
ENJOY
.
.
.
.
.
Amigos Cafe, 06.15pm
Ken terus melihat kepada ponsel yang sejak tadi terus di genggam nya.
Saat ini ia sedang pergi untuk makan malam bersama kekasihnya, Lova.
Ken merasa cemas dengan sebelas panggilan tidak terjawab yang ada diponselnya dua jam yang lalu dan panggilan itu berasal dari Dady nya.
Sebelumnya Ken berada di Apartment Lova, setelah ia memaksakan diri untuk menemani kekasihnya melamar pekerjaan di beberapa tempat, Ken merasa lelah, dan ia pun tertidur.
Sementara ponselnya selalu dalam mode getar.
Disaat ia terbangun, Ken juga belum menyadari panggilan tersebut, beberapa saat setelahnya ia baru melihat ponselnya.
Ken merasa sedikit heran dengan panggilan tersebut, karena perbedaan waktu antara indo dan London.
Dady nya tidak mungkin menelpon Ken pada jam seperti itu jika hanya ingin menanyakan kabar ataupun membahas tentang pekerjaan.
Saat Ken membalas panggilan Dady nya, Kini panggilan dari Ken lah yang tidak mendapatkan jawaban.
Pikirnya mungkin saja saat ini Dad nya sudah tertidur, mengingat di indo saat ini sudah hampir tengah malam.
"Ada apa? Kau terlihat cemas? atau kau tidak suka makanan nya?" Tanya Lova yang sejak tadi terus memperhatikan ketidak nyamanan di wajah kekasihnya.
"Tidak apa-apa L, hanya sedang memikirkan Dad. " sahut Ken yang lagi-lagi melihat pada ponselnya.
"Saat aku tertidur sebelumnya, ternyata Dad menghubungiku, dan ku rasa pasti ada hal yang penting, karena Dad menelpon ku sebanyak sebelas kali. " cerita Ken yang masih terus mengkhawatirkan sang Dady.
"Benarkah? Uncle menelpon sebanyak itu? kenapa aku tidak mendengarnya?"
"Karena ponselku dalam mode getar sayang." sela Ken lagi.
"Oh- kau sudah menghubungi uncle?"
"Sudah, tapi Dad tidak menjawab."
"Bagaimana dengan kak Zen atau kak Zoya?"
"Aku tidak yakin mereka tau, karena setahuku mereka berada dirumah mereka." jawab Ken, dengan wajah pasrah.
"Kenapa tidak di coba, mungkin saja tadi mereka bersama Uncle. Bukan kah itu lebih baik, jika kau setidaknya mendapatkan sedikit petunjuk dari mereka..?" usul Lova, sambil sesekali mengetuk meja dengan telunjuknya.
"Akan ku lakukan besok saja L, lagi pula di indo sudah begitu larut, mereka mungkin sudah tidur." sahut Ken, lalu menyimpan Ponselnya dalam mantel.
"Jangan terlalu cemas, mungkin Uncle hanya merindukan mu, karena itulah sebelumnya ku katakan kau harus kembali secepatnya. Agar kau tidak mencemaskan uncle seperti ini."
"Tapi aku, -
"Jangan khawatirkan aku disini, aku bisa mengurus diriku dengan baik." sela Lova lagi.
Lova menggenggam tangan Ken seraya meyakinkan kekasihnya itu. Pasalnya Ken sudah menunda kepulangan nya selama dua hari, hanya karena tidak ingin membiarkan Lova mencari pekerjaan paruh waktu seorang diri.
Padahal Lova sudah mengatakan bahwa ia bisa melakukannnya sendiri, dan tentang pekerjaan, siapa yang bisa menjamin dirinya bisa dengan mudah menemukan pekerjaan paruh waktu yang cocok yang bisa di imbangin dengan semua jadwal kuliahnya yang cukup padat.
Namun yang nama nya Ken tetaplah Ken, terlalu keras kepala.
"Kau benar, L. Semoga saja semuanya baik-baik saja." sahut Ken.
Setelah menghabiskan makan malam, keduanya pun kini tengah dalam perjalanan kembali ke apartment Lova.
"L, boleh aku menginap ditempat mu malam ini? Aku memutuskan untuk kembali ke Indo secepatnya, dan aku ingin menghabiskan waktuku lebih banyak bersama mu." Tanya Ken sambil menggandeng tangan Lova.
