My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
MY LITTLE SECRET


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


Shreya yang mendapatkan pertanyaan tak terduga dari Leon dibuat tak bisa berkata-kata. Ia sungguh tak ingin membicarakan hubungan nya dengan Damian. Hal yang benar-benar tak ingin dan tak boleh ia ceritakan pada siapapun.


Karena hubungan nya inilah awalnya Shreya menolak untuk bersekolah ditempat yang sama dengan Damian. Shreya tak ingin membuat Damian malu dengan keberadaann nya. Namun ia juga tak bisa menolak saat Damian memohon pada nya agar ia mau bersekolah di yayasan milik Damian tersebut.


Ya, selain berperan sebagai guru olah raga. Damian adalah pemilik sekolah tersebut. Tempat yang sama dengan tempat Shreya menuntut ilmu saat ini.


"Apaan sih maksud lo? gue gak ngerti!'' elak Shreya, tak ingin membahas hal tersebut, dan berharap Leon tak akan membahasnya lebih lanjut. ''Tapi gue liat,-"


Melihat wajah Shreya berubah merah padam, Leon pun mengurungkan niatnya untuk bertanya. Meskipun ia memang ingin tahu, tapi ia tak akan membuat Shreya malu. Mungkin saja, Shreya memang tak ingin membahasnya, apalagi saat ini ada Ken di sana. Leon akan menanyakan nya lagi saat mereka hanya berdua saja.


''Gue ada tanding basket ntar sore, lo mau nonton gue? kasih dukungan gitu'' tawar Leon mengalihkan topik. ''Males ah, panas!'' tolak Shreya yang memang tak suka berada di bawah terik matahari. ''Ya elah, sekali doang. Siapa tau aja dengan adanya lo disana, gue menang.'' bujuk Leon lagi, setengah memohon.


''Lo pikir gue jimat keberuntungan!''


"Ya bisa ajakan. Lo tu bisa bikin semangat. Liat muka jutek lo aja gue semangat..'' guyon Leon, membuat Ken mendengus geli. Bisa-bisanya Leon mengatakan hal seperti itu setelah patah hati.


"Bodo! ogah gue. Kalau lo emang jago ya lo pasti menang!'' tolak Shreya untuk kesekian kalinya.


''Lo kenapa sih Shre.. perasaan lo nolak gue mulu.. segitunya banget lo kesel ama gue." ucap Leon merasa kecewa dengan semua penolakan yang bertubi-tubi terjadi pada dirinya. ''Ya gue gak suka panas. Lagian gue gak tau dimana serunya nontonin basket.'' jelas Shreya lagi.


"Kalau gak panas berarti lo mau kan?'' wajah Leon seketika berubah dengan senyuman yang tak bisa Shreya artikan.


Shreya yang kurang paham dengan kata-kata Leon hanya bisa terdiam. ''Lo juga sob, temenin Shreya tuh nonton gue tanding sama sekolah sebelah.'' perintahnya pada Ken, membuat Ken mengerutkan kening..Kenapa ia harus mengikuti perkataan temannya itu? jelas-jelas Ken tak ingin terlibat. Tapi jika ia tidak pergi, maka Shreya harus berada di sana seorang diri, dan berdua saja dengan Leon. Jadi apa yang harus Ken lakukan? apa ini artinya ia juga harus pergi?


Sepulang sekolah, Leon yang sudah mengganti pakaian nya dengan pakaian tim basket sekolah mereka, menghampiri Shreya dan juga Ken yang sudah menunggu di lobi lantai satu gedung tersebut.


''Woii.. sorry lama ya..?'' katanya, sudah kembali bertingkah konyol.


"Naik mobil gue aja ya..?" tawar Leon yang memang sudah membawa mobil pribadi diusianya yang masih terbilang sangat muda. ''Lo punya sim?" tanya Shreya yang memicingkan mata seakan tak setuju. ''Tenang aja, aman kok." Yakinnya langsung mendorong Shreya agar berjalan lebih dulu di depannya. Membuat Ken sekali lagi mendengus tak suka.


Kali ini, pertandingan tersebut di adakan didalam aula sekolah tim lawan. Di sana sudah hadir Mr.Damian selaku guru olah raga mereka, dan juga sekelompok gadis berpom-pom dan cukup banyak teman dari sekolah yang berperan sebagai pendukung sehingga membuat aula tersebut bertambah ramai.


