
...ENJOY...
.......
.......
.......
Suasana pesta yang meriah dan juga berjalan seperti apa Yang di inginkan, membuat Lova dapat bernafas dengan lega.
Semua orang terlihat bahagia saat menikmati pesta nya. Ah, thanks to Gill. Semua ini tak akan menjadi pesta Yang menakjubkan jika gadis itu tak turut serta di dalam nya. Gill benar-benar berbakat merencanakan sebuah pesta agar bisa menjadi pesta Yang meriah seperti saat ini.
Lova Yang saat ini tengah berlenggak-lenggok di lantai dansa dalam pelukan Ken, tunangan nya, bahkan tak bisa berkata apa-apa. Hari ini adalah salah satu hari favorit yang akan terus membekas di ingatan nya.
"Apa Yang membuat mu selalu tersenyum sayang, kau memikirkan sesuatu?" tegur Ken, yang memang selalu memperhatikan sang kekasih. Lova tersentak dan menatap Ken dengan lembut. "Tidak ada. Hanya sedang bersyukur." sahut Lova, sebelum tubuh nya di putar, lalu dalam hitungan detik kembali lagi dalam pelukan Ken.
"Benarkah? boleh aku tahu tentang apa itu? rasa syukurmu?" ujar Ken lagi, dengan senyuman yang menggoda. Lova pun membalas senyum itu dengan kerlingan yang membuat Ken tertawa singkat.
"Tentang semua nya. Keberadaan mu. Dady. Keluarga ini, semua nya. Aku merasa sangat bersyukur telah bertemu dengan mu, dan juga atas semua yang telah terjadi dalam hidup ku selama ini. Aku tak pernah mengira, jika hidup ku akan sangat terberkati seperti saat ini." Lova tersenyum dengan wajah yang berbinar.
"Kau tau sayang, aku lah Yang sangat terberkati karena telah bertemu dengan mu." Ken menempelkan kening nya dengan kening Lova.
"Aku lah orang yang sangat beruntung karena memiliki mu dalam hidup ku. Dan sekarang lihatlah, dengan keberadaan mu, keluarga ku terasa hidup kembali. Yang terpenting, kau lah yang membuat Dady kembali tersenyum. Aku sangat berterima kasih untuk itu, Sayang." balas Ken, kemudian memeluk Lova.
...❄️❄️...
Sementara semua orang berpasang-pasangan untuk menikmati alunan musik di lantai dansa, jauh di sudut sana, seorang wanita merasa terasingkan.
Gill bukan nya tidak ingin bergabung dengan Lova atau pun teman-teman lain nya. Hanya saja, saat ini semua orang tengah berpasang-pasangan, sementara dirinya?
Gill tidak ingin terlihat menyedihkan jika memaksakan dirinya bergabung bersama yang lain, selain itu, Gill juga sedang menghindari tamu-tamu Yang telah di undang nya.
Bodoh nya Gill. Seharusnya ia menuruti kata-kata Lova. Tapi mau bagaimana lagi, ekspektasinya tak sesuai dengan realita.
Awal nya ia kira bisa menunjukan kedekatan nya dengan Lova, namun nyatanya, kini Gill malah merasa minder untuk bergabung dengan teman nya itu. Karena itulah ia memilih untuk menyembunyikan diri nya di sudut.
Ia berharap agar tak ada yang memperhatikan dirinya. Tapi ternyata, semua itu hanyalah harapan nya saja.
Dan kali ini, sesuatu Yang sangat dihindarinya pun terjadi; "Kau lihat, Gill.." ujar salah seorang wanita yang mengajak beberapa orang wanita lainnya mendatangi Gill, ia mendekati Gill dengan wajah Yang angkuh dan juga bernada sinis.
"Dimana bukti dari perkataan mu? Dulu Kau bilang Ken adalah kekasihmu, dan kau akan membuktikan nya kepada kami, tapi sekarang lihatlah," wanita bernama Fara itu memegang dagu Gill dengan Arogan, dan mendongakkan wajah Gill ke arah Ken dan Lova yang sedang terlihat begitu mesra di lantai dansa. Membuat Gill mengeram, marah.
