
...ENJOY...
.......
.......
.......
Melihat Zen berada di tengah-tengah para pemusik itu, Zoya sudah bisa menebak apa yang akan Zen lakukan. Hanya saja selama ini, bahkan sejak kecil, Zoya tak pernah tau jika Zen bisa bernyanyi ataupun memiliki bakat bermusik. Pasalnya setiap Zoya ataupun mommy nya melakukan kolaborasi hiburan keluarga, Zen dan Daddy-nya selalu kompak untuk memegang kamera dan mengabadikan momen tersebut.
Hanya itu yang selalu mereka lakukan.
Oleh karena itu, ini adalah hal baru yang Zoya ketahui tentang Zen.
Salah seorang pemegang gitar memulai aksinya. Senar-senar tersebut sudah mulai mengeluarkan nada-nada melankolis yang romantis. Tak lama kemudian Zen mulai membawa mikrofon kearahnya.
Dengan kekaguman yang luar biasa, Zoya menatap lekat pada Zen. Mata gadis itu seakan tak berhenti berbinar.
Jantung nya berdetak cepat menantikan apa yang akan keluar dari mulut Zen yang begitu sensual. Zoya membayangkan suara maskulin khas Zen mengambang menembus keromantisan malam, yang akan mampu membuat Zoya bahkan melayang dengan kekaguman superior.
Zoya dapat melihat wajah-wajah penuh kekaguman dari wanita-wanita yang juga berdiri disekitarnya , membuat Zoya menatap risih sesaat, namun juga sedikit membanggakan dirinya sebagai kekasih pria yang ada di depan sana.
Jantung Zoya semakin cepat berdetak saat namanya di sebutkan bersama dengan untaian kata cinta lainnya.
Ya..
Di depan sana, Zen sedang menyairkan kata kata puitis penuh cinta untuknya, jauh dari apa yang Zoya sangkakan.
...Zoya, Menemukanmu adalah perihal indah......
...*M*encintaimu, Selalu membuatku gundah, resah, takut akan kehilangan.....
Pandangan Zen hanya terfokus pada Zoya, baginya di tempat itu, saat ini tak ada orang lain, hanya Zoya seorang.
...Mencintaimu dengan apa adanya hatiku,.....
...seperti untaian tangga melodi....
...yang terukir sempurna, siap untuk menjadi sebuah nada yang memenuhi sukma....
__ADS_1
...dan bersama caraku mencintaimu,...
...dapatkah aku melukiskan cinta untukmu...
...seperti notasi mimpi kupu-kupu bersayap biru, terbang bersama menuju negeri pelangi....
...Jika tersedia satu permintaan,...
...aku ingin mempengaruhi semuanya menjadi satu kebahagiaan, agar kau tau, bagaimana berartinya dirimu bagiku,...
...Zoya.....
...Menua lah bersama ku, hingga kata perpisahan itu hanya takdir yang memberinya*....
...~Aku Zen, mencintaimu Zoya Vidette Wijaya....
Setelah kata-kata penutup syair terucap dari Zen, tak terasa air mata mengalir begitu saja membasahi pipi Zoya.
Perasaannya penuh sesak, seakan ia tak sanggup bernafas, rongga-rongganya seakan menghantam dahyat dirinya dengan sejuta kebahagiaan yang begitu luar biasa membuatnya terbang hingga menembus bintang malam.
Zoya seakan datang ke dunianya sendiri, riuh tepuk tangan, pujian serta sorakan untuk Zen dan dirinya seperti tak terdengar olehnya. Zen sudah membawanya terbang begitu jauh, hingga ia perlu waktu untuk kembali pada pijakannya.
Zen melompat turun dari pondok untuk menghampiri Zoya, Zen kembali memberikan kejutan baginya, ada banyak balon udara yang dihiasi dengan lampu-lampu cantik menerangi langit gelap malam, cahaya yang luar biasa cantik menyemarakan Saat itu, semua mata tertuju memandang pada langit, melihat pada pembuktian cinta Zen yang begitu manis dan menyentuh kedalaman hati Zoya.
..."I LOVE YOU MY Zoe.. "...
Zoya hanya mampu memeluk Zen dengan erat. Ia sungguh bahagia saat ini. Zen benar- benar membuatnya merasa begitu di cintai. Karena memang begitulah adanya cinta Zen padanya.
Setelah puas menikmati malam, Zen membawa Zoya kembali ke Villa. Bagi Zoya, malam ini adalah malam yang sempurna. Salah satu malam terbaik dalam hidupnya.
Pukul sembilan malam waktu setempat, keduanya sudah sampai di Villa. Zen mengantarkan Zoya ke kamarnya.
''Masuklah!'' Zoya membawa serta Zen, ''Tunggu sebentar disini.'' Zoya membiarkan Zen duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya, sementara ia menghilang di balik pintu kamar mandi.
