My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
NO DRAMA Part 2


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Suara getaran ponsel yang diletakan di atas meja, membuat Lova terbangun dari tidurnya. Ternyata itu ponselnya.


Lova merentangkan kaki dan juga tangan nya yang terasa ngilu dan kaku. Ternyata ia tertidur dengan posisi duduk tak jauh dari sofa tempat Leon berbaring.


''Hhhmmm, jam berapa sekarang?" Ia melihat pada jam di tangan nya, ternyata waktu sudah menunjukan pukul tiga dini hari. Kebiasaan Lova seperti nya sudah permanen.


Lova melirik ke pada Leon yang tertidur dengan begitu tenang. Ia terdiam sejenak, mengumpulkan seluruh kesadaran nya. Kemudian ia mengambil termometer, dan menempelkan pada tubuh Leon, 36.5 derajat celcius. ''Syukurlah.''


Sementara Leon masih tertidur, Lova pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, ia harus benar-benar sadar.


''Aaakkkhhh... Tubuh ku sungguh terasa pegal-pegal semua'' sesekali  Lova juga kembali merenggangkan tangan dan kaki nya seraya berjalan menuju kamar mandi.


Setelah bersih mencuci wajahnya, Lova beralih ke pantry. Ia ingin membuat secangkir minuman untuk dirinya. Ia ingin membuat sarapan, namun masih terlalu pagi. Akhirnya ia hanya duduk di dekat Leon dan mengamati sahabatnya itu.


Begitu tenang. Lova hanya berteman dengan secangkir minuman panas nya. Tak ada yang bisa ia lakukan. Hanya memperhatikan gumpalan asap yang beterbangan dari gelas yang ia pegang.


Sekali lagi ponsel Lova kembali menyala. Dengan cepat  Lova menyambar ponselnya dan melihat;


''Future Husband Calling''


''Halo Ken?" Jawab Lova dengan suara setengah berbisik. Tak ingin mengganggu Leon yang masih tertidur, Lova berpindah ke area pantry. ''Halo sayang, apa aku membangunkan mu terlalu pagi?" balas Ken dari seberang sana.


''Tidak, aku memang sudah bangun sejak tadi.'' Lova berdesis lega, akhirnya ia bisa bicara kepada seseorang. ''Dimana kau sekarang L? aku baru membaca pesan mu pagi ini, Bagaimana kondisi Leon saat ini? kau membawa nya kerumah sakit?"


Sebelumnya Lova memang mengirimkan pesan kepada Ken, yang menceritakan secara panjang dan lebar kronologis tentang Leon yang sedang sakit. Tidak hanya itu, sebelumnya Lova juga mengatakan bahwa ia sedang merawat Leon saat itu.


''Tidak Ken, kami masih di apartemen. Aku tidak membawa nya kerumah sakit. Untunglah keadaan Leon sudah lebih baik pagi ini. Demam nya juga sudah reda. Maafkan aku karena harus bermalam disini, aku tak bisa meninggalkan Leon sendirian.'' ujar Lova.


Ia tak ingin ada kesalahpahaman dalam hubungan nya. Apalagi Ken dan Leon adalah sahabat, begitu pun dengan Lova dan Sea.


Meskipun mereka dekat, Lova tak ingin jika kelak terjadi kesalahpahaman hanya karena ia bersama Leon hari ini. Lova tak ingin Ken ataupun Sea salah paham kepada nya, atau memikirkan hal lainnya.


''Tidak apa-apa sayang. Aku justru sangat bersyukur kau ada di sana. Jika tidak, mungkin Leon hanya akan menahan sakitnya seorang diri. Aku sangat merasa bangga memiliki kekasih seperti dirimu, L. Sungguh, kau seorang malaikat cantik dan juga baik hati''


Mendengar kata-kata Ken membuat Lova bisa bernafas lega. Setidaknya, Lova sudah melakukan hal yang benar sebagai seorang sahabat, dan Ken juga mendukung nya.


''Jika nanti Leon sudah bangun, ajaklah dia pergi untuk memeriksakan diri sayang, atau jika Leon merasa enggan untuk pergi, panggil saja dokter ke apartemen, biar aku yang akan membayar tagihan nya.'' pinta Ken. Ia juga sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.


