My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
BLESSED DAY_ THE WEDDING


__ADS_3

...Enjoy...


.......


.......


.......


Pagi itu cuaca begitu cerah, bahkan terlampau cerah untuk ukuran sebuah pagi Yang terasa begitu spektakuler.


Burung-burung berkicau dengan riang tak seperti biasanya. Terlalu ramai di pendengaran Lova. Apakah mereka tahu jika hari ini adalah hari Yang begitu penting dan mendebarkan dalam hidup Lova?


Lova bahkan harus mengerjap-ngerjapkan matanya akibat bias sinar matahari Yang memasuki kamarnya melalui jendela Yang terlalu menyilaukan mata.


Ia tidur begitu nyaman di dalam sebuah kamar Yang sebenarnya akan menjadi kamar pengantinnya jika saja mereka memilih untuk tinggal disana. Tapi tidak. Mereka tidak akan melakukan itu.


Sebenarnya Ken lah yang mengusulkan dan menyiapkan segala sesuatunya. Lova hanya sudah di beritahu tentang itu sebelumnya.


Ya, saat ini Lova sudah berada di kediaman keluarga Wijaya. Pernikahan nya akan di lakukan disini, di Jakarta.


Kota dimana pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya di besarkan. Kota yang penuh dengan begitu banyak cerita berharga bahkan hampir keseluruhan kehidupan keluarga Wijaya di mulai di kota ini. Dan di sini jugalah Lova akan melangsungkan pernikahan nya.


Tangan nya meraih jam yang ada di atas nakas. Ternyata ia bangun tepat pukul tujuh. Memang tidak biasanya ia bangun di jam seperti ini. Bagi nya ini sudah termasuk siang. Tapi kali ini Lova dapat memaafkan dirinya, karena ini adalah hari pernikahan nya.


Sesungguhnya ia masih punya waktu beberapa jam. Ah, tepatnya tiga jam sebelum ia sah menjadi istri seorang Ken, dan menantu dari keluarga Wijaya.


Wajah Lova merona memikirkan statusnya yang sebentar lagi akan berubah. Ia tak lagi akan di panggil nona, melain nya seorang nyonya. Memikirkan hal itu saja sudah membuat Lova tersipu karena bahagia. Betapa naif dirinya.


Seharusnya Lova bergegas mandi agar bisa segera menyiapkan dirinya. Ia masih perlu berdandan dan juga mengenakan gaun pengantin sederhana serta pernak-pernik yang sudah di pilihnya.


Lova memang mencintai sebuah kesederhanaan. Ah, tidak. Ia menggilai hal itu. Mungkin hal itu bahkan sudah mendarah daging dalam tubuhnya sedari dulu. Dan saat ia memilih gaun pengantin nya, Lova jatuh cinta pada pandangan pertama.


Ini adalah sebuah momentum yang begitu istimewa dalam hidupnya. Tak pernah Lova memikirkan hari ini akan datang begitu cepat, namun ia juga tak bisa menyangkal nya.


Lova lah yang memutuskan untuk menikah. Ini pilihan nya, pilihan yang ia buat karena ia sungguh bahagia karena nya.


Semua ini sungguh terasa spektakuler bagi Lova. Ia seorang gadis muda berusia 22 tahun, bukan nya memilih untuk menikmati kebebasan yang di cari semua orang, justru ia memilih untuk terjun dalam lingkaran sebuah pernikahan. Lingkaran yang tidak mungkin dapat ia tinggalkan setelah hari ini.


Setelah ia mengikrarkan janji sehidup semati dalam beberapa jam ke depan, Lova akan dinyatakan lepas dari lingkaran kebebasan. Ia akan menjadi seorang istri.


Dan tentu saja, dalam menjadi seorang istri ia akan memiliki kebebasan yang berbeda dari sebelumnya. Karena yakin lah, Ken tidak akan pernah mengekang Lova. Ia hanya akan bersikap lebih dominan atas kepemilikan dirinya. Itu saja. Dan Lova sangat menyukai itu.


...❄️❄️...


"Sudahlah L, jangan gila. Hentikan semua pikiran Yang ada di kepalamu!" Lova mengumpat pada dirinya sendiri.


Namun belum lagi ia merapikan piyama nya, pintu kamarnya sudah di ketuk.


Astaga! Siapa Yang pagi-pagi sudah berniat mengunjungi dirinya? apakah itu Ken?


