
...ENJOY...
.......
.......
.......
.......
Tepat pukul 00.00, pada hari kedua dari tujuh hari yang ada, seorang bayi telah lahir ke dunia. Bayi yang lahir dengan sehat dan sempurna.
Dengan tangisan yang begitu kuat dan nyaring, bayi laki-laki itu membuat malam yang gelap terasa seperti siang hari yang disinari matahari yang begitu terik.
Bayi mungil itu membuka mata nya untuk pertama kali, menghirup udara yang di berikan semesta dan juga merasakan eksistensi dirinya di tempat yang berbeda.
Tidak ada kata yang bisa terucap selain rasa syukur yang begitu luar biasa atas berkat dan karunia yang telah di terima oleh Zen dan Zoya.
"Sayang, terima kasih. Terima kasih telah menjadikan aku laki-laki yang sempurna dan menjadi seorang yang sangat terberkati.- Terima kasih telah menjadikan aku seorang ayah." bisik Zen seraya menghapus air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir.
Sebelumnya, Zen bahkan hampir tak bisa bernafas saat tahu bahwa kondisi Zoya tiba-tiba saja melemah,
Dokter bahkan sampai memasang dua infus, dan juga melakukan transfusi dua kantong darah sekaligus. Melihat kondisi istrinya, Zen benar-benar dibuat sangat ketakutan.
Rasa takut dan juga kegetiran yang selama ini terus bersembunyi di dasar terdalam hatinya, seakan perlahan mulai bangkit untuk mentertawakan dan juga menjerat dirinya lagi dan lagi.
Seluruh pikiran nya tiba-tiba saja menjadi kosong. Tidak ada yang bisa ia lakukan, selain merasa takut dan tak berdaya.
Namun saat melihat istrinya lagi dan lagi; Zen sadar, ini bukan saat yang tepat untuk menjadi lemah.
Zoya nya sedang membutuhkan kekuatan dan dukungan darinya; bukan saat yang tepat untuk menjadi seorang pecundang. Hidup dan mati istri serta bayi nya sedang di pertaruhkan..
Dan apa yang terjadi? Sungguh luar biasa tekat dan perjuangan Zoya untuk dapat melahirkan bayi pertama mereka dengan normal.
Melihat semangat dan kegigihan Zoya, Zen sampai tak bisa berkata apa-apa selain hanya menggenggam erat tangan istrinya seraya terus berdoa.
Sampai pada saat nya, semuanya tidak berakhir dengan sia-sia. Kebahagiaan itupun datang pada mereka dengan begitu luar biasa.
"Jangan menangis kak, hem?" Ujar zoya seraya menatap suaminya dengan perasaan bercampur aduk.
Ia sungguh lelah dan kesakitan, namun ia juga merasa bahagia sekaligus lega.
Setelah semua rasa sakit yang harus dilaluinya, akhirnya ia bisa melahirkan buah cinta mereka dengan selamat.
Semua rasa sakit tergantikan dengan kebahagiaan yang setara. Kini Ia sudah menjadi seorang wanita yang seutuhnya. Seorang wanita yang memberikan keturunan bagi suaminya.
Zoya sudah menjadi seorang ibu. Wanita yang sangat berbahagia di dunia. "Aku mencintai mu kak." gumam Zoya, yang juga tengah menangis karena haru.
Setelah sekian tahun mereka menunda untuk mendapatkan keturunan, dan setelah di ijinkan untuk memiliki jantung lain yang berdetak di perutnya, setelah merasakan susah senang saat mengandung..
Akhirnya, hari ini pun tiba. Bayi mungil yang sama-sama mereka jaga dengan penuh cinta, akhirnya lahir ke dunia.
Thanks God..
Tidak hanya Zen dan Zoya yang merasakan kebahagiaan itu; Di luar ruangan, Rehan yang terus menunggu dengan perasaan cemas dan juga rasa takut pun akhirnya bisa bernafas lega.
Rehan pun di banjiri rasa syukur yang teramat sangat.. Bahkan kini, ia hanya bisa tertunduk menutupi wajahnya yang tengah basah.
Ketakutan nya berubah menjadi sebuah kebahagiaan.
"Terima kasih Tuhan.- Terima kasih Moo, kau sudah menjaga putri kita.- Kita mendapatkan seorang cucu sekarang. Aku sudah menjadi seorang Granfa, seharusnya kau juga disini bersama ku, kau akan akan menjadi Grandma yang bahagia..- Terima kasih, sungguh terima kasih." lirihnya sambil terisak.
