
...ENJOY...
.......
.......
.......
Merasa senang semakin banyak orang-orang di dalam Villa nya, Zoya meminta Fredy dan Bi Retno untuk menyiapkan kursi dan peralatan makan tambahan untuk Wiliam dan juga sekretarisnya. Lagipula masih ada bagian meja yang kosong di sana. Semakin banyak orang maka akan semakin ramai.
"Maaf nona, perintah tuan tidak ada tamu luar yang boleh berkunjung, dan..
"Tidak apa-apa Fredy, lagi pula William adalah investor perusahaan, yang artinya juga tamu penting, dan sebagai tuan rumah yang baik, apakah kita harus mengusir mereka hanya karena mereka orang luar, seperti kata Dady..?" jelas Zoya. "lagipula maksud Dady orang luar, tentunya bukan William, jadi tenang saja." Zoya tersenyum menenangkan Fredy dan yang lainnya.
"Mau bergabung bersama kami untuk makan malam?" tawar Zoya pada William dan juga sekretarisnya.
"Jika tidak ada yang merasa keberatan---
"Tidak ada yang keberatan Will, lagipula kita mitra kerjakan, jadi kemari lah bergabung bersama kami." ajak Zoya lagi sambil melambaikan tangannya, meminta William untuk segera bergabung dengan mereka di sana. William dengan senang hati untuk bergabung bersama Zoya di meja makan, sementara Jhon masih serial berdiri di tempatnya.
"Pak Jhon, kenapa masih berdiri di sana? ayo bergabung bersama kami!" ajak Zoya lagi.
"Terima kasih untuk kebaikan nona sudah memberikan tawaran, hanya saja saya akan makan nanti, setelahnya, di villa kami." tolaknya halus.
"Kalian di villa juga?" tanya Zoya pada William yang mengambil kursi di depannya. "Ya. Villa kami tidak jauh dari Villa mu." jawab William. Zoya menganggukkan kepalanya paham. Hanya saja ia tak mengira jika William akan memilih Villa di banding Hotel. Zoya kira William akan seperti bos-bos kebanyakan yang mementingkan fasilitas super mewah, secara mereka adalah orang-orang berpenghasilan miliyaran rupiah tiap bulannya.
"Apa jauh dari sini?" tanya Zoya sambil mengunyah makanannya. "Apa?" tanya William juga. "Villa mu." jelas Zoya. William menghentikan suapannya, memandang pada Zoya. "Mau mengunjungi ku?" Cih. "Aku hanya bertanya." elak Zoya. Gadis itu kembali melahap makanan nya tak ingin melanjutkan percakapannya dengan William.
"Villa ku di sebelah." suara William terdengar kembali, ia melirik sesaat ke Zoya. "Sebelah, sebelah mana?" tuntut Zoya, membuat William sedikit tersenyum. "Kita tetangga Zoya, Villa ku tepat berada di sebelah Villa mu." jelas William lagi. Pernyataan William, sontak membuat reaksi tak terduga dari Zoya.
"Wah... benarkah? kau begitu ingin berada di dekatku..?" Zoya menggelengkan kepalanya mengejek pada William.
"Tidak boleh? bukankah tidak ada larangannya? jadi aku memilih untuk dekat, lagipula aku tidak suka kesunyian." William sedikit berbisik pada Zoya.
__ADS_1
"Benarkah? kita sama kalau begitu." balas Zoya dengan cara yang sama, membuat orang-orang yang berada di dekat mereka melirik pada keduanya.
Ada sedikit sekalian percakapan selama makan malam berlangsung, hanya Zoya dan William lah yang dapat dikategorikan bercakap-cakap, meskipun hanya perbincangan random. Sementara yang lainnya, masing-masing dari mereka seperti sedang berhati-hati di depan Zoya. Zoya memahami hal itu, ia sering melihat hal seperti ini dalam drama yang sering mommy nya tonton. Dimana orang-orang seperti dirinya akan di perlakukan berbeda, meskipun ia tak ingin demikian.
Setelah menyelesaikan makan malam.
Zoya sempat mengobrol sebentar dengan Wiliam, sementara Dina lebih memilih untuk kembali ke kamarnya.
Zoya membawakan secangkir Coffe untuk Jhon, yang sebelumnya menolak untuk makan malam bersama Zoya dan yang lainnya.
"Kau sudah melihat lokasi proyek nya?" tanya Zoya pada William, sambil meletakan gelas minuman di depan Jhon.
"Minumlah, anda belum makan apa-apa sejak tadi." kata Zoya ramah pada sekretaris William. "Itu tidak benar nona, saya sudah makan beberapa camilan tadi." elak Jhon merasa segan atas keramahan Zoya padanya. Jhon sedikit gugup melihat William yang sejak tadi memperhatikan perlakuan Zoya pada dirinya.
