My Hot Woman Part 2

My Hot Woman Part 2
NIGHTMARE


__ADS_3

...ENJOY...


.......


.......


.......


.......


Tepat pukul dua belas tengah malam, Zoya kembali terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi kening dan juga pelipis dengan luar biasa sementara matanya terbuka disertai nafas yang tersengal-sengal.


Lagi dan lagi, ini adalah malam kedua Zoya memimpikan hal yang sama. Mimpi yang membuatnya begitu sesak dan juga takut. Di bawah alam sadar yang menguasainya; Zoya melihat dirinya sendiri berdiri di atas tepian jurang yang terbelah dengan dasar yang tak dapat terlihat karena kedalamannya, namun Zoya masih dapat melihat pada sisi lain diseberang sana.


Di dalam mimpi, Zoya menaiki tebing tersebut atas keinginannya sendiri. Ia juga berjalan dengan perlahan sampai ia berhasil berdiri di atas puncaknya.


Awalnya Zoya menikmati keberadaan dirinya yang menjulang tinggi di atas sana, mengambil waktu untuk menatap pada langit biru dan juga penampakan awan yang berarak dengan begitu indahnya, bahkan dalam indra penciuman nya yang samar, Zoya masih dapat menghirup aroma segar udara di sekelilingnya.


Namun saat ia mengedarkan pandang, Zoya terenyak saat melihat jauh ke depan, seseorang yang ia kenal berdiri dengan posisi yang sama dengan dirinya.


Zen berada di tepian lainnya, diseberang sana.


Awalnya Zoya hanya diam terpaku melihat pada Zen. Zoya hanya menikmati suasana sambil melihat pada kekasih yang selama ini ia rindukan. Wajah laki-laki yang begitu ingin ia sentuh. Zoya juga Menyaksikan langkah Zen yang berjalan semakin mendekat pada ujung tepian jurang.


Menyadari Zen di seberang sana melakukan hal yang sama seperti dirinya, dalam mimpinya, Zoya mulai melambaikan tangan dan terus manggil-manggil nama Zen, Zoya berusaha mendapatkan perhatian Zen agar melihat padanya, namun lagi-lagi Zen hanya melangkahkan kakinya semakin dan semakin mendekati tepian, sampai akhirnya Zoya berteriak histeris saat Zen menjatuhkan dirinya begitu saja ke dalam jurang yang gelap dan dalam.


Zoya tercekat, ia hampir tak bisa bernafas saat menyaksikan Zen jatuh begitu saja di hadapannya. Semua terasa nyata, bahkan kepedihannya pun nyata. Seperti saat ini, Zoya menangis terisak merasakan nyeri di dadanya.


Ia merasakan kesedihan yang teramat sangat akibat dari mimpinya. Mimpi yang membuatnya tak berani melanjutkan tidur. Meskipun ini adalah mimpi keduanya, namun masih memberikan efek yang sama pada Zoya. Ya, Zoya takut.


Sekali, ia masih bisa menganggapnya sebagai bunga tidur yang menakutkan. Namun yang kedua? Zoya tak tau harus mengartikan nya sebagai apa. Apakah ini sebuah pertanda? ataukah..


Yang pasti mimpi itu membuat Zoya benar-benar ngeri dan juga takut. Ia bahkan takut menutup matanya. takut jika ia tertidur kembali, maka ia akan mendapatkan mimpi yang lebih menakutkan dari melihat Zen yang menjatuhkan diri begitu saja, sungguh. Itu benar-benar hal yang menakutkan untuk disaksikan baik dalam mimpi ataupun tidak.


Zoya terduduk di atas ranjang mendesak ke sudut agar membuat dirinya merasa lebih baik. Ia menarik naik kedua kakinya lalu melingkarkan tangan disekitar lutut. Ia masih bergetar, sesekali mengusap keningnya yang masih berkeringat, ia berusaha mengatur nafasnya yang masih berkejar-kejaran dengan laju irama detak jantungnya.


Zoya juga menautkan jari-jarinya memanjatkan doa, Ia berdoa; semoga semuanya hanyalah sebatas mimpi dan Zen-nya pun selalu baik-baik saja.

__ADS_1


Setelah nafasnya kembali teratur, Zoya berjalan turun dari atas ranjang. Ia menuangkan air ke dalam gelas lalu menghabiskannya dalam sekali tegukan, Lalu menghidupkan perapian yang ada kamarnya agar dapat menghangatkan sedikit dari udara dingin yang hampir membekukan tulang.


Seharusnya Zoya tidur dengan pulas setelah latihan padat yang ia dan rekan-rekannya lakukan beberapa hari terakhir, mengistirahatkan diri dari begitu banyak persiapan yang harus ia lakukan seorang diri. Tubuh nya yang terasa remuk redam seharusnya mampu membungkus kesadarannya dan membawa nya terlelap dengan begitu nyaman.


Namun kenyataannya, mimpi yang menakutkan malah menyentak keras dirinya ke permukaan mengganti rasa lelah menjelma menjadi rasa takut yang tak terelakan.


Cukup lama Zoya berdiam diri menatap pada nyarak nyala api di tungku nya. Ia merindukan Zen.


