My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
Strange Man


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Setelah beberapa hari berlalu. Lova masuk kuliah seperti biasanya. Ia tak berniat menghindari Tania, meskipun saat ini ia sangat marah pada gadis tersebut.


Hari ini ia memiliki mata kuliah yang sama dengan Tania, setidaknya gadis itu akan merasa bersalah saat melihat Lova. Bagaimanapun mereka adalah teman satu universitas,Sekalipun level mereka jauh berbeda, sebagai sesama wanita seharusnya Tania bisa menghargai Lova.


Lova tak ingin mengingat lagi kejadian malam itu. Ia menganggap bahwa itu adalah pelajaran baginya untuk lebih berhati-hati di negeri yang baru saja ia tinggali itu. Dan malam itu, Lova harap itu adalah yang pertama dan terakhir yang ia alami.


Ia tak berharap kejadian yang sama akan terulang kembali. Andai saja ia lebih dewasa, mungkin ia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pada yang ia miliki saat ini.


Bruuk!


Amplop coklat mendarat sempurna di atas meja Lova. Tania dan dua orang gadis lainnya berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Gadis itu terlihat angkuh dan juga sinis saat melihat kearah Lova. Seakan Lova adalah benda yang menyakitkan mata untuk dilihat.


''Itu bayaran mu! kurasa itu lebih dari cukup, pe-la-yan!'' ujar Tania lambat-lambat lalu tertawa terbahak. Lova tak tau apa yang membuat Tania menjadikan dirinya sebagai target. Selama ini ia tak pernah mencari masalah pada gadis itu, dan juga gadis lainnya. Lalu kenapa?


''Hanya seperti ini saja?" Lova mengambil amplop tersebut lalu meremasnya. Ia mencoba untuk meredam amarahnya. Meskipun ia ingin, ia tak akan mencari masalah di dalam kampus, atau beasiswanya akan di cabut jika ia melakukan hal tersebut. Dan Lova tak pernah berniat untuk melakukan itu.


Dengan wajah sombong dan juga senyuman menghinanya, Tania menempelkan tangannya di atas meja, mendekatkan wajahnya pada Lova, ''Kenapa? kau merasa itu berlebihan karena belum menyenangkan saudara ku?"


Kata-kata yang kembali terlontar dari mulut Tania benar-benar membuat Lova merasa terhina. ''Kau seharusnya minta maaf kepada ku Tania.'' Ujar Lova menahan marah.


''Aku? kau bercanda? gadis miskin seperti mu, ingin aku minta maaf? Hei, lihat siapa yang bicara..'' seru Tania membuat seisi kelas menjadikan mereka pusat perhatian.


''Kau itu seorang pelayan yang akan melakukan apa saja demi uang, jadi jangan bersikap munafik di hadapan ku!'' Tania berucap pelan dengan penekanan, memperlihatkan ketidaksukaan nya pada Lova.


''Setidaknya aku memiliki harga diri, lalu kau, apa kau memilikinya?" Lova menatap nyalang pada Tania.


Saat Tania ingin melayangkan tangannya, Jeremi datang untuk menghentikan perlakuan kasar adiknya.


''Tania, hentikan ini. Apa yang kau lakukan pada Lova?" bentak Jeremi ditengah kerumunan.


Lova masih bisa melihat bekas memar di wajah laki-laki itu.


Tania mendengus kesal saat Jeremi mencegahnya dan malah membela Lova dihadapan semua orang. Bukan kah ia melakukan semua ini demi kakak nya itu?


''Baguslah kau disini.'' Lova menatap Jeremi lalu membuka amplop yang tadi Tania lemparkan padanya. Ia mengambil beberapa lembar uang dari dalamnya, sebagaimana upahnya bekerja seharusnya.


''Ku kembalikan padamu! Jangan pernah menganggu ku lagi!'' Lova menekan keras amplop tersebut ke dada Jeremi. Ia masih merasa jijik saat bertemu dengan laki-laki itu. Meskipun Lova tau saat itu Jeremi sedang mabuk, tapi menurutnya, saat seseorang tidak sadar, maka orang tersebut akan menunjukan sosok dirinya yang sebenarnya.


''Lova, tunggu!- Tania, sebaiknya kau jaga sikap mu, atau aku akan melaporkan mu pada Dad.. '' ancam Jeremi pada saudarinya sebelum bergegas pergi mengejar Lova.


Lova yang pergi dengan perasaan marah berjalan cepat melintasi koridor kampus. ''Lova tunggu aku, kita harus bicara!'' seru Jeremi yang saat itu tengah berlari mengejar Lova.


