
...ENJOY...
.......
.......
.......
"Mau es krim..?"
Zen menghentikan langkah mereka di depan booth es krim. Ini adalah kencan kedua Zen dan Zoya setelah keduanya resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Zoya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, "Hmmm. rasa vanilla sepertinya enak."
"Bukan coklat..?"
"Hmmm. Aku ingin rasa yang lain."
"Baiklah."
Zen membelikan dua scoop es krim dengan rasa vanilla seperti yang Zoya minta.
"Ini milikmu." Zen menyerahkan es krim pada Zoya.
"Hanya untuk ku..?" tanya Zoya yang hanya melihat satu es krim saja di tangan Zen. "Kita bisa memakannya bersama, kalau kekasihku ini mau berbagi."
Zen memberikan es krim nya untuk Zoya. Gadis itu mengambilnya, dan merangkul tangan Zen dengan tangannya yang lain. Zoya menikmati es krimnya, rasa vanilla ternyata tidak seburuk dugaannya.
Selama ini, barulah kali ini Zoya mencicipi rasa lain, selain coklat. Rasa coklat adalah satu-satunya rasa yang selama ini mengingatkan dirinya akan Zen.
Semenjak dulu nya laki-laki itu pergi, yang Zoya tidak ingin lupakan adalah sosok Zen. Namun seiring berjalannya waktu, gambaran Zen semakin memudar dari ingatan Zoya, karena itulah, satu-satunya cara untuk mengikat semua kenangan itu hanyalah rasa coklat. Itulah alasan kenapa Zoya hanya menyukai rasa coklat.
Tapi saat ini, semuanya telah berubah. Zen bukan lagi bayangan ataupun kenangan bagi Zoya. Zen sudah berubah menjadi kenyataan dalam hidupnya.
Zen yang dulu adalah miliknya, dan saat ini tetap menjadi miliknya.
Bukankah cinta itu seperti magic..? Entah kapan dia ada, dan pergi, semuanya terjadi begitu saja.
permainan hati adalah sesuatu yang tak dapat di jelaskan dengan logika.
Semua orang harus menemukan jawabannya sendiri.
Jawaban atas hidup. Jawaban atas realita, dan jawaban atas cinta. Semua harus menemukan alur dan ceritanya masing-masing.
Seperti Zoya yang menemukan arti Zen dalam hidupnya, dan menemukan jawaban atas keraguan perasaannya selama ini.
Jika sang malaikat cinta itu memang ada, akan ia tersenyum saat ini..? Atau,, akan kah ia.....
"Apa kencan kita hanya di isi dengan dua sekop es krim?" Zoya menghentikan langkahnya sambil tersenyum pada Zen.
Saat ini mereka sedang menikmati pemandangan malam di sebuah taman yang cukup ramai didatangi oleh pengunjung. Tak hanya mereka, di sana juga ada banyak pasangan yang mungkin sedang berkencan secara normal layaknya yang mereka lakukan saat ini.
Hah. Senyum itu..? Kenapa harus menunjukan nya disaat seperti ini. "Apa yang kamu inginkan selanjutnya..?" Zen melingkarkan tangannya di pinggang Zoya.
Lagi-lagi Zoya tersenyum sambil mempertimbangkan sesuatu.
"Mau mencoba es krimnya..?" Zoya memakan sedikit es krimnya lalu menempelkan bibir keduanya.
Deg..
__ADS_1
Deg..
Deg..
"You driving me crazy honey.." Zen membalas ciuman Zoya.
Ini adalah kali pertama keduanya melakukan hal ini di depan umum. Katakan lah keduanya memang sedang kasmaran saat ini, tapi begitulah cinta.
Kadang kita memang harus kehilangan akal, untuk menemukan arti yang sesungguhnya dari setiap rasa yang ada.
"I love you."
"I love you too,"
...❄️❄️❄️...
"Apa semua persiapan sudah selesai sayang..?" Julie menghampiri Zoya di kamarnya.
Saat ini Zoya tengah mempersiapkan barang-barangnya untuk keberangkatan nya besok.
Ia harus tinggal di.sana untuk tiga minggu pertama, awal kerjanya.
Meskipun awalnya Julie sempat keberatan dengan keputusan suaminya yang meminta putri mereka untuk melakukan pekerjaan itu, namun akhirnya Julie menghormati keputusan Zoya.
Julie tau putrinya pasti sudah memikirkan semuanya dengan baik. Bagaimanapun ini adalah langkah pertama bagi Julie untuk membiarkan Zoya mengepakan sayapnya sendiri, dan sebagai orang tua, Julie hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi putrinya.
"Ready mom, semuanya sudah siap sekarang." Zoya meletakan koper terakhirnya.
"Mau minum susu coklat hangat..?"
"Hmmm. Mom, sungguh, aku akan baik-baik saja di sana." Zoya sekali lagi menenangkan mommy nya.
Namun inilah saat nya Zoya bertanggung jawab atas keputusannya, dan ia akan buktikan bahwa ia mampu.
