
...ENJOY...
.......
.......
.......
Setelah sesi mata kuliah yang pertama berakhir, Ken dan Lova harus kembali ke kelas mereka masing-masing. Karena kedua nya menempuh jurusan yang berbeda, maka mereka juga harus masuk ke kelas yang berbeda.
''Kamu ada kelas apa setelah ini?" tanya Ken, saat keduanya sudah keluar dari ruang kelas sebelumnya.
''Sekarang? Jadwal ku sedang kosong.'' Jawab Lova. ''Kelas terakhir hari ini, jam satu siang nanti. Bagaimana dengan mu?''
''Aku harus masuk kelas bisnis di sesi kedua. L.. Bisa kau menunggu ku di cafetaria? atau kau cari saja Leon, dia akan menemanimu sampai kelas ku selesai.'' pinta Ken, dengan wajah cemas nya. Entah kenapa laki-laki itu selalu saja cemas saat Lova sendirian.
''Kenapa?- Maksudku, kenapa aku harus mencari Leon? bagaimana kalau aku menunggu di cafetaria saja.'' tawar Lova.
''Hmm. Baiklah kalau itu mau mu. Begitu kelas ku selesai aku akan segera menyusul..''
''Baiklah. Selamat belajar tuan rajin.'' Lova melambaikan tangannya, saat keduanya harus melewati lorong yang berbeda.
''Hubungi aku jika ada yang menganggumu L..!'' Seru Ken.
Ken sangat perhatian pada Lova. Ia merasa bahwa pemuda itu sangat baik sejak pertama kali Ken menolong nya. Meskipun pertemuan pertama mereka sangat tak terduga, bagi Lova memiliki teman seperti Ken adalah sebuah keberuntungan.
Seperti janjinya pada Ken, Lova menuju cafetaria untuk menunggu di sana. Sebelum itu, ia membeli sebotol minuman dan juga snack. Lova akan mengerjakan tugas kuliah nya sementara menunggu kelas Ken berakhir.
Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja Jeremi sudah duduk di hadapan Lova. Laki-laki itu tersenyum dan bertingkah malu seperti biasanya.
''Hai, sudah lama aku tidak melihat mu.'' Sapa Jeremi, memulai percakapan.
Lova yang tidak menyukai keberadaan Jeremi hanya diam tak bergeming. Ia memilih mengacuhkan Jeremi dan kembali menyibukkan diri dengan tugas di depan nya.
''Kau masih berkencan dengan Ken?'' tanya Jeremi lagi, saat melihat sikap diam Lova.
''Kau mencintai nya?''
''Apa orang tuanya lebih kaya,-
''Stop it Jeremi!'' bentak Lova, membuat semua orang yang berada di sana memperhatikan mereka berdua.
''Tolong berhentilah mengganggu ku! Aku tidak ingin berhubungan dengan mu atau pun saudari mu itu. Sudah cukup selama ini Tania selalu menjadikan ku bahan lelucon nya di dalam kelas. Aku tak ingin terlibat apapun dengan kalian lagi!'' ujar Lova dengan suara yang lebih rendah. Ia lagi-lagi harus menahan rasa geram nya akibat ulah Jeremi.
''Lova, dengar.. aku tak ada hubungan nya dengan Tania. Maaf atas sikap adik ku padamu jika dia menyakiti perasaan mu. Aku hanya,-
''Jangan lakukan ini Jeremi, please. Aku hanya ingin kuliah dan segera lulus dari tempat ini. Tolong jangan mempersulit semuanya. Tak ada apa-apa dengan diriku, aku bukan gadis yang tepat untuk mu jika itu yang kau pikirkan. Jadi please, berhenti menganggu ku.'' pinta Lova dengan tulus.
''Apa kau begitu menyukai nya?"
Jeremi yang lebih dulu jatuh cinta pada Lova merasa sangat tak adil. Bagaimana bisa gadis yang ia sukai dengan waktu yang cukup lama, malah menjadi kekasih teman nya sendiri dalam hitungan hari?.
''Kau sangat menyukai Ken?" tanya Jeremi lagi.
''What? apa hubungan semua ini dengan Ken? Jangan melibatkan orang lain dalam hal ini Jer!- Tolong tinggalkan aku, sekarang. Aku tidak ingin setelah ini adikmu membuat masalah baru dengan ku!'' pinta Lova sekali lagi. Ia sudah terlalu lelah dengan sikap konyol Tania.
