My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
NO DRAMA, DONE!


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Di jalanan yang cukup padat, Lova mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal.


Ia baru saja menyelesaikan pembicaraan nya dengan William, dan untuk hari ini, Lova juga telah meminta ijin untuk menunda pekerjaan selama beberapa saat. Bukan karena ia terpengaruh dengan berita miring yang baru saja menimpa nya, hanya saja untuk saat ini, Lova ingin melihat Leon, sahabatnya.


Lova lebih memikirkan tentang Leon dari pada gosip tentang dirinya saat ini.


Tanpa terasa, beberapa waktu kemudian mobil Lova sudah terparkir di lantai dasar apartment Leon. Sebelum ini Lova bahkan sempat mampir ke supermarket untuk membeli sedikit buah-buahan dan juga minuman bervitamin yang khusus di beli nya untuk Leon.


Ting.. Tong..


Ting.. Tong..


Lova menunggu pintu terbuka dengan perasaan Harap-harap cemas.


Tidak seperti sebelum nya, kali ini Leon membuka kan pintu lebih cepat. Huh, syukurlah. Leon tersenyum memamerkan giginya yang putih dan rapih.


"Kau sudah bisa tersenyum?" sindir Lova.


Senyum Leon kian mereka mendengar cibiran Lova. Wajah Leon juga terlihat lebih segar saat membalas tatapan nya, Ah.. seperti nya Leon bahkan sudah membersihkan diri.


"Masuklah L." Ajak Leon berjalan mendahului Lova. "Kau sudah makan? aku sudah membuat sarapan sebelumnya..-


"Ya, sudah ku makan, terima kasih L, makanan buatan mu enak." sela Leon kemudian mendaratkan bokong nya di atas sofa Yang ada di ruang tamu


"Bagaimana perasaan mu? sudah lebih baik? aku membawakan buah-buahan dan juga Vitamin untuk mu." Di ambilnya Salah satu botol minuman dan diberikan pada Leon. "Minum ini."


"Thanks L."


Hanya dalam beberapa tegukan saja, Leon sudah menghabiskan seluruh isi minuman nya.


Sementara itu Lova sudah beranjak dari tempatnya,


Cukup Lama keduanya saling berdiam diri, sampai Leon kembali membuka suara;


"Kau baik-baik saja L?" Seru Leon sedikit nyaring, karena saat ini Lova sedang mencuci buah-buahan di dapur.


"Ya. Aku baik." sahut Lova singkat.


Tak puas dengan jawaban yang di dengarnya. Leon pun bangun dari Sofa dan berpindah untuk menduduki kursi yang ada di pantry mengikuti Lova. Ia ingin melihat sendiri bagaimana wajah Lova saat mengatakan- "Aku baik" nya itu.


"L, jawab aku dengan jujur, apa kau baik-baik saja..?" ulang Leon lagi.


Lova menghentikan pekerjaan nya, lalu berbalik menghadap pada Leon sambil bersedekap. "Ada apa ini sebenarnya Le, ada apa dengan wajah mu itu..?"


"Aku melihat berita itu, -


Ah! itu lagi!


Lova memutar matanya jengah, sambil tersenyum. Tak cukup William, kini Leon pun turut membahasnya. "Sempat-sempatnya kau membaca gosip padahal dirimu dalam keadaan seperti ini? Tau begitu aku tidak akan mengkhawatirkan mu!" sahut Lova berpura-pura kesal.


"L aku, -


"Dengar Le, aku baik-baik saja. Memang nya berita seperti itu akan membuat ku seperti apa? Menangis? Menyembunyikan diri? malu atau apa? tidak ada Le! Itu tidak mempengaruhi ku sama sekali. Jadi, kau juga harus nya seperti itu." Sela Lova tanpa keraguan sedikit pun.


Ia justru merasa heran. Heran karena orang-orang mengkhawatirkan tentang itu untuk dirinya, bukan kah berita seperti itu terlalu konyol?


"Itu ulah Tania Le." tambah Lova sambil menghela nafas. "Tania?" ulang Leon.


"Ya, saudari James. Kau ingat dia kan? aku tak tau mengapa gadis itu sangat membenci ku. Aku memang tak punya bukti, tapi siapa lagi kalau bukan Tania yang sangat kekanakan yang akan melakukan hal seperti ini."


"Ada apa sebenarnya dengan wanita itu?" turut Leon, yang benar-benar tak habis pikir tentang hal ini semua. "Aku akan bicara pada James, agar ia tau bagaimana perilaku saudarinya, ini sungguh keterlaluan!" ucap Leon, dengan raut wajah kesal.


"Hanya pastikan agar kakak nya tau. Jangan lakukan Yang lain, meskipun sebenarnya. Yah, aku yakin James tau jika ini perbuatan saudarinya." Lova kembali tersenyum. Ia benar-benar tak ingin memperdulikan hal seperti ini lagi.


