
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Setelah menyelesaikan pemotretan nya di hari ketiga, Lova dan William bersiap-siap untuk kembali ke London. Semua barang yang Lova bawa sudah terlipat dengan rapi di dalam koper, hanya tinggal menunggu jemputan menuju airport beberapa jam lagi.
Sementara menunggu waktu keberangkatan, Lova merasa enggan untuk mengurung diri di dalam kamar. Tidak ada yang bisa dilakukan nya di sana. Berbaring? ia sudah melakukan itu sepanjang malam. Menelpon kekasihnya? Lova tau Ken sedang bekerja, jadi Lova tidak akan menganggu Ken.
Karena itulah, Lova memilih untuk menyempatkan diri pergi bar yang ada di hotel tersebut. Ia ingin menikmati fasilitas hotel sebelum pergi.
Lagi pula mereka sudah membayar mahal untuk menginap di sans, tidak salah jika Lova ingin menikmati fasilitas yang telah disediakan.
Lova melirik pada jam tangan yang ia kenakan, saat ini memang masih terlalu dini untuk mengunjungi bar, tapi tidak apa-apa, ia hanya ingin bersantai sambil menikmati segelas cocktail berperisa kesukaan nya.
'Dimana Willi? kenapa lama sekali?" Lova melihat ke sekitar mencari sosok William. Namun Bos sekaligus manager nya itu belum juga muncul.
Menjadi seorang model terkenal memiliki dua dampak bagi Lova. Yang pertama, berdampak baik bagi kehidupan nya secara finansial dan juga sosial nya di kalangan masyarakat.
Dan yang kedua, akibat dari menjadi di kenal, Lova harus berhati-hati dalam menjaga privasi. Bagaimana pun ia seorang publik figur, dan Lova harus menerima semua konsekuensi nya, termasuk jika kebebasan nya harus terganggu.
Lova tidak bisa lagi menjadi dirinya yang dulu, yang bisa melakukan apa saja tanpa di dampingi manager ataupun pihak dari agency, apalagi jika kegiatan yang dilakukan nya tersebut membuat dirinya harus berada di tengah-tengah publik, sehingga dapat dengan mudah di jadikan sebagai bahan perbincangan di kolom media.
Seperti sekarang, ketika Lova ingin menikmati waktu nya seorang diri, tapi ia tidak bisa melakukan nya. William mengatakan kepada Lova, bahwa menjadi seorang yang terkenal, akan membuat nya di kelilingi oleh begitu banyak paparazi yang berkeliaran disekitar, baik dengan kedok apapun.
Karena itulah Lova harus selalu berhati-hati. Ia harus menjaga citra nya di depan publik agar tidak menimbulkan skandal, yang nantinya mungkin akan memberikan dampak negatif pada pekerjaan nya.
Lova masih mengetuk-ngetuk kakinya di lantai marmer di luar area room hotel. Ia menunggu William. Hanya William lah satu-satu nya yang aman untuk menemani Lova pergi kemanapun.
Dengan penyamaran nya saat ini, Lova sudah menjaga agar dirinya tidak di kenali oleh orang lain, dengan memilih untuk mengenakan masker dan juga kacamata sebagai pendukung fashion nya.
Meskipun sedikit misterius namun Lova tetap terlihat stylist dengan Outfit yang digunakan nya saat ini.
''Kau sudah lama disini? maaf membuat menunggu L.'' William menyentuh pelan pundak Lova kemudian berdiri di samping nya dengan hanya mengenakan pakaian yang terlihat lebih santai.
dan, Waw.. William terlihat berbeda. Lebih terlihat fresh dan juga lebih tampan.
''Lihat dirimu Bos, jangan sampai membuat para gadis di tempat ini jatuh pingsan.'' Goda Lova, seraya menyunggingkan senyum.
''Jika kau saja tidak terpesona, apalagi wanita lain.'' sahut William cepat, sambil mengenakan kacamata nya.
Lova tertawa kecil mendengarkan ocehan William. ''Aku bukan nya tidak terpesona. Hanya saja, hatiku sudah di miliki oleh the one and only, my king.'' sekali lagi, Lova tersenyum.
