My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
SIAPA.....?


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


"Apa Dad suka photonya?'' Zen membolak- balik berkas di atas mejanya, sambil menempelkan ponsel di telinga. Ia sedang menerima panggilan dari calon ayah mertuanya, Dady Rehan. Setelah beberapa menit sebelumnya ia juga menghubungi keluarga nya yang saat ini ada di U.K. Mereka membicarakan topik yang sama, yaitu photo prewed yang Zen dan Zoya lakukan sebelumnya di Bali.


Kemarin malam, Davis sudah mengirimkan semua file nya pada Zen. Karena itulah pagi tadi ia membagikan kebahagiaannya dengan mengirimkan photo-photo tersebut lewat email kepada orang orang yang ia sayangi, dan seperti inilah, pertama Didie nya yang memberikan pujian, dan mengucapkan selamat lebih dulu. Zen juga kurang paham apa arti dari ucapan selamat itu, hanya saja Zen merasa senang dapat membagikan apa yang ia rasakan.


"Semua gambar yang kamu kirimkan sangat indah, Son.'' suara berat dan serak Rehan terdengar menyerukan kekagumannya. Rehan merasakan kebahagiaan yang sama, sekaligus ia terharu melihat putri kecilnya saat ini sudah mengenakan gaun pengantin, dan sebentar lagi akan menjalani kehidupan nya sendiri sebagai seorang istri. Sambil memandang layar digitalnya, Zen dan Rehan masih melanjutkan obrolan mereka.


''Aku juga sudah mengirimkan nya pada Mollie Dad'' suara bahagia Zen dapat di tangkap oleh Rehan. ''Benarkah? aku yakin mollie akan sangat menyukai photo-photo ini, ahh.. rasanya Dady ingin memeluk angel saat ini, dady sangat merindukannya.'' Rehan menghela nafas sambil memijit pelan pangkal hidung nya. Zen dapat mengerti apa yang dirasakan oleh Dady Rehan, terlebih lagi Zoya adalah anak kesayangannya.


''Baiklah Dad, aku harus menutup panggilan ini, masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan.'' Zen menyudahi panggilannya.


Zen, dan Dady Rehan sama-sama harus kembali fokus pada pekerjaan, bagaimana pun mereka adalah seorang pengusaha, dan bekerja adalah hal utama yang harus di lakukan selama berada di kantor.


Zen menyimpan ponselnya lalu kembali mengurusi semua pekerjaan yang seharusnya sudah ia selesaikan beberapa hari yang lalu.


...❄️❄️❄️...


Jordan membereskan mejanya, sebelum meninggalkan kampus. Ini adalah hari terakhir Jordan mengajar di kampus. Ia akan melanjutkan studi nya dan mengejar mimpinya. Saat ini, ia sangat ingin berbagi cerita bersama Zoya, hanya saja Jordan tau gadis itu pasti sangat sibuk sekarang. Sayang sekali.


Berbicara tentang kekasih Jordan yang sempat ia ceritakan, hubungan mereka saat ini sudah berakhir. Hubungan yang hanya bertahan seumur jagung. Pelajaran bagi Jordan, tidak semua gadis muda, dan dewasa Zoya dalam berpikir dan bertindak.


Entahlah, kenapa saat itu Jordan bisa jatuh cinta pada Rika, ex nya. Awalnya wanita itu sangat menarik, karena itulah Jordan menjadi penasaran dan berusaha mendapatkan nya, setelah cukup dengan perjuangan tarik-ulur, akhirnya Jordan mendapatkan wanita yang ia inginkan.

__ADS_1


Satu minggu pertama berpacaran, semuanya baik-baik saja, tapi setelahnya, entah dimana atau apa yang salah dalam hubungan itu, wanita nya selalu bersikap berlebihan dalam segala hal, dan juga terlalu bersikap bossy dalam setiap yang Jordan lakukan.