Jujur saja, ia malah merasa terganggu jika orang-orang yang di sayangi nya lah yang justru menjadi tertekan.


"Apa Ken tau, L?" tanya Leon terdengar ragu.


Oh God! Sekali lagi Lova menghentikan pekerjaan nya.


"Kenapa Ken harus tau Le? biarkan saja. Toh, beritanya akan hilang sendiri. Lagi pula Ken sudah cukup sibuk dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya, tidak baik mengganggu nya dengan perkara tak berguna seperti ini. Jangan beritahu apapun pada Ken, mengerti?" tegas Lova.


Leon sedikit ragu dengan permintaan Lova, tapi setelah nya, Leon setuju juga.


"Baiklah jika itu mau mu L. Akan ku lakukan seperti mau mu." turut Leon tak ada perdebatan.


"Apel atau pear?"


"Pear saja."

__ADS_1


"Segera siap, tuan!"


Ha-Ha


...❄️❄️...


"Maaf nona, tuan Ken sedang tidak bisa di ganggu. Tolong jangan, -


"Minggir!!"


"Tapi Nona.. tolong jangan mempersulit..


"Aku bilang minggir! cepat minggir!!"


Suara keributan terdengar sampai ke dalam ruangan Ken..


...Tak Lama kemudian.....


Braaakkk!


Pintu nya terbuka dengan begitu dramatis.


Siapa lagi, kalau bukan Gill. Hanya gadis itu yang berani membuat keributan seperti ini.


"Ken, kau!!" Teriak nya sambil menunjuk marah ke arah Ken.


Prank..! Prankk!


Gill memecahkan apa saja yang bisa di raihnya. Entah sudah berapa banyak vas yang pecah di ruangan itu.


"Nona.. tolong jangan begini!" Sekertaris Leon berusaha mencegah Gill namun gadis itu di luar kendalinya.


"Tinggalkan Saja!" Seru Ken dengan suara dalam. Suara nya terdengar begitu tegas dan sedikit menakutkan.


"Biak Tuan."


Sekertaris Ken buru-buru menundukkan kepala nya lalu meninggalkan ruangan Ken dalam kondisi berantakan.


Prankk!


Sekali lagi Gill meraih dan memecahkan salah satu Guci yang tersisa di dalam ruangan Ken.


Tak ingin terpancing emosi karena kelakuan Gill, akhirnya Ken hanya mengabaikan gadis itu. Ken tetap melanjutkan pekerjaan sebelumnya, seolah-olah ia hanya menutup mata dan telinga nya atas apa yang Gill lakukan.


"Aaakkkhhh! Ken.. Lihat aku! Lihat aku!" Rengek nya seperti seseorang yang kerasukan.


Prankk!


Ruangan Ken benar-benar kacau sekarang. Barang-barang pecah berhamburan, dan berserakan di mana-mana. Seperti kapal pecah diterpa ombak, mungkin seperti itulah gambaran nya.


Ken meletakan pulpen nya secara perlahan, dan menatap tajam ke arah Gill. Tak ada ekspresi apapun dari wajah Ken, ia hanya melihat kearah Gill seperti yang di minta gadis itu.


Dengan langkah ragu, Gill melangkahkan kaki nya hingga berdiri tempat di depan meja Ken, sambil menghapus air matanya yang mengalir tiba-tiba karena menahan kesal bercampur takut.


"Kau pergi kemana?" Tanya Gill dengan suara tajam. "Aku mencari mu setiap hari. Aku ke Villa mu, ke kantor, tapi kau tidak ada! Kau tidak memberi tahu apapun pada ku, kemana kau? Hah? Kemana...? katakan!" teriak nya lagi lebih histeris.


Gadis ini benar-benar membuat Ken semakin pusing saja. Apa Ken seorang suami bagi nya? benar-benar gila!


Dengan dada yang naik turun menahan kemarahan, Gill masih tetap kekeh menuntut penjelasan dari Ken. Ken pergi tanpa mengatakan apa-apa, hingga membuat Gill benar-benar merasa frustasi. Lalu sekarang, Gill tidak akan berhenti sampai Ken memberitahu yang sebenarnya.


"Kemari kan Tas mu!"


Alih-alih menjawab Gill, Ken malah mengulurkan tangan nya untuk meminta tas gadis itu.


"Jawab dulu pertanyaan ku! Aaakkkhhhh...!" tolak Gill, berteriak histeris. Ia tak ingin Ken mengendalikan nya lagi seperti sebelumnya. Ia bukan wanita bodoh, tapi kenapa...?


"Berikan tas mu!" ulang Ken, masih dengan wajah datar dan suara yang penuh penekanan.