Rona merah kembali merambati wajahnya, dan Lova yakin, orang lain akan memikirkan hal lain jika melihatnya seperti saat ini.


"Tunggu sebentar."


Seru Lova yang segera memperbaiki piyama dan juga rambutnya dengan jemari nya yang sebentar lagi akan di lingkari oleh sebuah cincin pernikahan. Cincin? Oh. God. Hentikan Lova!


"Masuk lah!" seru Lova lagi dengan sedikit tergagap. Ia sedikit berdebar. Semoga saja itu bukan calon mempelai pria nya. Karena sungguh, jika itu Ken, maka Lova akan memarahinya.


Sebelumnya Megan sudah mengatakan agar keduanya hanya bertemu di Altar, dan sebelum itu terjadi, mereka tidak di ijinkan untuk bertemu, dan Lova sangat yakin jika Ken memahami hal itu dengan sangat baik.


Jika begitu, lantas debaran apa yang baru ia rasakan? apakah kini justru Lova lah yang berharap? Gila!


Knop pintu di putar dengan begitu pelan, dan Lova sudah siap dengan senyuman paginya, terlepas dari siapapun yang saat ini berada di balik pintu untuk mengunjungi dirinya.


"Megan?" cicit Lova, saat melihat kepala saudarinya itu muncul di balik pintu dengan sebuah senyuman Yang tentu saja tidak akan Lova tolak kehadiran nya.


"Apa aku mengganggu mu?" tunjuk Megan bersuara pelan. Lova sedikit tergagap namun bisa menemukan suaranya. "Tidak. Tentu saja tidak. Masuklah kak." sahut Lova. Sejujurnya ia merasa lega.


"Maafkan aku, aku baru saja bangun." Lova mengusap pelan wajahnya, sambil menarik rapat piyama nya. "Ada apa?" Tanya Lova terang-terangan, karena ia juga tahu bahwa Megan bukanlah saudari yang suka berbasa-basi.


Megan terlihat tersenyum dengan sedikit canggung, namun tetap meraih tangan Lova dan membawanya kearah Megan. "Hanya ingin melihat adik ku." Lagi, Megan tersenyum samar.


"Kau tau, aku hanya berpikir agar kita bisa berbincang sebentar sebelum kau menjadi seorang wanita Yang bersuami." suara Megan terdengar ragu.


Dan itu arti nya Lova harus mulai curiga. "Bicaralah." ujar Lova bersikap praktis.


"Kau tau L. Aku bukan nya ingin menggantikan posisi orang tua kita, terutama mom." Megan berucap. "Kau sudah melakukan nya kak. Dan kau melakukan nya dengan sangat baik." sela Lova.


"Aku tau. Hanya saja,-" Megan terlihat tidak nyaman dengan topik yang akan di bahas nya. Dan Lova bersumpah jika ia pun tidak. "Katakan lah. Kau bisa mengatakan apa saja yang kau inginkan. Aku akan mendengar. " Sela Lova, mempersilahkan Megan.


"Aku yakin kau tau, bahkan sungguh aku yakin kau sangat tau." Kali ini wajah Megan menunjukan rona Yang terlihat begitu canggung. Namun tetap melanjutkan kalimat nya.


"Ini tentang menjadi seorang istri." ujar nya lagi yang sungguh, Lova tahu apa maksud Megan jika ia ingin menasehatinya bagaimana cara bersikap sebagai seorang istri, karena percayalah, Lova sudah mempersiapkan dirinya jauh sebelum hari ini.


"Kau tau bukan jika kau sudah menjadi seorang istri, tentu saja kau akan memiliki seorang anak nantinya." Lova harap begitu.


Ia akan suka dengan anak-anak yang mirip dengan Ken atau pun mungkin dirinya. Pastilah akan sangat menggemaskan.


Lova tersenyum sambil sedikit mengerutkan kening, "L, bukan maksud ku ingin membahas hal intim seperti ini di hari pernikahan mu. Aku hanya tidak ingin mau terlalu terkejut nantinya." Oh Tidak. Megan tidak harus minta maaf untuk ini.

__ADS_1


"Tidak kak. Aku mendengarkan mu. Sungguh, berterima kasih kau ingin bicara tentang hal ini padaku. Sejujurnya aku sudah mempelajari semua itu dengan baik." sahut Lova cepat.