"Ya, mommy tau sayang." Julie berusaha tersenyum seperti biasa. "Nom, akan bawakan minuman mu sebentar lagi." Julie berbalik menuju pantry untuk membuatkan segelas susu hangat untuk putrinya.
5 Menit kemudian, Julie sudah kembali ke kamar Zoya membawa segelas susu hangat di tangannya.
"Minum susunya sebelum tidur sayang." Julie menyodorkan gelas susu pada Zoya.
"Thanks mom." Dalam sekali minum, Zoya menghabiskan susunya hingga tandas. "Selesai. Apa mom sudah merasa lebih baik..?" Zoya meletakan gelasnya di atas nakas.
"Hmm. Mom merasa jauh lebih baik." Julie tersenyum hangat. "Jaga dirimu di sana sayang, mom akan merindukanmu. Ingat untuk sarapan, minum susumu. Jangan terlalu lelah, jangan lupa minum semua vitamin mu, mom tidak akan ada di sana, jadi tolong jaga kesehatanmu dengan baik, dan juga..
"Mom, aku akan pulang setelah dua minggu pertama ku, dan aku akan melakukan semua yang mom katakan." Zoya memeluk mommy nya yang sudah tak bisa menahan air mata lagi. Bagaimanapun, ini adalah kali pertama bagi Zoya berjauhan dengan orang tuanya, dan Zoya tau betul apa artinya itu bagi mommy nya. "Mom dan Dad bisa mengunjungi ku di akhir pekan." katanya lagi.
"Hmm. Kamu benar sayang. Maafkan mom yang terlalu berlebihan mencemaskan mu." Julie menghapus air matanya.
"No, mom." Zoya mengambil alih untuk menghapus air mata Julie. "Aku sangat bahagia karena mommy benar-benar mencemaskan aku."
Sekali lagi Julie memeluk putrinya. Seorang wanita muda yang akan selalu menjadi putri kecil bagi Julie.
"Sekarang tidurlah. Istirahatlah lebih cepat." Julie menuntun Zoya ke atas tempat tidurnya. Setelah Zoya berbaring, Julie juga menyelimuti Zoya.
"Tidurlah sayang. Mommy akan membangunkan mu besok, jangan sampai terlambat." Julie mematikan lampu utama di kamar Zoya.
"Hmm. aku akan tidur sekarang mom, terima kasih."
Setelah memberikan kecupan selamat malamnya, Julie meninggalkan kamar Zoya untuk kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Mollie,..?
Zen berdiri di ujung tangga, masih dengan pakaian dan juga tas kerjanya. "Hai sayang. Baru pulang..?" tanya Julie sambil berjalan ke arah Zen.
"Hmm. aku baru saja sampai. Apa Zo'e sudah tidur..?" tanya Zen yang sempat melihat mollie keluar dari kamar Zoya.
"Hmm. Aku menyuruhnya untuk tidur lebih awal untuk penerbangannya besok. "Sudah makan malam, mau mollie buatkan sesuatu?" tanya Julie lagi.
"Tidak usah mollie, aku akan ke kamar ku saja." jawab Zen mulai melangkahkan kakinya.
"Hmm. kamu juga harus segera istirahat."
"Good night mollie."
"Good night sayang."
Setelah masuk ke kamarnya, Zen segera membersihkan diri dan juga mengganti bajunya.
...Tok..Tok.....
"Zo'e, kamu sudah tidur...?"
Zen masuk begitu saja, saat merasakan pintu kamar Zoya tidak terkunci. Lampu kamar kekasihnya itu memang sudah mati, hanya menyisakan lampu tidurnya. Namun Zoya tidak ada di star ranjangnya.
Gadis itu berdiri di sana. Di balkonnya, sambil memeluk dirinya yang terkena hembusan angin malam, hingga membuat rambut dan juga baju tidurnya melayang-layang di udara.
"Memikirkan sesuatu..?" Zen sudah berdiri di belakang Zoya sambil memeluk Zoya menyalurkan rasa hangat dari tubuhnya.
"Hmm. Hanya tidak bisa tidur."
"Ingin ku temani..?"
"Itu jauh lebih baik, dari pada seorang diri." Zoya merapatkan tubuhnya yang terasa dingin pada tubuh Zen, menemukan sumber kehangatannya.
"Apa yang kamu pikirkan sayang..?"
"Mom."
"Mollie...? Kenapa..?"
"Mom terlalu mengkhawatirkan aku kak, aku sedikit tidak tega untuk meninggalkannya."
"Aku akan menjaga mollie disini untuk mu sayang, lagipula ini hanya pekerjaan sementara."
"Aku akan merindukanmu kak.."
"Aku akan lebih merindukanmu disini. Hah. aku pikir kita tidak akan berjauhan lagi, tapi nyatanya." Zen menyandarkan dagunya di bahu Zoya, menghirup pelan wangi tubuh kekasihnya.
"Bukankah ini hanya untuk sementara? kita akan bersama-sama lagi setelah pekerjaan ini." Zoya semakin mengeratkan tangan Zen di tubuhnya.
"Ayo kita tidur."
"Hmm."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1