My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
BACK TO BALI


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


...Ting.. Tong.....


...Ting.. Tong.....


Tak ada angin tak ada hujan, masih dalam hitungan pagi-pagi sekali, Ken sudah bertamu ke rumah saudarinya, Z famili.


Sebelum melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Bali, tempat dimana ia harus mulai bekerja lagi, ia terlebih dahulu ingin mampir untuk bertemu Zozo dan juga keponakan kecilnya, Z'evier Earl Aiden yang tampan.


Sebelum Ken menekan bell untuk kedua kalinya, pintu di depan nya sudah lebih dulu terbuka, memperlihatkan wajah asisten yang terlihat terburu-buru untuk membuka pintu.


"Selamat pagi tuan muda, selamat datang, maaf membuat anda menunggu." Salah satu asisten rumah tangga saudarinya menundukkan kepala saat menyapa Ken.


"Selamat pagi juga. Dimana Zozo dan kakak iparku? Apa mereka sudah bangun?" Ken melangkah kan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Tuan Zen sedang pergi berolah raga, sedang kan nyonya ada di atas bersama dengan tuan kecil." sahutnya pelan.


"Baiklah. Kalau begitu, Aku akan menemui Zozo." Ken meninggalkan ruang tamu untuk melanjutkan langkahnya menaiki tangga ke lantai dua tempat dimana kamar Zoya berada.


Ken melihat sejenak ke dalam kamar keponakan kecilnya, namun ruangan tersebut kosong. Ia pun beralih ke kamar yang ada di hadapan nya, kamar utama.


Tok.. Tok..


"Zozo..? kau di dalam..?" Ken diam sambil menunggu sampai saudarinya membalas panggilan nya.


Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar,


Seperti nya Zoya sedang mandi.


Ken menunggu sesaat, sampai kamar kembali hening. Lalu mengetuk pintu untuk kedua kalinya.


Tok.. Tok..


"Zozo, kau didalam? ini aku Ken.." Serunya, sambil menyenderkan diri di tembok, kembali menunggu sampai saudarinya itu membuka kan pintu untuk nya.


Setelah menunggu beberapa menit, Akhirnya pintu kamar itu pun terbuka.


"Ken, Kau disini? masuklah. Tapi jangan terlalu berisik, Aiden sedang tidur." Zoya setengah berbisik, sambil mempersilahkan adiknya masuk ke dalam kamar.


"Kau ingin melihat Aiden, dia ada di dalam box tidurnya. Tolong temani dia sebentar disini, aku ingin mengambil sarapan. Kau mau sarapan bersama ku?" Zoya tersenyum sambil menunggu jawaban adiknya.


"Hmm. Baiklah." Ken mengambil tempat di samping box bayi, tempat dimana keponakan kecilnya sedang tertidur.


Sesekali Ken tersenyum melihat Aiden. Sesekali ia juga berlaku jail dengan memainkan tangan mungil serta pipi gemas keponakan nya itu.


Aiden terlihat sangat tampan dan menggemaskan.


"Hai, little prince, kau tidak ingin bermain dengan uncle? uncle ada disini. Tapi uncle tidak akan Lama, uncle harus segera pergi. Uncle tidak bisa sering menemui mu karena harus kembali ke tempat uncle bekerja.-


"Tapi tenang saja, meskipun tidak ada Uncle, akan ada grandfa yang akan sering mengunjungi dan menemani mu disini. Kau harus jadi anak yang baik, dan juga manis. Keponakan tampan uncle adalah pria kecil yang luar biasa. Sangat tampan, dan juga sangat menggemaskan.-


Meskipun tau bayi itu tak bisa merespon ucapan nya, Ken hanya merasa senang melakukan itu.


"Kau harus menjaga mommy mu untuk tidak terlalu sering begadang. Jangan biarkan mommy mu terlalu lelah juga.- Ken kembali memainkan jari-jari Aiden Yang terbungkus sarung tangan, membuat bayi itu sedikit terganggu.


"Ssstttt... apa kau baru menyadari keberadaan uncle? hem..? Bangunlah... mommy tidak ada disini, uncle akan menemanimu." Bisik Ken gemas. "Heii.. ayo bangun, Mommy tidak akan marah jika jagoan kecil Uncle bangun sekarang." seru nya, sambil terus menggoyang-goyangkan tangan Aiden.


