My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
SAY GOOD BYE


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Selesai makan malam. Dina dan Fredy sedang berbincang-bincang di kursi teras. sementara bi retno kembali untuk membersihkan dapur.


"Kita mau pergi kemana..?" tanya Zoya yang saat ini sudah menenteng tas kecil di tangannya.


"Kamu serius mau pake baju itu..?" tanya William sambil meneliti pakaian Zoya. "Kenapa, ada yang salah..?"


"Sebaiknya kamu naik, dan gunakan pakaian yang lebih tebal." kata William sambil mendorong pelan pundak Zoya agar kembali naik keatas. "Kenapa harus ganti sih, ini juga udah tebal kali." protes Zoya namun masih mengikuti perintah William.


"Ganti saja bajumu. Aku sih gak keberatan meluk kamu kalau nanti kedinginan, hanya saja aku tidak ingin membuat perasaanmu goyah dengan kenyamanan pelukanku." ucap William, sengaja menggoda Zoya.


Huh.


"Dasar menyebalkan!"


William hanya tersenyum melihat Zoya yang mendumel padanya.


Bagi William, Zoya adalah seseorang yang sudah dianggapnya penting, dan William sangat bahagia saat ini memiliki Zoya sebagai rekan dan juga temannya.


Bagi William yang seorang anak tunggal, memiliki seseorang yang bisa dilindungi dan diperhatikan seperti Zoya merupakan suatu tanggung jawab baru yang sangat berarti baginya. Tapi entahlah, mengapa ia harus menjadikan Zoya sebagai salah satu tanggung jawabnya, mungkin karena memang Zoya sudah mengisi tempat kosong dalam hidupnya.


Sepuluh menit kemudian, Zoya sudah turun menemui William. Zoya tidak mengganti bajunya seperti yang William minta, namun Zoya sudah menambahkan jaket tebal diluar Sweeternya, setidaknya itu akan lebih menghangatkan Zoya nantinya.


"Sudah siap..? William tersenyum pada Zoya.


"Hmm." Zoya melewati William, sambil menguncir rambutnya. William mengikuti Zoya sampai gadis itu tiba-tiba berhenti di depannya.


Uppss.


"Sorry..!" katanya sambil mengangkat kedua tangannya.


Zoya memasukan tangannya kedalam kantong jaket, lalu menyipitkan mata pada William. "Apa kita akan menggunakan skuter lagi..?" Katanya, dengan mata berbinar. "Kenapa..? kamu mau naik motor itu lagi..?"


"Apa kita harus menggunakan itu..?" tanya Zoya lagi.


Ehhmm.


"Nona, apa anda dan tuan muda ingin pergi..?" tanya Fredy yang sudah menunggu di depan pintu. Membuat Zoya langsung membalikan badan. "Ya, aku akan pergi dengan Willi."


"Baik nona, silahkan tunggu sebentar, akan saya siapkan mobilnya.'' kata Fredy yang hendak beranjak dari tempatnya.


''Tidak perlu!'' cegah William. ''Kami hanya pergi disekitar sini. Kami hanya akan jalan kaki, tidak akan jauh.'' tambah William.


"Benarkah memangnya kita mau kemana?'' tanya Zoya lagi. ''Hanya jalan- jalan, dan menikmati malam.'' William mengedipkan matanya, lalu berjalan mendahului Zoya.


''Aku akan keluar sebentar, kau istirahat saja temani Dina mengobrol, dia juga butuh teman.'' perintah Zoya. ''Din, aku keluar sebentar dengan William.'' pamitnya, yang hanya di jawab anggukan oleh Dina.


''Hei,, Will, tunggu aku!'' Zoya setengah berlari mengejar William yang cukup jauh di depan sana.

__ADS_1


"Emm, nona,-


''Dina saja.'' jelasnya.


''Baiklah, Din, apa kau juga ingin jalan-jalan?'' ajak Fredy, sambil menggosok tengkuknya canggung.


''Kau ingin menjaga nonamu?'' tanya Dina yang sangat mengerti akan tugas dan tanggung jawab Fredy. ''Maaf, aku tidak bermaksud, kalau kau,,


''Baiklah, ayo!'' Dina berdiri dari duduknya. Keduanya kini berjalan mengikuti Zoya dan William yang kurang lebih sekitar 50 meter di depan mereka.


