Pembunuh Profesional

Pembunuh Profesional
Lamaran


__ADS_3

"Pa, di saat aku kena tusukan itu aku tidak yakin bisa bertahan, karena sakitnya membuat ku sulit untuk bernafas, aku mengira jika aku akan langsung meninggal di sana, tapi aku masih beruntung karena bisa bertahan sampai sekarang" kata Cherry dengan suara pelan yang sedang berbaring dengan kondisi lemah


"Cherry, dokter sudah mengobati mu, jadi kau harus berjuang melewati rintangan ini, Papa yakin kau bisa" ujar Jhon


"Pa, aku juga ahli obat-obatan, tentu sudah tahu kondisi sendiri, luka ini sangat dalam, jika lalai sesaat saja maka semua akan berakhir, rasa sakitnya masih di rasakan oleh ku" ucap Cherry dengan mengeluarkan air mata


"Papa akan panggilkan dokter sekarang juga" ujar Jhon dengan merasa sedih yang mendalam


Di saat Jhon ingin berdiri Cherry memegang tangannya


"Pa, tidak perlu, biarkan saja, walau dokter datang juga tidak bisa buat apa-apa, sini bukan rumah sakit tidak memiliki peralatan lengkap, jadi dokter tidak bisa berbuat apa-apa, kondisi ku sekarang juga tidak bisa bergerak, sekarang aku hanya harus bertahan" jawab Cherry dengan menahan sakit


"Cherry putri ku yang baik, kau akan baik-baik saja, kita akan ke rumah sakit kota untuk mengobati luka mu" bujuk Jhon dengan senyum paksa dan duduk di kembali ke tempat duduknya


"Pa, tidak perlu lagi, ini hanya membuang waktu saja, biarkan aku di sini saja sampai akhir nafas ku, aku di lahirkan di sini dan di besarkan di sini, dan jika aku meninggal aku juga ingin di sini dan di kuburkan di samping Mama" jelas Cherry dengan mengeluarkan air matanya


"Cherry, jangan berkata demikian, kau bukan sendirian. Papa dan Stephen akan menemani mu di sini"


"Papa, putri mu tidak memiliki kesempatan untuk menjaga mu, di dunia ini aku paling mengkhawatirkan mu" kata Cherry dengan wajahnya yang memucat


"Cherry, kau jangan lupa di dunia ini kau masih ada Papa dan Stephen, jadi kau harus berjuang putriku demi kami dan diri mu sendiri"


"Stephen bukan milik ku, Pa. tanpa ku dia bisa melanjutkan hidupnya dengan bahagia, dia masih bisa cari kebahagiaannya, sedangkan Papa hanya seorang diri" jawab Cherry


"Anak bodoh, jika kau pergi sama saja telah melukainya, dia akan menjadi suami mu suatu saat nanti, dan Papa ingin melihat kalian menikah, Papa ingin melihat putriku yang cantik mengenakan gaun pengantin dan berjalan di atas karpet merah" ujar Jhon dengan mengeluarkan air mata tanpa berhenti


"Pa, aku tidak tahu apakah aku memiliki kesempatan ini dan menikah dengan pria yang mencintai ku, tapi aku sudah tidak memikirkan ke sana lagi. Pa, beri obat untuk ku agar aku bisa tidur ini sangat menyakitkan" ujar Cherry dengan kondisinya yang lemah


"Papa, akan memberi mu obat untuk pereda sakit" jawab Jhon dengan mengeluarkan botol kecil berisi pil kecil berwarna hitam


Jhon memberikan pil tersebut kepada Cherry


"Istirahatlah, setelah sakitnya reda kau akan tertidur" kata Jhon dengan mengelus ujung kepala putrinya

__ADS_1


"Putri ku, kau belum pernah hidup bahagia, Papa tidak akan membiarkan mu menderita seperti Mama mu, walau dengan cara apa pun Papa pasti mengobati mu" batin Jhon


Stephen dan Anton telah berada di depan rumah Cherry, Anton yang sedang menunggu kedatangan obat-obatan yang di kirim dari kota dengan mengunakan helikopter


"Bos, Micheal telah membawa suster beserta semua alat keperluan dan obat-obatan, mereka telah dalam perjalanan ke sini" kata Anton