''Kau tau, kau tampan Will,, kau juga sangat baik, aku rasa kekasihmu kelak akan sangat beruntung memilikimu.'' Puji Lova tulus.
Mendengar kata-kata Lova. William teringat dengan apa yang selalu papa nya inginkan. Yaitu agar William segera menikah.
William pun ingin secepatnya mewujudkan harapan sang ayah, hanya saja ia tak ingin pernikahan nya terjadi karena sebuah bisnis.
*''Beruntung? tentu saja beruntung jika yang di incar nya Adalah uang.'' *pikir William, tersenyum sinis.
Setelah tiba di dalam bar, keduanya memilih untuk duduk di depan bartender. Lova memesan Cocktail non alkohol, sementara William hanya memesan segelas Tequilla.
Lova cukup menyukai suasana di dalam bar tersebut, tidak bisik seperti yang di pikirkan nya. Dan yang lebih membuat Lova merasa nyaman adalah iringan piano yang di mainkan secara Live.
Lova ingin sekali berlama-lama berada di tempat itu.
''L, apa rencana mu setelah ini?'' William memainkan gelas minuman nya sambil terus memperhatikan Lova.
''Rencana yang mana maksud mu Will? Pekerjaan, atau yang lainnya?" Lova menyunggingkan senyum, sambil sesekali menyesap minuman miliknya.
''Yang mana saja, yang menurut mu boleh ku ketahui.''
''Aku tidak punya rencana apapun yang spesifik. Hanya saja, setelah kontrak ku selesai, aku tidak akan melanjutkan karier ku sebagai model.''
__ADS_1
Suatu pernyataan yang cukup mengejutkan bagi William. L hendak meninggalkan karier nya yang sedang berada di puncak kejayaan.
''Kau sungguh-sungguh ingin melakukan itu L? maksudku meninggalkan karier mu?" Ini sungguh-sungguh mengejutkan bagi William. Ia tak pernah menyangka jika Lova akan memilih untuk menyudahi karier nya secepat ini.
''Pekerjaan ini hanyalah sebuah batu loncatan bagi ku Will. Aku memanfaatkan nya untuk menolong diriku dari kemiskinan. Ku rasa kau cukup tau bagaimana kehidupan ku sebelumnya. Tapi sekarang, ku rasa aku tidak perlu lagi melakukan itu.-
''Aku hanya ingin menjadi wanita biasa. Wanita yang juga memiliki hasrat untuk mengejar mimpi.''
''Apa mimpi mu L..?"
''Entah lah Will, aku belum berani mengatakan nya. Tapi aku selalu berdoa agar mimpi ku itu bisa ku terwujudkan'' harap Lova.
''Apa ini karena, Ken?" tebak William, sedikit ragu.
''Ken? Tidak Will. Tidak sama sekali. Ken tak pernah ikut campur dalam apapun yang akan ku lakukan, Ken justru mendukung ku. Semua itu murni keputusan ku sendiri. Yah, kau taulah.. tidak selama nya dunia ini akan membuatku seperti ini.-
''Dan sebelum itu berakhir, aku ingin menciptakan dunia lain yang bisa membuat ku lebih bebas untuk mengekspresikan diriku sepenuhnya.''
''Boleh aku memainkan itu? sudah sangat lama sejak terakhir aku menyentuhnya.'' lanjut Lova menunjuk ke arah piano dengan dagunya.
''Kau bisa?''
''Tentu.''
William tersenyum lebar. Satu lagi yang baru ia ketahui tentang nona muda itu.
''Mau berduet dengan ku?" tawar William, mengulurkan tangan nya. Ia juga sudah sangat lama tak menyentuh alat musik itu, mungkin sudah bertahun-tahun lama nya.
''Tentu.''
Setelah mendapatkan ijin, William dan Lova duduk berdampingan. Lova memimpin untuk memainkan melodi, sedangkan William yang mengiringinya.
Permainan harmonis keduanya, menjadikan mereka sebagai pusat perhatian. Bersyukur tempat itu tidak terlalu ramai, mereka tidak perlu terlalu berhati-hati.
''Aku tak tau jika kau bisa memainkan piano sebagus itu.'' Puji William dengan tulus.