Namun tiba-tiba wajah Megan sedikit berubah Ngeri. Entah apa penyebab nya. "Omg. L, apa kau dan Ken sudah..?"


Raut wajah Megan tiba-tiba membuat Lova juga merasakan kengerian yang sama, apalagi saat Megan menatap dirinya dengan pandangan yang- "Apa?" Tanya Lova terlihat sedikit panik.


"Melakukan itu?" sahut Megan dengan memberikan isyarat dengan tangan nya. Tentu saja Lova langsung menyangkal tuduhan itu dengan tegas,


"Tidak Meg. Ya Tuhan. Tentu Tidak." Lova terkesiap, karena pikiran Megan. "Demi Tuhan, Ken adalah pria terhormat kak. Tak pernah sekalipun dia melewati batasnya." setidaknya sampai hari ini. pikir Lova.


Terlihat sedikit kelegaan di wajah Megan, namun ada sedikit semburat malu, mungkin karena pikiran nya. "Maafkan aku. Seharusnya aku tidak meragukan kesucian cinta kalian. Sungguh." ucap nya.


"Tidak apa-apa kak. Aku tau bagaimana pikiran orang-orang, apalagi di zaman modern seperti ini. Hanya saja, kami tahu dimana batasan kami. Karena sungguh, kami benar-benar menganggap sakral sebuah hubungan pernikahan dan juga sebuah kesucian." Lova bersungguh-sungguh dengan kata-kata nya.


Tangan Megan melayang di udara mengibas-ngibas seakan menghalau kekonyolan Yang baru saja terjadi.


"Baiklah. Aku hanya ingin memastikan dirimu baik-baik saja. Aku tidak ingin menahan mu terlalu Lama di atas sini, karena ku yakin waktu akan terus berjalan." Megan tersenyum melirik kepada Lova, namun masih terlihat sedikit kikuk.


Sudah cukup Lama mereka tidak sedekat ini.


"Ku rasa memang begitu Kak. Terima kasih." Lova mengelus pelan tangan Megan untuk menunjukan kesungguhan nya. "Bersiaplah. Ku rasa sebentar lagi para gadis akan datang dan membantu mu menata rambut." Terlihat kelegaan di wajah Megan. "Kak, terima kasih." ucap Lova lagi.


...❄️❄️...


...Sementara itu.....


Berbeda dengan Lova, saat ini Ken tengah menikmati sarapan di ruang makan bersama dengan keluarga Kecil nya. "L sudah mulai bersiap-siap." Megan merasa perlu memberitahu semua orang yang saat ini duduk di meja makan.


"Ku harap para pelayan sudah menyiapkan makanan nya di bufet dan mengantarkan nya ke kamar L."


Ken bersuara, penuh perhatian. Karena sungguh, jika di ijinkan maka ia sendirilah yang akan datang ke kamar Lova dan menyuapi kekasih nya dengan segenap cinta.


"Akan ku pastikan hal itu." sela Zoya, mengurangi rasa cemas sang mempelai pria. Adiknya.


"Kau juga seharusnya segera bersiap Son." ujar Rehan mengingatkan. Lalu kembali bersuara, "Ku rasa kita semua juga harus bersiap. Segera selesaikan sarapan kalian."


Rehan bisa berkata dengan santai karena kini ia sudah selesai dengan sarapan nya. Karena itu juga lah ia bangkit lebih dulu. "Dad akan bersiap-siap." semua yang ada di meja makan mengangguk pelan, seraya mempercepat kegiatan sarapan mereka.


"Hai, Kak. Hai mempelai pria. Dimana mempelai wanita kita?" Shreya dan Gill datang bersamaan dengan mengenakan dress bridesmaids yang Lova pilihkan. Nampak begitu bersinar dan juga begitu ceria.


"Kalian disini, baguslah. Mempelai kita sedang ada di kamarnya, aku yakin dia akan senang melihat kalian di sana." Zoya bersuara penuh dengan perhatian.


Gill dan Shreya sama-sama mengangguk Samar, lalu tersenyum. "Kalau begitu kami akan naik keatas, dan melihat sejauh mana persiapan sang mempelai." ujar Shreya.


Sementara Para wanita di kamar Lova, maka para Pria sedang menemani Ken untuk bersiap di kamar nya. "Kau terlihat berbeda sob." Leon menyunggingkan senyuman penuh binar.


