
Di hari itu Stephen tidak masuk perusahaan dan hanya menetap di rumahnya. Stephen menekan tombol kursi roda dan menuju ke halaman sedang memerhatikan Cherry yang sedang menjemur daun-daunan. dengan tatapan dalam ke arah gadis itu.
"Seorang gadis asing datang ke rumah ku, dan telah menyelamatkan ku, Cherry, aku berharap kau tidak berubah, teguh pada pendirianmu dan selalu setia padaku. maka aku tidak akan menyia-nyiakan mu" batin Stephen.
"Tuan, apa ada butuh sesuatu?" tanya Cherry yang menoleh ke arah Stephen
"Tidak ada! aku hanya penasaran melihatmu bisa membuat tanaman herbal itu begitu segar," jawab Stephen sambil melihat ke tanaman-tanaman itu.
"Tuan, ini telah memakan banyak tempat di halamanmu, Tuan," kata Cherry yang menghampiri Stephen.
"Tidak apa-apa! ini semua adalah tanaman yang bermanfaat, jika menurutmu berguna maka lakukan saja," kata Stephen dengan senyum.
"Tuan, terima kasih. Tuan..em..itu?"
"Ada apa?"
"Tuan, aku ingin bertanya, apakah di dalam rumah ini ada pasang alarm?"
"Ada, kamu tahu itu, kenapa?"
"Semalam saat aku mengolah obat seperti ada yang memerhatikan ku di luar pintu ruangan obat itu, dan di saat aku keluar melihat tidak ada sesiapa pun di sana, aku mengira adalah pencuri makanya aku agak takut semalam" jelas Cherry
"Mungkin saja kamu kelelahan, di rumah ini hanya kita berdua sama Chintia, dan pekerja lainnya juga ke rumah mereka masing-masing, jadi mana mungkin ada yang berani memerhatikan mu di malam hari" jelas Stephen
"Apa aku salah melihat ya"kata Cherry yang kebinggunan
"Mungkin saja, dan jika ada pencuri maka alarm rumah ini akan berbunyi, bahkan jika saja pencuri itu menginjak masuk ke dalam pagar maka alarm di sini juga sudah berbunyi jadi mana mungkin dia bisa sampai masuk ke dalam rumah" jelas Stephen yang menoleh ke arah Cherry yang berdiri di sampingnya
"Iya juga, jika bukan pencuri maka aku merasa lega" jawab Cherry dengan menarik nafas lega
Tidak lama kemudian Stephen mendapat sebuah panggilan, di saat dia melihat nama panggilan di handphone miliknya dia pun menjawab panggilan itu tersebut
"Hallo" jawab Stephen dengan cuek
"Stephen, apa kita bisa bertemu?" tanya seorang wanita yang di seberang sana
"Bisa" jawab Stephen dengan singkat
Setelah beberapa jam kemudian. Stephen bertemu dengan seorang wanita yang tidak lain adalah Monica di sebuah cafee.
"Kenapa tiba-tiba ajak bertemu?" tanya Stephen
"Aku ingin meminta Cherry dari mu"
__ADS_1
Mendengar permintaan Monica itu membuat Stephen terdiam dan menatap tajam ke arah wanita yang duduk di hadapannya itu.
"Coba kau ulangi lagi" kata Stephen dengan serius
"Aku bilang aku ingin meminta Cherry"
"Kau tahu aku tidak akan memberikan pada mu"
"Kenapa? apa kau mencintainya?"tanya Monica seraya bercanda
"Monica, aku tidak akan memberikannya pada mu" jawab Stephen dengan bersikap dingin
" Kelihatannya dia masih berguna bagi mu, aku hanya bercanda dengan mu" ujar Monica dengan senyum
"Kau mengajak ku keluar hanya karena untuk bercanda dengan ku?"
"Ayolah, Stephen, kita sudah lama kenal bercanda sudah biasa. aku hanya ingin memastikan apakah adik ku itu masih baik-baik saja di rumah mu" ujar Monica sambil mengaduk minumannya
"Kau tenang saja, dia masih utuh di rumah ku" jawab Stephen dengan singkat
"Aku telah lama mengenal mu dan sudah memahami sifat mu, tapi aku yakin satu hal"
"Hal apa?"
