My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
Kata Perpisahan


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Setelah menerima kabar dari Leon, Lova bergegas berlari dari pantai menuju kerumah Zoya.


Saat itu, matahari sudah hampir kembali ke dalam peraduan nya. Lova berlari dengan begitu cepat, dengan seluruh tenaga yang masih tersisa pada dirinya.


Lova hampir tak mempercayai apa Yang telah ia dengar dari Leon. Berita tentang kecelakaan yang menimpa wanita yang Lova kagumi. Mommy dari kekasihnya, wanita hebat yang memberikan banyak motivasi dan juga dukungan bagi Lova.


Tapi kini, bagaikan tersambar petir di malam hari, Lova benar-benar dibuat sangat terkejut.


Lova berusaha menghubungi Ken, namun kekasihnya itu tidak menjawab satupun panggilan Lova.


Ken pastilah sangat terpukul saat ini, dan Lova sangat ingin berbagi kesedihan bersama Ken.


Lova pernah berada di posisi yang sama, dan saat itu, hanya ada kakaknya Megan yang memberinya bahu untuk menangis, mereka melewati suka duka bersama setelahnya.


Dan saat ini, Lova juga ingin memberikan bahu dan pelukan nya pada Ken, tapi apa daya. Mereka di pisahkan oleh benua yang begitu luas.


Ah! seharusnya Lova menerima tawaran Ken untuk datang ke Indonesia, tapi apa yang Lova lakukan? Ia menolaknya begitu saja.


"Ken, ku mohon kuatlah"


"Kak Zen, kak Zoya?" Teriak Lova memanggil penghuni rumah, saat ia tiba di depan pagar rumah pasangan ZZ tersebut.


"L.. kau disini juga?" Sapa Shreya yang juga segera pergi kerumah ZZ saat mengetahui berita duka yang menimpa keluarga sahabatnya tersebut.


"Hmm. Tadi Leon menelpon ku." sahut Lova dengan nafas tersengal-sengal.


"Sebaiknya kita langsung masuk saja, aku yakin mereka ada di dalam." ajak Shreya.


Setelah memencet bel tiga kali barulah pintu terbuka. Zen membuka pintu dengan mata sembab disertai wajah panik.


"Kak Zen, kami sudah mendengar beritanya. - Bagaimana kak Zoya? " Tanya Lova, merasa cemas.


"Masuklah!- Ajak Zen terburu-buru.


"Zo'e baru saja tenang, Dan baru saja ia tertidur setelah ..- Zen kembali menitikkan air mata. "Kami akan pulang dengan penerbangan pertama besok pagi." jelas Zen pada keduanya.


"Kami turut berduka kak.. " ucap Shreya, turut merasakan kesedihan yang dirasakan keluarga tersebut.


Lova benar-benar merasa begitu sedih, ia masih berusaha menghubungi Ken, namun tetap saja tidak ada jawaban.


Ia ingin pergi, namun keterbatasan biaya. Ia tidak mungkin menyusahkan orang lain.


...❄️❄️...


...Jakarta, 02.45 Am....


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 16 jam 45 menit, akhirnya Zen dan Zoya tiba di Airport Jakarta.


Di jemput oleh supir pribadi Dady nya, keduanya langsung di bawa menuju rumah duka, tempat dimana mereka masih bisa melihat mommy nya untuk terakhir kali sebelum disemayamkan ke esokan harinya.

__ADS_1


"Kak, aku benar-benar berharap semua ini adalah mimpi. Seperti mimpi-mimpi buruk sebelumnya. Tapi ternyata..." lagi-lagi Zoya menangis.


"Tidak ada yang menginginkan hal seperti ini terjadi sayang. Tidak kau bahkan kita semua.- Kita semua menyayangi dan mencintai Mollie, takdir lah yang membuat semuanya seperti ini.- Tidak hanya kau yang merasa terluka sayang, kita semua pun begitu.-


"Kau harus kuat, pikirkan Dady dan Ken, mereka akan semakin terluka jika melihat kau seperti ini.-


Zen memeluk Zoya. Ia sangat tau bagaimana perasaan istrinya, ia pun merasakan hal yang sama.


