My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
HONEYMOON


__ADS_3

...ENJOY....


.......


.......


.......


.......


.......


Vilamendhoo. Ari Atoll, kepulauan Maldives.


Pulau yang di pilih Zoya sebagai destinasi bulan madu mereka adalah pulau Vilamendhoo. Salah satu pulau dengan resort dan Spa terbaik dari pulau-pulau lain disekitarnya, dan yang paling penting  pulau Vilamendhoo adalah pulau dengan titik penyelaman terbaik di Maladewa.


Sebelumnya, Zen sudah mereservasi sebuah kamar di centara grand island resort, salah satu hotel berbintang lima terbaik di kepulauan Maldives. Zen juga sudah memesan semua fasilitas terbaik untuk memanjakan istrinya selagi mereka berbulan madu.


Ini adalah perjalan pertama mereka bersama. Zen ingin menjadikan perjalanan kali ini sangat berkesan bagi wanita yang ia cintai.


Dengan menaiki sebuah kapal pesiar, Zen dan Zoya akhirnya sampai di tempat tujuan mereka, yaitu pulau Vilamendhoo. "Kau suka pulau ini sayang? Aku sengaja memilihkan tempat yang sesuai dengan selera mu." ucap Zen cukup puas dengan apa yang sudah ia pilih. Pulau Vilamendhoo bahkan melebihi ekspetasinya.


Tak hanya penginapan yang ia pilih, bahkan disekitar pulau di bangun resort-resort yang terlihat begitu elegan dan juga sangat cocok untuk dijadikan sebagai tempat berbulan madu. Nuansanya pun terasa sangat intim dan romantis. Berbagai macam hal sudah melintas di pikiran Zen.


"Kita sudah disini, jadi kita harus menikmatinya bukan?" jawab Zoya. Senyuman dengan mata berbinar sekaligus antusias terpampang nyata di wajah istrinya itu. Apakah Ia bahagia? tentu saja.


Ini adalah saat yang ia tunggu-tunggu di dalam hidupnya.


Saat mereka tiba, manager hotel sudah berdiri di depan bersiap untuk menyambut kedatangan pasangan pengantin baru tersebut, "Selamat datang di resort kami, tuan dan nyonya. Silahkan ikuti saya, akan saya antarkan kekamar anda.'' sapa nya ramah. Sementara salah seorang pelayan wanita memasangkan kalungan bunga selamat datang kepada keduanya.


"Ini kamar anda, jika ada hal lain yang anda perlukan silahkan hubungi CS kami. Kami siap melayani anda kapan saja.'' tambahnya, lalu undur diri untuk membiarkan kedua tamunya beristirahat.


Zoya sangat menyukai resort yang di pilih Zen. Yang membuatnya begitu tertarik adalah Resort di pinggir pantai yang menyuguhkan pemandangan laut biru membentang luas. "Ini sangat indah kak. Aku suka.'' seru Zoya, melonjak kegirangan. Ia juga tak bisa menahan rasa ingin tahunya.


''Baguslah jika kau suka, semua ini khusus di siapkan untuk mu sayang.'' jawab Zen merasa puas melihat istrinya yang begitu bahagia.


Setelah meletakan barang-barang, Zoya langsung membuka kaca yang sekaligus berfungsi sebagai pintu di kamar tersebut, ia mulai mengeksplore fasilitas yang ada di penginapan nya.

__ADS_1


Dari luar balkon, Zoya bisa melihat langsung ikan-ikan yang berenang di dalam air. Di sana juga sudah tersedia sepasang kursi untuk berjemur, dan juga dipan yang cukup nyaman untuk menghabiskan waktu di bawah terik matahari.


Area yang dipilih Zen bersifat cukup privasi. Jarak antara penginapan satu dengan penginapan yang lain tidak kurang dari dua puluh meter. Sepertinya memang tempat yang dibuat khusus untuk bersenang-senang.


''Mau makan siang disini, atau diluar?" tawar Zen yang sudah berganti pakaian, sementara istrinya itu masih terpesona dengan pemandangan yang ada di depan matanya.


"Bagaimana kalau disini saja kak, aku masih ingin lebih lama disini.'' jawab Zoya yang merasa nyaman dengan posisinya sekarang. ''Kamu gak mau ganti baju dulu sayang?'' kata Zen lagi, menyela kenyamanan istrinya.


''Ah, sebentar kak. Apa kau sudah memesan makan siang nya?"


''Hmm. Aku sudah memesan beberapa jenis dessert, dan untuk menu utama nya adalah seafood kesukaan mu. Bagaimana, apa ada hal lain yang kau inginkan sayang?"


"Seperti nya itu cukup kak. Aku akan segera ganti baju.''


Saat Zoya membongkar isi kopernya, ternyata semua baju-baju dan perlengkapan lainnya sudah tersusun rapi di dalam lemari. Selagi ia asyik melihat pemandangan, suaminya sudah mengerjakan tugasnya dengan sempurna, memang suami idaman.


Sebelum menghilang di balik pintu, Zoya terlebih dahulu menghampiri suaminya yang saat ini tengah duduk di atas ranjang sambil memainkan ponsel, ''Sayang terima kasih.'' ucapnya, mencium pipi Zen, tersenyum kecil, lalu menghilang.