Selama mereka tinggal bersama, baik Ken atau pun Leon tak pernah mengalami sakit sama sekali. Dan kali ini, yang pertama bagi Ken mendengar bahwa Leon jatuh sakit. Tentu saja itu membuatnya cemas,


''Jangan pikirkan masalah biaya Ken, aku juga masih bisa membayar nya. Akan aku lakukan yang terbaik jika kondisi Leon memang belum pulih sepenuhnya, tapi setidaknya kita harus menunggu sampai Leon bangun.''


''Baiklah sayang, Lakukan apa saja yang menurut mu baik. Dan aku minta padamu, agar kau juga menjaga kesehatan mu. Kita sedang berjauhan sekarang, jika terjadi apa-apa pada mu, aku akan merasa sangat bersalah karena tak bisa menjaga mu secara langsung.-


''Karena itu, berjanjilah pada ku, jika kau merasa sedikit saja tak nyaman pada dirimu, segera hubungi aku, atau seseorang yang bisa datang menemui mu, meskipun itu William.'' Ken terdengar sungguh-sungguh dengan kata-kata yang diucapkan. Lova merasa sangat senang karena kepedulian Ken pada nya.


''Aku akan mendengarkan mu, terima kasih sudah mencemaskan aku. Begitu pun dirimu, Kau juga harus menjaga kesehatan mu dengan baik. Sesibuk apapun, luangkan waktu untuk istirahat.'' Pesan Lova.


''Ya sayang, akan ku lakukan seperti yang kau katakan. Baiklah, kalau begitu aku harus menutup panggilan ini sekarang, aku harus kembali bekerja. Aku akan menghubungi mu lagi nanti, sampaikan salam ku untuk Leon, dan jaga dirimu sayang. Aku mencintaimu.'' tutup Ken.


''Aku juga mencintaimu, Ken. Bye.''


Bertepatan dengan berakhirnya panggilan dari Ken, Hampir saja Lova di buat jantungan, saat sebuah tangan menyentuh pundaknya. Bisa kalian bayangkan?


''Astaga!''


Dengan cepat Lova menoleh ke belakang nya, dan melihat Leon berdiri di sana dengan wajah pucat.

__ADS_1


Ini benar-benar terasa sangat horor bagi Lova.


Pukul tiga dini hari, di apartemen yang sepi, seseorang menyentuh pundak nya. Bukan kah itu gila? Dan parah nya lagi, bagaimana mungkin ia sampai tak mendengar suara langkah kaki Leon saat mendekatinya.


''L, kau disini?" Suara Leon terdengar masih  lemah saat menyapa Lova.


Leon terbangun karena ia merasa kering pada tenggorokan nya. Ia ingin mengambil air minum. Tapi saat ia terbangun, ia sedikit kaget karena berada di atas sofa. Sementara di atas meja, Leon semakin di bua pusing saat melihat berhamburan berbagai macam jenis obat yang keluar dari tempatnya.


Begitu menyadari sesuatu, Leon juga mendengarkan suara seorang wanita yang sedang bicara samar-samar dari arah pantry, karena itulah ia pergi untuk melihatnya, dan ternyata itu Lova.


''Le..?"


Lova turun dari bangku, dan menarik pelan tangan Leon agar Leon duduk di samping nya, Lova tak ingin Leon kembali ambruk dengan kondisi yang masih lemah.


''Bagaimana kondisi mu, hem? sudah merasa lebih baik? bagaimana perasaan mu? apa masih ada yang sakit? kepala, tubuh mu, atau yang lainnya? katakan pada ku..?" desak Lova. Ia sungguh-sungguh ingin tau bagaimana kondisi Leon saat ini.


Pertanyaan yang datang bertubi-tubi kepada Leon, membuatnya menyunggingkan senyum kecil. Ia merasa sangat senang karena Lova sangat peduli pada nya. Gadis yang awalnya tidak terlalu ia sukai, tapi akhirnya malah menjadi sahabatnya.


Tunggu, apakah sahabatnya itu juga yang merawat nya sepanjang malam?


''Terima kasih L. Terima kasih sudah berada disini bersama ku, maaf jika aku membuat mu kesusahan.'' Leon tersenyum lemah.


