My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
NO REASON


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Jika ada yang bertanya alasan mengapa hujan turun, dan kenapa pelangi memunculkan dirinya setelah hujan membasahi bumi, jawaban nya hanya satu, No Reason.


Dan jika ada yang bertanya mengapa Zoya tak bisa menghilangkan guratan senyum yang sejak tadi semakin mempercantik wajahnya, jawabannya juga hanya satu, No Reason.


Tidak ada alasan yang bisa di berikan saat seseorang merasakan jatuh cinta. Tidak ada alasan bagi seseorang saat tengah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Cinta tak pernah memiliki alasan, karena cinta memang tak memerlukan alasan. Begitu pula dengan kebahagiaan. Seseorang tak membutuhkan alasan untuk merasa bahagia, karena tak ada yang benar- benar menjadi alasan saat kebahagiaan datang, apalagi saat cinta tengah bersemayam didalam nya.


Apakah ada alasan saat hati seseorang tersentuh..? Tidak. Karena jika kau dapat menemukan alasan nya, maka kau tidak tersentuh, namun kau hanya mencari alasan agar bisa merasa tersentuh. Begitulah yang dirasakan Zoya.


Sebelumnya, ia mencari cari alasan mengapa harus jatuh cinta pada Zen, dan mengapa ia terus merasa bahagia saat bersama Zen. Namun saat ini, ia tau jawabannya, No reason.


Tidak ada alasan yang membuat diri nya harus cinta, dan tidak ada alasan juga mengapa ia terus merasakan kebahagiaan saat bersama Zen.


Takdir merekalah yang membuatnya seperti itu. Zen adalah belahan jiwa Zoya, dan saat kau tengah menemukan jiwamu, maka sebagai jiwa yang utuh bagaimana kau tak merasakan kebahagiaan.


Tentu saja bahkan kau akan menari karena nya. Tanpa di minta pun, kau akan selalu tersenyum, tanpa di minta pun, kau akan melakukan apa saja untuk seseorang yang benar-benar kau cintai. Apakah ada alasan.. ? Tidak.


Tidak alasan yang tepat saat kau benar-benar jatuh cinta. Alasan hanyalah klise bagi orang orang yang tak benar-benar merasakan jatuh cinta.


''Apa yang kau pikirkan..?'' Zen menyentak Zoya dari lamunan nya. ''Tidak ada. Hanya sedang memikirkan tentang kita.'' jawab Zoya dengan sebenarnya.


Saat ini keduanya tengah berada di tengah tengah keramaian pesta. Pesta yang di persiapkan Zen untuk merayakan kesuksesan konser Zoya sebelumnya.


Zen mengundang semua orang yang terlibat dalam konser tersebut, termasuk Cassian dan juga tim orkestra yang sebelumnya telah berkolaborasi dengan Zoya.


Mereka adalah orang-orang yang membantu mewujudkan sebagian kecil dari mimpi besar kekasihnya, karena itulah Zen mengadakan pesta, ia sangat bersyukur atas semua bantuan yang telah di berikan bagi Zoya saat ia tak bisa bersama gadis kecilnya itu.


''Kita.. ?ada apa dengan kita?'' tanya Zen sambil mengerutkan kening nya.


''Tidak ada. Aku hanya merasa bahagia.''


Gadis itu kembali tersenyum saat memandang Zen, dan saat itu juga tatapan Zen mengunci nya.


Bagaimana Zoya mengatakan pada Zen bahwa ia kembali dibuat jatuh cinta.


Jatuh cinta pada semua perlakuan manis Zen, jatuh cinta pada kehadiran Zen dalam hidupnya. Keberadaan nya saja sudah membuat Zoya begitu bahagia, apalagi saat mereka telah bersama, Zoya merasa gila.


Gila akan setiap debaran yang ia rasakan.


Gila akan setiap perhatian dan juga cinta yang Zen berikan. Zen adalah sosok utuh yang Zoya harapkan dalam hidupnya.


Zen mengecup pelan bibir Zoya, bibir ranum yang terasa begitu manis dan selalu menggoda untuk di cicipi. ''Mau berdansa..?" Zen mengulurkan tangan pada Zoya, menundukkan sedikit badan nya, meminta dengan begitu elegan sekaligus mempesona.


''Kaulah yang membuat kaki ku menari.'' Zoya menyambut uluran tangan Zen, dengan tangan lain melingkar sempurna di pinggulnya.


''Kau adalah langit. Hal terindah yang selalu ku lihat, dan kau selalu membuat ku jatuh cinta saat memandang mu.'' Zen mengecup punggung tangan Zoya saat mengarahkan gadis itu ke tengah lantai dansa.


Saat keduanya tengah berada di lantai dansa, musik pun berubah dengan tempo yang lebih lambat, sementara lampu sorot mengarah sempurna menjadikan keduanya sebagai pusat perhatian.