Di dalam ruangan...
"Mau menggendong putra anda pak?" ujar dr. Farah, setelah bayi mungil itu di bersihkan dan juga di bungkus rapat dengan lampin.
Dengan perasaan bahagia sekaligus berdebar, Zen menghampiri sang dokter untuk melihat putranya untuk pertama kali. Ini adalah pertemuan pertama mereka yang sangat mendebarkan.
Dan, Oh..
Zen kembali di buat jatuh cinta saat melihat bayi mungil itu. Putra nya. Lagi-lagi ia tak bisa menahan laju air mata yang mengalir begitu saja di pipinya Karena perasaan bahagia.
Kebahagiaan menjadi seorang ayah. Zen bahkan tak menghiraukan dokter dan perawat yang tersenyum melihat dirinya yang terus menangis.
Ia sungguh bahagia. Bahagia karena putra kecilnya...
Zen menatap bayi itu dengan perasaan luar biasa. Bayi laki-laki itu memiliki kulit seputih susu, dan juga rambut segelap malam.
__ADS_1
Dah, Oh.. mata nya? Mata siapa yang di warisi putra nya?
Mata berwarna biru itu menatap padanya dengan begitu bersinar. Apa ini bayinya? Tidak kah ia terlihat seperti seorang malaikat kecil? Oh.. God! Zen selalu di buat takjub dengan malaikat kecil yang ada di hadapannya.
Betapa kecil dan ringan nya bayi mungil itu saat berada di dalam pelukan Zen. Sungguh membuatnya merasa begitu bahagia. Perasaan cintanya kembali meluap memenuhi seluruh inderanya.
"Sayang, kau ingin melihat putra kita?" Zen duduk di sebelah Zoya sambil menunjukan bayi mungil mereka pada istrinya. Bayi yang saat ini tengah terdiam dengan begitu tenang.
"Lihatlah dirinya? dia sungguh luar biasa." gumam Zen yang masih tak bisa berhenti kagum atas ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa, yang di percayakan kepada mereka.
"Sungguh luar biasa dan menakjubkan." gumam nya dengan rasa sayang. "Seperti dirimu kak, dia terlihat luar biasa seperti dirimu.." gumam Zoya seraya tersenyum melihat putra kecilnya.
"Ya, dan dia juga akan bersinar seterang dirimu sayang." tambah Zen. "Putra kita."
...❄️❄️...
Setelah semua peralatan di bersihkan, dan Zoya pun sudah di bersihkan, kini saat nya Zen menikmati waktu bersama keluarga kecilnya.
Saat semua perawat dan dokter sudah keluar dari ruangan, Rehan juga sudah di perbolehkan masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Angel...?" Seru Rehan yang berjalan cepat menghampiri putrinya dengan perasaan lega.
"Kau membuat Dad takut sweet heart. Syukurlah.. syukurlah semuanya telah berlalu." gumam Rehan sambil memeluk putrinya yang masih berbaring lemah di atas ranjang.
"Maafkan aku Dad, apa aku begitu membuat Dad cemas?" sahut Zoya, balas memeluk Dady nya.
"Tidak apa-apa sweet heart, Dad hanya berharap kau akan baik-baik saja. Itu sudah cukup.''
"Terima kasih Dad, terima kasih karena selalu ada untuk ku." Keduanya kini terlibat dalam drama kecil yang penuh haru dan juga air mata.
"Dad..kau ingin melihat cucu mu?" sela Zen yang saat ini tengah menggendong bayi mungil yang telah tertidur di pelukannya.
Rehan menghapus air matanya dengan cepat, selain mengkhawatirkan putrinya, ia juga sangat ingin melihat cucu pertamanya.
"Biarkan Dad melihat cucu Dad.. '' kata nya, setelah membersihkan wajahnya yang basah.
Mengapa hari ini semua orang terlalu sering menangis? Apa ini hari tercengeng di dunia? Karena, Ya. Lagi- lagi Rehan juga meneteskan air matanya.
"Sangat mungil, namun terlihat sangat tampan." gumam Rehan penuh kekaguman. "Tunggu sampai Dad melihat matanya.. "sela Zen, dengan senyum berbinar.