Setelah mereka kembali ke meja, keduanya hanya duduk untuk beberapa saat, mereka tak bisa terlalu lama di sana, karena akan kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang ke London.
...❄️❄️...
London..
Setibanya di airport, Lova memperhatikan sekitar. Sebelumnya L sudah mengabari Leon perihal kepulangan nya. Bukan berarti Lova ingin Leon selalu mengantar jemput dirinya, karena Lova memang tak pernah meminta hal seperti itu dari sahabatnya.
Hanya saja ia sudah terbiasa dengan keberadaan Leon selama ini untuk mengantar dan menyambut dirinya setiap ia melakukan perjalanan untuk pekerjaan nya.
Namun kali ini, tidak ada sosok Leon diantara kerumunan yang ada di sana. Kemana pergi nya Leon, apa sedang sibuk?
''Mencari siapa L?" tegur William yang sejak tadi memperhatikan kebingungan Lova.
''Tidak ada. Ayo.'' sahutnya, sambil terus memperhatikan sekitar.
Setelah sampai di apartment, L mencoba untuk menghubungi Leon, namun panggilan nya tidak terjawab. Tidak biasa nya Leon mengabaikan panggilan Lova, apa lagi di jam-jam luang seperti ini.
Tak ingin terlalu memikirkan itu, Lova memilih untuk beristirahat, sebelum tiba waktunya untuk menghubungi Ken.
Lova sempat tertidur beberapa jam sebelumnya, dan kini jam sudah menunjukan pukul tujuh malam.
''Astaga, aku melewatkan jam untuk menelpon Ken.'' Lova segera mencari ponselnya dan memeriksa, mungkin saja ada pesan dari Kekasihnya.
Benar saja, dua panggilan tak terjawab, dan lima pesan text. Semua itu dari Ken.
Dengan cepat Lova mulai mengetik untuk membalas pesan Ken, dan segera mengirimkan balasan nya.
Hanya pesan. Lova tidak perlu menelpon Ken, karena kekasihnya itu mengatakan akan segera tidur, itupun beberapa jam yang lalu, sebelum Lova membuka pesan nya.
Inilah salah satu kelalaian Lova, jika sudah tertidur, ia sedikit sulit untuk di bangunkan jika belum sampai di jam yang sudah ia atur di dalam kepalanya.
Namun, di bandingkan pesan dari Ken, Lova lebih memikirkan Leon. Ini adalah murni rasa cemas nya sebagai seorang teman. Seharian Leon tak menghubungi dirinya sama sekali, bahkan tak membalas pesan yang Lova kirimkan juga. Sungguh tidak seperti Leon yang biasa nya.
__ADS_1
''Dimana kau Le, kenapa kau tidak menjawab ponsel mu?" Lova benar-benar merasa cemas sekarang. Apa ini hal yang wajar?
Lova ingin menghubungi Shreya untuk menanyakan tentang Leon, tapi waktu lagi yang menjadi persoalan. Tidak mungkin Lova menghubungi Sea selarut ini hanya untuk menanyakan pacar nya berada dimana. Itupun jika Sea mengetahuinya, jika tidak, bukan kah itu akan membuat Shreya juga merasa kepikiran?
Apa mungkin Leon kembali ke indonesia? Wah, gagasan yang bagus Lova! Tapi lagi-lagi Lova ragu akan gagasan gila itu. Meskipun Leon bisa melakukan nya, tidak mungkin Leon selalu melakukan perjalanan di setiap minggu. Karena Leon juga baru kembali ke-indonesiaan minggu sebelumnya.
Lalu kemana pergi nya Leon? apakah ada sesuatu yang terjadi? Tidak. Tidak. Leon harusnya baik-baik saja.
Lalu apa?
Lova benar-benar tak bisa tenang memikirkan hilangnya kabar tentang Leon. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui Leon di apartemen nya. Lova akan tau jawaban nya saat ia sudah tiba di sana.
Sebelum pergi, Lova mengambil baju hangat dan juga jaketnya. Ia mengambil kunci mobilnya lalu pergi ke apartemen Leon.
Sesampai nya di parkiran, Lova memasuki lift dengan sedikit tergesa-gesa. Ia ingin segera sampai di sana. Entah kenapa perasaan nya tidak akan tenang sebelum melihat Leon secara langsung.