"Aku tidak punya tempat extra di apartment ku yang kecil, apa kau tidak keberatan untuk tidur di sofa?" sahut Lova dengan wajah polosnya.
"Di sofa juga tidak apa-apa, asalkan aku dekat dengan mu."
Ken membalas senyuman manis kekasihnya.
"Baiklah, kau bisa menginap ditempat ku malam ini. Tapi sebelumnya kita harus mampir ke toserba terlebih dahulu, ayo!" Lova menarik tangan Ken agar ikut bersamanya.
Setibanya di Toserba, Lova mengambil handuk kecil dan juga pasta gigi serta beberapa camilan dan juga susu.
"Hem..!-Kau yang bayar ini, karena uang ku sudah tidak banyak tersisa." Lova menyerahkan keranjang belanjaan nya kepada Ken.
"Ada yang kau inginkan lagi sayang? aku akan membeli semua kebutuhan mu." tawar Ken, ia memang berniat ingin memenuhi semua kebutuhan kekasihnya, jika bisa Lova tidak perlu lagi bekerja, Ken yang akan bekerja untuknya.
Lagi pula, selama ia bekerja di perusahaan, Dady nya selalu menggajih Ken sesuai dengan pekerjaan nya. Karena itulah ia merasa percaya diri mampu mencukupi kebutuhan Lova, selama ia bekerja dengan baik.
"Tidak perlu. Aku tidak butuh apa-apa, lagi pula semua itu untuk mu." sahut Lova.
Ken mengerutkan kening nya, sambil melihat isi keranjang belanjaan kekasihnya, "Untuk ku?"
"Hmm. Untukmu, kau harus menggosok gigi dan mencuci wajahmu sebelum dan setelah bangun tidur bukan?" sahut Lova menjelaskan.
"Ah.." Ken menganggukan kepala nya menurut saja kepada apa yang di katakan kekasihnya, lagi pula ia memang berniat menginap, dan tentu saja, kekasihnya itu sangat perhatian karena sampai memikirkan hal seperti ini untuk dirinya.
"Kau sungguh tidak ingin yang lain nya lagi L..?" Ken tetap kekeh dengan keinginan nya untuk membiayai semua kebutuhan Lova.
Namun sekali lagi, Lova hanya menggeleng kan kepala nya tetap menolak tawaran Ken.
Bukan karena ia tidak ingin, hanya saja memang tidak ada yang ia butuhkan lagi. Semua kebutuhan nya sudah ia beli dan itu cukup untuk nya selama satu bulan kedepan.
Untuk saat ini yang sangat Lova butuhkan adalah pekerjaan, sementara pekerjaan yang cocok untuknya sangat sulit di dapatkan. Ah, mengapa ia begitu payah?
Setelah membayar semua belanjaan, Ken dan Lova kembali berjalan menuju apartment.
"Kau tunggu disini, aku akan memakai kamar mandi lebih dulu." Lova berjalan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Ken seorang diri diruang tamu.
Sementara menunggu Lova selesai, sekali lagi Ken iseng menghubungi Dady nya, mungkin saja Dady nya akan terbangun jika Ken mencoba menelpon nya lagi.
Tak menunggu Lama, ternyata kali ini panggilannnya terjawab. Syukurlah.
"Hallo Son?" Suara Rehan terdengar serak dan bergetar. Dad menangis?
"Dad, apa yang terjadi? maafkan aku sebelum nya, karena aku tertidur. Apa Dad menangis?" Tanya Ken, kembali merasa cemas.
"Dad tidak apa-apa Son." jawab Rehan, namun Ken yakin jika Dady nya memang sedang menangis.
"Kakak mu, baru saja melahirkan. "
Kabar yang membuat Ken membisu untuk sesaat. "Dad, sudah menjadi seorang GrandDad." tambah Rehan kembali terisak.
Seketika Ken dibanjiri peraasaan lega, dan juga bahagia. Namun ia juga tetap bisa merasakan haru yang saat ini tengah di rasakan oleh Dady nya.
"Selamat untuk mu Dad, dan selamat juga untuk Zozo dan Kak Zen. Aku akan pulang segera." ucap Ken merasa senang.
Ia sudah menjadi seorang Uncle sekarang, dan itu kabar yang membahagiakan.
__ADS_1
"Berhati-hatilah Son, selesaikan semua yang perlu kau selesaikan, Dad baik-baik saja." sahut Rehan di seberang sana.