"Aku tidak akan berubah sampai kapan pun"
"Iya-ya..lihat saja nanti, di saat kau jatuh cinta kau pasti akan berubah"
"Aku tidak sedang jatuh cinta"
"Sekarang belum tapi tidak tahu ke depannya"
"Kau tahu aku tidak butuh itu sama sekali"
"Suatu saat setelah kau mencintai seseorang maka kau akan tahu jika diri mu butuh cinta"
"Aku telah hidup bersama dengan seorang wanita selama 5 tahun tapi itu sama sekali tidak membuat ku jatuh cinta" jelas Stephen
"Dia adalah Sonnia dan sekarang adalah Cherry, aku berani bertaruh kau akan luluh di buat nya" kata Monica dengan senyum
"Monica, kenapa kau tiba-tiba saja bahas topik ini dengan ku?"
"Karena aku merasa cemburu"
__ADS_1
"Cemburu?"
"Kau menolak ku selama bertahun-tahun lamanya, dan sekarang Cherry bisa tinggal di rumah mu mengurus semua kebutuhan mu, itu sudah tidak beda jika dia seperti istri mu, maka aku cemburu" kata Monica dengan ketawa kecil
"Jangan bercanda! kau tahu sifat ku, Cherry seperti dokter pribadi ku maka aku sangat menghargainya, tentu saja aku berharap dia bisa berada di rumah ku untuk selamanya" jelas Stephen
"Iya, aku mengerti maksud mu, tenang saja aku tidak akan memintanya dari mu, walau aku minta kau juga tidak akan berikan pada ku" canda Monica dengan senyum
Perusahaan Chin
"Malam ini aku akan memberikan mu sejenis racun dan berikan pada gadis itu" kata Jhon yang sedang berada di kantor Ronald
"Aku penasaran dengan efek racun tersebut" ujar Ronald dengan penasaran
"Setelah minum maka hanya berselang 2 jam dia akan mati" jawab Jhon dengan senyum sinis
"Apakah bisa ketahuan jika dia mati keracunan?" tanya Ronald dengan merasa ragu
"Tenang saja, racun itu mulai bekerja setelah masuk ke dalam tubuhnya, membuat jantung berdetak dengan kencang setelah dia meninggal maka dokter akan mengira jika dia terkena serangan jantung" jelas Jhon dengan bersikap santai
"Apa kau yakin rencana kita kali ini akan berhasil?"
"Benar, jika saja orang itu tidak tahu cara mengobatinya maka Keponakan mu itu akan tewas setelah menderita beberapa saat" jawab Jhon
"Ini tergantung pada gadis itu" kata Ronald dengan berharap
"Asalkan kau bisa membelinya maka rencana kita pasti berhasil" lanjut Jhon
"Di perusahaan ini semenjak kejadian di rapat itu aku sudah kehilangan pendukung ku, para pemegang saham yang dulu membela ku telah di usir oleh si cacat itu" jelas Ronald dengan merasa kesal
"Itu adalah kesalahan mereka, karena mengelapkan uang perusahaan, tentu saja di usir masih lumayan mereka masih hidup" lanjut Jhon
Malam hari..
Stephen dan Cherry ke restoran mewah dengan di temani oleh Anton. di saat mereka masuk ke salah satu ruang yang telah di pesan oleh Stephen untuk makan bersama tiba-tiba saja Ronald dan Jhon yang melawati ruangan itu dan dengan sengaja menyapa Stephen.
"Stephen" sapa Ronald yang masuk ke ruang makan itu dengan di temani Jhon
Mendengar sapaan itu Stephen dan Cherry beserta Anton menoleh ke arah Ronald yang menghampiri mereka
"Paman, kebetulan sekali" balas sapaan Stephen dengan senyum
"Tuan Chin, kita bertemu lagi" sapa Jhon dengan pura-pura sopan
__ADS_1