
...ENJOY...
.......
.......
.......
Setelah berbincang-bincang dengan Jordan, Zoya kembali melanjutkan kelasnya yang terakhir untuk hari. Jordan lumayan banyak memberinya nasihat, dan menurut Zoya itu cukup bijak.
pukul 17.15 Zoya sudah sampai dirumah.
Tidak lupa juga ia membawa paper bag yang sebelumnya di berikan oleh William. "Sore momm." Zoya menyapa Julie yang saat itu tengah berada di ruang keluarga sambil membaca majalah kesukaannya, lalu mengambil tempat di sebelah mommy nya, sambil menyenderkan kepala.
"Kesayangan nya mommy, capek ya? mau mom buatkan susu kesukaan mu?" Julie membelai rambut coklat keemasan Zoya. Sementara gadis itu menghembuskan nafas lelahnya.
"Aku hanya ingin seperti ini sebentar mom." Zoya memeluk Julie, namun sebelumnya ia meletakan paper bag di atas meja. "Kamu membeli itu sayang?" Julie mengisyaratkan tas hadiah Zoya.
"Bukan mom, itu hadiah."
"Zen..?"
Zoya menggelengkan kepalanya. "Bukan."
"Hmmm. Hadiah apa?"
"Hadiah pertemanan."
"Anak mom sudah bisa berteman?" Julie setengah takjub mendengarnya. Ini suatu kemajuan bagi Zoya. Setau Julie putrinya itu sedikit antisosial. Yah meskipun begitu, Zoya punya alasan sendiri mengapa ia tidak suka memiliki seorang teman, dan sekarang, putrinya mengatakan bahwa ia memiliki teman. Berita yang patut dirayakan.
"Tentu saja Mom. Aku sudah 20 tahun, bukan kah seharusnya aku lebih menata kehidupan sosialku.?"
"Hampir 20 sayang." Julie membenarkan perhitungan Zoya. ''Tapi itu bagus. Apa mom harus mengundang teman-teman mu untuk makan malam?
"Haruskah?
"Tergantung padamu sayang.'' Julie membelai lembut pipi Zoya.
"Sepertinya tidak perlu mom. Lagipula hanya teman-teman biasa saja."
"Apa isinya?"
"Apa?"
"Hadiah nya? Isi tas itu?" Julie melirik sambil tersenyum penasaran.
"Entahlah.-- Zoya mengangkat bahunya. ''Aku belum membukanya mom.''
''mom, ada yang ingin ku tanyakan." Zoya menegakan tubuhnya.
"Apa sayang..?" Julie menutup majalahnya mencoba fokus pada Zoya. Jarang-jarang putri geniusnya itu mau bertanya. Ahh, ini benar-benar hari yang patut untuk dirayakan.
"Apa Dad pernah membohongi mom?-- Maksudku mungkin Dad pernah melupakan janji penting kalian karena hal lain yang dianggap lebih penting?" tanya Zoya dengan seksama.
Julie terlihat berpikir, mungkin mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Zoya mengamati ekspresi wajah mom nya yang berubah-ubah.
"Sepertinya pernah." Jawab Jullie ragu.
"Apa alasan Dad mom, saat itu, saat Dad membohongi mom?"
"Tepatnya bukan membohongi sayang, hanya waktunya saja yang berubah tidak sesuai dengan yang di janjikan." Julie tersenyum ''Ada apa? apa Zen melupakan janji penting kalian?'' tebak Julie menyunggingkan senyumnya.
"Bagaimana Mom tau?" Zoya menutup mulutnya. Bagaimana bisa semua orang yang di temui nya benar-benar seperti cenayang? sungguh menakjubkan.
Julie tergelak melihat wajah putrinya. ''Matamu sudah menunjukan semuanya sayang. Kamu putri mom, dan mom pasti bisa merasakan kalau ada yang tidak beres dengan putri mom.''
"Aku,, tidak beres?"
"Hatimu tepatnya sayang."
"Sekarang katakan pada mom, apa benar Zen melupakan janjinya?''
Zoya menganggukan kepalanya. ''Karna Maria.'' kata Zoya pelan.
"Maria? teman lama yang dari U.K?"
Sekali lagi Zoya menganggukkan kepalanya.
"Hmmm. Kalau begitu. Berikan Zen kesempatan untuk menjelaskan nya padamu. Mom rasa Zen punya alasan nya sendiri.'' Julie membelai rambut Zoya dan tersenyum hangat seperti biasanya, membuat Zoya semakin lega. Setidaknya ia tidak akan mengambil sikap yang salah setelah ini.