''Kau tau mereka akan kemana?'' tanya Dina memecah keheningan yang ada.


"Melihat rute nya, sepertinya ke pantai yang ada di depan sana.'' jelas Fredy. ''ada pantai, disana?' tanya Dina sambil menunjukan tangannya. ''Ya, tentu saja, lokasi Villa kita tidak jauh dari pantai.''


"Kau sudah lama tinggal disini?"


''Cukup lama. Aku bekerja disini sejak menyelesaikan studyku.'' jawab Fredy yang sudah merasa lebih leluasa bicara dengan Dina. ''Belum berkeluarga?'' tanya dina lagi.


''Belum.'' jawab Fredy agak malu. "Kenapa?"


''Belum bertemu yang tepat, sepertinya.''


"Lalu kau sendiri" tanya Fredy lagi. ''Aku juga.'' jawabnya singkat. ''Apa?"


''Belum bertemu yang tepat.'' Setelahnya kesunyian kembali menyelimuti keduanya, mengiringi langkah mereka yang sedikit melambat dari sebelumnya.


"Apa kau melihat dimana nona Zoya dan tuan William?'' tanya Dina yang tidak melihat sosok Zoya dan William di depan mereka.


''Entahlah, aku akan melihat disekitar.'' kata Fredy sedikit melajukan langkahnya. ''Tunggu aku, akan akan bantu mencari mereka..'' kata Dina yang juga tengah mengedarkan pandangannya.


''Sssttt! diam lah. Mereka mengikuti kita.'' tunjuk william pada Fredy dan Dina. ''Lalu kenapa?'' tanya Zoya heran.


''Biarkan mereka juga menikmati malam ini.'' William tersenyum manis pada Zoya. Tapi dasarnya Zoya memang gadis yang terbilang belum berpengalaman dengan urusan seperti ini, mau tak mau ia harus menanyakan lagi apa maksud William.


''Sssstt! Aku tau apa maksud dari wajahmu, hanya saja sebaiknya kita harus mengikuti mereka sekarang.'' William menarik tangan Zoya agar mengikuti langkahnya.


''Tadi mereka yang mengikuti kita, sekarang kenapa kita juga harus mengikuti mereka? apa ini semacam permainan?" tanya zoya yang masih tidak mengerti.


''Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat seberapa hebat kita menjadi cupid.'' jelas William.


''O..O.. maksudmu, itu..'' Zoya membulatkan mulutnya. ''Kau baru paham, dasar anak kecil.'' William mengacak pelan rambut Zoya. Huh. ''Kau pikir dirimu sudah dewasa!'' balasnya pada william.


Setelah cukup lama mencari-cari keberadaan nona nya, akhirnya Fredy dan Dina menyerah. Keduanya tidak ada dimana pun.


''Kau haus, mau minum" fredy menawarkan sebotol minuman dingin pada Dina. ''Thanks.'' Dina yang memang haus, tidak sungkan untuk mengambil minuman itu. Ia membuka lalu meminumnya dengan rakus, satu botol hampir saja tandas olehnya.


''Kau tidak haus?'' tanya Dina lagi, yang di jawab gelengan oleh Fredy.


''Mau jalan-jalan sebentar.'' ajak Fredy. Mereka sudah sampai di pantai, dan akan sayang jika mereka pulang begitu saja, Fresh karena tidak menemukan majikannya.


''Boleh. Pantainya terlihat indah, meskipun di malam hari.'' kata Dina menikmati pemandangan sekitar.


''Ya. Pantai ini memang bagus.'' Fredy setuju dengan pendapat Dina.


Fredy melepaskan jasnya, dan menyampirkan ke bahu Dina, "Anginnya terlalu kencang.'' tambahnya.

__ADS_1


''Trima kasih.'' Dina tersenyum menerima jas Fredy. Laki laki itu cukup baik dan juga ramah. Nilai Dina. Keduanya kembali berjalan-jalan di pinggir pantai.


Sementara William dan Zoya berada kurang lebih 50 meter di belakang keduanya.


"Mau memainkan ini?" William menunjukan sekotak kembang api pada Zoya. ''Ini apa?''


''Fireworks.'' kata William sambil membuka kotak kembang api, dan mengambil dalamnya untuk di hidupkan. Ia mengambil posisi membelakangi arab angin bertiup, lalu menghidupkan korek di tangannya.


