
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Zen terbangun karena pergerakan tubuh Zoya yang memberingsut dalam pelukan nya. Istrinya itu ternyata sedang kedinginan karena suhu ruangan yang mulai terasa menusuk tulang. Zen menggeser sedikit tubuhnya untuk menarik selimut menutupi tubuh polos Zoya yang saat ini tengah tertidur.
Kelembutan kulit Zoya dalam sentuhan Zen terasa sangat memabukkan. Tak ada goresan sedikitpun, sangat lembut, mulus dan sempurna, Zoya bagaikan karya seni yang bernilai tinggi.
Bahkan kini, hanya mengingat apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya membuat darah Zen kembali berdesir.
Mengingat, Bagaimana pergerakan Zoya di bawahnya, Lenguhan gadis itu, bahkan suara indahnya saat meneriakkan nama Zen, lagi-lagi membangkitkan hasrat primitif dalam dirinya.
Berapa kali pun mereka mengulang, tak akan pernah terasa cukup bagi Zen. Zoya adalah candu baginya, bagaikan heroin yang membuat Zen menginginkan lebih dan lebih.
Tangan Zen membelai dan bermain di tubuh Zoya. Tubuhnya sangat indah dan sempurna dan setiap belaian jari jemari Zen, setiap sentuhan bibirnya pada tubuh gadis itu merupakan sebuah penemuan baru. Membuatnya ingin mengeksplore tubuh Zoya lagi dan lagi.
Merasakan geli dan gelenyar rasa yang asing di tubuhnya membuat Zoya membuka matanya dengan perlahan.
Ia berbaring disisi Zen, memberinya kecupan, satu, dua kali, lalu memandanginya dengan wajah bersemu.
Di tengah desir gairah Zen, laki-laki itu tersenyum saat melihat bola mata indah yang mengarah padanya.
"Kau sudah bangun sayang?" Zen meraih tubuh Zoya, agar semakin menempel padanya, lalu mencium bibir yang sedikit membuka,- "Jangan melihatku seperti itu, kau membuatku semakin menginginkan mu, lagi dan lagi." geram Zen menahan hasrat.
Akhirnya Zoya dapat bernafas kembali, tapi nafasnya satu-satu dan terlalu memburu. Tubuhnya kembali dibuat gemetaran, dadanya bergerak naik turun kepayahan, bibirnya terasa sedikit bengkak, ia merasa lelah karena pergulatan mereka sebelumnya, kelelahan yang sangat nyaman melingkupi tubuhnya.
Setelah beberapa detik, akhirnya Zoya menemukan keberanian untuk mengangkat kepalanya untuk kembali menatap Zen. Tubuh suaminya sangatlah indah, dadanya naik turun, dengan tatapan berbinar dan berkabut, Zen bergairah.
Zen menginginkannya lagi. Menginginkan Zoya kembali berada di bawah laki-laki itu, untuk kembali di buat terbang, lalu jatuh hanya untuk kembali terbang lebih tinggi oleh kenikmatan yang belum pernah Zoya rasakan sebelumnya.
Zen terlalu hebat dalam mendominasi permainan, zoya bahkan tak tau harus memerankan apa, namun Zen melakukan semua bagian nya dengan begitu sempurna.
''Apa ini sudah pagi..? ku rasa kita tertidur terlalu lama.'' ucapnya dengan wajah bersemu. Sementara tangan Zen masih melingkar sempurna ditubuhnya.
Zen menyunggingkan senyum lalu mengecup kening istrinya, ''tidurlah sebentar lagi sayang, lalu kita akan bersiap-siap untuk makan malam setelahnya. Sekarang masih pukul lima sore." ujar Zen dengan suara mengeram, menahan hasratnya.
"Aku kira kita tertidur lama." gumam Zoya lagi.
Wanita itu ingin kembali tidur, namun tangan Zen yang terus mengelus punggung mengikuti tulang belikatnya membuat tubuh Zoya meremang. Alih-alih tertidur, Zoya malah merapatkan tubuhnya hingga menempel sempurna di tubuh Zen.
Zoya tau, Zen sedang menginginkan nya, terbukti dengan milik suaminya yang saat ini sudah siap untuk kembali lepas landas.
"Mau melakukanya sekali lagi?" tanya Zoya bernada jahil.
__ADS_1
"Kau tidak keberatan kita mengulang semuanya kembali?" Inilah yang Zen tunggu sejak tadi, undangan untuk kembali bercinta.
Ia sudah menahan dirinya sejak pertama kali membuka mata, jadi ia tak akan sungkan lagi sekarang, terlebih disaat Zoya juga menginginkan dirinya.
Zoya menarik turun selimut yang menutupi tubuhnya. Ia kembali memberikan akses penuh bagi Zen untuk leluasa melakukan apa saja pada nya. Zoya berbaring terlentang disisi Zen, menatap laki-laki itu dengan begitu menggoda dan juga bergairah.
"Aku milikmu, aku tidak keberatan dengan apa yang akan kau lakukan padaku, bahkan jika itu berkali-kali."
Zoya tak sadar, apakah ia berbisik ataukah mendesah, suaranya memang tak bisa dikatakan normal untuk saat ini. Ia sudah kembali di buat mendamba. Mendambakan Zen yang membuatnya menggila. Gila karena sentuhan Zen, gila karena kemaskulinan suaminya, gila karena setiap kecupan dan kecapan basah di tubuhnya, gila akan sensasi luar biasa yang terus menerus datang meminta untuk dipuaskan.
Tak ingin membuang waktu; Zen membungkuk, dan oh, rasanya seolah ia memulai dari awal lagi karena ia sekali lagi kembali mempelajari tubuh Zoya-- tapi kali ini akan lebih intim dan lebih menggila.