"Baiklah Dad, sampai bertemu, sampaikan salam ku pada Zozo dan juga keponakan baru ku." tutup Ken, setelah itu menyimpan kembali ponselnya.
Syukurlah. Hal Yang ia cemaskan ternyata tidak terjadi, dan sebaliknya. Ia malah mendapatkan kabar Yang baik.
"Ken, aku sudah selesai.. kau bisa.. "
Lova terdiam tak melanjutkan kata-katanya saat Ken tiba-tiba saja memeluknya. "Aku bahagia L." bisik Ken seraya mengeratkan pelukan nya.
Lova tak menanyakan apa yang membuat kekasihnya itu tiba-tiba bahagia, sangat bertolak belakang dengan yang sebelumnya.
Meskipun ia sedikit penasaran. Lova hanya membalas pelukan Ken, sambil menepuk pelan punggung kekasihnya.
"Aku seorang Uncle sekarang." tambah Ken, tak menunjukan rasa bahagianya.
"What?" Lova mulai mencerna kata-kata kekasihnya.
"What..?" pekiknya lagi. "Maksudmu kak Zoya? Kak Zoya sudah?"
Ken menganggukan kepalanya sambil tertawa bahagia.
"Selamat Ken, akhirnya.." Kini Lova lah yang melonjak bahagia.
"Kita harus memberikan hadiah. A boy or a girl?" Lova ingin memilihkan sesuatu Yang manis dan lucu untuk anak pertama Zoya. Wanita Yang sudah di anggapnya sebagai kakak nya sendiri. Seorang yang sangat berjasa dalam hidupnya.
Wajar saja jika Lova pun merasa sangat senang dengan kabar tersebut, terlepas bahwa ia saat ini kekasihnya dari adik wanita Yang sangat ia kagumi itu.
"Aku lupa menanyakan apakah keponakan ku seorang laki-laki atau perempuan. Aku terlalu senang mendengarnya, jadi aku lupa." sahut Ken, menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Lova menghela nafasnya, berpikir sejenak. Lalu kembali tersenyum. "Kita tanyakan besok saja, tidak perlu terburu-buru, Yang terpenting kak Zoya dan bayinya dalam keadaan sehat."
"Ku rasa memang itulah yang terpenting." timpal Ken.
"O'ya, kau bisa menggunakan kamar mandi sekarang, jangan lupa handuk dan juga pasta gigimu di kantong belanjaan." Lova mengingatkan kekasihnya.
"Baiklah. Aku akan memakai kamar mandi sekarang." turut Ken masih dengan senyum merekah. Syukurlah.
Sementara Ken dikamar mandi, Lova menyiapkan bantal dan juga selimut ekstra yang di letakan nya di atas sofa.
Kekasihnya itu akan tidur disana, tapi malam ini pasti akan sangat dingin. Sementara di apartment Lova tidak menggunakan penghangat ruangan.
"Apakah Ken tidak akan kedinginan tidur disini?" Lova memikirkan itu berulang kali.
"Kau memikirkan apa?" Tanya Ken Yang memperhatikan kekasihnya itu berdiri sambil sesekali mengangguk dan menggelengkan kepalanya.
"Apartment ini tidak memiliki penghangat ruangan, apa kau tidak akan kedinginan tidur disini?" Tanya Lova dengan polosnya.
Ah. Manis nya.
"Kau mencemaskan aku?" Ken tersenyum berniat menggoda kekasihnya.
"Tentu saja, kau kan pacarku. Apa kau ingin tidur di kamarku saja?"
Oh God! sadarkah gadis ini dengan apa yang di katakan nya.
Meskipun Ken tau bahwa pertanyaan kekasihnya itu murni karena kecemasan nya, tanpa ada sedikitpun niat untuk menggoda, tetap saja Ken tergoda.
Betapa polos kekasihnya ini. Sungguh sangat manis.
"Kau tidak takut kepadaku? maksudku.. bisa saja aku melakukan.."
"Kau memikirkan apa?" wajah Lova menghangat, ia merona. "Maksudku, aku hanya.. "
"Aku tau L." Ken membenamkan wajah Lova dalam pelukan nya. "Kau sangat manis, dan aku menyukai semua perhatian mu. Tapi kau harus ingat, meskipun aku kekasihmu, kau tidak bisa bersikap terlalu baik padaku. Kau harus tetap bersikap waspada. Bagaimanapun aku seorang pria, dan kau seorang wanita."