Pukul 3 dini hari, Zen dan Zoya pun tiba dirumah.


Di dalam rumah terlihat begitu banyak keluarga yang berkumpul. Tidak hanya itu, bahkan Aunty dan Uncle yang lama tidak Zoya jumpai pun semuanya hadir di sana.


Zoya dan Zen melangkahkan kakinya dengan perasaan takut dan juga tak berdaya.


Ada begitu banyak wajah yang terlihat lelah dan pasrah. Bahkan cukup banyak juga wajah yang melihat dengan iba kepada Zen dan Zoya.


Di sana, tidak jauh dari peti Jenasah yang sudah dihias dengan begitu indahnya dengan dikelilingi bunga lili dan juga mawar yang semuanya berwarna putih, duduklah sosok yang terlihat begitu rapuh dan tidak berdaya atas kemalangan yang diterima.


"Dady..!"


Zoya berjalan perlahan kearah pria paruh baya yang tengah merasakan duka yang mendalam tersebut, Dady nya. Wajah Rehan terlihat begitu lelah..


"Angel..?" Zoya kembali menangis saat berada di pelukan sang ayah. "Dady baik-baik saja?" isak Zoya.


"Bagaimana Dady akan baik-baik saja sweet heart! Bagaimana Dady bisa.. ?"


Rehan memeluk erat putrinya yang kini tengah terisak. Keduanya kembali berbagi kesedihan dan juga luka yang sama.


"Dad, mom mencintai kita- meskipun mom sudah lebih dulu pergi meninggalkan kita, mommy akan menunggu kita di sana, mommy sedang menyiapkan tempat Yang indah agar nanti kita bisa berkumpul kembali." ujar Zoya sambil terisak.


"Kau benar, Angel.. mommy memang seperti itu. Mommy akan melakukan apa yang kau katakan, hanya saja... "


Di sana tidak hanya ada Rehan, tapi juga ada Aldi, ayah mertua Zoya dan juga Uncle Dony, bersama-sama dengan Opa dan juga kerabat lainnya.


"Aku ingin melihat mom.." Pamit Zoya setelah menyapa Yang lainnya. "Pergilah, temui mommy mu sayang." sahut Rehan.


Zoya meninggalkan Dady nya, dan berdiri di samping suaminya yang sudah lebih dulu berdiri di dekat peti tempat mommy nya di baringkan.


Mommy nya. Wanita tercantik yang pernah Zoya lihat. Wanita yang sama, yang saat ini terbujur kaku dengan wajah putih pucat di hadapannya.


"Mom...? aku disini.- Aku dan kak Zen datang untuk mengantarkan mommy ke peristirahatan mommy yang terakhir.- kami mencintai mu mom.. "


Zen dan Zoya sama-sama menitihkan air mata saat melihat wanita Yang sangat mereka cintai itu menutup mata untuk selamanya.


"Sebaiknya kita berdoa sekarang sayang, setelah itu kau harus istirahat sebentar sebelum pemakaman besok pagi. - Kau juga harus memikirkan Little Cerry." ajak Zen, mengingat sebelumnya mereka terus terjaga sepanjang penerbangan.


"Hmmm. Baiklah Kak." sahut Zoya yang memang merasa begitu lelah.


Setelah selesai berdoa, Zen membawa Zoya naik ke lantai dua, sementara Dady nya bersama dengan Opa, Dady Al dan uncle Dony.


"Kakak melihat Ken? aku tidak melihatnya sejak tadi." Tanya Zoya saat tak menemukan sosok adiknya diantara para pelayat di lantai dasar.


"Mungkin Ken di kamarnya sayang, bisa saja dia tertidur sekarang." sahut Zen.


"Aku ingin melihatnya sebentar kak."


Zen dan Zoya kembali naik ke lantai 3 untuk mendatangi kamar Zen. Alih-alih mendapati adiknya, kamar itu malah terlihat kosong tak berpenghuni.


"Mungkin Ken di bawah sayang. Sebaiknya kau segera istirahat, biar aku yang mencari Ken." ajak Zen.

__ADS_1


Setelah memastikan Zoya tertidur, Zen kembali naik ke lantai 3. Ia kembali mendatangi kamar Ken.