__ADS_1
"Baiklah Mom, terima kasih untuk sarannya. Aku ingin kembali ke kamar, rasanya badan ku sudah terlalu lengket." Zoya mengambil tas dan juga paper bag nya.
''Hmmm. pergilah sayang''
...❄️❄️❄️...
Setelah pulang dari kantor, Zen menyempatkan diri untuk mampir sebentar kerumahnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian nya.
Ting Tong..
"Maria? ada apa?'' Zen berdiri di depan pintu sudah bersiap-siap ingin pergi.
"Apa kamu mau keluar Zen? mau makan malam bersama?'' wanita itu sudah siap dengan dengan mengenakan pakaian kasual nya, serta membawa tas tangan.
"Maaf mar, kali ini sepertinya tidak bisa. Aku ingin pergi menemui Zo'e.'' laki-laki itu tersenyum bersemangat.
"Benarkah? hmm. Baiklah kalau begitu, sampai bertemu lagi.''
"Kamu mau cari makan dimana? sudah menentukan tempatnya? aku bisa mengantarmu sekalian kesana kalau kita searah.'' tawar Zen.
"Baiklah, aku ikut dengan mu sampai ke restoran yang ada di jl.XX, sepertinya restoran itu cukup terkenal disini.'' sebut maria.
"Baiklah. Kalau begitu ayo pergi bersama, lagipula aku bisa mengantarmu kesana."
Setelah mengunci pintunya, Zen dan maria pergi bersama.
"O, ya Zen, boleh aku tau kapan rencana pernikahan mu dan Zoya?" Maria memulai percakapan saat keduanya sudah dalam perjalan.
"3 bulan lagi.'' jawab Zen singkat.
"Itu lumayan cepat.'' komentarnya.
"Kamu mencintai Zoya? Ah, maafkan aku. Aku bukan berniat ingin mencampuri masalah pribadimu."
"Aku rasa sejak kecil aku sudah mencintai Zoya. Mungkin kamu belum tau, Mollie dan Daddy, maksudku orang tua Zoya membesarkan kami bersama-sama, jadi,-
"Apa kamu yakin itu cinta? bukan perasaan seorang kakak pada adiknya?"
"Seorang kakak tidak mungkin menginginkan adiknya seperti aku menginginkan Zoya sebagai pendamping hidupku maria. Dan sejak dulu aku selalu tau, bahwa Zoya adalah satu-satunya wanita yang aku cintai dalam hidupku.'' kata Zen mantap.
"Apa Zoya juga seperti itu? terhadapmu?''
Zen mengerutkan keningnya. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang selalu menjadi rema bagi dirinya selama 9 ahun terakhir. Namun akhirnya Zoya menerima cintanya. Tapi apakah Zoya mencintainya seperti ia mencintai gadis itu, entahlah.
"Semoga kalian bahagia.''
Itulah kata-kata terakhir yang Maria ucapkan sebelum turun dari mobil Zen, dan Zen, tentu saja ia bersyukur karena ada orang-orang yang mendoakan kebahagiaannya bersama Zoya.
20 menit kemudian, Zen sudah sampai di kediaman Zoya. Sebelumnya ia sudah membelikan sebuket bunga untuk Zoya. Semoga saja gadis kecilnya suka.
"Ken, dimana Mollie dan Dad?" Zen berhenti sesaat di depan Ken yang saat itu baru masuk dari arah taman samping.
"Kak Zen, kakak disini?" Sepertinya mollie ada di wilayah kekuasaannya, dan Dad mungkin dikamar.'' jawab Ken sesuai dengan kebiasaan.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menemui Mollie.'' Zen berjalan menuju dapur.
"Mollie, selamat malam.'' Zen berdiri di seberang pembatas yang memisahkan area itu. ''Temui saja Zoya di kamarnya, mom rasa itulah tujuanmu.'' kata Julie sambil tersenyum.
Zen hanya mengeluarkan cengirannya. Percuma ia berbasa-basi dengan mollie, toh mollie lebih mengenal dirinya.
"Baiklah, sesuai perintah ibu ratu.'' Zen segera naik ke lantai dua tempat kamar Zoya berada.
Hmm..Hmm..
Tok..Tok..
"Zo'e..?"
"Masuklah kak." suara Zoya terdengar dari balik pintu kamarnya.
