My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
FAMILY TIME


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


"Mollie, terima kasih untuk makan malam nya. Rasanya sudah sangat lama aku tidak merasakan masakan seenak ini, aku benar-benar merindukan nya." Puji Zen tulus.


"Kakak rindu, tapi tidak pernah ingin pulang. Rindu apa itu..??" Sela Zoya sambil memanyunkan bibirnya membuat Zen menahan rasa gemas.


"Adik mu benar sayang. Datanglah setiap saat kesini, mollie akan memasakkan semua makanan yang ingin kamu makan.'' tambah Julie.


Mereka sudah menyelesaikan acara makan malam keluarga sekitar 10 atau 15 menit yang lalu, saat ini semuanya tengah berkumpul diruang kelurga untuk berbincang dan melepas rindu.


"Son, malam ini menginap lah disini." Kini Rehan yang bersuara.


''Tapi Dad..-


"Tidak ada tapi-tapian. Besok kita harus sarapan pagi bersama, lagi pula besok adalah hari libur.'' tegas Julie.


"Apa kakak khawatir tentang kamar..? Tenang saja, letak kamar kakak tidak berubah, masih sama seperti saat kakak masih berada disini." Jelas Zoya.


"Benar kah..? Lalu..?" Zen melirik pada Ken yang duduk di samping Rehan.


"Ahh,, putra mahkota ini..?" Zoya menyentuh sesaat kepala Ken. "Bocah ini terlahir sebagai seorang pewaris tahta dan sebagai seorang calon pemimpin masa depan, sejak kecil dia sudah terlatih dan mendapatkan semua fasilitas seorang pangeran." Zoya tersenyum menatap penuh arti pada Ken.


Bersikaplah yang baik adik ku tersayang,,


Kedua nya seperti orang yang tengah berkomunikasi melalui telepati.


Bilang saja kakak ingin menumbalkan aku disini,, menyebalkan..!


"Zozo,, aku sudah bukan bocah lagi. Aku seorang Remaja." Tolak Ken tidak setuju dengan kakak nya. "Apa yang salah sebagai seorang penerus, Kak Zen juga begitu." Ken memalingkan wajahnya, sambil mengamati suasana.


Zen tersenyum, perasaan nya semakin hangat saat berada di tengah-tengah keluarga kedua nya ini.


"Baiklah Mollie, Dady, aku akan menginap malam ini.


"O, ya Zen bagaimana kabar keluarga mu di U.K..?" tanya Rehan.


"Mereka baik Dad, Mommy dan Didiie juga menyampaikan salam untuk kalian, mungkin mereka akan berkunjung saat musim semi nanti"


"Sampaikan salam kami kembali saat kau bicara dengan mereka lagi, sayang." balas Julie. "Akan ku sampaikan Mollie.."


"Kak ceritakan lebih lagi tentang dirimu. Bukan kah kau juga seorang calon penerus tunggal..?" tanya Ken yang mulai antusias mendengar lebih tentang Zen.


"Aku. Emm..bbisa di bilang 'YA', tapi bisa juga TIDAK."


Zen terlihat berpikir sejenak. "Maksudnya, aku belum mengerti, kenapa seperti itu kak..?"

__ADS_1


"Di bilang YA, karena memang akulah satu-satunya anak dari mommy Sarah dan juga Didiie, dan aku satu-satu nya pewaris perusahaan Opa.- Opa Mahendra.


"Dan, Kenapa aku katakan 'Tidak',,karena mungkin saja untuk perusahaan Didiie nanti, akan di wariskan pada adik perempuan ku yang sangat manis, jika dia menginginkan nya nanti." Jelas Zen secara singkat.


"Bukan kah adik kakak seorang perempuan..? apa itu mungkin..?"


"Heii,, bocah kecil. Ini tidak ada hubungan nya dengan gender mu sebagai laki-laki ataupun seorang perempuan, semua itu tergantung kemampuan mu bisa atau tidak mengelola perusahaan sebagai seorang penerus." potong Zoya.


"Jadi kakak tidak mampu, oleh sebab itulah kakak tidak mau meneruskan perusahaan Dady..?" ucap Ken secara gamblang.


"Bukan seperti itu, hanya saja."


"Bukan karena tidak mampu, tapi Kakak mu ini sejak kecil memang memiliki ketertarikan pada minat yang berbeda.'' Zen menjawabi bagi Zoya.


"Itu benar.'' tambah Zoya bangga. He-he- untung saja kak Zen mendukung nya. Kak Zen memang yang terbaik.


"Begitu kah..? sayang sekali,, tapi bukan kah kak Jordan itu juga."


"JORDAN..!"


''JORDAN..!"