Zen hanya tersenyum geli melihat tingkah lucu istrinya. Zoya memang menggemaskan. Selain memang usianya yang terbilang masih muda, Zoya dapat membuat siapa saja luluh dengan senyuman polos yang ia miliki. Tak jarang membuat Zen berharap agar ia dapat memasukan Zoya ke dalam saku nya. Ia tak rela jika istrinya itu menebarkan senyuman manisnya kepada orang lain.


Sesaat kemudian, Zoya keluar dengan hanya mengenakan kaos oblong tipis dengan tali bikini yang mengikat di lehernya, disertai dengan hotpants berwarna biru malam. "Kau yakin ingin makan mengenakan pakaian itu sayang..?" Zen melirik pada Zoya.


Zen terus memperhatikan dirinya, sampai-sampai pipi Zoya semakin memerah.


"Apa..?'' Zoya bertanya lagi, merasa curiga akan tatapan tersebut.


Zen tersenyum, Ia berjalan perlahan ke arah Zoya, ''Aku mencintaimu.''


Zoya sudah mau membalas ucapan Zen jika saja Zen tidak mencium bibirnya. Zoya tersentak namun tetap diam, lalu selanjutnya ikut membalas setiap kecupan demi kecupan yang Zen berikan.


Zoya merinding saat tangan Zen meraih lehernya untuk memperdalam ciuman mereka. Lalu begitulah. Api yang ada di antara mereka seolah disiram dengan minyak tanah hingga terus berkobar besar dan mereka tak bisa menahan nya lagi.


Zoya mendesah tertahan saat Zen mengangkat tubuhnya dan menggendong dirinya tampa melepaskan ciuman mereka. Nafas Zoya terdengar ngos-ngosan saat ciuman Zen berpindah ke lehernya. Pria itu mencium, menjilat dan tampa ragu-ragu menggigit leher dan pundak Zoya dengan gemas.


Tangan Zoya mencengkram rambut Zen dan memeluk kepala pria itu agar semakin dalam menanamkan ciumannya. Berbeda dengan tangan Zen yang saat ini sudah menjelajah ke berbagai arah.


Tak ada yang bisa Zen pikirkan. Hidangan lezat sudah terpampang jelas berada di hadapannya. Terlihat cantik dan menggiurkan disaat bersamaan. Tak ada lagi gangguan. Yang ada hanya cinta yang keluar dari tubuh mereka yang saling mendamba.

__ADS_1


Zoya memekik pelan saat tangan Zen meremas miliknya. Tangan suaminya itu memang susah untuk di kendalikan. Asal diberikan sedikit sinyal, maka tak akan bisa di hentikan.


"Kak.."


"Ssssttt.. sebut nama ku sayang.''


Zen melirik sebentar ke arah wajah Zoya, lalu keduanya kembali diam saling meneliti satu sama lain dengan dada yang naik turun tidak karuan.


Zoya berada di bawahnya sekarang. Dengan rambut berantakan, mata sayu, bibir merah membengkak yang memanggil untuk dicintai.


"Mau mencoba hidangan pembuka yang spesial sayang?" ucap Zen dengan begitu intim. Zoya bahkan bisa merasakan nafas Zen di pipinya.


Zoya sangat ingin menjawab ajakan tersebut, namun ia tak sempat melakukannya karena bibir Zen begitu cepat membungkam mulutnya.


Tubuh Zoya pasrah saat suaminya itu melepaskan satu per satu pakaiannya dengan pelan. Entah berniat untuk menggoda atau memang Zen yang ingin bermain lambat.


Zoya mendesah frustasi saat sekali lagi Zen hanya terdiam diatasnya sambil terus memandang tubuhnya yang tak tertutup sehelai kain pun.


"Kak!'' tegur Zoya yang mulai merasa risih, ia juga merasa sedikit tak terima saat menyadari ternyata suaminya masih memakai pakaian lengkap.


Zen tersenyum. Dada nya terasa penuh oleh kebahagiaan. Lalu tampa peringatan ia kembali mencium bibir Zoya sambil melepaskan pakaian nya sendiri. Zen sangat suka saat melihat istrinya itu beraksi seperti yang ia inginkan. Rasanya sebentar lagi Zen akan gila. Zoya memang selalu membuatnya seperti ini.


Begitu mencinta. Begitu mendamba, dan begitu menggila.


Zoya tak tau berapa kali Zen membuatnya serasa melayang. Yang ia ingat, ia sangat sering meneriakkan nama laki-laki itu. Laki-laki yang selalu bisa membangkitkan sisi liar dan gila dari dalam diri Zoya.


"Kita makan?" ajak Zen, saat keduanya tengah berbaring dengan saling memeluk.


"Sekali lagi? Aku lelah kak." tolak Zoya halus. Bukannya ia tak ingin, tapi ia benar-benar merasa seperti baru menyelesaikan lari sprint 800 meter.


Zen tergelak..."bukan! maksudku makan sungguhan. Tapi kalau kau mau, aku siap untuk mengulang semuanya dari awal."


"Huh! mesum!"


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2