My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
GO TO BALI


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Sejak pagi, Julie sudah menyiapkan sarapan dan juga bekal untuk perjalanan Zoya. Julie tau sebagai ibu ia memang berlebihan, tapi hanya dengan cara seperti ini ia baru bisa membiarkan putrinya berada jauh dari dirinya.


Penerbangan Zoya hari ini berangkat pukul 9 pagi, karena itulah Zen juga sudah bersiap.


...Tok..Tok.....


...Ceklek,...


Seperti biasa, kekasihnya itu masih bersembunyi di balik selimut hangatnya.


"Good morning Honey." Zen mencium kening Zoya, lalu membelai pelan rambut Zoya, gadis kecilnya itu melenguh kemudian membalikan tubuhnya mencari posisi nyaman lainnya.


"Nona Eksekutif, kalau kamu tidak bangun sekarang, kita akan ketinggalan pesawat." bisik Zen, dan berhasil.


"Kakak! apa begitu menyenangkan mengganggu tidurku?" protes Zoya sambil mengusap wajahnya yang masih terasa berat.


"Aku tidak berani nona, hanya saja saat ini sudah hampir pukul 7." Zen tersenyum lebar sambil menunjuk jam nya.


"Oh-My-God!!" Zoya menendang selimutnya lalu beranjak dari tempat tidurnya, ia setengah berlari mengambil jubah mandi dan juga handuknya,..


"Muach, aku lupa, selamat pagi juga sayangku." mata keduanya bertatapan sesaat.


Setelah Zoya menghilang di balik pintu kamar mandi, Zen hanya tertawa kecil melihat tingkah kekasihnya yang semakin hari, semakin menggemaskan dan menggelitik hatinya.


Sementara Zoya mempersiapkan dirinya, Zen sudah membawa turun semua barang-barang Zoya, dan memasukan nya kedalam mobil.


"Mollie, selamat pagi."


Zen memberikan ciuman selamat pagi untuk Julie.


"Selamat pagi juga sayang." Jawab Julie.


"Apa semuanya baik-baik saja Mollie..?"


"Yah. Yah. semua baik-baik saja nak, semuanya baik-baik saja." katanya sambil tersenyum. Namun mata itu, mata itu tidak bisa berbohong.


"Apa mollie masih mencemaskan Zo'e..?" Zen memandang Julie dan membiarkan Mollie nya itu duduk.


"Apa mollie tidak seharusnya mencemaskan Zoya Zen..?" tanya Julie dengan mata sendunya.


"Mollie, kemari lah, aku ingin membagi rahasia pada mollie." Zen berbisik pada Julie. Wanita itu mendengarkan Zen dengan seksama.


"Benarkah..?"


"Hmm. Benar Mollie."


"Terima kasih sayang." sekali lagi Julie memeluk Zen dan menghujaninya dengan ciuman.


Ehhmm.


"Selamat pagi Son,-- Rehan berdiri tak jauh dari keduanya.-- "Selamat pagi sayang." Rehan menghampiri Julie dan mencium kening istrinya sambil mengerutkan kening menatap pada Zen.


"Pagi Dad,-- Zen menahan senyum melihat tanda-tanda cemburu pada Daddy-nya. Zen paham betul tatapan itu, tatapan yang diberikan Daddy-nya. Tatapan yang penuh dengan sejuta pertanyaan.


"Ah. Tadi aku baru saja memberitahu mollie sesuatu Dad." kata Zen menjawab rasa penasaran Daddy-nya.

__ADS_1


"Benarkah? Apa itu..?" tanya nya lagi.


"Duduklah dulu Boo, aku akan memberitahumu nanti." Julie menuntun Rehan untuk duduk di kursinya. "Mau ku ambilkan apa untuk sarapan mu Boo..?" tanya Julie, sudah mulai berbinar seperti biasa.


Apa ini? saat bangun tadi, bahkan saat keluar dari kamar, Julie nya masih terlihat berat dan enggan untuk mengantarkan keberangkatan putri mereka. Bahkan saat Rehan membujuknya untuk tersenyum, bahkan dengan candaan sekalipun, wajah istrinya itu masih saja datar. Tapi sekarang lihatlah..


Senyuman itu. Wajah yang berbinar itu, semuanya jauh berbeda dari sebelumnya. Rahasia apa yang Zen sampaikan pada istrinya..? Apa ia harus belajar dari Zen untuk bisa melunakkan istrinya seperti saat ini.


"Boo..? Hei... sayang..!" Julie mengjentikan jari di depan Rehan.


"Ya..?


"Apa yang sedang kamu pikirkan Boo? sejak tadi aku bertanya padamu." kata Julie lagi, mengambil tempat di sebelah Rehan.


"Aku suka senyum itu Moo."


"Hah? senyum?"


"Ya. Senyum mu itu. Aku suka saat melihatmu tersenyum seperti ini." Rehan menggenggam tangan Julie.


Deg...


"Boo, maafkan aku. Apa aku membuatmu khawatir? maafkan aku." Julie tau selama beberapa hari ini ia sudah melakukan kesalahan. Ia hanya mementingkan perasaannya, kesedihan nya, bahkan ia mengabaikan suaminya. Padahal Rehan pun pasti merasakan hal yang sama seperti dirinya.


"Gak Moo, kamu gak salah. Sebagai seorang ibu, sudah seharusnya aku memahamimu." Rehan memeluk istrinya, yang saat ini sudah meneteskan air mata.


"Maafkan aku, Boo. Maaf."


