My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
WELCOME HOME


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


...05.00 WIB. Airport. Jakarta....


Setelah menempuh rute penerbangan yang terbilang melelahkan, akhirnya Zen tiba juga di tanah air.


Penerbangan yang di tempuh kurang lebih 16 jam, dan juga beberapa kali transit, Zen tiba di Indonesia pada dini hari. Disinilah ia sekarang. Kota yang ia tinggalkan kurang lebih dari sembilan tahun lamanya.


kota yang sangat ia rindukan. Edit. Bukan kotanya, tapi ada seseorang yang sangat ia rindukan di kota ini.


Ada keluarga hangat yang selalu ia sayangi menetap disini. Keluarga yang dulu ia tinggalkan dengan berat hati.


Tapi zen tidak pernah menyesali kepergian nya. Ia pergi untuk membangun masa depan nya. Zen pergi demi memantaskan diri untuk bersama dengan gadis kecil yang sejak dulu sudah ia cintai.


Sekarang ia sudah memiliki semuanya. Nama yang di kenal sebagai seorang pebisnis muda. Pekerjaan yang tidak perlu di pertanyakan lagi, dan masa depan yang cerah yang dapat ia berikan sebagai jaminan bagi gadis luar biasa yang selama ini selalu menguasai bagian terdalam hatinya.


Setelah mengambil koper, Zen pergi menuju mobil yang sudah menunggu diri nya. Saat ini tidak mungkin baginya untuk langsung pulang kerumah mollie.


Selain karena waktu yang masih sangat pagi, Zen juga tidak mengabarkan apa-apa tentang kedatangannya pada keluarganya disini.


Karena itulah saat ini ia akan pergi ke kondominium miliknya yang baru saja ia beli beberapa hari yang lalu, dan lokasinya tidak jauh dari Universitas tempat Zoya bekerja.


Zen sudah menyiapkan segala sesuatu nya dengan baik. Sekarang bukan saat yang tepat untuk menemui keluarga Wijaya. Yang harus ia lakukan terlebih dahulu adalah mengurus perusahaan Didiie nya. Poin satu.


Setelah sampai di pintu keluar, Zen sudah di tunggu oleh supir pribadi keluarga Mahendra. Keluarga dari alm.Ibu kandungnya.


Opa yang sudah terbilang lama tidak ia jumpai. Ia sedikit merindukan opa nya itu sekarang. Mungkin agenda pertama yang harus ia lakukan saat ini adalah sarapan pagi bersama Opa Mahendra.


...❄️❄️...


07.00 WIB


Zen sudah tiba di kawasan kelapa gading. Tempat dimana Opa nya tinggal saat ini.

__ADS_1


"Selamat datang tuan." sapa seorang pelayan rumah tangga yang membukakan pintu bagi Zen. Pelayan itu adalah pelayan baru yang masih belum mengenal siapa Zen.


Namun karena Zen datang bersama supir pribadi keluarga, maka sang pelayan tidak bertanya apa-apa. "Selamat pagi. Apa Opa sudah sudah bangun..?" tanya Zen.


"Tuan besar belum bangun tuan. Mari, saya akan bawakan koper tuan muda ke kamar."


"Tidak, terima kasih. Saya akan kembali setelah bertemu Opa. saya hanya ingin sarapan bersama dengan Opa, saya akan menunggunya diruang keluarga saja." kata Zen lagi.


"Baik tuan. Ingin saya siapkan minuman..?"


"Emm.. buatkan saya secangkir susu coklat hangat." pinta Zen kemudian pergi menuju ruang keluarga sambil membawa kopernya.


Seraya menunggu opa nya bangun untuk sarapan, Zen mengecek semua file data-data perusahaan yang di kirim oleh sekretaris Didiie nya.


Bagaimanapun ia akan memulai pekerjaan nya besok, jadi ia tidak punya waktu untuk bersantai-santai.


Setelah selesai membaca semua laporan yang dikirim sebelumnya, Zen kembali melihat jam tangan nya. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 pagi.


Zen sekali lagi bangun dari tempatnya mencari pelayan rumah tangga yang menjaga Opa nya.


"Apa Opa masih belum bangun..?" tanya Zen sekali lagi setelah menjumpai pelayan itu.


"Tuan besar sudah bangun, saat ini sedang berada di kamarnya. sayang akan menyampaikan pada tuan tentang kedatangan anda."


Tok..Tok..


"masuklah.."


Suara khas dari opa nya terdengar sampai keluar pintu. Zen membuka pintu perlahan.


Terlihat seorang pria tua renta duduk menghadap balkon dengan rambut yang hampir semua berwarna putih perak dan wajah yang di penuhi guratan khas menyisakan jejak ketampanan pada masa nya.


"Opa..?" Mahendra berbalik perlahan ke arah suara yang memanggilnya. "Zen...?"