"Bisa saja aku berpikiran yang tidak-tidak padamu, atau mungkin aku kehilangan kendaliku selagi kau bersikap lunak, tapi sebelum itu. Kau harus selalu memiliki sikap curiga kepada semua pria, termasuk kekasihmu sendiri. Kau mengerti?"
Hanya saja, ia benar-benar merasa bersyukur memiliki seorang kekasihnya seperti Ken. Karena Lova tau Ken tidak akan pernah menyakitinya, salah satu alasan Lova tidak pernah bersikap waspada terhadap Ken, namun ternyata, kekasihnya itu tetap memintanya untuk selalu bersikap waspada untuk menjaga diri.
"Aku akan mengingatnya." sahut Lova dengan wajah memerah.
"Baiklah. Senang kau mengerti maksudku L. Kau tau, aku bukan nya tidak ingin melakukan apapun kepadamu disaat kita dekat seperti ini." Ken beralih menatap mata Lova, mata yang saat ini juga tengah membalas tatapan nya.
Ken memegang wajah Lova dengan kedua tangan nya, "Aku ingin memeluk mu setiap saat, ingin mencium mu seperti ini.. " Ken mencium kening Lova. "Seperti ini.. " turun ke pipi gadis itu., "dan juga seperti ini." Ken mencium bibir Lova yang selalu terasa lembut dan menggoda.
"Hanya saja aku menahan nya." ujar Ken, seraya membuka matanya kembali melihat wajah kekasihnya.
"Kau selalu membuatku begitu berdebar L, kau membuatku merasakan banyak hal, dan ingin melakukan banyak hal.- Hanya saja aku menahan nya."
"Kita terlalu muda untuk bisa menanggung akibat dari -melanggar batasan- Apalagi aku terlalu mencintaimu, dan aku ingin menjaga kemurnian cinta kita. Bisa kau mengerti aku?"
Sekali lagi Lova menganggukan kepalanya, "Karena itulah, jangan terlalu mudah mengatakan hal-hal Yang bisa membuatku ku kehilangan kendali, kau mengerti?" Ken tersenyum, sambil membelai lembut pipi Lova.
"Sekarang tidurlah, aku akan tidur disini. Selamat malam L, aku mencintaimu." Ken mencium kening Lova, lalu memeluknya sesaat, sebelum mereka kembali ketempat mereka masing-masing.
"Selamat malam Ken, aku juga mencintaimu." balas Lova lalu masuk ke dalam kamar nya.
Malam itu, keduanya tidur dengan begitu nyenyak, tanpa memperdulikan apapun. Lova terlalu bahagia memiliki Ken sebagai kekasihnya.
Ke esokan harinya-
Dddrrrttt... ddrrrtttt..
Getaran ponsel diatas meja membuat Ken terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam ditangan nya, sudah menunjukan pukul delapan pagi.
Ken bangun sambil mengusap wajah, "Apa L masih tidur?"
Ken membuka pelan pintu kamar, karena ingin pergi ke kamar mandi untuk urusan lelaki di pagi hari.
Namun saat Ken masuk, kamar itu sudah rapi, L tidak ada disana.
Ken segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia hanya mencuci wajahnya karena tidak membawa pakaian ganti. Ia akan pulang setelah berpamitan dengan Lova.
Setelah selesai mencuci wajahnya, Ken kembali keluar ingin membersihkan bantal dan juga selimut yang ia gunakan.
"L..?" Sapa Ken saat melihat kekasihnya itu lebih dulu mengerjakan apa yang ingin dilakukan nya.
"Selamat pagi, tidurmu nyenyak?" sahut L sambil tersenyum.
"Kau olah raga?"
Kekasihnya itu mengenakan one set Hoddie dan terlihat berkeringat.
"Hmm. Aku bangun terlalu pagi, jadi aku pergi untuk olah raga sebentar. Mau ku buatkan minuman?"
Ken mendekati Lova, untuk menyeka keringat-keringat kecil yang muncul di dahi kekasihnya.
"Morning kiss." Ken mencium lembut bibir Lova.
Meskipun sudah sering dicium oleh Ken, tetap saja Lova selalu tersipu malu setelahnya.
"Akan ku buatkan sarapan." ujar Lova, tak ingin Ken melihat wajah nya yang merona.