''Lova, please. Kita harus bicara.'' Jeremi menghentikan Lova dengan menahan tangan gadis itu. Ada semacam binar ketakutan dimata Lova saat Jeremi menyentuhnya. Gadis itu buru-buru melepaskan tangan Jeremi lalu membuat jarak diantara mereka.


''Apa yang kau inginkan? bukan kah sudah ku katakan untuk tidak menggangguku?"


Jeremi yang memahami kemarahan Lova hanya bisa tertunduk. Ia merasa sangat bersalah pada gadis itu. Ia memang bertingkah bodoh saat dikuasai alkohol. Seharusnya Jeremi dapat menahan dirinya.Tapi ia memang bajingan yang pantas untuk di benci.


''Lova, maafkan ku. Malam itu,-


''Jangan katakan apa-apa Jeremi, aku ingin melupakan semuanya!'' Lova menutup kedua telinganya. Ia benar-benar merasa marah dan terhina. Bagaimana laki-laki itu dapat mengatakan semuanya seolah itu hanyalah kesalahan kecil.


Jeremi yang menyadari bagaimana Lova merasa tersakiti hanya bisa diam ditempatnya. Ia bingung ingin melakukan apa, sedangkan ia sendiri hanya ingin gadis itu memaafkan perlakuan jahatnya.

__ADS_1


''Aku minta maaf Lova, aku sungguh menyesal.''


''Jika kau menyesal, jangan pernah muncul lagi di hadapanku!'' bentak Lova, dengan mata berkaca-kaca. Ia masih belum bisa melupakan semuanya. Apalagi perlakuan Jeremi padanya, hampir saja Jeremi menjadikan dirinya pemuas nafsu laki-laki itu.


Melihat Lova yang sekali lagi melarikan diri darinya, Jeremi kembali mengejar Lova. Gadis itu setengah berlari memasuki kerumunan untuk mengecoh Jeremi. ''Lova!''


Leon yang memperhatikan dari kejauhan menebak-nebak apa yang sebenarnya sedang Jeremi lakukan. Apakah ia dan kekasihnya sedang bertengkar? ''Bukan kah gadis itu?"


Leon bergegas menuruni tangga yang berseberangan dengan arah Lova, ia menghadang wanita itu tepat di depannya, membuat Lova membenturkan wajah tepat di dada bidang Leon.


''Ups. Kita bertemu lagi, nona!'' bisik Leon sambil tersenyum. Leon bisa melihat ketakutan di wajah Lova, namun ia berpura-pura tak tak mengenali raut itu.


Jeremi yang baru saja mendapatkan keduanya, menahan nafasnya yang tersengal-sengal.


''Wow bung, kau sedang berolah raga?" tanya Leon dengan tingkah konyolnya.


''Aku,- aku sedang,-


Lova yang sekali lagi ingin melarikan diri, ditahan oleh Leon. Ia memegang tangan gadis itu dengan erat, membuatnya tetap berdiri di tempatnya.


''Apa kau sedang punya urusan dengan Lova?'' tanya Leon berpura-pura.


''Kau kenal dia?''


Leon tersenyum, sepertinya sosok superhero nya sedang dibutuhkan lagi saat ini.


''Tentu saja aku mengenalnya. Ada urusan apa kau dengan kekasih temanmu ini?" tanya Leon sambil tersenyum melirik kearah Lova. Gadis itu membulatkan matanya saat Leon menyebutkan kata -kekasih-.


''Kekasih? Lova kekasihmu?" Tanya Jeremi yang terheran-heran mendengarkan pernyataan Leon.


''Aku? Tentu saja bukan.'' jawabnya sambil tersenyum konyol. Hampir saja Lova menendang kaki Leon. Jika saja Leon tak memberinya kode, maka Lova akan menghajar Leon saat itu juga.


''Dia kekasih Ken.'' Ujar Leon dengan lancar nya. Lalu mengatupkan bibirnya rapat. Ia tidak mungkin menarik lagi kata-katanya. Biarlah ini akan menjadi urusan Ken.


Tidak hanya Jeremi yang di buat menganga, tapi Lova juga. Leon menyebutkan dirinya sebagai kekasih dari laki-laki yang bahkan tidak Lova kenal.


''Maksud mu Ken Wijaya? Anak tahun kedua?'' Jeremi bertanya sekali lagi.


''Hmm. Ken yang itu. Ku rasa kau tidak akan membuat masalah dengan kekasih teman mu bukan? kalau begitu kami permisi, Ken sedang mencari gadis ini.'' tutup Leon lalu menarik tangan Lova untuk mengikuti dirinya.


''Lepaskan tanganku!'' ujar Lova dengan manahan suaranya, ia juga berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan pegangan Leon, tapi laki-laki itu memegang nya dengan begitu erat.