Tanpa menunggu lebih lama, Zen masuk ke dalam kamar kekasihnya.
Zoya sedang duduk di depan cermin hiasnya. Kekasih Zen itu baru saja selesai mandi.
"Rambutmu basah? duduklah." Zen mengambil handuk Zoya lalu mengusapnya pelan, agar kering dengan perlahan, dan Zen memang harus memastikan rambut kekasihnya kering, jika tidak maka gadis kecilnya akan terkena flu besok pagi.
Gadis kecilnya memang sangat merawat rambutnya, sejak ia mengenal berbagai macam peralatan kecantikan, Zoya hanya today menyukai pengering rambut, katanya itu akan sangat merusak rambut sehatnya.
Zoya membiarkan Zen mengeringkan rambutnya, sambil menatap pantulan kekasihnya itu dari cermin. Sesekali pandangan keduanya saling bertabrakan. Ahh.. tampannya.
__ADS_1
"Zo'e.. ada yang ingin ku sampaikan padamu." Zen menatap Zoya melalui cermin.
"Katakanlah.."
"Maafkan aku. Sebenarnya tadi aku benar-benar lupa bahwa kamu, maksudku kita akan bertemu. Karena,-
"Karena...?" ulang Zoya.
"Maria. Maksudku tadi maria datang ke kantor, dan ada beberapa hal penting yang disampaikannya, lalu aku mengantarnya pulang." jelas Zen.
Jadi maksudmu dia pulang kerumah mu kak? Kalian tinggal bersama?
"Hmmm. It's Ok. Lagi pula aku memang tidak pergi ke kantormu kak." Karena aku lebih dulu melihat kalian pergi.
"Benarkah? Jadi kamu tidak marah?"
"Marah..? Kenapa..?"
"Tidak apa-apa." Zen tersenyum lega. "Tadinya aku pikir kamu akan marah, syukurlah kalau memang tidak." tambah Zen.
"O, ya aku membawakan bunga untukmu." Zen melepas handuk dari tangannya, menuju tempat ia meletakan bunga sebelumnya.
''Zo'e, kamu baru belanja?" Zen melihat isi paper bag yang terletak bersebalahan dengan bunganya.
Zoya menggelengkan kepalanya.
"Lalu ini..?" tunjuk Zen.
"Hadiah."
"Dari siapa?"
"William." kata Zoya dengan sebenarnya.
"William?" ulang Zen.
"Hmmm. Hadiah pertemanan." Zoya membalas tatapan Zen dari cermin.
"Te, teman? pertemanan..?" Hiss!! Zen mendesah kesal. "Bukankah sudah ku katakan untuk jangan sembarangan berteman dengan laki-laki Zo'e..?"
"Ya."
"Lalu..?"
"William baik, seperti Jordan, dan aku rasa teman yang baik juga." Zoya mengangkat kedua bahunya, seakan itu bukan masalah untuknya, berbeda dengan Zen saat ini.
"Tidak ada kata pertemanan antara laki-laki dan perempuan Zoya!" suami Zen terdengar rendah, namun berarti peringatan.
Apa kak Zen marah? tapi Kenapa..? Bagaimana dengan dirinya sendiri?
"Benarkah?" Zoya membalik tubuhnya, berjalan kearah Zen.
"Tentu saja, dan aku jamin itu." tegas Zen.
"Bagaimana dengan kakak dan Maria? bukankah kalian teman? apa aku juga harus meragukan pertemanan kalian?"
"Zo'e itu tidak sama."
"Kenapa? karena itu aku? karena bukan kakak dan maria..? begitu?"
Zen mendesah dalam. Ada apa dengan Zo'e nya saat ini?
"Baiklah. Itu sama. Tapi aku bersumpah tidak ada apa-apa antara aku dan Maria. Sungguh." Zen menatap dalam mata Zoya.
"Baiklah. Aku percaya kakak. Tapi aku tidak percaya pada wanita itu!" alis Zoya terangkat, menatap tegas pada Zen.
"Omong kosong Zoya! Maria hanya minta bantuan ku, tidak ada apa-apa diantara kami." kata Zen lagi.
"Begitu juga antara aku, Jordan, maupun William!"
"Omong kosong Zoya! kamu tidak tau maksud tersembunyi mereka darimu!" Zen menaikan volumenya sambil mengeram marah.
Tok..Tok..
"Zozo, mom dan Dad sudah menunggu."
"Sebaiknya kita selesaikan setelah ini!"
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...