Di ciumnya setiap inci tubuh mulus di depannya, membuat tubuh Zoya melengkung sempurna dan berulang kali mencapai puncak kepuasan, Zen tak akan berhenti sampai Zoya memohon padanya agar ia berhenti.
Baiklah, Zen berhenti-- untuk mengatur kembali posisinya, kali ini ia menahan tubuh Zoya dengan berat badan nya.
"Jangan bicara.... tak bisa ku katakan.... aku mencintaimu." kata-kata yang tak jelas meluncur dari bibir Zen saat ia kembali mencium Zoya, memiringkan kepalanya ke kiri, ke kanan, untuk menikmati rasa ciumannya dari berbagai sudut.
Tak bisa. Zen tak bisa lagi menahan. Ia sudah terlalu gila sekarang. Hasratnya telah berada di puncak, ia harus segera melepaskan semua keinginan yang telah tertahan. Keinginan nya, keinginan Zoya. Tampa menunggu lagi, Zen menyatukan tubuh nya dengan tubuh Zoya, membuat Zoya meneriakkan makanya dengan segitu sensasional, begitu intim, dan begitu mempesona.
Pukul tujuh malam. Setelah beristirahat beberapa saat, setelah resepsi yang cukup melelahkan.
Keluarga Wijaya dan keluarga Pratama berkumpul di meja yang sama untuk menikmati makan malam keluarga yang telah disiapkan .
Sambil menunggu kedatangan pengantin baru, yaitu putra dan putri mereka, Aldi dan Rehan memilih untuk menikmati minuman di bar hotel tak jauh dari ruangan sebelumnya, sementara para istri lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan bercerita, dan Elisabeth menemani Ken bermain game di ponsel canggih milik mereka masing-masing.
"Hmm. Begitulah." jawabnya, asal.
"Apa kau akan tetap melanjutkan sekolah di jakarta..?" tanya gadis itu lagi.
"Kenapa, kau penasaran dengan studi ku? Jangan katakan kalau kau ingin mengekoriku. Lupakan saja!" ulang Ken bernada ketus.
"Hiss. Siapa juga yang ingin mengekorimu, jangan terlalu percaya diri!" gadis muda itu mendengus, sekaligus merona.
Keduanya mulai dekat, saat hari pertama bertemu, yaitu di hari pertunangan Zen dan Zoya. Ken merasa nyaman saat berteman dengan Elisabeth. Gadis itu bukanlah tipe gadis manja, dan sedikit tak terduga, membuat Ken mudah berteman dengan nya.
"Apa yang akan kau lakukan setelah kembali ke U.K, apa kau akan tetap masuk ke sekolah tari?" Ken memulai pembicaraan saat Elisabeth terdiam, enggan memulai kembali percakapan mereka.
"Kenapa kau bertanya, apa kini kau tertarik dengan masalahku?" gadis itu membalas, mendengus, dengan tangan yang begitu lihai di atas layar ponselnya.
"Apa kau sedang marah? dasar anak kecil!"
"Ken.. hentikan dulu game nya, saat nya makan malam." Julie dan Margaret sudah kembali ke meja makan.
"Ellii.. sayang, panggil Dady mu,." perintah Margaret pada putrinya.
"Baik mom, permisi aunty.. " gadis muda itu meninggalkan permainan nya, dan berjalan ke arah Bar. Sementara Ken juga sudah menutup ponselnya.
Tak lama setelahnya, Zen dan Zoya pun bergabung di meja makan bersama keluarga mereka.
__ADS_1
"Mom..
"Mom" Sapa keduanya bersamaan.
"Duduklah sayang.." Julie tersenyum pada putra dan putrinya, yang tengah berbahagia.
Sementara menunggu para suami untuk bergabung, makan malam sudah mulai di hidangkan.
"Dimana para Dady, mom..?" tanya Zoya yang tak melihat keberadaan Rehan dan Aldi.
"Mereka ada di Bar sayang, ya kau tau lah.. mereka butuh waktu untuk para lelaki." ucapnya sambil tersenyum.
"Hallo pengantin baru.." seru Rehan dengan wajah memerah.
"Boo,..
"Dad.. !! berapa banyak kalian minum?"
"Tidak banyak angel, hanya beberapa gelas." jawab Rehan. Tak hanya dirinya, wajah Aldi pun tampak memerah.
"Ayo, kita makan malam. Sebelum kalian tertidur disini." Julie dan Margaret memicingkan tatapan yang sama pada suami mereka.
Selesai makan malam, para orang tua kembali ke kamar masing-masing. Sementara Zen dan Zoya, pergi mengunjungi Apartment sebelumnya.
"Apa kakak akan kembali bersama mom dan Dady besok..?" tanya Zoya, mengingat sebelumnya suaminya itu mengatakan hal demikian.
"Hmm. Belum. Aku sudah menunda kepulangan ku, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama pengantinku." jawab Zen, menggenggam tangan Istrinya.
Zoya hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar berita tersebut. Ia senang karena Zen masih akan bersamanya meskipun hanya sebentar.
Lagipula Zoya juga harus kembali untuk mengurus beberapa pekerjaan di indonesia, sebelum ia harus kembali lagi untuk membangun yayasan miliknya.
Setelah beberapa waktu perjalanan, mobil Zen sudah terparkir di halaman apartment Zoya.
"Ingin menginap disini..?"
"Tentu saja, disini akan lebih baik untuk memulai pekerjaan yang tertunda." Zen mengedipkan matanya, dan Zoya tau apa artinya itu.
"Ku rasa kita bisa mencoba banyak hal disini."
"Tentu saja, lebih banyak dari yang bisa kau bayangkan sayang."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1