''Ku bilang lepaskan!'' Lova menyentak tangannya, saat keduanya sudah tidak dalam jarak pandang Jeremi.


''Apa kau gila? Apa aku meminta bantuan mu? dan siapa kau berani ikut campur urusan ku!'' ujar Lova marah terhadap Leon, ia mengelus pergelangan tangannya yang memerah.


''Aku menyakitimu?" Leon meraih tangan Lova untuk melihat hasil perbuatannya, tapi lagi-lagi gadis itu menariknya kembali.


''Ahh.. aku merasa dejavu dengan hal seperti ini.'' gumam Leon sambil tersenyum.


''Dasar orang aneh!''


Lova meninggalkan Leon yang masih berdiri ditempatnya. ''Hei tunggu aku, apa kau tidak ingin mengucapkan terima kasih? aku sudah menolongmu!'' Seru Leon sambil mensejajarkan langkahnya dengan Lova.


Gadis itu tidak terlalu tinggi, namun terlihat cantik dan juga imut saat sedang marah.


''Apa aku memintanya?"


''Ya, kau memang tidak memintanya, tapi aku tetap melakukannya, seperti malam itu!'' Leon menunjukan senyuman konyol andalannya.


DEG..

__ADS_1


Lova menghentikan langkahnya. Bagaimana laki-laki ini tau tentang malam itu? apakah ia salah satu dari pemuda yang menyelamatkan dirinya?


''Kenapa? kau baru mengingatku? kau merasa terharu?''


''Jangan pernah katakan ini lagi di depan ku. Dan terima kasih untuk bantuan mu, aku akan membalasnya.'' ujar Lova lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan wajah memerah.


''Bagaimana kau akan membalasnya? hem?''


Leon memang sangat suka menggoda para gadis. Seperti yang dulu sering ia lakukan pada Shreya. Dan sekarang gadis ini, Lova. Gadis yang lagi-lagi mengingatkan Leon pada Shreya.


''Ap,- apa saja, asalkan tidak melakukan itu.'' jawab Lova mengepalkan kedua tangannya.


''Huw! Ha-Ha.. kau pikir aku sama seperti Jeremi?,- ''Kau sungguh kasar nona!'' Leon berujar dengan wajah datar.


''Apa yang kalian lakukan?"


Sungguh waktu yang sempurna. Pikir Leon. Ken datang disaat yang tepat.


''Nah, kebetulan lo disini. Gue serahin ni cwe sama lo. Sekarang dia tanggung jawab lo. Gue udah bilang ke Jeremi kalau kalian itu cemceman, jadi jaga nih cwe lo!'' ujar Leon dengan entengnya, membuat Ken membulatkan matanya heran dengan perkataan Leon.


''Nona, jika kau penasaran, dia- Ken. Pacar bohongan mu! Selamat atas hubungan kalian!'' Leon bertepuk tangan, lalu pergi meninggalkan keduanya.


''Kau..?''


''Kita bertemu lagi. Apa kau baik-baik saja?"


''Hmm. Aku baik-baik saja, tadi teman mu,-


''Maafkan aku atas perlakuan teman ku. Ku harap dia tidak membuatmu marah.'' ujar Ken sambil tersenyum.


''Aku baik-baik saja. Dia menyelamatkan ku lagi. Katakan terima kasih padanya. Bye.''


Lova segera meninggalkan Ken. Karena ia sudah melewatkan kelasnya, sebaiknya ia pergi untuk bekerja paruh waktu, setidaknya waktunya tidak terbuang dengan percuma.


''Hei, kau mau kemana?'' Tanya Ken mengejar Lova.


''Bekerja.'' Jawab Lova dengan sebenarnya.


''Bekerja?" Ken menahan tangan Lova dan menatap wajah gadis itu heran..


''Bukan bekerja seperti waktu itu, tapi bekerja di kedai makanan.'' Lova tersenyum saat melihat sikap Ken, lalu melepaskan tangan laki-laki itu dari tangan nya.


Apa dia mencemaskan ku? tapi kenapa?


''Kembali lah. Aku baik-baik saja. Terima kasih untuk kebaikan mu.'' pamit Lova, lalu melangkahkan kakinya.


''Kau punya berapa pekerjaan?'' Ken tetap bersikeras mengikuti Lova. ''Kau penasaran? kenapa? Aku tidak membagi ceritaku pada orang asing.'' gadis itu menyunggingkan senyumnya.


''Orang asing? aku? bukan kah teman sekampus?'' Ujar Ken memberikan protes.


''Kau pemuda yang terlalu banyak bicara.''


''Aku..? Hei.. Lova..!''


...''Apa aku terlalu banyak bicara? Aku seperti itu? konyol!"...


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2