Setelah selesai sarapan, Lova juga sudah selesai bersiap-siap. Mereka akan pergi untuk membeli hadiah.
Ken akan kembali ke Indonesia dengan penerbangan malam, mereka masih memiliki waktu beberapa jam sebelum berpisah.
"Kau ingin membeli apa L..?"
__ADS_1
Keduanya kini tengah berada di pinggiran kota. Lova mengajak Ken untuk mencari sesuatu, namun bukan di pusat perbelanjaan atau toko-toko hadiah, tapi ke pinggiran kota yang memiliki pasar-pasar tradisional.
"Aku akan membuat hadiah untuk bayi kak Zoya dan kak Zen, kita tidak akan Lama. Aku sudah pernah ke daerah ini, jadi aku sudah tau tempat-tempat Yang ingin ku datangi." sahut Lova, seraya menuntun Ken yang terus menggenggam tangan nya.
Setelah mengunjungi beberapa toko dan membeli beberapa barang, keduanya kembali lagi ke apartment Lova.
"Kau tidak pulang untuk menyiapkan barang-barangmu?" Tanya Lova saat keduanya telah tiba di apartment.
"Barang-barangku sudah siap, dan Leon akan menjemputku nanti. Sementara itu, aku hanya ingin bersama mu.- Jadi apa yang akan kau lakukan dengan semua ini?"
Ken melirik pada barang-barang Yang Lova beli sebelum nya.
"Kau akan lihat nanti. Karena aku tidak tau bayi kak Zoya laki-laki atau perempuan, jadi aku akan membuat sesuatu yang mewakili keduanya. Untuk itu, tolong jangan menggangguku." sahut Lova, lalu mengeluarkan semua peralatan dari dalam kamarnya.
Sementara Lova membuat hadiahnya, Ken menggunakan laptop Lova untuk memeriksa semua file yang di kirimkan padanya melalui email.
Beberapa jam pun sudah berlalu, L sudah selesai dengan hadiahnya, bahkan ia sudah selesai membungkusnya dengan rapi, sementara Ken tertidur di atas sofa karena menunggunya.
Lova melihat pada jam yang sudah menunjukan pukul 4.45, yang artinya, Waktu kebersamaan mereka tinggal sebentar lagi.
"Ken.. bangunlah.. " Lova menepuk pelan pipi Ken. Ia sudah selesai mandi dan berganti pakaian, ia ingin ikut mengantarkan kekasihnya ke Airport.
"L..? kau sudah selesai?" Ken terbangun, sambil mengumpulkan satu per satu nyawanya yang terbagi entah kemana.
"Bersihkan dirimu, sebentar lagi Leon pasti akan datang." sahut Lova.
"Baiklah."
Setelah Ken selesai membersihkan diri, ia kembali mendatangi Lova diruang tamu.
Di atas meja sudah tersedia makanan dan juga minuman. Ah.. kekasihnya itu mengurusnya dengan sangat baik.
"Kau harus makan sebelum pergi." kata Lova. Meskipun ia sedih, namun Lova tidak akan menunjukan nya di depan Ken.
Tidak terasa, waktupun semakin cepat berlalu, dan waktu perpisahan mereka pun akan segera tiba.
"L.. "
Ken manahan tangan Lova agar tetap berada si dekatnya.
"Kemarilah.. -
"Kau harus mengurus dirimu dengan baik, jika kau merasa kesulitan, kau bisa mengandalkan aku. Leon juga akan menjaga mu. Berjanjilah padaku, apapun kesulitan yang mungkin akan kau alami nanti, kau harus mengatakan nya padaku, jangan menanggung nya sendiri." pinta Ken.
"Haruskah aku mengatakan hal yang sama?" gumam Lova di dalam hati. Sungguh. Ia ingin Ken juga melakukan itu kepadanya, ia juga ingin menjadi sandaran bagi kekasihnya itu.
"Bisakah kau juga melakukan hal yang sama? aku ingin kau berbagi beban mu kepadaku." sahut Lova, dengan tatapan penuh kepercayaan, dan tentu saja, sekali lagi meluluhkan hati Ken.
"Hemm. Kita akan melakukan nya. Aku berjanji padamu." Ken mencium Lova dengan perasaan yang sulit ia jelaskan.