''Hai, kalian sudah datang semuanya?" sapa Mr.Damian yang melihat kedatangan Ken, Leon, dan juga Shreya di sana. "Tim bisa bersiap-siap di sana," tunjuk Mr.Damian pada Leon. ''Gue duluan ya, jangan lupa kasih semangat gue.'' kata nya pada Shreya, lalu berlari menuju anggota lainnya.


''Kalian bisa duduk disini.'' kata Mr.Damian pada Ken dan Shreya, membuat keduanya sama-sama mengangguk patuh. Setelahnya Mr. Damian meninggalkan mereka untuk bergabung bersama tim basket yang akan bertanding.


"Lo tunggu disini, gue keluar bentar.'' kata Ken, sesaat sebelum pertandingan di mulai. Shreya yang tak tertarik pada pertandingan tersebut memilih untuk mengikuti Ken, ia juga membawa tas mereka berdua.


''Ken tungguin gue.'' serunya membuat Ken berbalik.

__ADS_1


''Gue gak kenal yang lain, gue juga gak suka disana. Gue ikut lo. Ini tas lo, berat tau!" jelas Shreya membuat Ken menyunggingkan senyum sesaat sebelum wajahnya kembali berubah datar.


Sebelumnya Ken hanya ingin keluar membeli minuman dan juga beberapa camilan untuk mereka, oleh karena itulah ia meminta Shreya menunggu. Tapi karena gadis itu telah mengikutinya, tak ada alasan baginya untuk kembali lagi kesana. Masa bodoh dengan Leon dan pertandingannya, toh Ken juga sama tak suka nya seperti Shreya.


"Mau pergi ketempat lain?" tawar Ken yang sejujurnya tak tau ingin membawa Shreya kemana.


"Perpus?" usul Shreya, membuat Ken mengangguk. Itu adalah pilihan yang sangat ia sukai. Shreya dan juga buku-buku? satu kombinasi baru yang membuatnya bersemangat.


"Apa kita boleh pergi kesana? kita kan bukan siswa disekolah ini.'' pikir Shreya lagi, alhasil membuat tangannya kembali di tarik oleh Ken, namun kali ini dengan cara yang berbeda.


Shreya tak lagi memberontak, dan pegangan Ken bukan lagi di pergelangan nya, melainkan tepat membungkus tangannya yang mungil, menimbulkan sensasi hangat. Perlakuan lembut Ken membuat pipi Shreya kembali merona, gadis itu malu.


Setelah membelikan minuman untuk mereka berdua, Ken membawa Shreya menuju perpustakaan.


"Kau suka?" tanya Ken tiba-tiba.


"Apa..?" jawab Shreya dengan polosnya, - "maksudnya lo?"


Entah kenapa sisi polos Shreya yang seperti ini dengan begitu mudahnya membuat senyuman lolos begitu saja dari wajah Ken. ''Maksud gue minumannya!" jelas Ken lagi, sukses membuat Shreya semakin salah tingkah.


''Suka.'' Jawabnya, kemudian berjalan cepat meninggalkan Ken.


"Lo mau kemana?" susul Ken di belakang Shreya.


"Perpus!" seru gadis itu tampa mau berbalik. Membuat Ken harus berlari untuk menghentikan Shreya.


''Perpusnya lewat sana.'' Tunjuk Ken, dan sekali lagi Shreya menjadi semakin malu disertai gugup. Gadis itu memalingkan wajahnya dengan cepat, lalu berbalik dengan cepat seakan ingin menghindari Ken.


Ia malu tentu saja. Ken membuat Shreya berkali-kali merasa konyol.


Lebih baik bagi Shreya saat Ken bersikap menyebalkan. Setidaknya Shreya hanya akan meluapkan emosi sesaat, dari pada seperti saat ini.


Membuat jantung Shreya seakan tidak berada di tempat yang seharusnya.


Sesampainya di depan perpustakaan, Ken meminta Shreya untuk menyerahkan gelas minumannya, dan gadis itu menurut tampa protes sedikitpun.


Setelah masuk dan mendaftarkan diri, mereka pergi ke sisi yang berbeda.


Shreya yang merasa konyol, sesegera mungkin menetralkan perasaannya. "Tenanglah Shreya! Apa kata Damian kalau dia tau lo kaya gini?" gumamnya seraya menepuk-nepuk kedua pipinya yang semakin menimbulkan warna merah merona.


Ken adalah laki-laki menyebalkan sekaligus laki-laki sedingin es pertama yang Shreya temui. Tidak ada yang bisa merubah fakta itu.