"Ada apa dengan matanya kak?" seru Zoya yang juga ikut memperhatikan keduanya.
"Apa Dad harus membangunkan bayi mungil ini sweet heart?" Tanya Rehan dengan jenaka. "Sungguh, meskipun aku sangat ingin tahu, tapi jangan lakukan itu Dad.. " sahut Zoya tersenyum bahagia.
"Mau menggendong nya Dad..?"
"Tentu Son, berikan pada Dad.."
...❄️❄️...
...4 Hari kemudian.....
Zen dan Zoya sedang membereskan semua barang-barang dan juga perlengkapan sang bayi. Hari ini adalah hari pertama mereka kembali kerumah dengan anggota keluarga baru.
Sebelumnya, Zen bahkan sudah mengirim dua mobil yang penuh dengan semua hadiah yang diterima oleh putranya.
Baik dari kerabat dan juga rekan kerja mereka; dari pihak Zoya maupun Dady nya. Semua orang turut berbahagia atas kelahiran putra kecil mereka.
"Kak, bisa ambilkan untuk ku tas yang ada di sana?" ujar Zoya seraya menyusun barang-barang kecil ke dalam tas lain nya.
"Maksud mu yang ini sayang?" Zen menyerahkan tas berwarna biru dengan gambar binatang-binatang lucu kepada istrinya.
"Hmm. Tidak. Jangan berikan padaku, Masukan semua yang ada di atas nakas. Jangan sampai ada yang tertinggal." pinta Zoya.
"Baik, mom..- sahut Zen dengan menirukan suara anak kecil. "Halo sayang. Kau lihat Dad? Dad ada disini, Dad akan bermain bersama mu setelah kita kembali kerumah.. Ya.. ya.. hemm.. lucu nya.."
Zen menimang putra nya seraya terus melakukan apa yang istrinya perintahkan.
Ceklekk..
Pintu kamar itu kembali terbuka, dan Ya. Rehan lah Yang datang. "Dad...?"
"Angel, Son.. dimana cucu kecil Dad..?" tanya Rehan yang langsung menghampiri box tempat bayi mungil itu di baringkan.
"Kenapa Dad harus jauh-jauh datang kemari, kami juga akan segera pulang." sela Zoya, sambil tersenyum melihat wajah bahagia Dady nya.
"Dad ada pertemuan tidak jauh dari sini, jadi Dad sekalian mampir untuk menemui cucu kesayangan Dad." Sahut Rehan, sambil menggendong cucunya.
__ADS_1
"Haii baby.. Earl.. wake up, Grandfa disini Earl.. " Rehan mengelus-elus pipi montok berwarna merah muda yang tengah tertidur itu. "Lihat dirimu Earl, kau pasti terlalu banyak minum susu, pipimu jadi sangat menggemaskan." lagi, Rehan menimang cucu kecilnya.
"Dad.. nama nya Aiden, kenapa Dad selalu memanggilnya Earl..?" protes Zoya, pada Dady nya.
"Suka-suka Dad sayang. Dad lebih suka memanggilnya Earl.. "sahut Rehan, tak ingin memperdulikan protes yang dilontarkan putrinya.
"Bagaimana menurutmu Son? Cocok bukan dengan dirinya?" "Sejujurnya aku lebih suka memanggil putra ku Z'ev Dad.. " sahut Zen juga dengan pendapat yang berbeda.
"Kak....!!" lagi-lagi Zoya menyerukan protesnya. "Ya sayang?" sahut Zen dengan jenaka. Beginilah ketiganya sejak nama bayi mungil itu di tetapkan:
"Z'evier Earl Aiden"
Masing-masing dari mereka menyukai nama panggilan masing-masing, meskipun Zoya selalu bersikeras agar putranya di sebut dengan nama Aiden,
Namun suami dan juga Dad nya selalu memiliki nama kesukaan mereka masing-masing, dan tidak ada yang ingin merubahnya. "Ah, terserahlah.. aku tetap akan memanggil putraku Aiden." kekeh Zoya.
"Dad, akan memanggilnya Earl.." tambah Rehan.
"Z'ev." timpal Zen.
...❄️❄️...
"Welcome Home Z'ev.. " seru Zen saat mobil mereka tiba di teras rumah. "Nah, Aiden sayang... akhirnya kita pulang."