Perasaan ingin memiliki serta melindungi gadis itu, serta perasaan tak rela untuk berpisah dan membiarkan kekasihnya seorang diri.
Ciuman yang membuat keduanya sulit untuk melepaskan diri. Lagi dan lagi. Ken tak akan bisa menyudahinya.
Bibir Lova terlihat merah dan sedikit bengkak setelah ciuman terlama keduanya.
Ken tidak tau kapan lagi ia akan merasakan pelukan hangat Lova, genggaman lembut tangan nya, perasaan berbedar saat mereka berdekatan dan juga rasa lembut dan manis dari bibir merah muda yang selalu membuat Ken begitu tergila-gila. Entah kapan lagi.
Mungkin dalam waktu dekat? semoga. Atau mungkin dalam waktu yang sangat lama, yang pasti Ken akan sangat merindukan kekasihnya.
"Jaga dirimu L."
"Kau juga." Sekali lagi Lova memeluk Ken dengan begitu erat, seakan-akan itu adalah pelukan terakhirnya.
Setibanya di airport, Leon dan Lova mengantarkan Ken tanpa banyak berdialog. Seperti ketiganya larut ke dalam pikiran mereka masing-masing.
Ken masih terus menggenggam tangan Lova sampai batas waktu terakhirnya bersama gadis itu.
"Aku akan merindukan mu L." Ken memeluk Lova untuk terakhir kalinya.
"Aku juga."
"Terima kasih sudah mengantarku, kembali lah dengan hati-hati." ujar Ken berpaling kepada Leon, sebelum akhirnya mereka juga melakukan pelukan perpisahan.
"Kau harus segera menghubungiku jika terjadi sesuatu pada L." bisik Ken sebelum melepas pelukan nya pada Leon.
Leon hanya membalasnya dengan anggukan. Tanpa di mintapun, Leon pasti akan melakukan nya.
Sekali lagi, Ken mencium singkat kening dan juga bibir Lova, sebelum kembali memeluknya erat.
"Aku pergi, aku sangat mencintai mencintai mu L."
"Safe flight, I love you too."
"I will miss you a lot, L."
Ada perjumpaan, tentu ada perpisahan. Itu adalah hukum alam Yang berlaku. Namun jika saling menjaga cinta dan kerinduan, maka perpisahaan tak akan terasa begitu menyakitkan.
"Ayo kita kembali L.."
Setelah mengantarkan Lova kembali ke apartment, Leon juga langsung kembali ke apartment.
"Selamat malam L, sampai bertemu besok." pamit Leon dari dalam Taxi.
"Selamat malam Le, terima kasih sudah mengantarkan ku, kembali lah dengan hati-hati." sahut Lova melambaikan tangan nya.
Setibanya di apartment, Lova menyalakan semua lampu di rumahnya.
Ia memandangi sekitar dalam kehampaan. Ia menikmati semua jejak yang di tinggalkan Ken disana.
Ia pasti akan sangat merindukan kekasihnya.
Lova menaruh tas nya di atas nakas, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Ia melihat wajahnya dengan mata yang memerah. Tentu saja, ia seorang gadis, ia pasti akan menangis.
"Tidak apa-apa Lova. Kau harus berjuang, kau harus bisa berdiri dengan kaki mu sendiri- kau pasti bisa."
Setelah Lova membersihkan wajahnya, ia ingin langsung tidur, namun sesuatu mengalihkan perhatian nya.
Sebuah amplop berwarna coklat Yang di selipkan di bawah kotak miliknya. Lova yakin benda itu tidak berada disana sebelumnya.
"Maafkan aku, aku tau kau tidak akan menyukai ini L, tapi sungguh, semua ini karena aku peduli dan juga mencintaimu, jika kau merasa terbebani, kau bisa menggantinya di kemudian hari. Kekasihmu. Ken."
Lova membuka amplop itu dan melihat dalamnya, tanpa menghitung pun, Lova bisa tau jika jumlahnya tidaklah sedikit, terutama karena tebal amplop itu.
Lova menutup matanya, seraya menghembuskan nafasnya, akhirnya Ken melakukan ini untuk nya. Padahal ia berharap Ken akan membiarkan nya, tapi tidak apa-apa, Lova akan melakukan pengecualian kali ini. Terutama, karena ia akan mengembalikan nya suatu hari nanti.
"Kau harus melihatku sukses dengan kemampuan ku sendiri Ken, akan ku buktikan padamu."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.