''Kapan kamu membelinya?"


''Tadi, disana.'' jawab Wiliam. Tak lama setelahnya kembang api ditangannya memancar dengan sempurna menyemburkan percikan-percikan yang menyemarakan malam.


''Waaww.. ini sangat indah.'' kata Zoya yang terpukau melihat kembang api tersebut. Katakanlah ia gadis yang norak karena baru pertama kali melihatnya. Kalian pasti tau apa penyebab keasingan gadis itu pada hal-hal seperti ini, siapa lagi kalau bukan Dady. Dalam keluarganya ada begitu banyak hal yang di larang dengan alasan keamanan, salah satunya tentu saja benda kecil nan indah di depannya ini.


''Mau memegangnya..?'' William menyodorkan salah satu yang sudah dihidupkan pada Zoya.


''Apa ini aman?''


''Tentu saja. Pegang tangkainya, seperti ini.'' William mencontohkan pada Zoya. ''Lagipula ini tidak akan bertahan lama.'' tambah William. Dan benar saja, baru saja Zoya memegangnya, kembang api tersebut sudah redup, yang kemudian memunculkan sedikit kekecewaan di wajah Zoya. ''Tenang saja, masih ada disini, akan ku hidupkan lagi.'' kata William.


Setelah menghidupkan batang yang lain dan menyerahkan pada Zoya, William mengambil ponselnya dan mengarahkan kamera nya pada Zoya yang sedang tersenyum menikmati cahaya kembang api di tangannya. Sebuah potret yang cantik sudah tersimpan di ponsel William.


Ini akan menjadi kenang-kenangan pertama kita Zoya.


Sekotak kembang api sudah habis mereka hidupkan. William dan Zoya kembali berjalan pulang menuju Villa. Berkat William, perasaan Zoya kini menjadi lebih baik. Meskipun tidak membicarakan masalah pribadi dan kegelisahannya, namun cara William menghiburnya membuat Zoya merasa jauh lebih baik.


Keduanya kini sudah berada di depan Villa. ''Terima kasih untuk malam ini Will,.'' kata Zoya tulus. ''Hmm, aku senang kalau ku menikmatinya.'' William tersenyum seperti biasa. ''Boleh aku memelukmu sebentar, kalau kau tidak keberatan.'' tanya William.


''Kenapa, maksudku,,


Grab.


William sudah memeluk Zoya. Lalu menghembuskan nafasnya pelan. ''Terima kasih sudah mau menjadi teman ku Zoya. Kau tau, berkat dirimu hari-hariku terasa lebih baik. Besok aku akan kembali ke jakarta, kita mungkin tidak akan bertemu lagi dalam waktu dekat.'' jelasnya dengan suara pelan.


''Tapi Kenapa..?"


''Aku akan menemani ayahku berobat keluar negeri untuk sementara waktu, dan aku harap, kau akan baik-baik saja disini. Ingatlah, kau sudah memiliki orang-orang hebat di sekitarmu. Apapun yang terjadi, aku harap semua keputusanmu akan membuatmu bahagia.'' doa William sambil melepaskan pelukannya.


''Hmm. kau juga. semoga pengobatan ayah mu berjalan lancar. Aku juga sangat bersenang-senang bersama mu, dan aku juga doakan untuk kebahagiaanmu dimana pun kau berada.'' ucap Zoya tulus.


''Baiklah gadis kecil, kata perpisahan sudah terucap, sebaiknya kau masuk. ini sudah malam. tidurlah lebih awal.'' kata Wiliam, membelai pelan rambut Zoya.


''Kau juga, semoga penerbangan mu besok berjalan lancar. Selamat malam Will.''


''Selamat malam Zoya, sampai bertemu lagi.'' seru William.


"Hmmm. Pastikan kita bertemu lagi, setelah ayahmu baik-baik saja." Zoya melambaikan tangannya pada William.


Zoya masuk ke dalam villa nya, William juga kembali ke Villa tempatnya.


''Tuan.." Jhon berdiri di depan William, menunggu tuannya itu kembali. ''Aku baik baik saja Jhon. Semuanya sudah selesai.'' lirihnya. "Semuanya akan baik-baik saja tuan."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2