Awalnya Jordan menerima itu, mungkin wanita nya hanya ingin menjadi lebih dekat pada nya dengan melakukan hal itu. Namun yang membuat Jordan ragu akan hubungan nya adalah, saat kekasihnya mulai mengatur semua pertemanan, hubungan, dan juga apa saja yang harus Jordan lakukan, menurut Jordan wanita itu sudah melewati batas privasi Jordan sebagai seorang pacar.


Karena itulah Jordan lebih dulu mengakhiri hubungan tidak sehat itu, dan satu lagi, Jordan sedikit tak nyaman dengan sikap berani wanita nya dalam menggoda Jordan. Hal yang cukup mengejutkan Jordan, mengingat usia kekasihnya yang terbilang masih muda. Tak cocok dengan dirinya.


Hingga akhirnya, beberapa rumor tersebar di kampus akibat dari kata putus yang Jordan ucapkan, mulai dari rumor biasa sampai rumor yang melanggar norma. Karena itulah sebelum memutuskan untuk berhenti mengajar, Jordan harus menghadapi sidang etika, karena ia sudah menjalin hubungan dengan mahasiswinya. Meskipun semuanya baik-baik saja setelahnya, Jordan bersyukur karena ia sudah mengakhiri hubungan percintaan sesaat itu.


''Mr.Jordan, selamat melanjutkan studi, semoga sukses untuk karier anda, dan berhati- hatilah dengan wanita muda.'' salah satu dosen menasehati Jordan.


''Hmm. Terima kasih, aku akan sangat mengingat nasehat berharga anda.'' Jordan tersenyum. ia sudah selesai dengan semua barang-barang nya. Tak banyak orang yang dapat ia jumpai untuk berpamitan, pasalnya saat ini sedang memasuki jam pelajaran berikutnya, dan rekan-rekan dosen nya sedang berada di kelas masing-masing.


Setelah meninggalkan kampus, Jordan memilih untuk berhenti di cafe favorit nya dan Zoya. Tempat ini adalah tempat terakhir yang ingin ia datangi sebelum meninggalkan ibu kota. Suasana tenang yang selalu Jordan sukai, memberinya perasaan yang lebih baik. Jordan harus mempertahankan feel seperti ini untuk tetap bertahan.


"Jordan..?" suara Calista menyentak Jordan dari kenyamanan yang melingkupinya. ''Oh hei, kau sendiri?" Jordan mempersilahkan Calista untuk bergabung di mejanya. ''Ya, kau tidak mengajar?'' suara tenang Calista sangat nyaman untuk di dengar.


''Ya, seperti itulah, Zen adalah bos terbaik yang memberikan cukup banyak waktu untuk dapat menikmati waktu isirahat.'' jawab Calista dengan sebenarnya. "hmm. sangat bijaksana." Jordan tak ingin membahas topik itu.


Keduanya terlibat obrolan santai yang menyenangkan. Sampai sosok yang begitu Calista kenal muncul tak jauh dari penglihatannya.


''Itukah tunangan pak Zen?" suara Calista terdengar sedikit berbisik namun dapat di tangkap Jordan. ''Zen..?" Jordan membalik badannya untuk melihat apa yang Calista lihat.


''Heii, sembunyikan dirimu!'' Jordan menarik tangan Calista untuk sedikit menyembunyikan diri di balik pepohonan dekorasi ruangan tersebut, hingga terhalang dari arah Zen dan wanita yang bersama nya.


''Kenapa kita harus sembunyi?'' tanya Calista heran dengan tingkah Jordan, seakan mereka telah melakukan kesalahan.


''Entahlah. Kau kenal wanita itu..?'' Jordan mengamati Zen dari tempat keduanya bersembunyi. ''Entahlah, mungkin tunangan nya.'' Calista juga mengedarkan pandangannya. ''Apa? tunangan, wanita itu?'' Jordan mengerutkan keningnya.