Zoya bergerak seirama dengan arahan Zen, begitu elegan, dan begitu serasi, siapapun yang memperhatikan keduanya akan tau, jika mereka adalah pasangan jatuh cinta yang tengah di mabuk asmara.


Zoya merasakan tubuhnya bergerak dengan sendirinya saat Zen menyentuhnya dengan begitu lembut. Sentuhan yang membuat tubuhnya merasakan gelenyar sensasi yang membuat darahnya berdesir dengan cepat. Membuatnya seketika melambung tinggi. Sentuhan Zen, tatapan matanya, senyuman menggodanya, adalah satu kesatuan yang begitu sempurna saat bersama Zoya.


''Kapan kau akan kembali..?'' tanya Zen mengenyahkan keheningan di antara mereka.


''Kau ingin aku kembali bersama mu?''

__ADS_1


''Tentu saja, itulah tujuan ku. Itupun jika kau sudah selesai dengan negara bersalju ini.'' balas Zen setengah berbisik di telinga Zoya, membuat gadis itu meremang.


''Kapan..?''


''Secepat yang ku harapkan.'' Zen memutar tubuh Zoya, kemudian membawanya kembali dan menguncinya dalam pelukan yang saling menghangatkan.


''Secepat itu..?"


''Hmm. Ada banyak pekerjaan yang tengah menunggu ku saat ini sayang, dan aku harus segera kembali, dan aku harap kau akan ikut bersama ku.'' ucap Zen dengan suara membujuk.


''Kapan tepatnya..?'' sekali lagi Zoya memutar tubuhnya memberi jarak diantara keduanya, lalu kembali merapat.


''Lebih cepat dari yang ku rencanakan. Dua hari lagi.'' desah Zen merasa tak senang karena rencana semula yang tengah ia buat harus di batalkan karena urusan pekerjaan yang selalu mendesaknya.


''Aku belum bisa kembali bersama mu kak. Masih ada pekerjaan yang juga harus ku selesaikan disini,- Zoya menatap Zen.


"Ini tentang rencana pembangunan yayasan yang sebelumnya ku setujui, dan itu juga akan diresmikan lusa, karena itulah aku harus tetap berada di sini, dan ku rasa untuk waktu yang belum bisa ku tentukan.'' jawab Zoya, membuat wajah Zen berubah tegang dengan mata yang memancarkan kekecewaan.


''Kau ingin menghabiskan waktu bersama ku sebelum kembali?''


''Kau sudah membuat rencana nona..?'' Zen memaksakan senyumannya.


''Hem. Aku punya kejutan untukmu kak. Selama ini kau yang selalu memberiku kejutan, jadi besok adalah giliran ku. Bagaimana, kau mau kejutan mu..?"


Zen memicingkan matanya dengan senyum penuh kecurigaan. ''Apa yang sebenarnya kau rencanakan gadis kecil, apa kau ingin menjadi pemandu wisata spesial untuk ku..?''


''Ya, mungkin seperti itu. Aku jamin kau tidak akan kecewa dengan kejutan yang telah ku siapkan. Deal..?'' gadis itu kembali memberikan senyuman yang terasa janggal bagi Zen.


''Baiklah. Kalau begitu, aku akan mempercayakan liburan ku padamu, gadis kecil.'' terima Zen, sekaligus mengakhiri dansa keduanya.


''Kau mau minum..?''


''Boleh, tanpa alkohol.'' Zoya mengedipkan matanya. Zen memberikan ciuman singkat sebelum meninggalkan Zoya.


Sementara setelahnya, Zoya menyambut para tamu dan menerima ucapan selamat dari beberapa orang yang ia kenal sebelumnya..


''Cassian. Kau disini, aku tidak melihatmu.''


''Tentu saja kau tidak akan melihat ku, saat tatapan mu hanya mengarah pada satu orang.'' Goda Cassian.


''Pesta mu sangat meriah. Kekasihmu sangat luar biasa.'' puji lelaki itu.


''Ya. Zen memang seluar biasa yang kau pikirkan.'' jawab Zoya bangga. ''Bagaimana dengan permintaan ku, kau sudah menemukannya..?"


''Aku sudah menemukan satu tempat yang tepat. Aku sudah mengatur semuanya sesuai permintaan mu, nona.''


''Terima kasih Cass, kau memang selalu bisa di andalkan.''


''Sudah menjadi tugas ku Zoya, aku akan membantumu jika itu yang kau inginkan.''


''O'ya istriku baru saja menelpon, katanya dia mengirimkan hadiah untukmu.''


''Hadiah..? oh my.. itu pasti sangat merepotkan nya Cass."


''Itu hanya hadiah kecil, tidak ada apa-apa nya Zoya, aku harap kau mau menerima nya, meskipun tak bisa di bandingkan dengan hadiah lain nya.'' Cassian tersenyum canggung.