Lova menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan bagian akhir dari kata-kata Leon, ''Jangan katakan hal seperti itu, kau tidak menyusahkan ku sama sekali. Aku justru akan sangat bersalah jika aku mengetahui kondisi my. Untung aku datang tepat waktu. Kau sungguh membuat ku takut Le.-


''Kau bahkan tidak mengabari ku sama sekali, setidaknya kau katakan jika kau merasa tidak sehat. Kau benar-benar!'' Lova menggelengkan kepalanya. Sebenarnya ia ingin marah, hanya saja ia batalkan mengingat kondisi Leon yang masih lemah.


''Katakan, bagaimana kondisi mu sekarang? merasa lebih baik?'' ulang Lova lagi, dengan wajah menunggu.


Leon seakan terpana dengan semua yang di katakan Lova pada nya. Gadis ini benar-benar baik. Bahkan ditengah-tengah kesibukan dirinya, ia masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan Leon, yang sebenarnya bukan lah tanggung jawab Lova. Tapi ia masih melakukan nya dengan sepenuh hati.


''Hmmm, aku sudah merasa lebih baik, berkat dirimu L. Terima kasih.'' Leon memaksakan senyum nya.


''Merasa lebih baik? apakah itu cukup untuk dikatakan baik-baik saja?" ulang Lova, masih dengan ekspresi cemas.


''Ya, ku rasa itu cukup L. Sungguh aku baik-baik saja sekarang.'' Leon mendesah pelan. ''Aku akan istirahat sebentar lagi.''


''Kau juga istirahat lah dulu L, jangan terlalu menyibukkan dirimu.''


Setelah Leon kembali beristirahat, Lova mencari kesibukan lain dengan membersihkan ruang tamu tempat Leon berbaring sebelumnya.  Ia membuat ruangan itu kembali seperti sebelumnya.


Olah raga pagi yang sungguh menyehatkan. Lova mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan nya, termasuk memasak untuk Leon.


Lova berdecak bangga dengan hasil kerja nya, seluruh ruangan sudah terlihat bersih dan rapi. Waktu sudah menunjukan pukul enam pagi waktu setempat, sebaiknya Lova segera pulang, dan datang lagi setelah nya untuk memeriksa Leon.


Lova mengambil tas nya, dan mengintip sebentar ke dalam kamar Leon Yang tidak tertutup rapat.


Sahabatnya itu benar-benar sedang tertidur. "Le, aku pulang dulu, nanti aku datang lagi." pamit Lova, tapi dengan suara berbisik. Hanya untuk memuaskan hatinya saja, dia lebih senang jika sudah berpamitan.


...❄️❄️...


Ponsel dalam sakunya kembali bergetar. Kali ini bukan Ken, tapi William.


"Ya, Will..?" sahut Lova seraya menutup pelan pintu apartment saat ia keluar dari dalamnya. "Tumben sekali kau menelpon ku pagi-pagi seperti ini?" Tanya Lova.


Seingat Lova ia tidak memiliki jam kerja sepagi ini. Lalu ada apa dengan panggilan William..?


"Dimana kau, apa aku mengganggu mu, L?" Suara William terdengar aneh untuk Lova. "Tidak. Kebetulan sekali aku sudah bangun sejak tadi, dan sekarang sedang berada di apartment Leon, tapi aku akan kembali sebentar lagi. Ada apa?" ulang Lova.


Ia mengaktifkan mode panggilan nya saat mengendarai mobilnya untuk pulang.


"Kau sudah melihat berita?" Lova benar-benar tak mengerti apa yang William ingin katakan padanya. "Berita apa maksudmu? katakan pada ku dengan benar Will, aku bingung jika kau bicara seperti ini."


"Sebaiknya kita bertemu, dan sebisa mungkin hindari berada di depan publik untuk sementara." pinta William, yang membuat Lova semakin merasa heran. Berita apa yang di maksudkan oleh William?


"Baik, kita bertemu di kantor saja, aku akan menemui mu pukul delapan." ujar Lova seraya menutup panggilan William.

__ADS_1


Benar-benar membuat pusing saja.


...❄️❄️...


...Di Kantor.....


Lova datang seperti biasanya, ia tersenyum ramah pada siapa saja, dan menyapa orang-orang yang menyapa nya.


Meskipun ya, Lova sedikit merasa heran atas pandangan orang-orang, padahal ia tak melakukan sesuatu yang Salah.


Dan tentang gosip itu..?


Tok.. Tok..


"Will, ini aku L!" Seru nya, sedikit keras. "Masuklah L." perintah William dengan wajah datar.