''Aku hanya ingin kita berteman Lova, meskipun kau..-
''Sudahlah Jer.. dengan semua yang telah terjadi, aku rasa kita tak mungkin bisa berteman. Aku hanya seorang gadis pendatang yang miskin, yang lebih cocok di jadikan bahan lelucon bagi anak-anak seperti kalian, jadi tolong jangan libatkan aku dalam pertemanan yang kau maksud. Aku tidak bisa.''
''Lalu Ken? apa dia berbeda? bukan kah dia juga sama dengan ku?'' tuntut Jeremi lagi.
''Apa maksudmu? kenapa kau selalu membawa-bawa nama Ken?''
''Bukan kah kau yang mengatakan nya sendiri? Kau bilang kau tidak akan berteman dengan anak-anak seperti ku? lalu Ken? bukan kah dia juga anak orang kaya? lalu apa yang membuat Ken berbeda? apa yang Ken berikan pada mu yang tidak bisa ku berikan? hah?- Katakan pada ku Lova!''
''Kau benar-benar keterlaluan Jer! Ken adalah pemuda yang baik. Dia teman ku, lalu apa masalahnya dengan mu? Kau pikir Ken sama seperti mu? kau bercanda! Kalian sangat berbeda!''
Lova mengumpulkan semua buku-bukunya, ia tak berniat untuk duduk lebih lama disana, sementara semua pasang mata sedang memperhatikan perdebatan di antara mereka. Lova tak berniat menjadi bahan lelucon Tania setelah ini.
Sudah cukup dengan semua omong kosong yang Tania katakan selama ini. Gadis itu selalu saja mengatakan bahwa ia adalah gadis penggoda yang selalu menggoda Jeremi, bahkan tak hanya itu, Tania juga mengatakan bahwa Lova hanya menargetkan lak-laki kaya sebagai kekasih. Sungguh lucu! Apakah hanya seperti itu kepala dari anak-anak seperti mereka?
''Tidak perlu!'' Cegah Jeremi saat Lova hendak beranjak dari tempatnya. ''Biar aku yang pergi.- Kau disini saja. Maafkan aku.'' ucap Jeremi.
__ADS_1
Setelah Jeremi pergi dari hadapan nya, Lova kembali menjatuhkan dirinya, ia kembali duduk di kursi.
Sebenarnya Lova sudah memaafkan kesalahan Jeremi. Hanya saja Lova benar-benar tidak berniat untuk memiliki hubungan apapun dengan laki-laki itu. Tidak sekarang atau pun di masa depan.
❄️❄️❄️
Tok..Tok..
Suara ketukan di pintu ruang kerja Zoya kembali berbunyi, meskipun ia tidak menutup pintu, tapi semua staf nya sangat menjaga privasi Zoya. Karena itu, tidak ada satupun karyawan yang masuk tanpa ijin Zoya, sekalipun itu adalah Cassian.
''Nona, ada berkas yang harus anda tanda tangani.'' ujar Shreya muncul dari balik pintu.
''Masuklah Shreya. Bawakan kemari.'' perintah Zoya. ''O, ya bisa tolong ambilkan berkas dengan map merah yang ada di atas meja di sisi kirimu..?.'' pinta Zoya menunjuk meja yang berada di pojok ruangannya aku jauh dari tempat Shreya berdiri saat ini.
''Baik nona, akan saya ambilkan.''
Saat sedang memilih berkas yang di minta atasannya, tanpa sengaja Shreya melihat sebuah pigura yang terletak di atas meja. Ada beberapa gambar di sana. Mulai dari photo atasan nya saat menikah, dan juga beberapa photo saat kecil, dan juga photo keluarga yang sangat cukup membuat Shreya merasa iri.
Sebuah photo keluarga yang sangat harmonis dan juga bahagia. Dan yang menarik perhatian Shreya adalah pigura yang hanya berisikan nona Zoya, dan juga *Ken..? *
Shreya meneliti lebih dekat, dan benar saja. Shreya tak akan salah. Laki-laki di dalam pigura itu adalah Ken, Ken Wijaya, teman sekelas nya dulu.
''Nona, boleh aku bertanya?" ujar Shreya memberanikan dirinya, Ia sungguh merasa penasaran dengan apa yang ia lihat.
''Hmm. Tanya saja.. '' jawab Zoya, ramah seperti biasa.
''Apakah yang ada di photo ini saudara laki-laki anda?" ujar Shreya menunjuk pigura yang terpasang di atas meja.