"Tentu. Aku akan menikah sebentar lagi, dan kebahagiaan ini tak bisa di samarkan, apalagi di sembunyikan." sahut Ken bersemangat.


"Son, kau sudah siap?" Rehan membuka pintu kamar putra nya, dan sedikit terkesiap. "Kau terlihat sangat tampan, Son." Pujian yang tulus meluncur begitu saja dari mulut Rehan. "Thanks Dad. Dad juga." Balas Ken. "Kau juga terlihat tampan Son." Rehan menatap Leon.


...Andai saja kau bisa melihat semua ini sayang? kau juga akan merasa bahagia seperti ku....


"Terima kasih Uncle. Tapi ku rasa kita tidak sedang berkompetisi." Sahut Leon, dengan sedikit candaan. "Kau benar untuk itu. O, ya. Mobil sudah berada di bawah, Dad hanya mengingatkan bahwa mempelai pria harus berangkat terlebih dulu dan menunggu mempelai wanita di altar." Rehan tersenyum penuh antusias dan juga haru.


Ken melirik arloji di tangan nya dan mengangguk samar, "Aku akan turun sebentar lagi Dad." Ken merapikan sedikit setelan jas nya, lalu tersenyum. "Dad akan menunggu di bawah."


...❄️❄️...


Semua orang berdiri dengan memegang bunga Lili putih menantikan sang mempelai wanita memasuki Altar. Undangan yang saat itu kurang lebih hanya berjumlah 30 orang.


Mereka benar-benar hanya mengundang keluarga inti dan sahabat terdekat kedua mempelai. Tidak lebih dari itu.


Pernikahan sederhana itu di lakukan di makam Alm. Mommy Ken tercinta. Lova lah yang mengusulkan nya. Dan untuk mewujudkan hal ini, bukanlah hal yang mudah. Mereka harus meminta ijin resmi dan harus datang untuk membujuk berkali-kali.


Jika mereka gagal, maka mereka hanya memiliki opsi kedua, yaitu, Bali. Namun Syukurlah, Ken dan Lova bisa mendapatkan ijin dari pengelola dan juga penjaga makam.


Dengan catatan, tidak ada pesta yang di lakukan di sana. Dan hal itu sungguh melegakan, karena Ken dan Lova juga memikirkan hal tersebut.


Lova hanya ingin pernikahan tersebut lebih lengkap jika di hadiri oleh semua anggota keluarga, meskipun hanya sebuah batu nisan sebagai salah satu saksi keduanya, Tapi sungguh itulah yang Lova inginkan.


Ia sangat tahu bahwa Ken begitu mencintai mommy nya, dan begitu pun Lova, ia sangat menghormati dan mengagumi almarhumah.


Janji Lova untuk menjaga dan membahagiakan Ken serta Dady Rehan tentu saja akan Lova tepati. Itu adalah janji yang tidak akan pernah ia ingkari dalam sepanjang hidupnya. Dan hari ini, dimana janji itu dimulai, maka Lova pun ingin lembaran baru nya juga di mulai di sana.


Dengan dekorasi pernikahan yang memang tidak bisa di bilang sederhana, namun tidak juga di bilang mewah, namun sungguh terlihat luar biasa indah.


Dekorasi nya, hanya sekedar tiang-tiang berwarna putih yang di pasang dengan hiasan kain sutra yang di datangkan khusus dari cina, lalu di berikan lampu-lampu kristal yang memancarkan warna gold dan juga pink.


Tidak lupa juga di lengkapi dengan dekorasi bunga mawar putih yang mengelilingi semua tiang, serta Vas-vas indah di isi dengan bunga baby breath yang di letakan di atas meja.


Bahkan Altar yang akan di gunakan, memanglah terkesan sederhana, karena hanya menggunakan sebuah gerbang yang di hiasi dengan bunga yang serupa namun lebih rimbun sehingga terlihat bagaikan taman bunga di dalam sebuah Castel kerajaan.


Dan di sanalah Ken saat ini berdiri untuk menunggu sang mempelai wanita datang dan memegang tangan nya dengan wajah, yang Ken yakini akan di penuhi oleh rona bahagia.


Karpet berwarna rose gold yang di gelar sepanjang jalan menuju altar juga membuat dekorasi pernikahan tersebut sebenarnya tidak bisa di bilang sederhana, meskipun undangan mereka terbilang sungguh terbatas.


