My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
LOVE, YOU


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Pukul delapan malam, Zoya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia merasa lelah.


Ia butuh istirahat saat ini.


Setelah pemotretan yang di lakukan sepanjang siang hari, Zen mengajaknya untuk bermain di pantai, kemudian pergi ke beberapa tempat wisata yang juga belum pernah Zoya datangi meski ia cukup lama di berada di bali. Kekasihnya itu memang luar biasa. Zen membuat semua rencana dan persiapan tampa campur tangan Zoya, namun Zoya merasa puas dengan apa yang sudah Zen lakukan untuknya. Kekasih terbaik.


Hari ini, adalah hari yang baik lainnya yang terjadi dalam hidup Zoya, semua karena kekasihnya, kehadiran Zen membuat semuanya menjadi lebih dari sekedar kata baik. Ini sempurna.


Mata Zoya sudah hampir terpejam, saat suara ketukan di pintu kamarnya mengembalikan kesadarannya sekali lagi.


''Hmm. siapa ?'' Zoya setengah mengerang saat bangun dari atas tempat tidurnya. ''Kak, ada apa?" Zoya mengucek matanya yang sudah terasa berat, Zen berdiri tepat di depannya.


''Sudah mau tidur, boleh aku masuk?". Zoya memiringkan badannya membuka pintu lebih besar, mempersilahkan Zen masuk ke dalam kamar.


''Apa gadis kecilku sangat lelah?'' Zen memeluk tubuh Zoya yang terasa lemah tak bertenaga. ''Hmm. Jadwal mu sangat padat bos, tentu saja aku lelah.'' jawab Zoya, membalas pelukan Zen.


''kalau begitu berbaring lah."-- Zen mengiring Zoya ketempat tidur. ''Rebahkan dirimu dengan posisi telungkup.'' perintah Zen lagi, kemudian mencari oil dari meja rias Zoya.


''Kakak sedang apa?" suara Zoya terdengar berat dan lelah. ''Lemaskan saja tubuhmu.'' Zen duduk di pinggiran ranjang Zoya, memegang pelan kaki Zoya, mengusapkan oil, lalu memijit kaki Zoya pelan. ''Apa yang kakak lakukan?" Zoya menggerakkan kakinya, tapi Zen lebih dulu menahan kaki Zoya agar tidak menjauh.


''Kaki mu pasti lelah sudah berjalan seharian, jadi santai saja, aku hanya ingin membuatmu lebih nyaman.'' Zen tetap memijit pelan kaki Zoya.


Zoya sampai tak habis pikir. Bagaimana kekasihnya itu bisa sesempurna ini sebagai seorang laki-laki. Tidak hanya pelukan Zen yang membuat Zoya merasa nyaman, sekarang, pijatan lembut tangan Zen membuat Zoya merasa jauh lebih nyaman. Zen melakukan Apa yang dibutuhkan tubuhnya saat ini. ''Ini sangat nyaman kak,..'' suara Zoya semakin berat.


''Hmm. tidur lah.'' Zen masih melakukan pekerjaannya. Setelah selesai dengan kaki yang satu, Zen beralih pada kaki lain nya, masih dengan gerakan dan kelembutan yang konsisten, sampai Zoya benar-benar tertidur pulas.


Cukup lama Zen berada di kamar Zoya, memperhatikan kekasihnya yang saat ini tengah terlelap.


Zen membelai pelan rambut Zoya, menyelimuti gadis itu, lalu memberikan ciuman selamat malamnya.

__ADS_1


''Sayang, aku harus kembali malam ini, aku akan menjemputmu beberapa hari lagi.'' Zen berbisik pelan pada Zoya. Bulu mata gadis itu kadang bergerak setiap Zen membelai pelan rambutnya.


Sebenarnya, kedatangan Zen ke kamar Zoya adalah ingin memberitahukan kepulangannya, namun melihat Zoya yang sudah sangat lelah, Zen mengurungkan niatnya, atau gadis kecilnya itu harus menunda tidurnya untuk ikut mengantarkan Zen ke bandara, karena Zen yakin Zoya pasti akan melakukan itu seandainya Zoya tau.


Zen mematikan lampu kamar Zoya, dan menutup pelan pintunya. Ia kembali ke kamarnya untuk mengambil koper kecilnya, lalu turun.


Sudah ada Fredy menunggu di sana.


Zen mencari Bi Retno, untuk memberitahukan kepulangannya, kalau-kalau besok pagi Zoya bertanya.


''Bi, aku akan kembali ke Jakarta malam ini.'' pamit Zen setelah menjumpai keberadaan Bi retno di ruang istirahat belakang. ''Iya tuan." jawabnya pelan.