"Aku tidak bawa! aku meninggalkan nya dirumah!" elak Gill, menyembunyikan tas nya di belakang.


"Kau tau aturan nya Gill, berikan tas mu!" Ken menegaskan suaranya. Mau tak mau Gill menyerahkan tas nya kepada Ken.


Ken melihat isinya, dan seperti biasa, gadis itu selalu membawa obatnya. Karena Gill tau betul. jika ia tak membawa obatnya maka Ken tak akan pernah mau bicara apapun padanya.


Setidaknya cara itulah yang Ken gunakan untuk membuat gadis itu menuruti perkataan nya selama ini.


Ken berdiri dari kursinya, berjalan ke arah teko air minum di letakan di sisi lain ruangan nya. Ia mengisi gelas dan memberikan nya kepada Gill.


"Minum obat mu sekarang." perintah Ken tak ingin di bantah. Melihat mata Ken yang tajam ke arahnya, Gill segera mengambil obat dari tangan Ken dan meminumnya cepat.


"Sekarang katakan pada ku, kau dari mana?" tuntut Gill lagi.


"Duduklah, dan tenangkan dirimu. Aku masih ada pekerjaan, kita akan bicara nanti, mengerti?"


Di tuntun nya Gill ke sofa yang ada di ruangannya agar gadis itu menurutinya.


"Kita benar-benar akan bicara kan?" Ulang Gill, menahan tangan Ken.


''Hmm. Kita akan bicara."

__ADS_1


Mendengar janji Ken, Gill pun duduk dengan tenang, sementara Ken kembali ke meja nya.


Tutt.. Tutt..


"Minta OB membersihkan ruangan ku!" perintah Ken pada sekertaris nya.


"Ken..' suara Gill terdengar lebih tenang. "Apa aku begitu menyedihkan? padahal aku hanya ingin kita lebih dekat. Aku tidak punya siapapun selain dirimu."


"Semua teman-teman ku menganggap aku gila, dan mereka mendekatiku hanya ingin memanfaatkan ku untuk mendapatkan uang papa. Meskipun begitu, aku tetap suka memiliki teman. Walaupun aku tau semua perhatian mereka palsu. Aku hanya ingin memiliki teman.- Apakah aku begitu menyedihkan?"


Ken hanya diam saat mendengarkan gadis itu bicara. Sedikit banyak tentang Gill sudah di ceritakan oleh ayahnya, termasuk bagaimana kehidupan gadis berusia 20 tahun itu.


"Ken..? Kenapa kau tidak ingin menjadi pacar ku? apa karena aku gila?" Sambung nya terdengar begitu menyedihkan.


"Gill, dengarkan aku!" Ken bersuara tegas. "Kau tidak gila. Jangan pernah menganggap dirimu seperti itu. Kau hanya sedikit berbeda- tapi itu tak lantas membuat mu harus menganggap dirimu menyedihkan! Kau punya seorang ayah yang begitu hebat. Yang mencintaimu dan memberi hidupnya hanya untuk mu setidaknya kau harus memikirkan itu. Jangan katakan hal seperti ini lagi."


"Dan dengar, aku tidak bisa menjadi kekasihmu bukan karena kondisi mu, atau apapun itu. Tapi karena aku sudah melamar seorang gadis yang aku cintai, dan hanya dia satu-satunya wanita yang akan mendampingi ku.'' tegas Ken, kepada Gill.


Dari tempat duduknya Ken bisa melihat dengan jelas bagaimana raut wajah Gill saat ini. Gadis itu benar-benar membuat Ken merasa bersimpati.


Bagaimana pun Ken bereaksi terhadap kondisi yang di alami Gill saat ini, Ken tidak ingin jika gadis itu terlalu bergantung pada nya.


Bagaimana pun mereka akan punya kehidupan masing-masing. Gill pasti akan sembuh dan bertemu dengan orang yang akan mencintainya suatu hari nanti. Karena sejak awal, Ken memang tak pernah ingin memberikan peluang bagi Gill untuk memikirkan hal yang lain tentang Ken selain sebagai seorang kenalan.


Setelah pembicaraan tak terselesaikan itu, Keduanya hanya saling bertatapan dari jauh. Baik Ken atau pun Gill, tidak ada yang bersuara lagi. Mereka seolah larut dengan pikiran mereka masing-masing.


"Ken...?


Tok.. Tok..


Saat cleaning servis datang, pembicaraan keduanya benar-benar terputus. Gill terdiam di tempatnya, begitupun dengan Ken Yang juga melanjutkan pekerjaan nya.


Setelah semua ruangan sudah di bersih kan dan di tata dengan tapi lagi, Ken melirik pada Gill yang saat ini sudah terlihat mengantuk di tempat duduknya. Ken mengatakan kepada petugas cleaning servis untuk bekerja lebih tenang, agar tidak mengganggu Gill.