Sebelumnya, Zen melihat angin berhembus dari arah balkon, mungkin saja Ken berada di sana.


"Ken..? kau di dalam?" Panggil Zen, menuju ke arah balkon, dan benar saja, adik kecilnya itu sedang menyembunyikan dirinya dalam kegelapan.


"Ken..?" Zen mengambil tempat untuk duduk di samping Ken, keduanya kini telah duduk beralaskan keramik yang dingin ditemani hembusan angin pagi yang berbau basah.


"Bagaimana kabarmu Ken? Kau perlu istirahat." ujar Zen memecah keheningan. "Aku baik-baik saja kak. Aku hanya ingin sendiri." jawab Ken lemah.


"Kau sudah menjawab ponselmu? Lova sangat mencemaskan mu, sejak kemarin Lova berusaha menghubungi mu. Sebaiknya kau jawab panggilannya- itu akan membuat mu merasa lebih baik."


"Hmmm. Aku akan melakukan nya nanti kak, aku hanya ingin sendiri sekarang." sahut Ken lagi.


Pria malang itu sedang menyembunyikan wajah sedihnya dalam kegelapan malam. "Hmm. Baiklah. Itu terserah padamu."


...❄️❄️...


Ke esokan harinya...


Pukul 10 pagi, jenasah Julie di bawa menuju tempat persemayaman terakhir.


Ada begitu banyak keluarga dan juga sahabat yang datang untuk mengantarkan kepergian Julie ke peristirahatan panjang nya.


Pemakaman itu kembali di selimuti oleh suasana duka yang mendalam Ada begitu banyak air mata yang menetes dan juga perasaan tak rela melepaskan orang yang mereka cintai untuk selamanya.


"Moo, kau harus menunggu ku dengan tenang disana.- Rehan buka suara. "Tapi Kau harus menunggu sedikit lama Moo, Kau harus lebih sabar. Aku harus menunggu putra kita tumbuh dewasa dan juga menemani cucu kita bermain terlebih dahulu.-


"Aku harus menceritakan padanya, bagaimana hebatnya sosok oma yang akan mencintainya jika saja kita diberikan waktu yang lebih lama untuk bersama.- Kau harus menunggu ku dengan sabar, setelah nya ku pastikan aku akan datang padamu sayang.-


"Aku akan begitu merindukan mu melebihi biasanya.- Jangan khawatirkan aku sayang, beristirahatlah dengan tenang. Aku akan mencintaimu seumur hidup ku."


Semua yang hadir di sana merakan kesedihan yang Rehan rasakan. Semua orang sangat tau bagaimana seorang Rehan begitu mencintai istrinya, Jullie Ananta.


Di balik kata-kata tegar itu, tersirat sebuah duka yang mendalam.


Bagaimana Rehan tidak berduka jika separuhnya jiwanya lebih dahulu pergi meninggalkan nya.


Wanita luar biasa yang sudah mendampingi Rehan selama 28 tahun. Wanita yang memberikan begitu banyak cinta dan kebahagiaan bagi Rehan.


"Sampai bertemu lagi dalam keabadian sayang. You are the one and Only for me, now and until forever."


Setelah Zen, Zoya dan Ken memberikan salam terakhirnya, semua orang pun kembali. Selesai sudah tugas mereka mengantarkan wanita hebat itu menuju peristirahatan terakhirnya.


'Dad..? mari kita kembali..!" ajak Zoya, namun Rehan menolaknya.


"Pulang lah sayang,- Zen, bawalah angel dan Ken kembali.- Perintah Rehan. "Dad akan berada lebih lama disini, Dad ingin tinggal sedikit lebih lama bersama mommy." tambah nya.


"Baiklah Dad.. kami akan kembali." sahut Zen.


"Aku akan bersama Dad disini,- Sela Ken. "Aku akan menjaga mereka kak." timbal Leon.


"Baiklah.. kalau begitu kami akan kembali sekarang." pamit Zen, menuntun istrinya kembali ke mobil. "Aku harap mereka akan baik-baik saja."


"Ya sayang, Dady dan Ken akan baik-baik saja."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2