Karena yakinlah, begitu banyak rekan-rekan bisnis maupun kenalan yang ingin menghadiri pesta tersebut, namun sayang nya mereka tidak mendapatkan keistimewaan itu.


Lova yang berjalan di iringi oleh kedua sahabat serta Cassian yang berperan sebagai wali nya, tetap setia mengikuti langkah Lova yang luar biasa melambat akibat gaun nya.

__ADS_1


Tapi sungguh, ia memang menikmati momentum tersebut. Momen dimana ia merasa sungguh luar biasa berdebar, namun begitu bahagia. Bahkan saat ini ia mulai merasa mual.


Mual yang di timbulkan rasa bahagia yang hampir memenuhi seluruh perasaan nya. Lova begitu bersinar dengan cara nya.


"Kau gugup?" Cassian membelai lembut tangan Lova Yang melingkar di tangan nya. Sebentar lagi mereka akan sampai, hanya beberapa puluh meter lagi. Cassian bahkan bisa melihat sutra di sana melambai-lambai menyambut mereka.


"Sedikit, namun aku baik-baik saja." sahut Lova, sambil menggigit pelan bibir nya. Ia cukup percaya diri dengan apa Yang ia kenakan saat ini. Meskipun hanya mengenakan make up sederhana dengan rambut yang bisa terbilang terurai, Lova sangat yakin bahwa ia cantik untuk hari ini.


"Kau memang patut merasakan hal tersebut. Percayalah, semua pengantin juga merasakan hal Yang sama." Cassian memberikan sedikit penghiburan kepada Lova.


"Aku yakin begitu." Dalam hitungan beberapa langkah saja, Lova sudah memasuki gerbang altarnya.


Semua orang kini telah menyambut dirinya dengan senyuman Yang ia yakini adalah senyum bahagia. Saat matanya bertemu dengan masa Ken di balik cadar nya, Lova sungguh yakin bahwa jantung nya berdebar dua kali lebih cepat. Ken sungguh terlihat begitu sempurna. Sangat tampan.


Bahkan saat Cassian menyerahkan tangan Lova ke dalam tangan Ken Yang begitu hangat, Lova masih belum bisa terputus dari keterpesonaan dirinya.


"Aku bahkan tidak bisa bagaimana harus menggambarkan dirimu saat ini L. Kau sungguh luar biasa." puji Ken dengan begitu tulus dan hangat. Hal tersebut membuat wajah Lova semakin merona. "Kau juga, sungguh."


Kini pastur mulai memberkati keduanya. Dan mereka pun mulai mengucapkan ikrar pernikahan, yang di saksikan hamba Tuhan dan juga para saksi lainnya.


Dengan lantang dan juga penuh kesungguhan, Ken dan Lova mengucapkan Janji sakral nya; Saling mencintai dalam sehat maupun sakit. Suka maupun duka. Berjanji Akan saling menghormati dan mengasihi, bahkan sampai maut memisahkan.


Lova tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata. Begitu pula dengan Ken, ia sungguh begitu tersentuh bahkan hingga ke kedalaman emosional yang ia miliki.


Sungguh janji yang begitu mengikat. Kini Rehan pun tak bisa menahan air mata bahagia nya. Berpuluh tahun yang lalu, ia juga mengikrarkan hal yang sama.


Dan kemudian, ia juga mengikrarkan janji yang lain, janji yang saat ini sudah ia tepati, yaitu melihat putra bungsu nya menikah. Sungguh, semua ini adalah anugerah bagi Rehan.


Putra nya terlihat begitu bahagia, dengan wanita Yang begitu luar biasa. Wanita sederhana dengan hati sekuat Baja, namun luar biasa indah melebihi sebuah mutiara. Wanita yang saat ini juga telah menjadi putri nya. Rehan benar-benar terberkati.


Suara tepuk tangan bahagia dari para tamu undangan membuat Rehan kembali pada kenyataan nya. Saat ini semua orang tengah menyelamati kedua mempelai.


Sebelum meninggalkan Altar, seluruh keluarga inti menyempatkan diri untuk berdoa sejenak di pusara istri dan ibunda tercinta dalam perasaan penuh emosional dan juga melodramatis.


Sesuatu yang tidak bisa mereka hindari. Apa kau juga merasakan hal yang sama sayang? Aku yakin kau juga sangat bahagia, pikir Rehan. Selamat untuk mu sayang, saat ini kau mendapatkan seorang putri dalam keluarga kita. Rehan tersenyum dalam haru.


