My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
We Need a time to Talk


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Dalam kemarahan nya, Lova berjalan sambil menghentakkan kaki. Bukan karena apa, ia hanya ingin mengekspresikan perasaan nya saat ini.


Ia lelah dengan pekerjaan nya, dan ia juga lelah dengan hubungan nya. Ia menanti Ken untuk datang pada nya, dan bicara. Ya mereka harus bicara. Seharusnya.


Tapi apa yang di lakukan kekasihnya itu? Ken justru berubah menjadi hantu. Hantu yang tidak tau dimana keberadaan nya. Tak ada kabar, dan bahkan tak bisa di hubungin.


Apa jaringan indonesia London sudah berbelok arah?


Lalu apa salah jika Lova marah? apa salah jika Lova merasa lelah di perlakukan seperti ini?


Bukan hanya satu atau dua minggu, tapi berbulan-bulan.


Oh God!


Lova hanya seorang gadis berusia dua puluh tahun yang baru pertama kali jatuh cinta.


Apa cinta pertama memang selalu seperti ini?


Kembali kepada biang nya. Lantas Lova harus memikirkan apa tentang kekasihnya itu? Apa Ken hanya sebuah fatamorgana? hanya ilusi dalam hidupnya? benarkah? huh!


Tidak cukup dengan fakta itu.


Lalu sekarang, Leon datang dan ingin kembali menjelaskan kepada Lova. Leon ingin menjadi tameng bagi hubungan mereka sekali lagi? Apa salah jika Lova merasa kecewa, meskipun Leon adalah sahabatnya juga?


Leon terlalu baik untuk di jadikan pelampiasan atas kemarahan nya. Karena itulah Lova tak akan mendengarkan perkataan Leon lagi. Jika memang Ken melupakan nya, maka biarlah demikian. Lova tak ingin dijejali dengan alasan-alasan yang akan semakin membuatnya merasa gila.


Toh mereka tetap harus melanjutkan hidup. Baik Ken atau pun dirinya, mereka tetap akan menjalani kehidupan mereka. Jika memang tak bisa lagi saling memberikan kepercayaan dan kenyamanan, lalu untuk apa hubungan mereka terus berlanjut?


Lova tak membutuhkan sebuah status tanpa kejelasan. Ia sudah mendedikasikan dirinya untuk hubungan ini. Bukan dalam waktu yang sebentar, tapi hampir tiga tahun mereka bersama. Lalu apa? Jika memang semua tak ada arti nya bagi Ken, maka Lova tak akan berlama-lama menjadi seorang gadis yang menyedihkan.


Ia tak akan mengemis untuk sebuah cinta. Itu sungguh bukan dirinya.


Sampai ketika, lagi-lagi ia merasakan bahwa halusinasinya benar-benar begitu kuat..


''Itukah yang kau pikirkan tentang aku L? Kau ingin mengakhiri hubungan kita? Apa aku terlalu terlalu menyakitimu?''


Lova menghentikan langkahnya, sambil menggelengkan kepalanya kuat.


Oh God!


"Kau memang gila Lova. Lihat dirimu? bisa-bisa nya kau melihat bayangan Ken tepat di depan matamu? sebuah ilusi yang bisa bicara? huh! Movie sekali."


Sepertinya Lova memang gila. Tadi ia menangis, sekarang ia tertawa dengan begitu gelinya. Imajinasi nya sungguh begitu luar biasa.


''Le, apa kau pikir aku masih waras?- Lova berdecak, sambil memijit pelan kepalanya. ''Jelaskan padaku bagaimana aku bisa melihat Ken tepat di depan mataku? huh? apa aku sudah gila?"


''L...?" Leon ingin bicara, namun lagi-lagi Lova mengangkat tangan untuk mencegah.


Masa bodoh! Lova lelah, dan ia tak akan berurusan dengan sebuah bayangan. Biarkan saja ia gila. Hanya untuk kali ini.


Lova kembali melangkahkan kaki nya dengan cepat, agar ia bisa segera menembus bayangan hingga bayangan Ken bisa segera hilang dari hadapan nya. Bayangan sialan!


Bugh!


Hampir saja Lova terpental, ia merasakan sakit di sekitar wajah dan juga dadanya. Apa yang ia tabrak? Ini bukan ilusi? jika Ya, kenapa ia merasa sakit? jika memang tidak, maka;


''Kau tidak apa-apa L? kenapa kau begitu ceroboh? apa kau pikir aku transparan? kau tidak bisa menembus tubuhku!" suara Ken memenuhi kepala Lova.


