''Uuuppss. Aku tidak bermaksud," Lova menutup mulutnya. Tapi kata-kata nya sudah terlanjur terucapkan.


Rehan bahkan dibuat tersenyum mendengar penilaian seorang gadis muda tentang putra nya.


Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Leon dan Shreya berdiri di sana, keduanya dengan perlahan masuk ke dalam ruangan untuk menyapa yang lain.


''Ahh, maafkan kami. Tadi kami sedang bicara, dan aku lupa bahwa aku harus memperkenalkan Lova kepada kalian,-'' Leon menghampiri Lova dan berdiri di samping gadis itu.


''Tidak perlu melakukan itu Leon. Lova berasal dari negara yang sama dengan tempat ku tinggal saat ini, dan kami sudah mengenal Lova, bahkan sangat mengenal nya.'' Sela Zoya.


''Ahh benarkan? jadi kau sudah tau keluarga Ken L..?"


Kali ini Leon lah yang kembali di buat terkejut.


''Hmm. Aku memang mengenal kak Zoya dan juga Kak Zen, Leon.. tapi aku benar-benar lupa jika saat aku remaja aku juga sudah mengenal Ken.'' jelas Lova.


''Ya Tuhan. Kebetulan seperti apa ini!'' pekik Leon.


''O'ya L.. kalau begitu aku hanya akan memperkenalkan Shreya pada mu.'' ujar Leon lagi.


''Shreya, kemarilah.. kenalkan ini Lova, sahabat kami.. meskipun lebih tepatnya, Lova adalah teman dekat Ken.'' jelas Leon dengan begitu enteng nya, sontak saja ia langsung mendapatkan sikutan di perut.


''Awww.. L, itu sakit..'' Leon mengaduh.


''Salah mu terlalu banyak bicara! Hai.. aku Lova. Aku sudah banyak mendengar cerita tentang mu,- Emmm.''


Kali ini, giliran Leon yang menutup mulut Lova. Untung saja Leon sigap, jika tidak ia bisa malu di depan Shreya. Mulut Lova ternyata cukup berbahaya.


Keduanya malah menjadi pusat perhatian, karena bersikap seolah-olah mereka sedang menutupi sesuatu.


''Hiisss.. apa yang kau lakukan? apa kau malu?" goda Lova pada Leon.

__ADS_1


''Haii.. aku Shreya.'' - Shreya mengulurkan tangannya, yang kemudian di sambut oleh Lova.


''Senang berkenalan dengan mu, Shreya.''


Setelah berkenalan dengan Lova, Leon menemani Shreya untuk melihat Ken. Bagaimana pun dulu mereka adalah teman. Tentu saja Shreya masih peduli pada Ken, apalagi disaat seperti ini.


''Apa kata dokter?" tanya Shreya pada Leon.


''Dokter bilang kalau kondisi Ken baik-baik saja, tapi mereka juga tidak tau mengapa Ken belum sadarkan diri, padahal semua pemeriksaan menunjukan hasil yang baik, dan tidak ada yang salah dengan kesehatan Ken.


Jadi dokter hanya meminta untuk menunggu. Jika sampai nanti malam Ken belum sadar juga, mereka akan melakukan tes lanjutan.'' Jelas Leon persis seperti yang dokter katakan padanya.


Julie dan Rehan sama-sama terdiam. Dalam pikiran keduanya terlintas kecemasan yang sama.


''Aku akan pergi menemui dokter.'' ujar Rehan, bersiap pergi dari ruangan.


''Boo, aku akan ikut dengan mu, mungkin kau juga memikirkan hal yang sama dengan ku.'' sela Julie.


''Mom, Dad.. ada apa?" tanya Zoya, ingin tahu apa yang di pikirkan orang tuanya, dan mengapa tiba-tiba saja situasi menjadi sedikit berbeda.


''Zen,- Dad rasa kau bisa menjelaskan nya pada Zo'e, meskipun ini hanya kecurigaan, tapi kita perlu memastikannya.'' ujar Rehan.


''No way Dad, jangan bilang,- Zen membisu. Apakah hal seperti ini benar-benar bisa di turunkan?


''Son, kita harus bersiap untuk berbagai kemungkinan.''


Setelah Rehan dan Julie meninggalkan ruangan, yang lainnya kembali berkumpul mengelilingi Zen dan Zoya, mereka pun turut penasaran dengan apa yang di maksudkan oleh orang tua Ken.


''Kak, ada apa ini sebenarnya..? apa maksud Mom dan Dad..?"


Zen pun menceritakan semuanya. di mulai dari awal peristiwa itu pertama kali terjadi, yaitu saat Zen berusia 7 tahun; peristiwa yang sangat membekas dalam ingatan nya.


''Ya Tuhan, semoga saja hal seperti ini tidak benar-benar terjadi pada Ken.'' doa Zoya, sambil memijat pangkal hidung nya.


Mengapa hal seperti ini bisa tiba-tiba terjadi dalam keluarga mereka?


Lova kembali meneteskan air mata saat mendengarkan cerita Zen, namun ia buru-buru menghapusnya. Ia hanya akan menyembunyikan apa yang ia rasakan seperti sebelumnya, termasuk rasa cemas dan juga rasa takutnya.


''Apa hal itu benar-benar buruk kak?" tanya Lova dengan suara bergetar.


''Saat itu,- semua nya benar-benar buruk.. hampir satu bulan lamanya mollie tidak sadarkan diri, dan itu bukan lah hal yang mudah untuk diterima.''


''L... Ken pasti baik-baik saja." Leon meyakinkan Lova. ''Kau juga sebaiknya jangan cemas.'' Leon beralih pada Shreya.


Hari itu semua keluarga tetap berada dirumah sakit. Mereka masih menunggu hingga waktu yang dokter maksud kan.


Jika Ken tidak sadar juga setelah malam ini, maka Rehan dan Julie memutuskan akan membawa putra mereka  ke rumah sakit yang menangani sleep sindrom Julie sebelumnya.


''L.. sebaiknya kau pulang dan istirahat, aku mencemaskan mu.'' ujar Leon berkata pelan.


''Aku tidak apa-apa Leon, aku juga ingin disini, menemani Ken melewati malam ini.''


Leon, Lova dan Shreya duduk di area yang sama, sedangkan Zen dan Zoya duduk di area lainnya.


Sementara Julie dan Rehan sama-sama duduk di sisi ranjang Ken. Mereka tetap menunggu dan bersama-sama berdoa, semoga saja ada berita baik untuk mereka malam ini.


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2