...❄️❄️...


Resepsi yang akan di laksanakan pada sore hari, memberikan waktu kepada Ken dan Lova untuk beristirahat.


Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan menuju sebuah hotel termewah di ibukota. Resepsi sederhana mereka akan di lakukan di sana.


Dengan undangan yang sedikit lebih banyak, karena melibatkan kolega dan juga orang-orang yang seharusnya memang di undang sebagai rasa hormat.


"Kau lelah?" ucap Ken yang lebih terdengar seperti bisikan menggoda, meskipun dengan wajah yang menengadah karena bersandar. Oh tidak. Ini bukan saat yang tepat untuk saling menggoda. Pikir Lova. "Sedikit."


"Ku yakin begitu."


"Bagaimana dengan mu?" tanya Lova masih dengan tatapan yang sama. "Seperti dirimu, ku rasa." Lova mengangguk samar.


Setiba nya di hotel, mereka di sambut oleh staf khusus dan di giring melalui jalur private, untuk menuju ke kamar mereka. Kamar pengantin. Kamar terbaik yang diberikan oleh Hotel tersebut.


"Silahkan tuan dan nyonya Wijaya." Manager hotel mempersilahkan. "Kamar anda." jelas nya lagi. "Segala sesuatu yang di butuhkan telah di siapkan di tempat nya, dan staf kami akan mengingatkan anda seandainya, di perlukan untuk menghadiri resepsi." ucap Manager, terdengar sedikit lancang namun dengan kapasitas yang tepat.


Bagaimana pun mereka memang pengantin baru. "Terima kasih, senang menerima bantuan kalian." Ken tersenyum, lalu manager itu menganggukkan kepalanya sebelum meninggalkan kamar.


Sekarang hanya mereka berdua di sana. Suasana yang sungguh sedikit canggung. "Aku akan membersihkan diri, dan bersiap-siap untuk acara selanjutnya." Wajah Lova merona, namun dengan cepat ia mengangkat gaun nya hendak memasuki walk-in closets.


"Kita masih punya beberapa jam L, sungguh. Kau bisa melakukan semua nya perlahan, lagi pula akan ada asisten yang nanti nya akan membantu beristirahat." Tangan Ken memegang tangan Lova mencegah istrinya untuk meninggalkan dirinya.


Ken belum puas mengagumi Lova. Dan sungguh, ia tak akan pernah puas untuk menatap istrinya. "Istirahat lah sebentar." tambah Ken, membuat Lova merasakan getaran yang berbeda, namun tubuhnya sedikit gemetar.


Apakah Ken terang-terangan sedang menggodanya? karena Lova yakin memang begitulah Ken terdengar. Hingga Lova mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan kesadaran nya.


Rona merah kembali merambati mulai dari rahang hingga permukaan pipinya, yang ia yakini mulai terasa sedikit hangat.


Ken tergelak dengan tawa yang hampir mengejek, atau hanya menggoda. Keduanya sama saja.


"Apa yang mau pikirkan L? aku tidak akan melakukan apapun pada mu, setidaknya untuk saat ini. Aku tidak mungkin menciderai mempelai ku sementara ada acara penting lain nya yang menunggu." Sekali lagi Ken tergelak.


Demi tuhan, Lova ingin kabur sekarang juga. Ia begitu malu saat Ken membaca pikiran nya. Atau mungkin bahkan hal itu tertulis begitu nyata di wajahnya.


"Ak.. aku yakin begitu. Kau adalah pria paling bijaksana dan juga baik hati yang pernah ku temui." sahut Lova hampir terdengar sinis. Ia malu. Oh God.


"Aku hanya ingin membersihkan diriku, karena tidak nyaman mengenakan semua ini." Lova berusaha terdengar realistis.


Dan Ken percaya. Tangan Lova sudah di bebaskan. "Aku akan membantu mu." Ken menawarkan diri, namun Lova semakin membulatkan matanya, sedikit terkejut.


"Aku yakin, aku masih bisa menangani nya." Sahut Lova cepat, lalu berbalik dan menghilang di balik pintu.


Ahhh... "Menggemaskan!" Ken yakin bahkan dirinya hampir gagal menguasai diri untuk tidak merengkuh Lova, karena istrinya begitu menggemaskan dan juga menggoda.


"Aku akan membiarkan mu lolos kali ini L."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1



__ADS_2