Ken juga sempat mengambil beberapa photo dan Video Aiden, Yang nanti nya akan di kirim untuk kekasihnya, Lova.


Zoya Yang memperhatikan tingkah Ken, hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Ken, kemarilah. Kita sarapan bersama." Zoya masih menjaga suara nya agar tidak terlalu berisik. Ia meletakan nampan yang di bawanya ke atas meja kecil yang ada di dalam kamar, dan menyusun dengan rapi semua makanan Yang di bawa nya.


Dua piring sandwich dengan isian tuna dan keju, kesukaan Ken. Segelas susu coklat untuk Zoya, dan juga secangkir kopi untuk Ken.


Tidak lupa Zoya juga menyediakan air mineral. Ken selalu meminum dua gelas air mineral setelah sarapan.


Tokk. Tokk..


Pintu kamar Zoya kembali diketuk dengan suara yang lebih pelan, membuat Zoya menoleh ke pintu kamarnya;

__ADS_1


"Permisi nyonya, buah-buahan nya."


"Masuklah, letakan di sana. Terima kasih."


Setelah asisten keluar dari dalam kamarnya, Zoya kembali menghampiri Ken.


"Kemarilah, kita sarapan bersama." Ajak Zoya, kemudian beralih pada putra kecilnya; "Aiden sayang, mommy dan uncle sarapan dulu ya, kesayangan nya mom tidur saja dengan nyenyak."


Ken ikut tersenyum saat memandangi saudari dan juga keponakan nya secara bergantian. Mereka terlihat begitu manis.


"Bagaimana rasanya memiliki putra Zo?" gumam Zen tiba-tiba. Ia hanya merasa penasaran bagaimana bahagianya saat menjadi orang tua.


"Tidak ada kata Yang bisa mendeskripsikan tentang perasaan itu Ken, kau hanya akan tau saat kau sudah menjadi orang tua." Binar di mata Zoya, membuat Ken merasakan apa yang saudarinya itu juga rasakan. Tak terhingga.


"Ayo.." ajak Zoya sekali lagi, membuat Ken mengikutinya dengan patuh.


"Nah, ini sarapan mu, air mineral, dan juga kopi mu." Semua sarapan Ken sudah ada di depan nya.


Setelah mereka berdoa sejenak untuk mengucap syukur atas berkat yang telah mereka terima, keduanya sama-sama mulai melahap sandwich tuna kesukaan mereka.


"Eehhm. Sandwich ini enak. Kau yang membuatnya Zo?"


"Kau suka?"


"Tentu. Ini sama persis seperti,- buatan mom." ujar Ken bersuara lemah. Zoya menyentuh pelan tangan Ken, karena menyadari perubahan suara adiknya. "Aku memang mempelajari resepnya dari mom. Baguslah kalau kau suka. Aku akan membuatkan lagi untuk lain waktu." Zoya tersenyum, dengan perasaan haru Ken juga membalas senyum saudarinya. "Terima kasih Zo."


"O, ya, Kapan kau akan kembali ke kantor cabang?" Zoya kembali buka suara, sambil sesekali menggigit sandwich miliknya. "Siang ini, aku akan ikut penerbangan ke tiga." sahut Ken, yang juga tengah menikmati sarapan nya dengan lahap.


"Zo, boleh aku bertanya?" Ken meletakan sendok lalu melipat tangan nya. Lagi-lagi ia mulai bersikap serius.


Zoya hampir saja tersedak saat memperhatikan wajah serius yang di tunjukan Zen. Seperti keduanya ingin memulai sesi interogasi.


"Silahkan, Tanya saja apapun yang kau inginkan." Sahut Zoya, bersikap sebaliknya.


"Apa kau bahagia dengan pernikahan mu Zo? maksudku, apa kau tidak menyesal saat memutuskan untuk menikah muda?"


Sungguh pertanyaan yang tidak pernah Zoya pikirkan akan keluar dari mulut adiknya. Ken yang biasanya selalu bersikap dingin, cuek dan juga pelit bicara, malah ingin tahu banyak tentang kehidupan.


"Kenapa kau ingin tau tentang itu? seperti bukan dirimu saja." cibir Zoya, sambil mendelik pada Ken.