Mahendra berdiri menatap dalam penuh haru dan rindu pada cucu semata wayang nya itu. cucu yang selama ini sangat ia rindukan. Satu-satunya peninggalan berharga dari putri kesayangan nya.


"Tidak Opa. Tetap disitu. Aku yang akan ke sana." Zen menghampiri Opa nya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Cucuku. Cucu Opa..." Mahendra memeluk Zen dengan erat. "Ya opa, ini aku,, Zen. Maafkan aku opa, maafkan Zen yang baru datang sekarang.."


Zen membalas pelukan Opa nya dengan cara yang sama. Setelah keduanya selesai berpelukan, Zen dan Mahendra duduk di sofa yang menghadap balkon tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana kabar opa saat ini..?" tanya Zen sambil mengelus pelan tangan keriput milik Mahendra.


"Beginilah keadaan Opa Zen. Opa sudah sangat tua. Bagaimana dengan dirimu, kenapa baru sekarang mengunjungi Opa..? apa kau tau betapa Opa merindukan dirimu." Mahendra menggenggam tangan cucu semata wayang nya.


"Aku baik-baik saja Opa. Saat ini aku akan tinggal di jakarta untuk waktu yang tidak bisa di tentukan. Aku akan mengurus perusahaan Didiie di sini. Mulai sekarang Aku akan sering-sering menemani Opa." ucap Zen bersemangat.


"Baguslah jika demikian, disini Opa selalu sendiri, Opa akan sangat bahagia jika kamu mau menemani Opa Zen." Mahendra tersenyum lega. "Baiklah Opa.- O, ya apa Opa sudah sarapan..?"


Mahendra menggelengkan kepalanya pelan, "Belum nak."


"Baguslah kalau begitu, karena aku ingin pagi pertama ku di sini sarapan bersama Opa ku tercinta." Kata Zen sambil tersenyum hangat.


Mahendra sangat senang mendengar ucapan manis cucunya itu. Cucunya saat ini sudah menjadi pria dewasa yang sangat tampan. Ia mewarisi setengah gen milik Sarah mommy nya, dan setengah lagi ia dapatkan dari gen Aldi.


Zen menuntun Opanya berjalan perlahan menuruni tangga menuju ruang makan. Dimeja makan sudah disiapkan oleh pelayan berbagai macam menu untuk sarapan. "Duduklah Opa.." Zen menarik kursi untuk Opa nya. Setelah Opa Mahendra duduk, Zen juga mengambil posisi duduk di sebelah nya.


Keduanya pun menghabiskan sarapan sambil bercerita tentang banyak hal. Mulai tentang Zen saat berada di U.K, saat ia berada di universitas, bahkan saat pertama kali ia memulai karier nya sampai ia dapat mendirikan perusahaan nya sendiri.


Zen juga menceritakan, jika ia pernah beberapa kali mengunjungi makam mommy nya saat ia berada di amerika beberapa bulan yang lalu sebelum ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Mahendra sangat antusias mendengarkan cerita hidup cucu semata wayang nya itu.


Tidak terasa waktu yang mereka berdua habiskan terbilang cukup lama. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 waktu setempat.


"Opa,, aku harus pergi sekarang. Besok adalah hari pertama aku bekerja di perusahaan Didiie. Aku harus mempersiapkan semuanya dengan baik. " pamit zen pada Opa nya.


"Kenapa tidak tinggal bersama Opa saja disini Zen.." pinta Mahendra.


Zen tersenyum hangat pada Opa nya. "Ingin nya sih begitu, tapi Opa tau sendiri jarak antara tempat tinggal Opa dan perusahaan Didiie cukup jauh, ditambah lagi dengan kepadatan ibu kota. Bisa Opa bayangkan dimana aku menghabiskan waktu ku..?"


"Di jalan." jawab Mahendra terkekeh melihat pada Zen. "Ya Opa benar. Aku akan menghabiskan semua waktu ku hanya untuk perjalanan, jika demikian maka aku tidak dapat memaksimalkan pekerjaanku.


Apalagi saat ini perusahaan Didiie sedang mengalami kemunduran, jadi aku tidak bisa menganggap pekerjaan ini mudah, aku harus melakukannya dengan sangat ekstra"


Alasan yang sangat masuk akal Zen berikan pada Opa nya. Sesama pengusaha, tentu saja Mahendra sangat tau betapa berharganya waktu.


"Baiklah kalau begitu, tapi berjanjilah kau akan sering mengunjungi Opa." Pinta Mahendra lagi. "Baiklah Opa. aku akan melakukannya." Janji Zen.


Setelah berpamitan dengan Opa, Zen pun memutuskan untuk kembali ke kondominium milik nya. Setelah ini yang akan ia lakukan adalah melihat Zo'e nya.


Zen tersenyum senang membayangkan pertemuan nya kembali dengan Zo'e. Aku sudah sangat merindukan mu gadis kecil.


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2