Saat Gill sudah benar-benar tertidur karena reaksi obat yang baru saja di minumnya. Ken minta kepada perawat Gill untuk membawa gadis itu kembali pulang kerumah.


Tokk.. Tokk..


"Masuklah!" seru Ken dengan suara lebih pelan.


"Permisi tuan, kami datang untuk membawa nona pulang." kata perawat pribadi nya. Perawat yang di pekerjaan oleh orang tua Gill bukan karena gadis itu memerlukan penanganan khusus, hanya saja, mereka di perlukan untuk situasi seperti saat ini.


"Silahkan, jaga Gill dengan baik, pastikan dia meminum obatnya dengan teratur" pesan Ken.


"Baik tuan, terima kasih."


"Ah, tolong katakan juga pada nona kalian jika ia bangun nanti, aku akan menemaninya untuk pemeriksaan rutin." tambah Ken.


"Akan saya sampai kan Tuan."


Dengan bantuan kursi Roda, para perawat pribadi Gill membawa gadis itu dengan tenang meninggalkan kantor Ken.


...❄️❄️...


"Dad, aku sudah menyiapkan beberapa barang, bagaimana menurut Dady, apa ini bagus?" Zoya menunjukan gambar beberapa barang yang sudah di beli dan di bungkusnya dengan rapi kepada Rehan. "Aku tidak tau apa yang di sukai L, apa menurut Dad kita harus bertanya dahulu kepada Ken? aku tidak ingin membeli sesuatu yang Salah." saran Zoya.


Saat ini mereka tengah makan siang bersama di salah satu restoran yang dulu sering mereka kunjungi.


"Tidak perlu sweet heart, adik mu sedang sibuk sekarang. Kau siapkan saja apa yang menurutmu bagus dan cocok nya, namun pastikan tidak berlebihan agar tidak menyinggung, dan tidak juga membuat kita terlihat pelit.- Dad dengar gadis itu seorang model sekarang, kau cari saja apa yang cocok untuk nya." Sahut Rehan.


Ketiga nya saat ini sedang membicarakan barang seserahan yang akan di bawa oleh Rehan dan Ken untuk melamar Lova. Meskipun di luar negeri tidak harus menyiapkan hal-hal seperti ini, namun mereka hanya ingin melamar sesuai dengan tradisi dalam keluarga yang sudah di jalani.


"Baiklah Dad, mungkin aku harus mencari beberapa barang lagi." Zoya mencari-cari lagi melalui aplikasi belanja yang biasa ia gunakan.


Zoya hanya ingin menjadi calon kakak ipar baik, karena itulah ia sangat antusias menyambut rencana Ken untuk melamar Lova.


"Tapi Dad, bagaimana kalian membawa nya, bukan kah terlalu merepotkan? bagaimana jika kita kirimkan saja ke alamat rumah kami yang ada Stockholm, akan lebih mudah jika kalian membawanya dari sana." usul Zoya.


"Jangan cemaskan itu Angel,p Dad akan membawa beberapa asisten saat pergi. Jika kalian berubah pikiran, Dad akan senang jika kita bisa pergi bersama. Lagi pula Earl juga sudah besar,- Benarkan Earl..?" Rehan beralih pada cucu pertama yang ada di gendongan Zen.


"Bagaimana menurut mu Son? Bukankah ini bisa menjadi salah satu kunjungan keluarga sekaligus memperlihat kan Earl kepada sahabat-sahabat kalian yang ada di sana? mereka pasti ingin melihat Earl." usul Rehan.


"Lagi pula, akan lebih mudah jika kalian pergi bersama Dad, kalian lebih mengenal keluarga gadis itu, setidaknya tidak akan membuat canggung."


Zoya memikirkan apa yang di katakan Dady nya. Semua itu benar ada nya. Dan usul Dady nya memang baik, Zoya juga bisa sekaligus mengunjungi yayasan miliknya. Ia merindukan semua staf nya.


"Akan kami pikirkan Dad.- Sahut Zen.


"Benar Dad, akan kami pikirkan terlebih dahulu, apapun itu kita harus memikirkan nya untuk Aiden. Dad tahu sendiri bagaimana cuaca di sana, aku hanya cemas jika Aiden tidak bisa beradaptasi dengan itu." sela Zoya.


Rehan menganggukkan kepala membenarkan apa yang putrinya itu katakan. Memang benar jika Earl lah yang harus mereka pikirkan.


"Hmmm. Baiklah Dad. Ku rasa pembahasan kita untuk urusan ini sudah beres. Semoga saja gadis manis itu menyukai barang-barang yang kita bawakan nanti."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2