''Ah.. bocah itu?- Ya.. adik ku.'' jawab Zoya dengan enteng. ''Apakah tampan? Seperti nya adik ku juga seumuran dengan mu tahun ini.'' jelas nya, sambil tersenyum mengingat bagaimana kaku nya wajah Ken bila sedang berada di luar rumah.
''Apakah nama nya Ken..? Ken samudera Wijaya?" tanya Shreya lagi.
''Kau kenal adik ku?"
''Ahh.. ternyata benar. Dunia ini ternyata benar-benar sempit.'' gumam Shreya, yang tak menyangka jika wanita yang ada di hadapan nya saat ini adalah saudari dari teman nya.
''Apa kau salah satu teman Ken, Shreya?"
*Teman? Aku harap begitu. Sudah lama aku tak bicara dengan mereka. Aku tak yakin apakah Ken masih menganggapku sebagai seorang teman. *
''Ah- ya nona. Maafkan aku. Ini berkas nya.'' ujar Shreya buru-buru mendatangi Zoya.
''Apa ada yang salah? kau bukan salah satu korban Ken' kan?" Zoya memicingkan matanya, menyelidik.
''Korban?''
''Maksudku, apakah adik ku pernah mematahkan hatimu dan semacamnya..? seperti itu.''
''Ah, tidak nona. Kami hanya teman sekelas saat di High school, dan itu hanya sebentar, setelah aku pindah kami tak pernah bicara lagi.'' jawab Shreya dengan sebenarnya.
''Kalian teman? Waw, kebetulan sekali. Apakah kau ingin bicara pada nya? Kau bisa menghubungi Ken jika mau, aku bisa memberikan nomor ponselnya. Saat ini Ken sedang melanjutkan studi di London.'' cerita Zoya dengan antusias. Membuat Shreya selalu merasa nyaman saat bicara dengan Zoya, ia merasa seperti memiliki seorang kakak perempuan.
Zoya juga cukup menyukai Shreya. Gadis muda itu sangat pintar dan juga kompeten dalam bekerja.
''Ah, benar. Yayasan kita juga mengirimkan seorang murid ke universitas yang sama dengan Ken. Adik iparnya nya Cassian. Gadis itu juga seumuran dengan mu Shreya. Harus nya aku menanyakan ini sebelumnya saat menghubungi Ken, mungkin saja mereka berteman.''
Shreya sangat terkesan dengan sikap dan juga kata-kata Zoya. Atasan nya itu sungguh sangat menakjubkan.
''Anda pasti sangat bangga memiliki adik seperti Ken, dia anak yang baik dan juga perhatian, hanya saja sedikit arogan.'' jujur shreya. Begitulah kesan yang di tinggalkan Ken padanya.
''Kau benar jika berpikir seperti itu.- setuju Zoya. ''Bocah itu sangat mirip dengan Dady. Kalau Kau ingin bertemu dengan mereka, kau bisa ikut aku saat mengunjungi Lova di London.'' tawar Zoya pada Shreya.
''Ah- tidak usah nona. Itu akan sangat merepotkan. Mungkin Ken juga sudah lupa pada ku. Jadi tidak perlu.'' tolak Shreya. Ia merasa tak perlu lagi mengingat-ingat hubungan pertemanan yang sudah berlalu. Baginya Ken hanyalah bagian dari kenangan masa muda nya. Dan itu adalah cerita lama.
*Janji itu? Shreya hanya akan menganggap itu sebagai janji manis seorang bocah. Shreya tak akan menganggap serius janji Ken pada nya dulu.. *
''Begitu kah? tapi aku tidak keberatan untuk mengajakmu kesana.- nah ini sudah selesai, kau bisa kembali bekerja.'' Zoya mengembalikan berkas yang sudah ia tanda tangani.
''Baik nona, terima kasih.''
''Katakan pada ku jika kau ingin ikut kesana, aku akan berangkat minggu depan.'' ujar Zoya lagi.
''Baik nona, aku akan memikirkan nya terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah Shreya keluar dari ruangan Zoya, sekali lagi pintu itu kembali di ketuk.
''Sayang.. kau sudah selesai?" ternyata Zen yang muncul dari balik pintu. ''Aku? kenapa kak? masuklah!''
''Kau lupa? kita harus menjemput mom dan Dad di airport sayang.'' peringat Zen pada istrinya.