Semua kata-kata itu begitu nyata. Bahkan tangan ini, tangan yang mencengkeram Lova dengan begitu erat, tangan ini adalah tangan kekasihnya.

__ADS_1


Ken bukan ilusinya. Ken ada disini, di depan matanya.


''Tidak apa-apa jika kau marah pada ku L. Tapi kau harus bisa menjaga dirimu. Bagaimana jika kau terluka?" ceramah Ken lagi, seraya membantu Lova untuk kembali berdiri dengan benar.


Leon menahan senyum sambil menggelengkan kepala. Betapa konyolnya gadis yang sudah ia kenal dengan cukup lama itu.Tingkah Lova memang tak pernah mengecewakan Leon, sangat menghibur.


''Kau.. Kau.. disini?'' Otak Lova  berusaha menyusun kata secepat mungkin, hanya saja ia tak bisa segera pulih dari rasa keterkejutan nya.


''Seperti yang kau lihat L. Aku disini. Aku ingin bicara dengan mu. Aku datang karena aku sangat merindukan mu.'' Ken memeluk Lova begitu saja. Ia mengisi kembali semua kehangatan yang dulu pernah Lova berikan dari setiap pelukan nya.


Sungguh waktu Yang Lama.


Secara penampilan. Lova sungguh sangat berubah. Kekasihnya terlihat begitu bersinar, dan juga begitu mempesona.


Lova tak bisa mengatakan apa-apa saat Ken memeluknya dengan begitu erat. Ia juga sangat merindukan pelukan hangat Ken. Wangi khas nya, dan juga..


Tunggu! Ini bukan saat yang tepat untuk bermesraan. Ken masih berhutang begitu banyak penjelasan kepada Lova. Kali ini mereka benar-benar harus bicara.


Lova mendorong Ken hingga pelukan mereka terlepas. Ia menatap Ken dengan pandangan seorang yang akan menuntut hak nya.


''Kau!- Lova bicara dengan sosok dirinya yang lain.


''Kau sebaiknya ikut dengan ku. Kita harus bicara.'' ujar Lova masih dengan tatapan yang sama.


Ah, ia lupa.


''Dan kau Le, terima kasih sudah membawa pria ini untuk datang menemuiku. Aku sangat bersyukur atas apa yang kau lakukan. Tapi sebaiknya kau kembali. Karena kami harus bicara.'' ujar Lova tak ingin di bantah.


Tanpa di minta pun Leon memang akan dengan senang hati pergi dari tengah-tengah keduanya. Ia tak ingin terlihat dengan pertengkaran cinta yang nantinya malah akan membuatnya sakit kepala.


''Baiklah L. seperti yang kau minta. Ini saat nya penghakiman mu.'' seru Leon seraya tersenyum penuh arti pada Ken. Kau harus melewatinya Bro! begitulah kira-kira arti dari senyuman itu.


...❄️❄️...


Di apartemen..


Lova membiarkan Ken duduk dengan tenang diruang tamu, sementara ia mengganti pakaian dan juga membuat minuman untuk mereka berdua.


''L..?" Ken membuka suara, namun Lova memberikan isyarat dengan tangan nya.


''Biarkan aku yang mulai.'' Lova menahan agar suara nya tetap stabil.


''Kau mengabaikan ku selama ini, Apa kau sudah tidak menganggap hubungan kita penting?'' Pertanyaan pertama yang Lova berikan, tepat seperti apa yang Ken pikirkan.


''L.. maafkan aku,-


''Tidak Ken. Jangan terlalu cepat minta maaf. Kau harus menjelaskan semuanya lebih dulu kepadaku. Setidaknya aku berhak untuk itu.'' sela Lova.


''Aku salah L. Aku melakukan hal yang menyakitimu. Aku tak akan menyangkal itu. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan ku, hingga aku berpikir mungkin tidak apa-apa jika aku tak mengabari mu untuk sesaat. Aku ingin kau bebas dengan dunia mu, aku tidak ingin mengekang mu. Karena jika kita bicara, aku sungguh akan memaksa mu untuk tidak melakukan apapun, dan hanya mengandalkan diriku.-


''Aku tau aku sangat egois dan tidak berguna. Aku tak bisa memberimu rasa nyaman dan juga ketenangan saat kita berjauhan. Aku membuat mu terluka karena menanggung semuanya sendiri.-


''Aku sungguh minta maaf untuk itu L. Maaf karena telah mengabaikan mu. Maaf karena telah menyakiti perasaan mu. Maaf atas semua yang kau tanggung tanpa aku disampingmu.. sungguh, aku menyesal melakukan itu.''


