
...ENJOY...
.......
.......
.......
Setelah selesai dengan pekerjaan part time di kedai makanan milik Mateo, Lova harus segera bergegas menuju tempat bekerja lainnya.
Sejak tadi ponsel nya terus saja berdering. Pemilik kedai minuman terus-terusan menghubungi dan mengatakan bahwa Lova harus segera tiba sebelum pukul sembilan malam.
Perihal nya; bos Lova mengatakan bahwa kedai mereka akan menjamu seluruh karyawan sebuah perusahaan. Dan kedai sudah di booking full untuk mengadakan pesta penyambutan bagi seorang CEO muda.
Yang membuat Lova heran, mengapa seorang CEO harus mengadakan pesta penyambutan di sebuah kedai minuman kelas menengah? bukan kah biasanya mereka akan melakukan nya di hotel-hotel berbintang nan mewah, ataupun di sebuah restoran berbintang lima, atau mungkin juga club malam elite yang ada d jantung kota.
Lalu mengapa harus disebuah kedai minuman biasa? apakah hanya seorang CEO dari perusahaan biasa? Apapun itu, Lova berharap agar tidak terlalu melelahkan. Sebab sepanjang hari ini, ia merasa bahwa pekerjaannya sudah terlalu banyak.
''Kau akan pergi sekarang?"
Ken mencegat di depan Lova. Entah sudah hari ke berapa, Ken malas untuk menghitung nya; yang pasti setiap malam Ken selalu menemani Lova untuk berjalan hingga sampai ketempat kerja gadis itu.
Awal nya Lova selalu merasa canggung dengan keberadaan Ken, namun kini ia sudah cukup terbiasa melihat laki-laki itu yang selalu saja tiba-tiba muncul di hadapannya.
''Hmm. Aku akan pergi sekarang. Mereka sudah menunggu ku. Aku bahkan tak sempat makan apapun karena panggilan ini.'' keluh Lova pada Ken.
''Biar ku bawakan tas mu.''
Ken merebut tas ransel kecil dari tangan Lova, tas yang selalu Lova bawa saat bekerja.
''Terima kasih.- Bukan kah besok kau ada mata kuliah pagi? kau bisa langsung pulang setelah mengantar ku. Jangan pulang terlambat, atau Leon akan selalu mengeluh tentang mu padaku. Aku merasa bersalah membuatmu selalu menemaniku seperti ini.'' sesal Lova, merasa sungkan atas perlakuan Ken.
''Itu bukan hanya aku-'' jawab ken, menyunggingkan bibirnya tersenyum pada Lova.
''Maksudmu?"
Ken menyentuh pelan puncak kepala Lova, dan menekan nya sesaat; ''Apa di kepalamu hanya memikirkan tentang pekerjaan dan menghasilkan uang? kau juga mengambil mata kuliah yang sama besok, dan kau ingat, kau tidak di ijinkan untuk terlambat!'' Ujar Ken mengingatkan Lova.
''Ah- si dosen killer! Aku hampir saja lupa.'' gadis itu menepuk kepala nya juga. Membuat Ken kembali tersenyum.
''Berjalan lah lebih dulu, aku ingin ke swalayan sebentar.'' ujar Ken pada Lova, lalu berlari menyeberangi jalan.
Lova pun hanya menuruti kata-kata Ken dengan patuh. Ia berjalan dengan kecepatan sedang sambil menunggu Ken keluar dari swalayan. Sementara itu, ponselnya kembali berdering.
''Ya, aku sedang dalam perjalanan menuju toko. Aku akan tiba dalam sepuluh menit.'' ujar nya, kemudian menutup panggilan.
Lova melihat kearah swalayan, tempat dimana Ken menghilang, namun laki-laki itu belum keluar juga dari sana, sedangkan Lova harus secepat nya tiba di kedai, ia kembali berpikir seraya terus berjalan.
''Ken, kenapa kau lama sekali...?"
