My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
SWEET FANTASY


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Semua murid memperhatikan dengan antusias kearah pintu yang terbuka. Tak sedikit dari mereka yang mungkin mengharapkan kedatangan satu lagi orang populer, baik itu gadis cantik ataupun cowok tampan yang selalu menjadi spot cuci matanya remaja-remaja putri.


''Masuklah!'' Kata Mr,Damian lagi, lalu untuk kesekian kalinya menebarkan senyuman yang mampu merobohkan tembok berlin. Tak sedikit dari para murid putri yang terkagum-kagum pada senyuman tersebut.


Berbeda dengan Leon. Teman di sebelah Ken itu justru lagi-lagi hanya mengarahkan pandangan nya pada sang gadis populer. Sedangkan Ken, hanya melirik sekilas.


Dalam hitungan detik, murid yang dimaksudkan tersebut akhirnya melangkahkan kakinya ke dalam ruang kelas. Seorang gadis. Gadis yang membuat tak sedikit dari teman-teman dalam kelas tersebut hampir bersamaan mengatakan 'Ooo' dalam artian, biasa saja.


''Apa kalian mengenalnya? apa dia juga salah satu putri orang penting seperti kita?'' bisik-bisik yang kembali sampai di pendengaran Ken.


''Entahlah. Aku tak pernah melihatnya sebelum ini.'' jawab siswi lainnya, lalu kembali hening.


''Baiklah miss, sepertinya tugas ku sudah selesai. Aku akan kembali, silahkan lanjutkan pekerjaan mu.'' katanya, sambil mengedipkan mata. Lalu menebarkan senyuman yang sekali lagi membuat para remaja putri salah tingkah. Sementara miss Casandra hanya menganggukkan kepala, menyetujui perkataan Mr. Damian.


''Baiklah. Karena kau sudah berada disini, sebaiknya langsung saja perkenalkan dirimu.'' Katanya setelah pintu kembali tertutup.


''Sebelumnya, saya minta maaf karena sudah terlambat Miss.'' ucapnya, membungkukkan sedikit badan, lalu melanjutkan perkenalan. ''Hai, aku Shreya. Karena kita akan bersama-sama selama kurang lebih tiga tahun. Aku harap kita semua bisa berteman cukup akrab.'' ucapnya, terdengar sarkas.


Mengingat ruangan tersebut di isi oleh orang-orang yang telah ditentukan, tidak salah jika setiap orang menganggap sebuah hubungan pertemanan hanya sebagai hubungan transaksi belaka.


''Baiklah. Kau bisa mengisi kursi yang ada disana.'' perintah miss Casandra menunjuk meja kosong di depan Leon.


''Pssttt.. Vie.. ! Loe aja yang pindah kesini, gue males kalau tu murid baru yang ngisi!'' ucap Leon setengah berbisik. Namun Viona hanya tersenyum. Gadis itu enggan untuk berpindah dan menukar tempat duduknya.


Saat Shreya mendekat, Leon kembali melancarkan tatapan mengintimidasi, yang seolah-olah mengatakan ''Jangan pernah mikir buat duduk di kursi itu!" Ken hanya memperhatikan dalam diam.


Alih-alih merasa terganggu dengan tatapan tak suka yang Leon tunjukan, Shreya malah tersenyum tak peduli, membuat Leon sekali lagi hanya bisa mengumpat pelan.

__ADS_1


''Heii.. sebaiknya kau pindah di jam berikutnya.'' ucap Leon lagi, dan tidak ada respon dari Shreya.


...❄️❄️❄️...


...Stockholm....


Zoya terbangun tepat pukul tiga pagi saat ponselnya tiba-tiba saja memunculkan notifikasi pesan yang baru masuk. Sambil meraba-raba, Zoya mengambil ponsel dari atas nakas yang tepat berada di dekat ranjang, lalu ia membuka pesan yang baru masuk tersebut, ternyata sebuah pesan dari mommy nya.


Tak ada basa-basi, ataupun serangkaian pertanyaan ataupun curhatan. Yang ada hanya sebuah photo dan kalimat pendek yang tertulis disana, ''Hari pertama Ken di High school.''


Hanya sebuah pesan singkat yang mengingatkan Zoya, bahwa kini adik kecilnya sudah beranjak menjadi seorang pemuda.


Zen yang merasa terganggu dengan cahaya dari ponsel istrinya mengerang kecil sambil menyembunyikan wajahnya di balik punggung Zoya. ''Apa yang kau lihat sayang?'' tanya Zen dengan suara yang terdengar parau.


''Kau bangun kak? apa aku menganggu mu?" tanya Zoya yang sedikit kaget mendengar suara Zen.


''Cahaya ponselmu membuat mataku sedikit terganggu. Apa yang sedang kau lihat?" tanya Zen lagi.


''hmm. Hanya membaca pesan mom.'' jawab Zoya, kembali melihat pada ponselnya sambil membalas pesan mommy nya.


"Mollie..? Ada apa..?"


''Hmmm. Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku melihat Ken masih berlari-lari sambil membawa mainannya, hari ini dia sudah menjadi seorang murid senior.'' gumam Zen.


''Kau benar kak. Semakin hari, waktu semakin terasa begitu cepat berlalu.'' tambah Zoya, disertai helaan nafas.