"Kau bahkan tidak lebih dari sampah! Sungguh kasihan." ucap Fara mengejek disertai nada sinis yang sarat akan hinaan.
Gill melepaskan tangan Fara dari dagunya, ia tak terima dengan perkataan Fara, dan ia ingin membalas wanita itu. "Sekarang Ken dan Lova adalah sahabat ku. Dulu, aku memang menyukai Ken, tapi sekarang tidak, karena aku sudah memiliki orang lain." sahut Gill dengan wajah memerah.
"Ingin berbohong lagi nona? jangan bercanda!'' Fara mendorong pelan tubuh Gill hingga menyentuh tembok.
"Siapa yang akan menyukai gadis seperti dirimu? kau kan gadis gila yang haus kasih sayang, kau cukup berteman bersama kami seperti biasanya. Jadilah nona muda dan atm berjalan bagi kami, tidak usah berlagak!" Kini Para wanita itu kompak mentertawakan Gill.
Semua perkataan Fara benar-benar membuat Gill sangat marah, ia tak terima karena di katakan sebagai wanita gila. Dulu mungkin memang, tapi sekarang ia sudah membaik.
Gill memiliki Lova sebagai teman nya, dan ia sudah lebih baik. Ia bahkan tak membutuhkan para wanita di depan nya ini lagi. "Aku bukan sampah. Yang sampah itu kalian, dan dengar, aku tidak akan pernah menganggap kalian teman ku lagi. Kalian yang Gila!" teriak Gill, kemudian berjalan hendak meninggalkan para parasit di depan nya.
Fara yang tidak terima dengan perkataan Gill, menahan tangan gadis dan mendorong tubuh Gill dengan keras membentur tembok. Membuat Gill meringis menahan rasa sakitnya.
"Kau bilang apa? kami sampah? kami gila? berani nya dirimu! Kau yang dulu mengemis pada kami, dan kau juga yang menjadikan dirimu sebagai atm bukan? sekarang kau berlagak seakan tak membutuhkan kami? sadarlah, Gill!'' bentak Fara, lalu menyeret Gill ke arah belakang.
"Lepaskan aku Fara!" Berontak Gill ingin melepaskan tangan nya, namun ia kalah jumlah. Kali ini Gill tidak bisa lolos dengan usaha nya sendiri.
__ADS_1
Fara dan teman-teman nya menyeret Gill dengan paksa, saat suara musik memenuhi seisi ruangan dan tidak ada yang memperhatikan mereka, kecuali;
William yang sejak tadi memperhatikan perundungan tersebut kini tak bisa tinggal diam. Awal nya ia hanya berniat memperhatikan sebagai seorang penonton, toh itu urusan para wanita.
Tapi saat melihat Gill di seret dengan paksa, maka William tak akan berdiam diri. Wanita sangatlah mengerikan, siapa yang tahu hal buruk akan terjadi di sana jika William tidak pergi untuk memastikan nya sendiri.
Dan benar saja, saat William tiba di sana tempat sebelum wanita lainnya ingin melayang kan tangan kearah Gill.
"Hentikan nona-nona!" Seru William dengan cepat menginterupsi Fara dan teman-teman nya. Gill yang melihat kedatangan William sekali lagi mencoba untuk melepaskan diri, namun masih di tahan oleh kedua wanita Yang berdiri di sisi nya.
"Will." seru Gill, dengan suara meminta tolong untuk di selamatkan. William yang melihat Gill terisak pun merasa marah, "Apa Yang kalian lakukan pada kekasihku? lepaskan dia!" Seru William dengan kilatan marah di mata nya.
Kedua wanita Yang tadi menahan tangan Gill pun melepaskan genggaman nya. Sehingga Gill bisa meloloskan diri nya.