Lova mencoba untuk menghubungi ponsel Ken, namun ponselnya tidak di angkat. Lova terus melihat kearah belakang, namun Ken belum juga terlihat,
''Ken, maafkan aku. Aku harus segera tiba di kedai. Terima kasih untuk malam ini.''
Lova mengirimkan pesan teks pada Ken. Lova tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
...Di dalam swalayan.....
Ken membelikan beberapa roti dan juga minuman untuk Lova. Sebelumnya, gadis itu mengatakan jika ia belum sempat makan apapun. Ken hanya khawatir jika sampai terjadi apa-apa pada Lova, apalagi gadis itu terlalu memporsir dirinya dalam bekerja.
Saat Ken sudah keluar dari swalayan, Ia tidak menemukan keberadaan Lova di sekitar. Lalu Ken kembali berlari, namun hingga tiba di depan toko, gadis itu juga tidak bisa Ken susul. Sepertinya ia memang terlalu terlambat.
''Semoga saja Lova tidak kelaparan saat bekerja.''
Di dalam kedai yang sudah cukup ramai di penuhi oleh para tamu, Lova juga mengerjakan tugas nya dengan sangat baik. Meskipun saat ini perutnya juga terasa cukup perih. Di kedai sebelumnya, Lova sangat sibuk, hingga lupa untuk mengisi perutnya.
Sedangkan di dalam kedai minuman, tidak ada makanan lezat untuk di makan, selain hanya berbagai macam snack yang selalu di sediakan sebagai pendamping minuman.
Ditengah acara yang sedang berlangsung, seorang pria bertubuh tidak terlalu tinggi berdiri mengangkat gelas di tangan nya mengajak rekan-rekan nya untuk bersulang, membuat acara bertambah ramai.
Lova hanya memperhatikan punggung laki-laki itu dari kejauhan.
''Acara nya meriah sekali. Hebat sekali jika bisa bergabung di perusahaan yang sama seperti mereka." gumam Lova sambil terus mengganti botol-botol bir yang kosong dari atas meja para tamu.
''Hei- Kau disini?'' William tiba-tiba berdiri di belakang Lova. ''Hmm. Ya. Bekerja.-- maksud ku aku sedang bekerja.'' jawab Lova yang merasa sedikit kaget karena sapaan William.
__ADS_1
''Bisa ku lihat. Kau gadis yang sangat sibuk.'' jawab William, kembali tersenyum.
''Anda bagian dari rombongan ini tuan?" -- ''William.'' ujar William segera memperbaiki panggilan Lova.
''Ah.. ya, kau.. maksudku, William.''
''Hmm. kau benar. Aku ikut dengan rombongan ini. Ternyata Kau bekerja disini juga, aku kira hanya di kedai sebelumnya.''
''Ya, begitulah. O'ya maafkan aku will. aku harus kembali bekerja.'' pamit Lova, lalu meninggalkan William yang masih berdiri ditempatnya.
''Hei, Lova-- ujar Willi memanggil gadis itu hingga berbalik ke arahnya. ''Aku akan mengantarmu pulang.''
Lova tak menghiraukan perkataan William, namun untuk menjaga kesopanan nya, ia menganggukkan kepala.
Waktu menunjukan pukul satu malam, yang artinya jam kerja Lova telah berakhir. Setelah mengganti pakaian kerja nya, Lova kembali disibukkan dengan mencari dimana ia meletakan tas ransel nya.
''oh, God, Lova. Bagaimana kau bisa begitu ceroboh!'' omel nya pada diri sendiri.
Setelah mencari di semua tempat, Lova juga tidak menemukan dimana terakhir kali ia meninggalkan tas nya. Akhirnya ia memilih untuk segera pulang. Ia mengambil jalan melalui pintu samping. Pintu yang tidak di ketahui orang lain, selain pemilik dan juga karyawan kedai lainnya.
''Ahh.. akhirnya kau keluar juga.'' seru Ken, tak jauh dari pintu.