"Jangan terlalu sungkan padaku, lagipula kita bukan di kantor." tekan Zoya yang merasa sikap sekretaris William terlalu formal padanya meskipun saat ini tidak sedang bekerja.
"Ba, baik nona Zoya.." jawab Jhon dengan hati-hati sambil melirik pada tuan mudanya. "Begitu lebih baik, lagipula kita akan semakin akrab, benarkan?" Zoya tersenyum pada keduanya. "Jadi gimana, sudah melihatnya?" Zoya berbalik pada William. Laki-laki itu memangku kaki kanan di atas kaki lainnya, lalu menjalin kedua tangannya di atas pangkuan tersebut.
"perusahan mu sudah mengirimkan desain dan juga video pembangunan nya padaku, aku sudah melihatnya dari sana, tapi untuk melihatnya secara langsung, ini yang pertama." jelas William.
"Hmm. Begitukah? terima kasih sudah menyampaikannya. Mau pergi bersama?"
UHUUKK..
"Ehhmm.. maafkan aku nona, tuan." Jhon hampir saja tersedak minumannya. Bagaimana bisa tuannya bersikap terlalu gamblang seperti itu, pada orang seperti nona Zoya, ditambah lagi nona itu sudah memiliki tunangan, bukankah hal seperti tadi merupakan jalan menikung yang sering digunakan.
Ahhh.. tidak ! tidak ! tuannya mungkin hanya bersikap sopan saja.
"Tidak perlu, aku bisa pergi bersama Dina, kita bertemu di sana saja." tolak Zoya sopan.
"Tuan, apa tidak sebaiknya kita..-" Jhon melirik sebentar pada William, berharap tuannya itu memahami maksudnya.
"Zoya, sebaiknya kami kembali ke Villa." William bangun dari tempat duduknya dengan sedikit enggan. Ia masih ingin berbincang-bincang dengan Zoya. "Terima kasih untuk makan malam nya, dan sampai bertemu besok pagi." William tersenyum sambil mengedipkan matanya pada Zoya.
__ADS_1
Zoya membalas William sama ramahnya.
"Hmm. Baiklah. Sampai bertemu lagi." kata Zoya sambil mengantarkan keduanya sampai di depan pintu.
''Sampai besok." William melambaikan satu tangan nya para Zoya. Sementara tangan lainnya membawa koper. William dan Jhon, berjalan melintasi pekarangan Villa yang membatasi bangunan yang William dan Zoya tempati saat ini.
"Aww.. hati-hatilah!" seru Zoya melihat Jhon tersandung sesuatu.
"Ya, nona.. terima kasih." balas Jhon sambil membersihkan pakaiannya. William hanya tertawa melihat Jhon. Jatuhnya Jhon seperti tontonan yang begitu menyenangkan bagi dirinya. Puas tertawa, William menggelengkan kepalanya sambil menahan tawa, kemudian melangkah pergi lebih dulu meninggalkan Jhon yang menyusul di belakangnya.
Zoya pun sekilas menikmati adegan tersebut, ia cukup terhibur dengan tingkah segan bercampur canggung orang-orang disekitarnya.
Ini pengalaman baru baginya, berada disini berbeda dengan saat ia berada di tengah-tengah mahasiswanya. Tempat ini, suasana ini, semuanya begitu baru bagi Zoya. Meskipun begitu Zoya bisa mendapatkan perasaan aman dan nyaman seperti dirumah. Itu salah satu hal yang baik bagi Zoya.
Zoya, kembali masuk ke dalam Villanya. Melihat Bi Retno yang sudah selesai membersihkan dapur, sementara Fredy tak pernah berada jauh dari Zoya.
"Istirahatlah lebih awal.-- kata Zoya pada pengawalnya. "Aku hanya akan kembali ke kamarku dan istirahat, jadi kau juga bisa istirahat." perintah Zoya.
"Baik nona. Selamat beristirahat." Fredy menundukkan kepala.
"Hmmm. selamat malam."
Zoya menaiki tangga menuju kamarnya, setelah menutup pintu kamar, ia segera mencari letak ponselnya.
"Ah, di sana kau rupanya." Zoya mengambil ponselnya lalu mengecek apakah ada pesan ataupun panggilan dari kekasihnya. Baru sebentar, tapi Zoya rasa ia sudah merindukan kekasihnya itu.
"Tidak ada notifikasi apapun..?" Zoya mengerutkan keningnya. "Huh. Apa aku yang harus menghubunginya lebih dulu..? atau dia memang menungguku untuk mengaku lebih dulu..?" Zoya meletakan kembali ponselnya, lalu merebahkan badannya menatap langit-langit kamarnya.
Huh..
"Kak Zen, aku merindukanmu."
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...