"Aku berharap mereka cepat datang, jika saja dokter itu gagal menyelamatkan Cherry kubur saja dia hidup-hidup" ujar Stephen dengan tegas


"Siap Bos" jawab Anton dengan menurut


"Stephen" suara panggil Jhon yang melangkah keluar dari rumahnya


"Jhon, bagaimana dengan Cherry?" tanya Stephen dengan khawatir


"Aku baru memberi dia pil untuk meredakan sakitnya, efek obat itu hanya bisa bertahan selama 4 jam, dia merasa sakit yang sangat mendalam sehingga tidak bisa tidur dan menangis, aku sangat sakit di saat melihatnya begini" jelas Jhon dengan matanya yang berkaca kaca


"Aku akan masuk melihatnya" ucap Stephen yang melangkah dengan cepat menuju ke dalam rumah


Stephen duduk di samping kasur dan menatap dengan tatapan yang di penuhi air mata


Stephen memegang telapak tangannya dengan lembut, karena merasakan sentuhan Cherry pun membuka matanya dan menatap Stephen yang sedang duduk di sampingnya


"Stephen, kau sudah pulang" ucap Cherry dengan lemas


"Cherry, apa luka mu masih sakit?" tanya Stephen dengan menyentuh wajah Cherry


"Sudah reda, Papa tadi memberi ku pil untuk pereda sakit" jawab Cherry dengan nada pelan


"Kau akan cepat sembuh, Micheal dalam perjalanan, semua alat-alat dan obat-obatan telah di bawa kemari, jadi kau akan cepat sembuh" jelas Stephen dengan senyum


"Terima kasih karena usaha mu"


"Gadis bodoh, apa yang kau katakan? kau adalah kekasih ku, menyelamatkan mu adalah tanggung jawab ku, ini sudah seharusnya" jawab Stephen

__ADS_1


"Apa kau marah pada ku?"


"Tidak, kenapa aku harus marah pada mu?" jawab Stephen dengan senyum


"Sekali lagi aku menghilangkan foto itu, kau bisa marah jika kau marah"


"Foto itu aku sudah mendapatkannya kembali, jadi jangan simpan dalam hati, aku tidak pernah menyalahkan mu, kau berkorban demi selembar foto sehingga mengorbankan diri mu, apa kau tahu apa yang kau lakukan hanya membuat ku lebih sakit hati, luka mu adalah luka ku juga" jawab Stephen


"Stephen, apa aku boleh bertanya sesuatu pada mu?"


"Tanyalah apa yang kamu ingin tahu"


"Di mana gadis di dalam foto itu? apakah dia baik-baik saja?"


"Dia sudah meninggal, Cherry." jawab Stephen dengan mengecup dahi Cherry


"Ini tidak baik, foto itu harus di simpan dengan baik, karena itu adalah kenangan terpenting bagi mu" ucap Cherry yang merasa sedih di dalam hatinya


"Iya, aku akan menyimpannya dengan baik. Cherry, berjanjilah pada ku bertahan dan berjuang melewati masa sulit ini, aku akan selalu menemani mu"


"Stephen, aku tidak tahu apa aku bisa bertahan atau tidak, aku hanya ingin meminta satu permintaan dengan mu" kata Cherry dengan merasa sedih


"Cherry, kamu ingin meminta apa? katakan saja apa mau mu"


"Jika aku tidak bisa di selamatkan tolong jangan lupa kan aku, walau aku hanya datang sesaat ke dalam hidup mu, setelah 5 atau 10 tahun kemudian ingatlah aku walau hanya sedetik saja" pinta Cherry dengan mengeluarkan air matanya


"Gadis bodoh apa yang kau katakan? kau tidak akan bisa pergi tanpa izin dari ku, aku ingin menikah dengan mu" ucap Stephen dengan tatapan dalam


"Apa kau akan menyimpan foto ku jika aku sudah tidak ada di dunia ini?"


"Aku tidak akan menyimpan foto mu, tapi aku akan menyimpan mu di dalam hati ku" jawab Stephen dengan mencium bibir Cherry


"Menikahlah dengan ku, Cherry" ucap Stephen yang melepaskan ciumannya

__ADS_1


__ADS_2