"Kenapa, apa ada yang salah, Zen adalah atasan ku, jadi mana ku tau tentang urusan pribadinya. Apa kita bisa kembali ke meja kita?" Calista menatap sesaat pada Jordan lalu kembali ke meja sebelumnya.

__ADS_1


Entahlah kenapa Jordan harus melakukan ini, mungkin karena ia peduli pada Zoya. Untuk saat ini, Jordan hanya perlu memperhatikan dan diam. Mungkin saja itu adalah rekan kerja Zen, atau saudari, atau seseorang yang laki-laki itu kenal, atau.. Sial. Jordan harus mengendalikan pikiran nya. Ini bukan urusannya, tapi tetap saja ia tak bisa bersikap acuh.


Calista merasa ada yang aneh dari sikap Jordan, ''Kau tau sesuatu?" Calista menyentak Jordan. ''Entahlah, tapi ku rasa wanita itu bukan tunangan bos mu.'' jawabnya sekali lagi melirik kebelakang, ke arah Zen dan teman wanita nya.


''Bukan, benarkah?" Calista terlihat berpikir untuk mencerna maksud Jordan. ''Kau tau tunangan Zen siapa? Oh.. aku lupa kau berteman dengan adiknya, nona Zoya benarkan, jadi apa kita bersikap sebagai seorang detektif sekarang, karena aku yakin kita akan gagal. sikap mu terlalu mencurigakan!" kesal Calista, mengingat sebelumnya ia berharap tau sesuatu.


Dan benar saja, baru saja Calista menyelesaikan bicaranya, Zen sudah menoleh ke arah mereka, seketika membuat Calista menutup wajahnya dengan buku menu berakting ingin memesan sesuatu, begitupun dengan Jordan yang langsung membalikan pandangannya.


''Sudah ku katakan kau terlalu mencurigakan.'' kecam Calista. Ini benar-benar akan menjadi canggung saat atasan nya menangkap basah dirinya yang sedang melakukan hal seperti ini, mengawasi seorang bos.


Setelah hampir ketahuan memata-matai Zen, Calista dan Jordan memutuskan untuk bersikap biasa. Meskipun sebenarnya tak yakin dengan apa yang mereka lakukan, dan kenapa mereka harus melakukan itu, toh hal tersebut tak ada hubungan nya dengan mereka, dan jelas sangat salah jika mereka ikut campur untuk masalah seperti ini.


''Kenapa kau sendiri, biasa nya kau bersama nona Zoya?" tanya Calista mengalihkan topik. ''Zoya sedang ada pekerjaan di luar kota.'' jawab Jordan singkat. ''Apa kau yakin tak pernah melihat wanita itu sebelumnya?'' Jordan kembali ke topik yang ingin Calista hindari. Sangat tak sopan membicarakan atasan di belakang seperti ini.


''Seingat ku wanita itu pernah sekali datang ke kantor dengan wajah yang menurutku aneh, dan tak lama kemudian keluar bersama pak Zen, itu sudah cukup lama, seingat ku. Kenapa kau sangat tertarik dengan urusan ini, ini bukan urusan kita!'' peringat Calista lagi pada Jordan.


''Ya kau benar. Ini bukan urusan kita, hanya saja..'' Jordan mengurungkan kata-kata yang ingin keluar dari mulutnya. Biarlah ia membicarakan ini langsung pada Zoya, agar tak menjadi bahan gosip lainnya, terlebih lagi sepertinya, hubungan Zoya dan Zen tak di ketahui banyak orang. Mungkin belum.


''Hanya saja apa?" tatapan menyelidik mengarah pada Jordan..''Bukan apa-apa lanjutkan makan siang mu.''


Jordan hanya menyimpan nya sendiri, ia kembali mengingat malam itu, malam ketika dimana ia pernah melihat wanita yang bersama Zen. Wanita berbakat yang berwajah sembab. Ya wanita itu. Wanita yang sama. Yang saat ini masuk ke dalam mobil Zen.


...Apa hubungan mereka ?...


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2