Di depan pintu apartemen, Lova berdiri sejenak untuk mengatur nafasnya agar menjadi lebih tenang. Ia bersikap sesantai mungkin, kemudian menekan bell apartment itu.
Satu kali, tidak ada jawaban. Lova kembali merasa cemas.
Dua kali, tidak juga ada jawaban. ''Bukan kah seharusnya ada Nety di sini..?"
Lova kembali menekan bell untuk ketiga kali nya,..
Ceklek..
Bruukk!
Betapa terkejutnya Lova saat Leon tiba-tiba saja ambruk di depan nya, wajah Leon begitu pucat dan juga sangat lemah. ''Le..? kau kenapa?" panggil Lova panik. Ia segera meletakan tangan nya di kening Leon. Tubuh Leon terasa panas dan juga seluruh tubuhnya di penuhi keringat dingin. Leon demam.
Demam di musim dingin? luar biasa.
''Ya, Tuhan.. ada apa dengan mu Le..?" dengan sekuat tenaga Lova berusaha membopong tubuh Leon.
Demi Tuhan, Lova terlalu kecil untuk mengatasi tubuh seperti Leon. ''Ayolah Le, bergeraklah bersama ku. Aku akan membawa mu masuk.'' gumam Lova, kepayahan.
Ternyata benar feeling nya yang mengatakan bahwa Leon mungkin sedang tidak baik-baik saja. Dan sekarang, ia melihat nya sendiri.
Selama hampir tiga tahun mereka berteman, baru kali ini Lova melihat sosok Leon yang seperti ini.
Tak bisa membawa beban tubuh Leon terlalu jauh, Lova hanya membaringkan Leon di atas sofa. Ia berlari ke kamar mengambil selimut dan juga bantal.
Lova juga mengambil baju Leon dari dalam lemari. Mau tak mau ia harus melepaskan pakaian Leon, atau sahabatnya itu akan masuk angin akibat mengenakan pakaian nya yang basah oleh keringat.
''Ken, Le, Sea,- maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukan ini, tapi aku harus melakukan nya. Ampuni aku Tuhan.'' Setelah mengganti pakaian Leon, Lova bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan air kompresan.
''Le, kau bisa mendengar ku?" panggil Lova, namun Leon masih tertidur dengan suhu badan 38 derajat. ''Sudah berapa lama kau seperti ini? kenapa kau tidak mengirimi ku pesan sama sekali?" gerutu Lova, dengan rasa cemas yang sangat kentara. Bahkan kini matanya sudah berkaca-kaca.
Lova harap Leon akan segera membaik.
Sementara Leon menerima kompresan, Lova memeriksa seluruh nakas untuk mencari kotak p3k. Cukup lama ia mencari akhirnya benda itu ketemu juga.
Lova membongkar semua obat-obatan yang ada id dalam kotak tersebut, dan membaca nya satu per satu; ''Oh God, obat apa yang harus nya ku berikan? apakah yang ini? atau ini? tapi bagaimana Leon meminum obatnya jika ia sedang tidur?'' Kali ini Lova harus mengganti profesi nya menjadi seorang perawat.
Ia sungguh tak berpengalaman, karena dirinya pun jarang sakit, jika terjadi pun, itu hanya karena hal-hal tertentu, seperti alergi atau stress berlebih. Selain itu, ia akan baik-baik saja.
Tiga puluh menit setelah bolak-balik mengompres Leon, ia juga memasakan bubur. Ia harap Leon akan sadar untuk mengisi perut dan dan juga meminum obatnya.
''Le, kau bisa dengar aku?'' ditepuk-tepuk nya pelan pipi Leon, hingga pria itu bereaksi. ''Le, ini aku L, bisa kau bangun dulu? kau harus makan bubur mu dan juga minum obat.'' kata Lova pelan.
Dengan beberapa kali bujukan, akhirnya Leon memakan buburnya sebanyak empat suapan, tapi tidak apa-apa, itu pun cukup. Leon juga sudah meminum obatnya dengan benar.
Kini Lova hanya perlu menunggu. Semoga saja saat bangun, Leon sudah lebih baik.
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1