''Cass, jangan katakan hal seperti itu. Katakan pada istrimu aku sangat berterima kasih.'' balas Zoya merasa terharu.


''Terima kasih Zoya, kau wanita yang baik.'' Cassain merasa bersyukur bertemu dengan seseorang seperti Zoya. Wanita kaya yang rendah hati. Satu di antara seribu wanita kaya lainnya.


Sementara Cassian dan Zoya berbincang bincang, Zen menghampiri keduanya dengan membawa gelas minuman bagi Zoya.


''Sayang.. ?"


''Hei.. '' Cassain menyapa Zen dengan canggung. Bukan karna Zen tak menunjukan sikap bersahabat, hanya saja pesona Zen terlalu mengintimidasinya, membuat Cassian selalu merasa canggung.


''Kau menikmati pestanya..?'' tanya Zen ramah, sambil memberikan gelas minuman pada Zoya.

__ADS_1


''Sangat. Terima kasih sudah berbaik hati mau mengundang ku.''


''Kau pantas berada disini, bung.''


''Kalau begitu aku akan kembali, istriku mungkin sedang menunggu ku untuk jam jaga selanjutnya.'' pamit Cassian, mengingat jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam.


''Baiklah, terima kasih sudah bersedia hadir.'' Zen mengulurkan tangannya, dan disambut baik oleh Cassian.


''Kau melihat Mom and Dad Kak? sejak tadi aku mencari mereka, tapi aku tak melihat nya.'' kata Zoya kembali mengedarkan pandangan kesekitar.


''Mereka sudah kembali ke kamar sayang. Dad bilang mereka lelah, karena itulah mereka kembali lebih dulu.''


''Dan Ken..?"


''Entahlah. Aku juga tak melihatnya sejak tadi.'' jawab Zen dengan sebenarnya.


''Mungkin Ken juga sudah kembali ke kamar. Anak itu tidak terlalu suka keramaian.'' kata Zoya. ''Apa sebaiknya kita juga kembali, kita masih memiliki kencan besok?''


''Kembali lah lebih dulu. Aku harus menutup pesta.'' Zen kembali mencium Zoya. Sepertinya kegemaran Zen saat ini adalah mencium nya.


...Sementara itu.....


Ken sedang dalam perjalanan kembali ke kamar saat melihat seseorang berdiri di depan kamar kakaknya sambil terus mengetuk pintu.


"Apa yang kau lakukan..?"


''Kenapa kau bertanya, apa ini kamar mu..?" tanya gadis tersebut.


Ken memicingkan matanya, menilai.


''Kau kurir..?"


''Apa aku terlihat seperti itu?" gadis itu mendengus. Lalu kembali berbalik mengetuk pintu.


Ken hanya berdiri,menyender pada tembok sambil melipat tangan di depan dada. ''Hei.. tidak ada orang di dalam sana!'' kata Ken setelah memperhatikan cukup lama.


''Kenapa kau tau..? kau bukan pemilik kamar ini, pergilah aku tidak ada urusan dengan mu.'' jawab gadis muda itu, merasa terganggu oleh Ken.


Ken mendengus melihat gadis keras kepala yang terlihat seumuran dengan nya itu.


''Itu kamar kakak ku. Tentu saja ini juga urusan ku, bagaimanapun kau menggedor nya, tidak akan muncul orang dari dalam sana, kakak ku sedang berada di dalam pesta.'' jelas Ken, sambil menatap jengah.


''Pesta, dimana.. ? aku akan menemuinya, katakan padaku.'' tuntut gadis itu dengan mata yang membulat sempurna. Bola mata berwarna hijau saat terkena cahaya lampu, mengingatkan Ken pada seekor kucing.


''Apa kau pikir anak kecil sepertimu bisa masuk kesana. Itu hanya untuk tamu undangan, dan jelas hanya untuk orang-orang dewasa!''


Mendengar perkataan Ken, gadis muda tersebut memberengut lalu membuka tas nya, dan menyerahkan kotak berwarna coklat dengan pita merah pada Ken.


''Berikan pada miss Zoya, jika dia memang kakak mu, jika kau berbohong maka akan ku laporkan ke polisi!" ancamnya.


''Apakah isinya sebongkah berlian..? karena jika tidak, aku tidak tertarik melibatkan diriku dengan seorang polisi!''


''Huh! Katakan siapa namamu, agar aku bisa melaporkan mu jika kau tidak memberikannya." kata gadis itu lagi.


''Kau lihat disana,- tunjuk Ken, membuat gadis itu pun memutarkan kepalanya. ''di sana ada cctv, dan jika aku berbohong ku rasa polisi akan dengan mudah menemukan ku.'' jawab Ken lagi.


''Awas saja kalau kau berbohong!'' tunjuknya.


Sambil mendengus kesal gadis itu pergi dari hadapan Ken, sambil sesekali memberikan tatapan tajam.


''Dasar keras kepala! Lagian apa isi nya ini..?"


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2