Saat ini, rumah keduanya terlihat sangat ramai. Setelah istrinya melahirkan, Zen mempekerjakan dua asisten rumah tangga, dan seorang baby sitter professional.
Meskipun keduanya ingin merawat putra mereka sendiri, namun Zen dan Zoya tetap membutuhkan pendamping, karena mereka Sama-sama tidak memiliki pengalaman apapun tentang mengurus seorang bayi.
"Ayo sayang, kita masuk." ajak Zen. Rumah itu terlihat cukup semarak dengan beberapa dekorasi celebration untuk menyambut kepulangan mereka kembali kerumah.
"Sayang.. - Ini asisten yang akan membantu mu dirumah, mereka berdua akan meringankan sedikit hobi bersibuk-sibukmu itu, dan ini- Ibu Ranti, seorang Baby sitter Yang akan mendampingi kita saat mengurus Z'ev. " jelas Zen saat memperkenalkan semua asisten baru nya.
"Baiklah, kalian bisa kembali bekerja, terima kasih karena sudah mengurus rumah selama kami dirumah sakit." ujar Zoya tersenyum ramah seperti biasa nya.
"Ayo sayang, kau harus melihat kamar Z'ev.. aku meminta ahli dekorasi untuk merubah beberapa, dan aku tidak yakin apa kau suka dengan itu.. - ajak Zen lagi.
"Kenapa kamar Aiden harus berbeda dengan kamar kita kak, bukan kah..
"Tidak untuk sekarang sayang, aku juga menyiapkan box bayi Z'ev di kamar kita." sela Zen, seraya menuntun Zoya untuk naik ke lantai dua.
Dan benar saja, saat Zoya masuk ke dalam kamarnya, sudah terdapat box bayi yang lucu diletakan di sebelah ranjang mereka.
Zoya meletakan Aiden di dalam Box dengan perlahan, dan membiarkan bayi mungil nya itu tidur dengan nyaman di sana.
Sementara Zen, menyusun semua barang-barang yang mereka bawa dari rumah sakit. "Bagaimana sayang? kau suka?"
"Suka kak.. semua nya terlihat lucu dan cocok untuk Aiden." sahut Zoya. "Istirahat lah sayang..- kau harus banyak beristirahat untuk saat ini, aku akan merapikan semuanya untuk mu." pinta Zen pada istrinya.
"Hmm. Aku akan istirahat nanti kak. Aku ingin melihat kamar Aiden." sahut Zoya. "Baiklah.. kau bisa melihatnya, aku akan menemani Z'ev disini sambil membereskan semua barang-barang ini." balas Zen.
"Terima kasih kak." Kamar Aiden tepat berada dihadapan kamar Zen dan Zoya, dan disebelahnya adalah kamar baby sitter yang baru saja mereka pekerjakan.
Sebelumnya kamar itu memang telah disiapkan, hanya saja belum di dekorasi dengan sempurna, karena menurut Zoya, kamar itu tidak akan buru-buru di tempati, karena bayi mereka baru saja lahir.
Namun ternyata, suaminya telah lebih dahulu merancang nya dengan begitu sempurna. Kamar yang di dominasi dengan warna putih itu terlihat begitu cantik karena telah di isi dengan berbagai macam perlengkapan untuk Aiden.
Ada sofa empuk juga untuk Zoya duduk bersantai selagi memberikan Asi kepada putranya.
Dan Yang lebih membuat Zoya terkesan, ada perpustakaan mini juga di ruangan tersebut; Zen benar-benar memperhatikan kebutuhan dan juga kenyamanan Zoya.
Tidak lupa juga di bagian pojokan ruangan terdapat tumpukan hadiah yang telah di tersusun dengan rapi.
Ah, ada juga beberapa mainan yang dipajang dan sebagian di rakit dengan begitu rapi, layaknya kamar seorang bayi laki-laki.
Semuanya terlihat begitu lucu dan juga menggemaskan. Zoya benar-benar menyukai semuanya.
"Bagaimana, kau suka sayang?" Zen memeluk Zoya dari arah belakang, dan mengeratkan tangan nya di pinggang Zoya.
"Sangat suka kak, semuanya benar-benar indah." puji Zoya. "Baguslah kalau kau suka sayang.
Kita akan menikmati waktu-waktu kita untuk menjadi orang tua."
"Kau benar kak.. kita akan sangat menikmatinya."
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...