"Hanya ingin tau saja. Apakah wanita yang seperti kalian, -


"Wait, apa maksudmu dengan seperti kalian?" sela Zoya. Saat ini Zoya juga sudah menghentikan kegiatan sarapan nya. Ia mulai menanggapi Ken dengan serius.


"Maksudku kalian kan bisa melakukan apa saja sebelum menikah. Pergi ke banyak tempat, bergaul dengan banyak orang, bahkan kalian bisa mewujudkan begitu banyak hal yang mungkin kalian inginkan. Jika kalian menikah, bukan kah itu artinya kalian tidak bisa leluasa melakukan apa yang kalian inginkan lagi? Jadi, apa kau tidak menyesalinya?" tambah Ken, lalu menutup rapat mulutnya.


Pertanyaan yang Ken ajukan sama dengan pertanyaan yang dulu sering Zoya tanyakan pada dirinya sebelum menyetujui lamaran pernikahan dari suaminya, Zen.


"Kau tau Ken. Seorang wanita terkadang dapat menjadi sangat rumit, dan terkadang dapat menjadi sangat sederhana.- Saat kau bertemu dengan kedua tipe itu, maka sebenarnya sikap para pria lah yang akan menentukan akhir nya.


"Jujur saja, sampai hari ini aku masih memiliki beberapa mimpi yang ingin aku wujudkan. Hanya saja, jika kau bertanya apa aku menyesal karena memutuskan untuk menikah? maka jawaban nya Tidak.


"Jika kau ingin tau apa Alasan nya, maka jawaban nya adalah; Karena kak Zen tak pernah membuat ku sehari saja melupakan semua mimpi-mimpi berharga ku. Mimpi itu tetap ada dan bertumbuh disini." Zoya menyentuh pelan dada nya.


"Kak Zen juga selalu mendukung apapun keputusan ku, apapun yang ingin ku lakukan, dia tak pernah membatasi ku. Dia tak pernah membuat ku merasa terkekang hanya karena sebuah status pernikahan.-


"Kak Zen tak pernah sekalipun membuatku melupakan siapa aku yang sebenarnya. Mimpi ku, kehidupan sebelumnya, apapun itu, dia selalu mendukung ku, ya kecuali untuk dekat dengan pria lain. Kak Zen terlalu posesif untuk satu itu."


"Tapi aku bisa mengerti, karena dia seorang pria. Itulah alasan mengapa aku sangat mencintainya, dan aku juga sangat bersyukur telah menjadi istrinya. Aku tak pernah sekalipun menyesali keputusan ku hari itu. Jika waktu terulang kembali pun, aku akan tetap memutuskan hal yang sama."


"Bagaimana menurutmu? apa aku terlihat bahagia atau sebaliknya..?" Zoya balik bertanya.


Ken bisa menyimpulkan dari apa Yang di jelaskan saudarinya. Ia hanya sedang mempertimbangkan keputusan nya berdasarkan dari sudut seorang wanita.


Ken mengedikkan bahu, yang artinya ia enggan untuk berkomentar tentang itu. Meskipun kenyataan nya Ken melihat Zoya selalu bahagia, namun suka dan suka sebuah pernikahan siapa Yang akan tau.


"Zo, kau tau, aku hanya ingin minta pendapat mu. Ini tentang aku dan L." Memang Ken tak meragukan perasaan dan juga keputusan nya karena telah melamar Lova, hanya saja, Ken ingin lebih memastikan jika apa yang di lakukan nya adalah keputusan yang benar.


"Ah, L. Bukan kah dia baru di wisuda? sampaikan ucapan selamat ku untuk nya. Aku sudah tak sabar ingin melihat perkembangan gadis muda itu." Zoya mendesah dalam. Lova adalah Salah satu anak beasiswa Yang sangat L sukai.


Selain karena prestasi akademiknya, L juga memiliki banyak talenta lainnya. Zoya sangat menyukai gadis itu.


"Hmm. Akan ku sampaikan pada L.-" Ken tersenyum sesaat. "kembali lagi pada pembahasan sebelumnya,- sambung Ken.


"Ya, ada apa dengan calon nona muda kita?" Zoya bersedekap sambil sesekali mengalihkan perhatian nya kepada box Aiden yang begitu tenang.