"Ada apa Will..? apa sesuatu yang buruk telah terjadi?" Lova bertanya santai seolah tak terlalu memikirkan hal itu.


"Kau sudah lihat beritanya L..?" William menampilkan wajah seriusnya, saat menunjukan sebuah majalah eksklusif kepada Lova.


Lova hanya melirik sekilas dan mengangguk. "Aku tidak tahu dari mana orang-orang ini bisa mendapatkan photo seperti ini dan membocorkan nya ke media. Bisa-bisa nya mereka membuat berita omong kosong!" kesal William, sambil berkacak pinggang.


"Tania. Dan berita Itu benar Will." Sela Lova, lalu kembali diam. William yang tak mengira akan mendengarkan hal seperti itu dari mulut Lova, ia sungguh kembali di buat bungkam.


"Apa maksud mu L? maksud mu ini benar dirimu?" tunjuk nya pada majalah yang ada di atas meja.


Majalah itu memuat tentang Lova yang saat itu bekerja sebagai pengantar minuman di pesta ulang tahun James.


Memamerkan photo Lova dengan pakaian super minim, dan juga ekor kelinci sialan yang membuatnya terlihat vulgar.


Di tambah lagi dengan judul berita itu yang dibuat senegatif mungkin;


"Miss PM, sang model terkenal dengan jasa pelayanan memuaskan" Sungguh kekanak-kanakan!


Lova tak tahu kapan dan bagaimana photo itu di ambil, yang ia tau hanyalah bahwa itu benar dirinya, dan pastilah semua ini ulah Tania, karena hanya gadis itu yang selalu memusuhi diri nya.


"Itu memang benar diriku, hanya saja berita nya saja Yang dibuat terlalu berlebihan. Itu terjadi beberapa tahun lalu, dan saat itu, aku bekerja di sana, itupun karena aku tak tau jika harus mengenakan pakaian sialan itu!" Kesal Lova.


Mengingat kejadian itu sungguh bukan sesuatu Yang menyenangkan bagi Lova. Karena secara tak langsung ia akan kembali mengingat semua perlakuan buruk Yang diterima nya saat itu.


"Itu hanya pekerjaan Will, kenapa harus terlalu di pikirkan, biarkan saja. Lagi pula aku pun tidak akan melanjutkan karier ku sebagai model, jadi tak perlu dirisaukan." Ucap Lova dengan santai.


"Lagi pula, bukan kah semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin yang meniupnya? Aku tidak apa-apa dengan berita seperti ini, sungguh. Biarkan orang berpikir sesuka hati mereka, aku tak perlu bertanggung jawab untuk menjelaskan nya kepada semua orang. Biarkan mereka berasumsi sesuai dengan apa yang mereka percaya." tambah Lova.


Karena sejujurnya, ia memang tak ingin memikirkan hal seperti ini. Berita seperti ini hanyalah permainan seorang bocah. Lova tak ingin ikut ke dalamnya.


"Kau sungguh tidak apa-apa L? bagaimana jika memberi pelajaran kepada Wanita itu. Menurut ini sungguh keterlaluan, ini sama saja dengan merusak citra mu."


"Tidak perlu Will. Biarkan saja, jika kita mengusut ini, maka wanita bar-bar itu akan semakin senang. Tak perlu terusik dengan hal seperti ini, nanti juga akan berlalu."


Itulah yang Lova pikirkan. Bagaimana pun kehidupan nya, hanya dirinya lah yang paling tau. Lova tak akan menyangkal masa lalu nya hanya karena saat ini ia sudah menjadi seorang yang terkenal.


Bagaimana dirinya, biar lah orang lain menilainya sendiri, Lova tak memiliki tanggung jawab untuk membuat semua orang harus menyukai dirinya.


Bukan kah kehidupan memang seperti ini? Akan ada orang yang menyukai dan tidak menyukai kita.


Jika orang lain tak menyukai kita, makan masalahnya bukan terletak pada diri kita, melainkan pada orang itu sendiri.


Jadi, kenapa harus kita yang di pusingkan? bukan kah terlalu membuang-buang waktu?


"Baiklah jika itu yang kau inginkan L. Aku akan mengikuti apa yang kau katakan. Tapi jika ini masih terus berlanjut. makan aku akan membuat wanita itu membayar perbuatan nya." ujar William dengan wajah Yang memerah.


"Thanks Will.. "


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2