"Will." seru nya berlari ke arah William. "Dengarkan baik-baik, jika sekali lagi kalian memperlakukan wanita ku seperti ini, aku tidak akan segan-segan membuat kalian menanggung akibatnya!" kecam William.
Ia memegang tangan Gill, dan membawa wanita itu pergi, "Ayo Gill."
William sebenarnya sungguh tak berniat ikut campur. Namun saat ia melihat Gill, William seperti melihat dirinya, namun dengan gambaran yang sedikit berbeda.
Jika William bisa menyembunyikan perasaan nya dengan baik, maka Gill berbeda. Wanita itu tak bisa menyembunyikan perasaan nya, karena itu beberapa kali William sudah mendapati wanita itu melarikan diri. Dan malam ini, William sungguh tidak menduga jika hal seperti itu akan terjadi kepada Gill.
Saat ini William sudah membawa Gill ke atas gedung. Beruntung lah, gedung itu juga di fasilitasi dengan roof top yang juga di gunakan sebagai tempat bersantai.
Di sana terdapat beberapa kursi yang di letakan di dekat beberapa pohon hias sebagai tempat istirahat untuk Lova dan karyawan nya. Dan di sanalah William dan Gill berada saat ini.
"Kau baik-baik saja?" tanya William, saat keduanya sudah duduk di atas kursi. "Aku baik-baik saja Will. Terima kasih." sahut Gill, Yang sudah terlihat lebih tenang. Namun masih belum bisa menghentikan air mata Yang terus mengalir di pipi nya.
"Tolong tinggalkan aku sendiri Will." pinta Gill sesekali mengusap wajah nya. Wanita itu saat ini sedang memunggungi William. Meskipun tak melihat secara langsung, namun William bisa tahu melalui suara Gill, jika wanita itu tidak sedang baik-baik saja.
Bahu nya terlihat bergetar. Wanita itu terlihat begitu rapuh dan juga terluka. Apa kah William terlambat? Apa Gill sempat di lukai?
Kenapa William harus peduli? Gill hanyalah wanita asing yang baru di kenal nya, tidak ada hubungan apapun di antara mereka.
William hanya mengenal wanita itu sebatas nama nya saja, tidak lebih. Lantas kenapa ia harus peduli?
Saat William kembali ke lantai dasar tempat semua orang berkumpul, saat itu juga ia bertemu dengan Lova. "Will, kau dari mana saja? kau menikmati pesta nya?" wanita itu tersenyum sekaligus bertanya dengan sungguh-sungguh.
William Yang belum siap dengan semua pertanyaan Lova hanya menganggukkan kepala dan membalas senyuman Lova.
"O, ya ini untuk mu." Love memberikan tas Yang bertuliskan brand miliknya, kepada William. "Aku mendesain nya khusus untuk mu, semoga kau suka." tambah Lova. Namun kali ini, wanita itu tidak hanya berfokus pada William, Lova sedang teralihkan.
"Terima kasih L. Aku akan menyukai semua yang kau berikan." ucap William. "Kau mencari sesuatu?" tanya nya lagi, pada Lova. "Seseorang." sahut Lova. "Aku sedang mencari Gill. Kau melihatnya?" tanya Lova, namun belum sempat William menjawab Lova kembali bersuara.
"Ah, bodohnya. Mana mungkin kau mengenal Gill." Lova tertawa kecil. "Aku akan mencari Gill, kau nikmati saja pesta nya." kata Lova lagi, yang kini sudah bersiap untuk pergi.
"Ada apa kau mencari Gill?" tanya William tiba-tiba, membuat Lova menghentikan langkah nya. "Aku ingin memberikan ini." Lova menunjukan tas yang sama dengan milik William.
Mulut William terlihat membuka kemudian menutup lagi, ia ingin bicara namun tak ada yang keluar dari mulutnya, hanya "Ah, benarkah? bagaimana jika aku saja yang mencari nya. Kau kan banyak tamu, jadi biarkan aku saja." usul William, Yang ingin mengambil alih pekerjaan Lova.