"Stttttt... kamu gak salah sayang. Hanya berjanjilah padaku, sesulit apapun untuk mu, katakan semuanya padaku, bukankah kita sudah bersama begitu lama? apa kamu sudah tidak percaya padaku, untuk berbagi semua kesedihan dan juga kecemasan mu? Hem?


"Maafkan aku sayang. Aku mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu, Moo."


Ehhmmm..


"Mom, Dad..Apa kalian menangisi ku lagi?" sela Zoya yang saat itu baru memasuki ruang makan berbarengan dengan Ken.


"Zozo, kau akan pergi sekarang?" tanya Ken yang berdiri di sebelahnya.


"Hmm. Penerbangan ku pukul 9." jawab Zoya masih melihat pada mommy dan Daddy-nya.


"Aku akan merindukanmu Zozo."


"Ahh,, itu manis sekali bocah kecil." Zoya merangkul Zen, "dan aku tau, kamu akan sangat bosan saat aku tidak ada." tambah Zoya lagi.


"Kau benar kak, hati-hatilah di sana, aku tidak bisa ikut mengantarmu karena jadwal kelasku pagi ini."


"Hmmm. Doakan saja perjalananku akan baik-baik saja." Julie mengacak pelan rambut Ken. Untuk kali ini, Ken akan membiarkan Zozo nya melakukan itu.


"Ayo sarapan." kata Julie memanggil Ken dan Zoya untuk bergabung bersama mereka.


"Ayo,


"Ayo,


"Morning Mom, Dad.." sapa keduanya bersamaan.


"Selamat pagi Angel, Son.."


"Kompak sekali kalian pagi ini..?" Julie tersenyum pada putra dan putrinya.


"Biasa mom, bocah peniru!" jawab Julie dengan gamblangnya.

__ADS_1


"Zozo, aku sudah bukan bocah lagi!" 😤


"Kau itu bocah, ya selamanya bocah." 😛


"Mom, Dad!! Lihat Zozo!!" protes Ken tidak terimanya.


Lagi. Seharusnya Julie tidak menyinggung kekompakan tadi, jika ujung-ujungnya mereka kembali seperti sebelumnya.


"Sudah, sudah.. makanlah dulu, nanti kalian terlambat!" sela Julie tak ingin memihak.


"Kakak mau sarapan apa, biar ku ambilkan?" Zoya berpaling pada Zen, mengabaikan protes Ken padanya.


"Hmm. Coffe, dan sandwich, sepertinya itu saja." pinta Zen disertai senyuman dan kedipan matanya, tidak lupa kata i love you yang Zen ucapkan tanpa suara.


OH My God, calon suamiku manis banget sih.. ngalah-ngalahin selai kacang aja sweet nya.


Dengan piawai Zoya membuat Sandwich untuk Zen, dan menyeduh kan secangkir Cofee.


"Ini sarapan mu kak." Zoya menyodorkan sepiring sandwich dan juga secangkir Coffe untuk Zen.


"Terima kasih sayang." kata Zen setengah berbisik pada Zoya. Sebagai gantinya, Zoya memberikan senyuman manisnya.


Sepuluh menit kemudian, Ken yang lebih dulu meninggalkan meja, karena memang sudah saatnya ia berangkat ke sekolah.


"Mom, Dad, aku pergi dulu." pamitnya sambil memberikan ciuman pada Mommy nya. "Zozo, kak Zen, aku duluan."katanya lagi.


"Hmm. Sampai jumpa lagi bocah." seru Zoya, membuat Ken berbalik dengan menunjukan wajah kesal yang dibuat-buat.


Sementara Julie mengantarkan Ken ke mobil, Rehan dan yang lainnya masih menyelesaikan sarapan mereka.


"Bagaimana persiapan mu angel, apa semuanya sudah siap?"


"Hmm. semuanya sudah siap Dad. aku juga sudah membawa semua file-file proyek kita."


"Bagus. O, ya, Dina juga akan pergi bersama mu kesana, dia akan membantumu selama proyek ini berlangsung." tambah Rehan lagi.


"Hmmm. Baik Dad, baguslah kalau ternyata ada seseorang yang ku kenal di sana." Itu sedikit melegakan Zoya, Setidaknya ia tidak akan sendirian di sana, dan Dina, Zoya rasa wanita itu cukup cocok menjadi temannya, meskipun Zoya akui, Dina sosok yang dewasa untuk seorang seperti Zoya, tapi tidak apa-apa, bukankah Zoya bisa beradaptasi sebagai seorang teman baru.


Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Rehan langsung berangkat ke kantor, sementara Julie, ikut bersama Zen untuk mengantarkan Zoya menuju Airport.


Selesai melakukan cek in, Zoya kembali pada mommy dan juga kekasihnya.


"Mom," Zoya memeluk Julie. "Jangan terlalu mencemaskan aku, atau pun merindukan aku, aku hanya sebentar di sana."


"Hmm. Mom tau sayang. Hati-hati di sana, dan sering-sering memberikan kabar pada mommy."


"Siap bos!" Setelah selesai dengan mommy nya, Zoya beralih pada Zen yang juga menunggu gilirannya.


"Kak, aku pergi. Aku akan merindukanmu."


"Aku juga akan merindukanmu sayang. Aku akan menghubungi mu setiap kali waktumu luang. Selamat bekerja di sana. Jangan terlalu sering keluar malam, dan ingat untuk menjaga dirimu dengan baik." Zen menyampaikan pesan-pesannya pada Zoya.


"Hmm. Kakak juga. Kakak adalah milik ku, ingat itu."


"Dan kau juga hanya milik ku!-- sekarang berikan aku pelukan."


"Aku mencintaimu kak, and I Will miss you."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2