Alamak dasar bocah ember..


"Who's Jordan sweet heart..?" tanya Rehan dengan alis bertaut. "Ya, siapa sayang..?'' Julie dan Rehan kompak menanyai putri nya.


"Bukan siapa-siapa mom, Dad. Benarkan Ken..?" Zoya menatap tajam pada adik kecil nya itu. Ken tersenyum kikuk karena keceplosan saat bicara.


"NO Dad..! Kami hanya berteman. Dia adalah dosen muda seperti ku, dan kami hanya sebatas rekan kerja." jawab Zoya malas membahas teman baru nya itu.


"Benar hanya itu..?" tanya Rehan kembali menyelidik.


"of course Dad, We just friend."


"Ahh.. mommy kira sebentar lagi status jomblo mu akan berakhir sayang.." ucap Julie sedikit kecewa.


"Mom....!!


Zen mengepalkan tangan nya dalam diam. Dia sangat tidak suka saat Zoya membahas laki-laki lain di depan nya.


Dan apa maksud nya itu..? Apa mollie dan Dady ingin agar Zoya segera mendapatkan seorang kekasih..?


Tidak bisa! Itu tidak akan terjadi kalau bukan Zen yang berdiri di samping zoya.


"Dan kamu sayang..?'' Kini pertanyaan beralih pada Zen, membuat rasa kekepoan semua orang semakin membuncah pada jawaban yang akan keluar dari mulut pria itu.


"Apa..?"


"Kekasih, apa kau punya..?" tanya Julie sambil menggoda Zen. Sudah lama Julie tidak melakukan ini pada putra nya.


'Maaf jika sedikit mengecewakan." Zen tersenyum canggung. "Aku tidak punya seorang pun sebagai teman dekat, mollie." tambah nya.

__ADS_1


"Tidak ada..?" ulang Julie tidak percaya. Zen menggelengkan kepala.


"Seorang pun..?"


"Hem.. tidak seorang pun."


"Astaga ada apa dengan anak-anak muda ini..?" Julie menggelengkan kepalanya.


Zen dan Zoya saling bertatapan sambil tersenyum cengengesan. Bagaimana mereka dapat mencari pasangan lain, jika hati mereka berada pada orang yang sama.


Perbincangan itu masih terus berlanjut hingga larut malam, bahkan Ken sudah lebih dulu undur diri karena sudah tidak tahan dengan rasa kantuk.


Dan Zoya,, Jangan di tanya, seperti biasa, wanita muda itu sudah tertidur cantik di atas sofa panjang tak jauh dari Zen.


"Sayang,, apa tidak sebaiknya kita tidur..? ini sudah sangat larut." Julie memotong pembicaraan antara suami dan putra nya. "Kamu benar Moo, lihat lah malaikat kecil itu.." Rehan menunjuk pada putri nya.


"Putri kita pasti sangat lelah Boo.."


"Ya, aku yakin begitu." Rehan berdiri menghampiri Zoya.


"Dad,, biarkan aku saja." cegah Zen. "Kalian naiklah lebih dulu, aku akan membawa Zo'e ke kamar nya."


"Baiklah Son Dady serahkan putri tidur ini pada mu." Rehan menepuk bahu Zen pelan. "Baik Dad,.


"Good night, sayang.."


"Selamat malam Mollie."


Setelah Rehan dan Julie meninggalkan ruang keluarga, maka tinggal lah Zen dan Zoya di sana.


Zen menatap wajah Zoya lekat-lekat. Betapa ia merindukan gadis kecil nya ini. Wajah cantik dan juga polos nya memang seperti seorang malaikat jika sedang tertidur seperti saat ini.


"Saat nya kembali ke singgasana mu Princess.."


Dengan perlahan Zen membawa tubuh Zoya dalam gendongan nya, tak ingin membangunkan gadis itu, Zen berjalan dengan lebih pelan. Ia akan menikmati saat-saat seperti ini.


Dengan sedikit usaha, akhirnya Zen dapat membuka pintu kamar Zoya. Dari sana menguarkan aroma manis dan juga feminim dari parfum gadis itu memenuhi penciuman Zen.


Zoya bukan lagi gadis kecil. Gadis nya itu sudah menjelma menjadi seorang wanita muda yang sangat cantik dan juga menggoda.


Zen meletakan tubuh Zoya di atas tempat tidur dan menyelimuti nya.


"Tidur lah Zo'e..Sampai bertemu besok pagi."


Zen mengecup kening Zoya sekilas, dan turun pada bibir ranum gadis nya.


Katakan lah ia mencuri kesempatan, biarkan saja. Zoya adalah milik nya, dulu, sekarang, dan juga nanti.


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2