''Sebaiknya kita kembali tidur sayang, masih ada beberapa jam sebelum penerbangan.'' ucap Zen, sambil mengeratkan pelukannya.


Seperti yang sudah direncanakan, Zen dan Zoya akan untuk berbulan madu, tepatnya menuju pulau Maldives. Tempat yang sangat romantis untuk pasangan baru menghabiskan waktu bersama menjalin cinta.


Sebagai seorang yang sangat antusias untuk pergi berlibur, Zoya sudah menyiapkan semua barang-barang yang akan di bawa nya. Tak banyak memang yang perlu ia persiapkan. Hanya satu koper berukuran sedang dan juga sebuah tas kecil sebagai tempat perlengkapan pribadi Zoya. Dari pada terlalu banyak membawa barang, Zoya dan Zen sepakat untuk membeli perlengkapan lainnya di negera tujuan.


Disela-sela kegiatannya, Zoya sudah memikirkan apa saja yang akan ia lakukan selama pergi berbulan madu. Mereka akan benar-benar menghabiskan waktu bersama dan mengesampingkan urusan pekerjaan untuk beberapa waktu ke depan.


Hari-hari yang sering Zoya bayangkan saat kekosongan menghampirinya, dulu,  disaat ia merindukan Zen, ia akan membayangkan saat-saat seperti ini; suatu hari mereka akan pergi berlibur bersama.


Menginap disebuah pulau, menikmati sejuknya angin laut yang berhembus, menghabiskan waktu untuk melihat pemandangan laut. Tertawa bersama, saling bertukar cerita, saling merayu, dan juga melakukan berbagai hal yang tak pernah Zoya lakukan seorang diri. Sesuatu yang mendebarkan!

__ADS_1


Dulu, hal itu seperti itu sudah termasuk ke dalam daftar serangkaian mimpinya. Mimpi manis yang selalu ia idam-idamkan. Namun sekarang, semuanya tak hanya sebatas mimpi.


Zen tak lagi jauh dari jangkauannya. Zoya tak perlu lagi menerka-nerka apakah Zen memikirkannya? apakah Zen pernah merindukannya? atau pernahkah terlintas di pikiran Zen untuk mengetahui bagaimana keadaan Zoya? Tidak lagi.


Semua itu tak perlu lagi ia pikirkan, karena sekarang Zen sudah menjadi miliknya. Sebuah mimpi yang sudah menjadi nyata dalam hidup Zoya. Saat ini Zen adalah suaminya, dan sebentar lagi, sebagian mimpi lainnya akan kembali menjadi nyata. Ia sudah benar-benar tak sabar.


Sambil menunggu suaminya bangun, Zoya terlebih dahulu membuat sarapan. Ia juga menyeduh secangkir kopi cappucino, minuman yang akhir-akhir ini ia sangat ia gemari ketika ia harus begadang semalaman menyelesaikan berbagai macam pekerjaan.


"Selamat pagi sayang.'' Sebuah ciuman selamat pagi sudah mendarat di pipi mulus Zoya. ''Selamat pagi juga suamiku.'' balas Zoya, riang. "Suamiku? aku suka kata-kata itu."


''Awww..." Zen mengaduh sambil menutup matanya saat Zoya membalik badan ke arahnya. ''Kenapa kak..? kau terluka? aku menyakitimu? huh..?" Zoya terlihat panik melihat Zen yang tiba-tiba meringis.


''Mataku silau sayang, kau terlalu cantik.'' Kata Zen, dengan raut wajah serius. Candaan yang ia lontarkan membuahkan sebuah cubitan yang sekali lagi membuatnya serius mengaduh.


''Awww... Awwww... '' Tak tanggung-tanggung Zoya malah memberikan cubitan bertubi-tubi sebagai hadiah untuk suaminya itu.


''Kak Zen, kau mempermainkan ku!'' Protes Zoya. Membuat keduanya sama-sama tergelak. Romantisme di pagi hari.


"Kakak belum mandi?" Protes Zoya lagi, setelah melihat suaminya masih mengenakan piyama. Zen menggelengkan kepalanya; "Hmmm. Aku harus melakukan tugas dulu, baru setelahnya aku akan mandi."


"Tugas? Kakak akan bekerja lagi? disaat kita sebentar lagi akan pergi?" ucap Zoya tak percaya.


"Yup. Benar sekali. Tapi pekerjaan nya adalah, dirimu!" Sekarang Zoya yang gantian memekik saat Zen mengangkat tubuhnya.


"Sebelum pergi, sebaiknya kita berolah raga sebentar sayang. Itu bagus untuk meningkatkan hormon positif."


"Kak, tunggu dulu, aku sudah rapi. Bisa kita tunda dulu?" tawar Zoya, mengingat ia sudah siap untuk berangkat.


"Hmmm. Salahmu yang sudah cantik di pagi hari, itu membuatku sangat menginginkan mu." Tolak Zen lalu mengurung Zoya di bawahnya. 😜


Beberapa saat kemudian...


Setelah keduanya menyelesaikan sarapan, Zen dan Zoya langsung bersiap-siap untuk pergi ke airport.


Akhirnya perjalanan bulan madu akan segera di mulai..


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2