Betapa terkejutnya Lova saat melihat Ken berada di sana. Di malam hari yang terbilang masih cukup dingin untuk seseorang menunggu diluar di jam-jam seperti ini.
''Ken apa yang kau..?"
Lova segera menghampiri Ken, dan memegang tangan laki-laki itu yang saat ini terasa begitu dingin. ''Kenapa kau menunggu ku disini? disini sangat dingin. Lihat dirimu, kau ingin mati beku disini?" Lova menggosok-gosok tangan Ken, dan meniup nya, agar menjadi lebih hangat, Lova hampir saja menangis saat melihat tubuh Ken bergetar karena kedinginan.
Ken merasa senang melihat Lova mencemaskan dirinya. ''Ahh.. harus kah aku melakukannya setiap hari?''
''Kenapa tersenyum? apa kau benar-benar ingin mati beku?" kesal Lova. Betapa konyol nya pemuda yang ada di depan nya saat ini.
''Kau bisa memeluk ku jika kau mau, aku benar-benar kedinginan.'' ujar Ken, menggoda Lova.
Dan waw, sangat mengejutkan bagi Ken. Gadis itu benar-benar memeluknya, bahkan dengan sangat-sangat erat.
''Jangan melakukan hal seperti ini lagi Ken. Kalau terjadi apa-apa dengan mu, kau bisa saja membeku lalu sakit. Kalau sampai terjadi, bagaimana aku harus membayar biaya rumah sakit mu. Itu pasti sangat mahal.'' Keluh Lova.
''Apa itu sebuah perhatian? atau..?"
''Baiklah, baiklah.. maafkan aku. Aku hanya ingin mengembalikan ini.'' Ken menyerahkan tas milik Lova.
''Ini ada padamu? pantas saja aku tidak menemukan nya dimana-mana. Apa kau menunggu ku hanya karena ini?'' tanya Lova lagi, dengan wajah menggemaskan.
''Yups. Bukan kah di dalam nya berisi semua harta karun mu nona?''
''Jadi hanya karena isi nya kau menunggu ku sampai hampir mati membeku?"
''Hei- kenapa kau selalu terlihat terkejut seperti itu. Kau terlihat sangat menggemaskan!'' Ken mencubit pipi Lova.
''Sepertinya otak mu memang bermasalah Ken, sebaiknya kita segera ke dokter!'' Lova menarik tangan Ken. ''Tapi biaya nya kau bayar sendiri- uang ku tidak akan cukup membayar biaya dokter, aku akan membayar obat mu saja.'' ujar gadis itu dengan sungguh-sungguh.
''Hei, pelan-pelan jalannya. Aku baik-baik saja,- cegah Ken memperlambat jalan Lova. ''Seperti ini saja.'' ujar Ken sambil menggandeng tangan Lova.
''O'ya kita berhenti dulu di sana, kau belum makan apa-apa kan?''
Lova menganggukkan kepalanya.
''Dasar gadis ceroboh!''
''Aww.. itu sakit!'' ujar Lova mengaduh, karena baru saja ken menjitak pelan kepalanya.
''Maafkan aku.- apa sesakit itu?"
Lova berbalik melakukan hal yang sama pada Ken.
''Aww.. kau membalasku?"
''Rasakan, kau pantas mendapatkan nya!'' seru Lova, lalu berlari.
''Lova! berhenti disana!'' peringat Ken, namun gadis itu tak menghiraukan kata-kata Ken.
''Gadis ini... ahh.. menggemaskan!''
Setelah selesai membeli Burger dan juga Cola, Ken dan Lova menikmati makanan mereka sambil berjalan pulang. ''Terimakasih untuk makanannya Ken, ini sangat enak.'' ujar Lova sambil menikmati makanan di tangannya- O, ya kau pulang naik taksi saja. Aku akan membayar nya untuk mu.''
__ADS_1
''Tidak usah. Simpan saja uang mu. Kau juga membutuhkannya.'' tolak Ken.