Jauh di dalam dasar hati terdalamnya, Zoya ingin Zen berada disisinya.


"Aku merindukan mu kak, sangat." lirihnya lagi, Zoya merebahkan kepalanya di tangan sofa. Ia kembali memikirkan hari-hari yang telah ia dan Zen lewati bersama. Hari-hari yang mereka isi dengan canda dan tawa bahkan cinta. Hari-hari yang juga,..


"Apa kau juga merasakan nya saat ini kak? Aku membutuhkan mu, sangat membutuhkan mu."


...Ke esokan harinya......


Dengan kepala yang masih berputar-putar, Zoya kembali mengunjungi gedung yang akan ia gunakan sebagai tempat konsernya berlangsung.


"Bagaimana Zoya, apa kau suka dengan penataannya?"


Cassian sudah memasang spanduk dan juga poster Zoya di dalam dan juga di sekitaran gedung, hampir semua yang ia kerjakan adalah seperti yang Zoya kehendaki.


"Aku suka. Kau sudah bekerja keras Cass, thank's."


Sekali lagi Zoya mengedarkan pandangannya, meneliti semua dengan lebih cermat. Mulai dari penataan dekorasi dan juga hal-hal mendetail lainnya. "Zoya, jika ada yang kurang, katakan saja. Aku akan segera mengubahnya, ini adalah konser pertama mu, aku tak ingin kau merasa kurang, semuanya harus sempurna."


"Tidak ada, Cass. Semuanya sudah sesuai seperti yang ku inginkan, bahkan lebih dari yang ku harapkan, dan untuk ini juga terima kasih. Aku sungguh menyukainya." kata Zoya lagi menunjukan pada dekorasi bunga mawar putih yang menghiasi setiap part barisan kursi yang akan di isi oleh para undangan nya nanti.


"Syukurlah jika kau suka Zoya. O'ya kau ingin sesuatu? mungkin Coffee ?" tawar Cassian.


"Tidak, terima kasih. Kau belilah untuk dirimu mu saja, aku ingin istirahat sebentar." Zoya melambaikan tangannya membiarkan Cassian pergi.


Setelah Cassian menghilang dari salah satu pintu gedung, Zoya menjatuhkan dirinya ke atas salah satu kursi. Ia menenggelamkan dirinya dalam kesunyian sementara menunggu rasa sakit yang menghantam kepalanya hilang.


Zoya merasa seperti berada di atas roller coaster, hampir saja ia ambruk di depan Cassian, untung saja laki-laki itu cepat pergi, jika tidak..


"Zoya, Zoya.. Hei.. kau baik-baik saja?" Cassian menepuk-nepuk tangan Zoya membangunkan dirinya. "Zoya.. Kau,-

__ADS_1


"Aku baik-baik saja Cass, hanya sedikit lelah." kata Zoya dengan mulut tercekat menahan sakit kepalanya. "Hei, sudah ku bilang aku tidak ingin,- Zoya menunjuk pada gelas putih bertutup di depan nya.


"Aku, tidak." bantah Cassian menggelengkan kepalanya.


Zoya menghela nafasnya berat. Jelas sekali tadi hanya ada bangku kosong di depannya, namun sekarang?


Zoya mengambil gelas tersebut dan merasakan panas dari luar nya, yang menandakan minuman tersebut masih baru. "Kau yakin bukan kau yang membelinya?" tanya Zoya lagi dengan wajah meringis.


"Sungguh, bukan aku. Kau bilang kau tidak mau, jadi-


"Hemm. Sudahlah. Tolong buang kan untuk ku. Aku tidak bisa meminum sesuatu yang tidak jelas bukan? di saat-saat seperti ini, bukankah lebih baik jika berhati-hati?"


"Aku setuju denganmu. Baiklah, sini, akan ku buang untukmu." Cassian mengambil gelas tersebut dari tangan Zoya, lalu membuka penutupnya menggumam kecil setelah mencium bau minuman tersebut,


"Susu coklat?"


"Setelah kau buang itu, bisa temui profesor untuk ku? ada berkas yang harus ku tanda tangani, tolong ambilkan itu untuk ku." pinta Zoya, sekali lagi meringis menahan dentuman yang terus menghantam kepalanya bertubi-tubi bahkan lebih kuat dari sebelumnya.


"Baiklah. Akan ku lakukan. Kau tidak apa-apa kan ku tinggal sendiri disini? kalau kau mau aku bisa,-


"Tidak apa-apa Cass, sebaiknya mau bergegas, jika tidak kau tidak akan bertemu profesor." ujar Zoya lagi mengingatkan Cassian.


"hmm. Baiklah kalau begitu. Aku akan segera kembali, hubungi aku jika kau butuh yang lainnya." ujar Cassian, terlihat cemas melihat wajah letih Zoya.


"Hmm."


Yang Zoya butuhkan saat ini hanya sebuah ketenangan dan juga sedikit waktu untuk meredakan rasa pusing yang menyerangnya dengan tiba-tiba, sampai,-


BRUUKK...


Zoya limbung dan merasakan tubuhnya membentur sesuatu yang cukup keras, samar-samar ia mendengar namanya di panggil, lalu ia mulai tak sadarkan diri.


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2