Lagi pula tidak mungkin Ia mengatakan kepada Lova keberadaan Gill saat ini. Dan akan sangat aneh jika ia sangat tahu dimana wanita itu sekarang. William tak ingin membuat Lova mempertanyakan dirinya.
Lova ragu sesaat, namun mengangguk juga. "Gill mengenakan gaun berwarna putih. Kau pasti bisa mengenalinya." Oh tentu saja L, bagaimana aku tidak tahu jika baru saja aku bersama dengan nya.
"Jika kau bertemu dengan nya, bawa Gill untuk berkumpul bersama kami. Aku sedikit mencemaskan dirinya. Begitu juga dirimu, Will. Berkumpul lah bersama kami setelah ini." ujar Lova dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah L. Aku akan menemukan Gill dengan cepat. Kami akan segera bergabung." sahut William, cepat. Lova tersenyum dengan lembut, "Terima kasih Will." wanita itu berbalik untuk kembali ketempat dimana keluarga nya saat ini berkumpul.
"L, tunggu!" seru William, menahan Lova. "Ya?"
__ADS_1
"Berikan tas itu padaku, tidak mungkin aku datang menemuinya begitu saja kan?' ujar William meminta tas milik Gill.
"Ah, iya, kau benar Will. Maafkan Aku. Ini. Tolong temukan wanita itu secepatnya." pinta Lova, yang dibalas anggukan oleh William.
Tanpa berlama-lama, William pun kembali menaiki tangga hingga tiba di roof top. Ia sudah memiliki alasan untuk mendatangi Gill.
Saat William tiba, wanita itu tengah berdiri di pagar pembatas, bahkan rambut nya kini sudah terurai dan tertiup angin dengan indah.
William melepas jas nya, dan menghampiri Gill. Ia juga menutupi punggung Gill dengan jas nya. "L, mencarimu." ujar William, Yang saat ini sudah mengambil tempat di setelah Gill.
William juga mengarahkan pandangan nya jauh ke depan. Ia melihat semarak lampu menghiasi hamparan luas yang di selimuti oleh malam. "Kau bertemu L?" Gill bersuara.
Kini Wanita itu tidak lagi menangis. Namun terkesan lebih dingin. Seperti Gill sedang mengeluarkan cangkang pertahanan nya.
"Ya, dan dia meminta kita untuk berkumpul di bawah. Dan ini." William memberikan tas souvernir yang tadi di bawa nya kepada Gill. "Lova mendesain nya khusus untuk mu." Gill mengambilnya, namun tak berkata apa-apa. "Ayo, Lova sedang menunggu kita." ajak nya dengan nada riang.
Dan entah Kenapa William merasa wanita di hadapan nya ini sungguh tak bisa di tebak. Secepat itu Gill memulihkan diri dan sudah kembali seperti sebelumnya. Meskipun William tau, semua itu hanyalah topeng, tapi Gill patut di acungi jempol.
Pada saat jamuan makan, semua orang berkumpul di meja masing-masing. Semua tempat sudah di tulis berdasarkan nama tamu nya.
Dan disinilah mereka sekarang, para muda-mudi itu menempati meja Yang sama. "Mereka terlihat dekat, sejak kapan mereka bersama?" bisik Ken, saat melihat Gill dan William yang datang bersamaan.
"Apa kau merasa kehilangan penggemar?" balas Lova menyipitkan matanya. "Bukan itu, hanya heran saja. Seperti nya William memang menyukai para gadis." cibir Ken.
"Diam lah Ken, aku yang minta pada William untuk mencari Gill. Jadi jangan mengatakan hal yang bukan-bukan." peringat Lova.
Ken hanya mendengus sambil memperhatikan sekitar. "L, bagaimana kalau kita menikah besok?" kata Ken lagi di sela-sela jamuan makan, membuat Lova terbatuk-batuk dan hampir tersedak. "Minum lah L." Shreya mendorong gelas minuman kepada Lova.