"Aku melamar L beberapa hari yang lalu." Aku Ken, membuat Zoya membelalak tak percaya. "Kau sungguh melakukan itu? Kau tau apa Yang kau lakukan bukan? lalu bagiamana dengan L, apa dia langsung memberi jawaban ? L menolak mu? atau malah sebaliknya?" tuntut Zoya ingin segera tahu.


"L mengatakan Yes Zo. Kau tau kami saling mencintai. Dan L langsung menyetujui itu. Ehhmm, sebenarnya, Aku juga sudah bicara pada Dad, dan Dad menyetujui permintaan ku untuk melamar L secara resmi setelah dia kembali ke Stockholm, dalam waktu dekat" cerita Ken.

__ADS_1


"Kau sungguh-sungguh Ken? Omg! Ini sungguh berita besar." Zoya masih berdecak tak percaya. "Omg, Ken, Aku sungguh tak menyangka jika hari ini akan datang begitu cepat. Ini sungguh-sungguh..?-


"Bagaimana menurut mu Zo? apa keputusan ku benar? kami memang tidak akan segera menikah, hanya bertunangan saja. Kau sendiri tau berapa usia yang si tetapkan pemerintah untuk menikah. Aku hanya tak ingin kehilangan L. Setelah lamaran resmi ku, Lova akan ku ajak ke Indonesia. Itupun jika L tidak keberatan untuk tinggal disini."


"Aku ingin L membuka bisnis nya disini. Kau tau Zo, ternyata L sangat ahli dalam merancang perhiasan. Kekasihku sungguh luar biasa." Cerita Ken dengan bangga.


Semua hal tentang Lova memang selalu membuat Ken tersenyum bahagia. Kecuali ingatan saat L menangis, Ken sangat tidak menyukai hal itu, membuatnya merasa bersalah dan juga merasa terluka.


Zoya menepuk pelan tangan Ken, lalu tersenyum setelahnya. "Jika kau tidak ragu dengan keputusan mu, maka lakukan seperti Yang hati mu inginkan dik. Tapi kau harus ingat, Lova adalah -seseorang- bukan -sesuatu- kau tidak bisa mengikatnya dengan cintamu.


'Biarkan Lova menentukan pilihan nya. Jika dia memang ingin bersama mu, maka biarlah semua itu terjadi karena keinginan nya, bukan karena sebuah paksaan atau tuntutan mu sebagai kekasihnya."


"Aku tau Zo, aku memang tak ingin bersikap terlalu posesif terhadap pilihan Lova untuk menjalani hidupnya. Aku ingin dia bahagia bersama ku, seperti kau bahagia bersama kak Zen."


"Baguslah kalau begitu Ken. Semoga semuanya berjalan sesuai rencana mu. Kakak akan mendoakan Yang terbaik untuk mu dan calon nona muda kita." Zoya kembali tersenyum. Ia turut bahagia untuk adiknya.


"Doa apa Yang kalian maksudkan? boleh aku tau?" Sela Zen Yang baru saja tiba di lantai dua, ia baru kembali berolah raga dan tak sengaja mendengarkan sedikit pembicaraan istrinya.


"Hai Ken, kapan kau tiba di indo?" Sapa Zen juga kepada adik iparnya itu.


"Hai kak, aku tiba kemarin. Aku akan kembali siang ini ke Bali. Aku mampir sebentar.."


"Sering-seringlah mengunjungi kami jika kau punya waktu luang.- O, ya, dimana jagoan kecil ku, masih tidur sayang?" Zen beralih untuk melihat putranya.


"Bersihkan dirimu dulu kak, baru temui anak mu. Kau ingin sarapan sekarang, atau nanti saja?" sambung Zoya.


"Nanti saja sayang, aku harus membersihkan diri dulu, bukan?" Zen tersenyum menggoda pada istrinya, sebelum menghilang di balik kamar mandi.


"Zo, seperti nya aku harus pergi. Aku akan datang lain kali, sampaikan salam untuk keponakan kecilku saat dia bangun nanti, dan untuk kak Zen." pamit Ken Yang sudah berdiri dari kursinya.


"Hmm. Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah, dan jaga dirimu saat berada di Bali. Sering-seringlah mengabari kami, terutama Dad." pesan Zoya.