Zoya mencuci wajahnya kemudian mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Lima menit setelahnya, Zoya sudah keluar dengan handuk ditangannya yang mengusap lembut pada wajah Zoya yang lembab.
Setelah mengusapkan pelembab pada wajahnya, Zoya naik keatas ranjang, lalu menepuk pelan di sisinya, ''Kemarilah kak, aku ingin tidur bersama mu malam ini.''
Deg..
__ADS_1
Deg..
"Baiklah, ayo kita tidur." Zen melangkah mendekati Zoya, gadis itu sudah memposisikan dirinya di bawah selimut, sementara Zen berbaring disampingnya, menempatkan kepala Zoya di atas bahunya, Zoya memeluk Zen dengan begitu tenang. Sesekali Zen mendaratkan ciuman sayang di kening Zoya.
"Tidurlah sayang." Zen mengeratkan pelukannya, sambil membelai pelan rambut Zoya. Pelukan Zen adalah pelukan ternyaman yang Zoya rasakan,-- "hmm.Kakak juga tidurlah."
Meskipun Zoya membuat jantung Zen berdegup kencang, aliran darahnya mengalir lebih cepat dari yang seharusnya.
Wajar jika Zen menanggapi ajakan Zoya dengan artian undangan kepada seorang kekasih. Namun pada dasarnya Zen memahami Zoya, memahami kekasihnya itu lebih dari siapapun, lagi-lagi Zen harus meredam keinginan naluriah nya. Ia tau bagaimana kepolosan Zoya, setiap kata yang diucapkan nya memiliki artian yang sebenarnya, tak ada makna tersirat lainnya.
...❄️❄️❄️...
Pukul delapan pagi, Zoya bangun lebih dulu dibandingkan Zen..Kekasihnya itu masih terlelap dengan begitu pulas nya.
Setelah selesai mencuci wajah, Zoya keluar dengan perlahan dari kamar, tak ingin membuat suara yang dapat membangunkan Zen. "Selamat pagi nona." sapa Fredy yang ternyata sudah berada di Villa. Zoya mengembangkan senyum diwajahnya menjawab sapaan pengawalnya,
"Selamat pagi juga Fredy." Zoya menuju pantry tempat Bi retno berada. "Selamat pagi Bi."
"Selamat pagi juga non, mau sarapan sekarang?" tanya bii retno. "Nanti aja bii, aku mau bikin sarapan aja buat kak Zen, ajarin ya.." pintanya, yang langsung di balas senyuman ramah oleh bii retno.
Bukan hal yang rumit untuk Zoya pelajari. Hanya dengan sekali melihat, ia sudah bisa mempraktekan apa yang Bi Retno ajarkan padanya. Untuk sarapan kali ini, Zoya hanya membuat pancake cream honey sous, sosis panggang, dan segelas creamy latte untuk Zen. Hanya membutuhkan kurang lebih tiga puluh menit untuk menyiapkan sarapan tersebut.
"Selamat pagi sayang." sapa Zen yang sudah mengikuti Zoya ke pantry, dan duduk di sana. "Pagi kak." Zoya masih menata sarapan nya dalam nampan dan membawanya ke atas meja makan. Sementara Bi retno, masih melanjutkan sisanya. "Ayo sarapan." ajak Zoya, Zen menyaksikan Zoya tampa berkedip, gadis kecilnya ternyata belajar banyak hal ditempat ini. "Kau membuat ini sayang?" Zen menunggu sarapannya di hidangkan.
"Tentu saja, aku membuatnya untukmu." jawabnya sambil tersenyum penuh cinta. "Well, well,.. sepertinya enak, terima kasih." Zen membalas senyuman Zoya tak kalah mempesona.
Fredy sengaja tak ingin muncul untuk menyapa tuannya, atau nona Zoya akan memintanya duduk dimeja yang sama dengan mereka saat ini, dan permintaan itu tidak akan mudah ia tolak.
Fredy tak ingin mengganggu waktu bersama tuan dan nona nya. Keduanya nampak sangat bahagia pagi ini. "Apa kau akan pergi ke kontruksi pagi ini..?" tanya Zen di sela-sela sarapannya. "Hmm.Tidak kak, tidak ada jadwal pertemuan hari ini, kenapa?"
"Baguslah kalau begitu, karena aku sudah membuat janji untuk kita hari ini."
Zoya mengerutkan keningnya, menatap Zen penuh tanya, "Janji? dengan siapa..? untuk apa..?" bukan jawaban yang Zoya dapatkan, malah senyuman menggoda penuh intrik. "Rahasia. Nanti kamu juga akan tau." Zen tersenyum sambil memainkan alisnya.
"Kenapa rahasia..?"
Zen mencubit gemas hidung Zoya, "Karena aku belum ingin mengatakannya padamu sekarang gadis kecil.."
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...