Setelah meneguk minuman nya, Lova menyeka mulut dengan cepat, sekali dua kali memukul lengan Ken cukup keras, lalu melihat Ken dengan tatapan Memperingati. "Bisakah kau tidak bercanda tentang hal seperti itu?" bisik Lova.
Sementara yang lain memperhatikan sambil menahan tawa. "Aku tidak bercanda. Aku selalu serius dengan apa yang mu katakan Penelova Mosley." sahut ken, cepat.
"Berhentilah mengatakan hal seperti itu Ken. Jangan bermain-main dengan hal yang sakral." peringat Lova lagi dengan sungguh-sungguh. Namun Ken menolak untuk sepakat. Ia tak bercanda dengan apa yang di katakan nya.
"Kalian yang duduk di meja ini harus menjadi saksi, aku akan menikahi Lova, dan kalian harus jadi pendamping kami. Bagaimana, kalian setuju kan?" ujar Ken pada orang-orang yang saat ini tengah duduk di meja yang sama dengan dirinya dan Lova. "Ada yang sudah tidak sabar untuk segera menikah." ejek Leon, sambil menyuap makanan nya.
"Kenapa harus terburu-buru, pernikahan itu sekali seumur hidup. Bukan kah seharusnya kau mempersiapkan pernikahan yang tidak akan terlupakan bagi mempelai mu?" sela William, dan tentu saja hal itu di setujui oleh para wanita yang mengangguk dengan kompak.
"Aku tidak terburu-buru. Lagi pula tau apa kalian tentang apa yang akan ku siapkan? tentu saja aku akan memberikan yang terbaik bagi mempelai ku." bantah Ken.
"Tapi apa kau yakin bisa memberikan yang terbaik jika kalian akan menikah besok? aku rasa waktu nya sudah kurang dari 24 jam." balas William.
"Sudah lah Ken, jangan bicara yang bukan-bukan. Dengar, aku mempercayai mu. Aku tau kita akan menikah suatu hari nanti, tapi kita tidak perlu terburu-buru seperti ini bukan? lagi pula lihat lah.. aku baru membuka toko ku, dan besok aku akan sibuk untuk grand opening, aku tidak punya waktu untuk mengenakan gaun dan berdiri di depan pastur. Jadi, jangan menggoda ku lagi, hem." pinta Lova, sambil tersenyum penuh pemakluman kepada Ken.
Namun alasan yang Lova berikan sungguh membuat Ken merasa tak nyaman. Ia merasa seakan Lova sedang menolak dirinya. Padahal ia hanya ingin mendapatkan persetujuan wanita nya, dan selebihnya Ken bisa mengurus semua itu. Tapi kenapa, saat ini ia merasa tak nyaman.
"Aku ingin mengambil minuman." ujar Ken, kemudian meninggalkan meja. Lova ingin menahan Ken. namun ia tak punya alasan. "Ku rasa pria mu sedang kesal kawan." bisik Shreya saat Ken sudah berjalan menjauh.
"Kau bisa mengejar Ken jika mau L. Jangan pedulikan kami." ujar Leon yang memberikan kesempatan pada Lova. Ia sangat mengenal Ken dan Lova, keduanya memang harus di berikan waktu untuk bicara berdua. Jika tidak, maka seorang Lova yang terlalu tidak peka, dan juga Ken yang terlalu sensitive akan kembali membuat lubang di antara mereka.
Jika sudah demikian, maka Leon lah yang akan kembali di buat pusing dengan keduanya. "Aku akan segera kembali." sela Lova yang saat ini sudah bersiap untuk menyusul Ken. "Ya, ya.. pergilah L. Bawalah pangeran mu kembali." sahut Leon sambil tertawa kecil.
Lova yang mencari ke semua tempat, namun tidak juga menemukan keberadaan Ken. Akhirnya Lova mengambil ponselnya dan menghubungi Ken, "Kau dimana?" tanya Lova saat panggilan nya terjawab. "Roof top." sahut Ken singkat.
"Tunggu Aku di sana."
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...