"Akan ku ingat. Tak perlu mengantarku. Kau disini saja, temani Aiden. Aku pergi." Zoya memeluk Ken sebelum adiknya itu pergi. "Hati-hatilah Ken. Jaga dirimu." Ken juga membalas pelukan Zozo dengan perasaan lega. "Aku tau Zozo. Kau juga, jaga dirimu sister."


Setelah meninggalkan rumah Saudarinya, masih ada satu tempat Yang harus Ken kunjungi..


Sebelumnya ia mampir ke satu toko untuk membeli sebuket bunga lili putih Yang begitu cantik, dan juga sekotak coklat Yang dulunya sangat di sukai oleh mommy nya.


Ya,


Ken akan mengunjungi makam mommy nya. Wanita pertama Yang sangat ia cintai, sekaligus wanita pertama Yang membuat nya patah hati karena kepergian nya.


Setibanya di makam, Ken meletakan bunga dan juga coklat Yang di bawanya. Ia berdoa sejenak, lalu duduk di atas rumput hijau Yang begitu terawat. Di atas makam juga terdapat buket bunga lain yang sudah hampir layu. Dady nya pasti datang berkunjung sebelum Ken.


"Mom.. apa kau merindukan aku? Maaf jika kau tak bisa sering melihat mu untuk menyapa. Kau tau aku sangat sibuk sekarang mom, Dad memberiku sebuah tanggung jawab Yang besar,-


"Dad mempercayakan padaku untuk mengurus kantor cabang yang ada di Bali. Apa sekarang kau bangga pada ku mom?" Cerita Ken.


Ia duduk dan termenung di sana cukup Lama. Kesunyian di tempat itu begitu menenangkan dirinya.


"Apa kau tidak kesepian disini mom? Ah- aku lupa jika mom saat ini sudah berkumpul bersama jutaan malaikat lainnya di atas sana. Malaikat yang akan selalu menjaga kami, malaikat yang akan terus berada di hati kami.-


"Kau tau mom. Usia ku sudah dua puluh tahun sekarang, dan dalam hitungan bulan aku akan menginjak usia 21. Aku sudah dewasa.-


Ken hanya bercerita secara random. Apa saja Yang di pikirkan nya, itulah yang ia katakan..


"Mom ingat gadis yang menjadi kekasihku, L? gadis itu bersinar terang sekarang. Sungguh sangat bersinar. Aku bahkan begitu terpesona dengan kilau nya, dan beruntungnya gadis itu adalah gadis yang sudah ku lamar untuk menjadi pendamping hidupku kelak.- Aku sangat mencintai L mom."


"Aku yakin, mom juga pasti akan setuju dengan ku. L adalah gadis yang tepat. Satu-satu nya gadis yang akan membuatku menjadi pria sejati.- Tolong restui kami mom, jika saat nya tiba nanti, aku akan membawa L bersama ku untuk mengunjungi Mom."


"Mom, seperti nya aku tidak bisa berada disini lebih Lama. Aku harus segera pergi. Aku akan merindukan mu."


Setelah cukup lama berada di makam Mommy nya. Ken pun kembali ke mobil, ia harus segera bersiap untuk pergi ke airport. Kembali ke tempat dimana ia akan disibukan dengan begitu banyak pekerjaan.


...❄️❄️...


"Hallo Dad?" Telpon Ken. Ia tak bisa meluangkan waktu untuk mengunjungi Dady di kantornya, karena itu ia hanya akan berpamitan melalui telpon.


"Ya Son, kau sudah di airport? maafkan Dad tidak bisa mengantarmu." sahut Rehan, namun Ken dapat memakluminya. "Tidak apa-apa Dad. Aku akan pergi sebentar lagi. Dad harus jaga kesehatan, aku akan mengunjungi Dad lebih sering. Aku pergi Dad." pamit Ken.


"Hmm. Baiklah Son, berhati-hatilah. Dad menyayangi mu." tutup Rehan. Setelah panggilan itu berubah hening, Ken juga menutup ponselnya dan menyimpan nya ke dalam saku.


Hari-harinya ke depan akan semakin sibuk. Ken berharap waktu segera cepat berlalu, dan ia bisa segera bertemu lagi dengan L.


Wanita yang menjadi penyemangat hidupnya.


"Selamat pagi Tunangan ku. Apa tidur mu nyenyak? Aku akan kembali ke Bali. Hanya ingin kau tau. Jaga kesehatan mu. Aku mencintai mu sayang."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2