''Zoya sudah tidur sekarang, kalau besok pagi ia bertanya pada bibi, katakan saja tentang kepergian ku, aku belum sempat berpamitan padanya." Zen tersenyum. ''Zoya terlalu lelah, tolong jaga dia untuk ku, aku akan kembali beberapa hari lagi.'' tutup Zen, seraya mengangguk pelan.


Setelah berpamitan, Zen menaiki mobil menuju ke bandara. Ia memesan penerbangan terakhir untuk malam ini.


Sejak awal kepergiannya, ia memang ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Zoya. Saking banyak nya yang ingin ia lakukan dan ia rencanakan, Zen sampai bingung sendiri memilih yang mana yang harus ia lakukan lebih dulu. Ia selalu bersemangat setiap kali berada di dekat Zoya. Ia ingin melakukan banyak hal bersama kekasihnya itu.


Sembilan tahun lamanya ia harus merelakan waktunya tampa Zoya, dan sekarang, ia benar- benar ingin menebus semua waktu yang terlewatkan.


Ada banyak kesamaan keduanya. Selama sembilan tahun terakhir, Zen tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, meskipun ada banyak wanita yang mengantri untuk menjadi kekasihnya, namun Zen tak pernah menghiraukan semua itu.


...❄️❄️...


Dengan mata yang masih terpejam. Zoya menajamkan penciumannya. Ia menghirup pelan wangi kopi yang masuk ke dalam kamarnya. Wangi yang kuat dan harum, merangsang semua saraf Zoya. Memaksanya untuk mengerang singkat dan membuka mata. Sementara sinar matahari pagi sudah masuk melewati jendela kamarnya yang sudah tersingkap.


Saat bangun, Zoya melihat meja di kamarnya sudah di penuhi dengan sarapan pagi yang begitu menggugah selera.


Roti kismis yang baru di panggang dengan taburan white sugar diatasnya, segelas kopi hitam yang baru saja di seduh dengan takaran yang pas, dan juga susu panas, tak lupa buah-buahan segar yang sudah di potong dadu sesuai selera Zoya.


Dan, Oh..adalagi setangkai bunga mawar putih.


Zoya tersenyum melihat sarapan pagi nya. Siapa lagi kalau bukan Zen yang menyiapkan semua ini untuknya.


Seraya menikmati kopi panasnya, ponsel Zoya berdering, dan nama Zen tertera di sana.


''Selamat pagi.'' suara zoya terdengar ringan, menyapa pendengaran Zen.


''Selamat pagi sayang. Baru bangun..?

__ADS_1


"Hmm. Baru saja.''


''Bagaiman tidurmu?"


''Tentu saja jadi lebih baik karna tangan ajaibmu kak, bagaimana penerbanganmu, apa kau cukup tidur?" tanya Zoya menyentak Zen.


Zen cukup terkejut mendengar pertanyaan zoya padanya. '' Kau tau..?" tanya nya seperti seorang bocah.


''Tentu saja aku tau. Kalau kau ada disini, tentu nya kau tidak akan repot-repot menelpon ku seperti ini, sementara kamar kita berhadapan.'' jelas zoya mengungkapkan faktanya.


Terdengar suara tawa renyah Zen dari seberang sana. ''Kau benar sayang. Terkadang aku menjadi lupa, kalau aku memiliki seorang kekasih yang genius.'' puji Zen dengan suara manjanya.


''Tentu saja, dan kau sangat beruntung karena menjadi kekasihku. Tak banyak yang bisa mendapatkan posisi seperti dirimu di hatiku.'' kata Zoya penuh dengan kearogansian yang tak terelakan.


''Tentu saja, dan aku bersyukur atas itu.''


''Aku pun demikian, aku mencintaimu Zen.''


''Aku juga mencintaimu sayang, sangat mencintaimu.''


''Hmm. Aku tau.''


''Baiklah kalau begitu teruskan saja sarapan mu, sebentar lagi rapat harian akan di mulai. Berikan aku ciuman selamat pagi!''


Tampa malu-malu Zoya melakukan apa yang Zen minta. ''Muaachh.. selamat bekerja sayang. Aku mencintaimu, see you again.''


''Ya sayang, see you again.''


Setelah panggilan terputus. Zoya kembali menikmati sarapannya, sebelum ia juga harus melakukan pekerjaannya. Hari ini pasti akan lebih ringan, karena Zoya sudah mengisi penuh semua stok stamina nya bahkan untuk beberapa hari ke depan.


Haruskah ku katakan seperti ini,


...***Cinta, tak hanya membuat orang gila. Namun cinta juga bisa memberimu kekuatan untuk melewati apa saja, bahkan hal tersulit sekalipun....


...Hanya mengingat orang-orang yang kita cintai, maka sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan kita bertahan dalam situasi apapun. Cinta bekerja tergantung bagaimana cara kita melihatnya***....


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2