''Kau boleh marah ataupun membenciku, tapi ku mohon, jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hubungan kita. Aku mencintaimu L.''


''Tau kah kau bahwa cinta tanpa tindakan adalah omong kosong Ken?" sela Lova dingin.


''Aku tau L, karena itu lah aku ingin minta kesempatan pada mu, percayalah kepadaku sekali lagi, aku sungguh minta maaf..-


''Maaf tak akan memberikan perubahan apapun jika kau tidak bisa merubah apa yang kau lakukan Ken. Sekarang mungkin kita akan baik-baik saja, tapi nanti, setelah ini, setelah kau kembali ke negara mu, kau akan melakukan hal yang sama pada ku.-


''Kau akan menghilang, lalu datang kembali, kau meminta maaf padaku, lalu kau menyakiti ku lagi. Kita tak akan bisa mempertahankan hubungan ini dengan cara seperti itu Ken, tidak bisa.'' ujar Lova dengan emosi sestabil mungkin, namun begitu rasional bagi Ken.


Ken menutup matanya sejenak. Semua perkataan Lova memang benar adanya. Mereka tak akan bisa mempertahan kan hubungan ini jika mereka terus seperti ini.


Jarak hanya memperburuk hubungan mereka. Ken tidak bisa selalu bersama Lova, dan begitu pun L. Ia harus selalu berada jauh dari Ken, lalu kapan mereka akan bersama?


Lova benar dengan semua yang ia katakan. Ken tidak bisa menyangkal semua itu. Gadis nya memang selalu benar.

__ADS_1


''Tunggu aku disini L. Aku akan segera kembali.'' kata Ken, lalu bangkit dari duduknya. Ia harus meninggalkan apartment Lova untuk saat ini.


Sementara gadis itu. Ia tidak tau apa yang seharusnya di katakan lagi. Semua yang ia katakan nya adalah murni dari apa yang ia rasakan. Lova sudah mengatakan semuanya.


Sekarang biarlah Ken yang memutuskan semuanya. Lova tak akan menuntut apapun untuk hubungan itu. Tidak akan.


Ken bisa melakukan apa saja Yang ia mau. Lova tak akan mencegahnya.


Meskipun Nantinya mereka akan terluka, tapi setidaknya mereka akan pulih seiring waktu berjalan.


Tak ingin memikirkan Ken lebih Lama, Lova memilih untuk berbaring di atas sofa nya Yang nyaman.


Ia tak akan menangis kali ini. Jika mereka berpisah, itu karena Ken memilih untuk meninggalkan nya.


Maka Lova tak akan bisa mencegah itu. mungkin takdir memang tak berpihak kepada mereka.


Lova berusaha memejamkan matanya, namun ia tak bisa. Bagaimanapun ia mencoba, Yang ia dapatkan malah dentuman hebat Yang menggoyangkan pertahanan nya.


"Ini bukan saat yang tepat untuk sakit Lova!"


Ting Tong..


Ting Tong..


Suara bell Yang berbunyi semakin menambah rasa sakit di kepala Lova.


Ting.. Tong..


Ting.. Tong..


"Ya, tunggu sebentar..." sahut Lova sambil berjalan dengan terhuyung.


Saat ia membuka pintu, sekali lagi ia melihat Ken di depan nya.


"Ah, kau kembali." gumam Lova.


"L.. aku sudah memikirkan ini, dan kau sudah membuat keputusan. Bagaimana kalau..


Brukkk!


"L...!!!"


Lova jatuh begitu saja di depan Ken. Gadis itu tak sadarkan diri.


Ken Yang dilanda kepanikan karena kejadian itu buru-buru membawa tubuh lova dan membaringkan nya di atas ranjang.


"L... sadarlah.. kau kenapa?" Ken meraba kening Lova untuk mengecek suhu tubuh kekasihnya. Lova demam.


"Ya Tuhan. Maafkan aku L. Aku sungguh minta maaf."


Setelah dokter datang untuk memeriksa lova, dan juga memberikan suntikan, berangsur-angsur suhu tubuh Lova berubah normal.


Syukurlah.


Ken bernafas dengan lega.


Malam itu ken terjaga untuk memantau perkembangan Lova. Untungnya demam lova tidak kembali lagi.


Dokter mengatakan bahwa lova hanya terlalu lelah dan juga mengalami stres Yang berlebihan.


Lova harus lebih banyak istirahat.


Ken memang tak berguna. Bagaimana bisa ia membiarkan gadis nya seperti ini..? bodoh.


"L, tidurlah. Maaf jika aku membuat mu seperti ini. Aku sungguh minta maaf."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2