''Oh My.. aku lupa kak, tunggu sebentar.. setelah membereskan semua ini kita akan langsung berangkat.''
Lima menit kemudian, Keduanya pergi menuju airport, sekarang adalah jadwal kunjungan para orang tua.
''Bisa kita mampir di supermarket setelah ini kak, aku lupa mengisi kulkas. Mom pasti akan sangat cerewet jika mengetahui kulkas kita kosong.''
''Baiklah nyonya.. sesuai permintaan mu.''
''O'ya kak, aku punya kejutan untuk mu, mom, and Dady.''
''Kejutan..? apa..?" tanya Zen penasaran dengan kejutan istrinya itu. Biasanya jika Zoya mengatakan kata -Kejutan-, maka itu benar-benar sebuah kejutan.
''Rahasia. Aku akan memberitahunya nanti.'' jawab Zoya.
Mengapa wanita selalu melakukan hal seperti ini? jika memang rahasia, mengapa harus di memancing di awal? toh jika ditanya, bukan nya memberi jawaban, yang ada mereka akan semakin membuat rasa ingin tahu semakin besar. Apa tujuan nya memang ingin membuat para lelaki pusing memikirkan berbagai kemungkinan dari kata-kata yang mereka ucap kan? sungguh mengherankan! pikir Zen.
''Kau sudah membaca email mu sayang?" Zen mengalihkan pembicaraan sebelumnya.
''Kenapa kak, apa ada hal yang penting?"
''Calista mengirimkan sebuah undangan.''
''Undangan..?''
''Pernikahan.''
'' Kalau begitu, apa kita akan pulang ke indonesia?"
''Tidak. Pernikahan nya bukan di Indonesia.''
''Lalu..?''
''London.''
''Waw. Benarkah? Kapan?"
''Kapan? apa kau tidak penasaran siapa mempelai pria nya?" tanya Zen pada Zoya.
Zoya mengerutkan kening nya. ''Haruskah? siapa mempelai pria nya kak? laki-laki beruntung yang mendapatkan sekretars cantik mu itu.'' tanya Zoya.
''Jordan.''
''What..?- Suara Zoya hampir saja membuat Zen menginjak pedal rem mobilnya. ''Jordan? Jordan yang kau maksud adalah Jordan yang sama dengan yang ku pikirkan kak?"
Zoya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
''Tentu saja. Kau pikir Jordan yang mana. Aku sudah menebak nya saat terakhir melihat mereka. Dan ternyata benar. Bagaimana, kau mau datang? acaranya dua minggu lagi. Bukan kah kau juga memiliki kunjungan ke London sayang, kenapa tidak di satukan saja.'' saran Zen pada istrinya.
''Hmm. Kau benar kak, waahh.. ini sungguh kabar yang membahagiakan. Aku akan mengajak Ken. Ken pasti akan sangat senang, dulu mereka sangat dekat.''
''Ya, kau bisa memberitahu Ken tentang rencana kita. Kita juga harus mengunjungi Lova bukan? semoga saja gadis itu baik-baik saja di sana. Cassian bilang Lova melakukan pekerjaan part time.''
''Benar kah? aku tidak tahu itu. Cassian tidak mengatakan nya padaku.''
''Lova memang gadis ceria yang sangat gigih dan juga pekerja keras . Aku ingat saat pertama bertemu dengan nya, dia menjual sebuah gelang cinta abadi pada ku, katanya dia membuat nya sendiri dan juga mendoakan gelang tersebut.'' cerita Zen saat mengingat Lova ketika gadis itu remaja.
''Benarkah? Kita ternyata memiliki pengalaman yang sama kak. Kau tau, Lova juga bersikeras memberikan pada ku sebuah gelang harapan satu hari sebelum ia naik pesawat ke London. Katanya, apapun yang aku inginkan akan menjadi nyata jika aku menyimpan gelang buatannya di dalam satu botol kaca. Dan kau tau kak, aku bahkan mempercayai kata-kata manis gedis itu.''
Keduanya bercerita dengan senang saat menyebutkan orang-orang yang mereka kasihi dan cerita mereka.
Beginilah keseharian Zen dan Zoya. Setiap hari keduanya akan menghabiskan waktu untuk bertukar cerita dan tak jarang juga keduanya mengakhiri cerita dengan sebuah perdebatan yang berujung manis.
Kehidupan yang biasa saja, namun terasa sangat sempurna. Dan akan lebih sempurna saat....
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...