''Lalu bagaimana dengan mu? bukan kah terlalu jauh jika kau pulang jalan kaki dari sini? Aku tidak suka kau menolak ku. Pokoknya kau harus pulang naik taksi. Kau bisa sakit!'' ujar Lova memaksa.
''Baiklah nona pekerja keras. Aku akan naik taksi, tapi simpan saja uang mu. Aku bisa membayar taksi ku, terima kasih. Kau juga segeralah naik, dan istirahat, besok kita harus masuk pagi, bukan?"
''Ah-- Ya ya.. kau benar. Kalau begitu aku akan menunggu disini sampai kau naik taksi.'' ujar Lova.
Ternyata keduanya tidak perlu menunggu lama, taksi yang di tunggu pun kini sudah berhenti di depan mereka.
''Sekarang masuklah. Aku akan pergi sekarang.'' pinta Ken.
''Hmm. Hati-hati di jalan.'' Lova melambaikan tangannya.
''Aku akan menelpon mu begitu aku tiba di apartemen, bye.''
''Baiklah.. selamat malam.''
Pukul 2.30 dini hari, Ken baru sampai di apartemen. Semua lampu bahkan sudah di padamkan sepertinya, Leon juga sudah tidur.
Saat sudah berada di dalam kemar, Ken segera mengisi baterai ponselnya yang sempat kosong, sementara itu ia mengganti baju nya dengan pakaian yang lebih hangat.
Setelah ponselnya cukup terisi, Ken langsung menghubungi Lova, namun gadis itu tak mengangkat ponselnya. Seperti nya sudah tertidur.
''Aku sudah tiba di rumah. Selamat tidur, sweet dream L..''
Ke esokan harinya...
Pukul delapan pagi, Ken sudah menunggu Lova di depan apartemen gadis itu. Ia sengaja menjemput Lova agar tidak terlambat masuk kelas. Gadis itu sedikit punya kebiasaan terlambat dan terus-terusan tersesat saat mencari ruang yang selalu berpindah-pindah.
''Hai selamat pagi..''
Sapa Ken saat melihat Lova keluar dari gang apartemen nya.
''Kau disini? pagi sekali tuan rajin.'' Lova balik menyapa Ken.
''Kau baik-baik saja? tidak demam?"
''Wah, apa aku harus melakukan nya setiap malam? aku suka saat kau cemas begini.'' jawab Ken.
''Maka aku akan membunuh mu!''
''Kau kejam sekali L.. ''
...Setiba nya di kampus.....
''Yooo! Kalian sudah datang?- Selamat pagi Lova.'' sapa Leon saat bertemu keduanya.
''Selamat pagi Leon..- kau ada kelas pagi juga?" Sapa Lova.
''Yups, begitulah. O, ya, Apa tuan muda ini sudah mengatakan padamu- Aku- suka-kamu?'' ujar Leon berbisik menggunakan bahasa indonesia.
''Apa maksudnya itu?'' tanya Lova.
''Jangan mengganggu Lova Leon!'' Ken mendorong Leon agar menjauh dari Lova.
''Santai sob.. gue cuma mau ngajarin Lova doang.. gak usah cemburu gitu kali..'' ejek Leon pada sahabatnya.
Lova yang tak mengerti apa yang sedang keduanya bicarakan hanya bisa tersenyum.
''Jangan dengarkan dia L... sebaiknya kita masuk kelas sekarang.'' ujar Ken menggandeng tangan Lova.
''Leon.. kami ke kelas duluan..'' pamit Lova, sambil mengikuti Ken.
''Ya ya.. pergi saja, semoga bahagia.. '' seru Leon sambil tersenyum melihat keduanya.
Semenjak bertemu dengan Lova, Leon merasa bahwa Ken sudah banyak berubah. Sahabat nya itu tidak lagi sekaku sebelumnya. Ken bahkan lebih sering berekspresi, dan itu membuat Leon merasa cukup senang melihat sosok Ken yang seperti sekarang.
''Aku harap kau memang bahagia saat ini.. Kau juga yang jauh di sana, aku merindukan mu.''
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1