Shreya pastilah mengalami  kebodohan sesaat. Ya.. pasti itu. Wajar saja jika kedekatan secara tiba-tiba membuat kita menjadi salah tingkah, dan itu normal bagi gadis seusianya. Benar, hanya itu.


Shreya meyakinkan dirinya.


"Sudah menemukan buku mu?" tanya Ken yang secara tiba-tiba muncul di sebelah Shreya, membuat gadis itu memekik, kaget.

__ADS_1


"Sssttt.. lo mau kita di usir dari sini?" tegur Ken, menutup mulut Shreya dengan telapak tangan nya.


Kali ini bukan hanya Shreya, jantung Ken bahkan berdegup cepat dengan kedekatan yang secara tiba-tiba itu.


"Sorry.'' ucap Ken seketika membuat jarak di antara mereka. ''Gue duduk di sana, kalau lo nyari gue.'' kata nya lalu pergi dengan perasaan asing yang berdesir, dan itu membuatnya merasa tak nyaman.


''Tenang Shreya.. tenang.. ! ini hanya ujian..'' sekali lagi Shreya menepuk pipinya dengan lebih keras, agar akal sehatnya kembali normal. Setelah cukup tenang, Shreya pun menghampiri meja yang sebelumnya Ken tunjuk. Kini keduanya duduk berhadapan. Ken dengan buku bacaan, sedangkan Shreya dengan buku dongeng nya.


Melihat apa yang gadis itu pilih sebagai bacaan, Ken hanya menggeleng dengan senyum simpul sepintas lalu. Tidak hanya orang nya, tapi buku bacaan nya pun sangat menggemaskan. pikir Ken.


Cukup lama mereka terdiam, sampai ponsel Shreya bergetar di atas meja, membuat gadis itu segera menjawab panggilannya.


"Ya, Hallo?" jawabnya dengan suara berbisik.


"Di perpus. Oke, tungguin bentar." ucapnya lalu menutup panggilan tersebut.


Ken hanya mendengarkan dalam diam, sambil terus memperhatikan buku yang ada di depannya. Buku tersebut hanyalah alasan, bahkan sejak awal Ken tak benar-benar fokus membaca buku yang adalah kegemaran nya itu. Ia hanya duduk untuk menetralkan perasaan nya akibat kedekatan tiba-tiba antara dirinya dan Shreya.


"Ken, gue harus balik sekarang. Thanks buat minumannya.'' pamit Shreya, namun Ken tak beraksi. Ia hanya menatap pada Shreya tampa bicara sepatah katapun. Melihat hal tersebut, Shreya juga semakin bingung, hingga ia memutuskan untuk meninggalkan Ken sendiri.


"Barengan aja. Gue juga mau balik.'' ucap Ken, membuat Shreya menghentikan langkahnya.


"Gak bisa!,- jawab Shreya spontan. "Maksud nya gue,-"


Shreya tak bisa membiarkan Ken pergi keluar bersama dirinya dan melihat Damian. Ia tak ingin membuat Ken juga mempertanyakan tentang hubungan nya dengan Damian.


"Cuma sampai lobi." jawab Ken datar, lalu beranjak lebih dulu meninggalkan Shreya yang tak bisa berkata-kata di tempatnya.


"Gimana nih? keras kepala banget sih tuh orang!" gumam Shreya yang tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti Ken. Semoga saja, Damian menunggunya di dalam mobil agar tidak menimbulkan masalah. Doa Shreya.


Saat keduanya melewati Aula, suara riuh dari penonton masih terdengar begitu heboh yang berarti pertandingan masih berlangsung. Shreya semakin kesal, mengapa Damian memintanya kembali saat pertandingan belum selesai padahal dirinya adalah pendamping tim tersebut.


Sesampainya di lobi, seperti kata-katanya, Ken meninggalkan Shreya seorang diri di sana. Ken masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu nya di depan sekolah tersebut, sementara Shreya masih berdiri mengecek ponselnya dan menghubungi Damian.


"Gue di lobi." ketusnya. Lalu menutup ponsel.


Tak lama kemudian, pesan masuk mengatakan bahwa Damian menunggunya di dalam mobil.


Saat Shreya ingin berpamitan dengan Ken, ia sudah sendirian di sana. Tak menemukan keberadaan Ken yang sudah menghilang secara tiba-tiba, Shreya pun langsung mencari keberadaan mobil Damian.


Meskipun kesal, setidaknya ia bisa segera pulang kerumah. Itu jauh lebih baik.


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1



__ADS_2