Pembunuh Profesional

Pembunuh Profesional
Cherry pulang bersama dengan Stephen


__ADS_3

Cherry yang masih merasa belum memahami sikap Stephen membuatnya merasa keraguan yang mendalam atas hubungannya dengan pria itu, dirinya pun berjalan di desa itu yang di mana tempat warga sana sedang menamam padi


Suasana yang dingin, udara yang segar membuat dirinya rindu akan semua yang ada di desa itu.


Para warga desa sambil bekerja dan berbicara mengenai nama seseorang yang tentunya asing bagi Cherry.


"Aku mendengar kabar dia adalah pengedar narkoba terbesar, dan tidak ada yang tahu siapa dia" ucap seorang pria yang sambil sibuk dengan tangannya


"Benar, dan dia juga terkenal dengan membunuh orang secara kejam tanpa ragu" lanjut warga lainnya


"Selama ini tidak ada yang pernah melihat wajahnya, bahkan sudah lama di incar oleh pihak kepolisian, tapi tetap gagal" sambung salah satu warga di sana


"Jika dia adalah pengedar terbesar maka bukankah itu dia pasti sangat kaya bukan?"


"Benar, bayangkan saja setiap transaksi sudah berapa yang dia dapatkan keuntungannya"


"Dia memiliki organisasi yang luas, lebih baik kita tidak mengenalnya jika tidak sama saja kita juga dalam bahaya"


"Benar katamu, beritanya telah lama tersebar, sampai sekarang tidak ada yang tahu berapa usianya dan bagaimana tampangnya"


"Kalau tidak salah namanya adalah Christian Han"


"Kenapa kau bisa tahu?"


"Beritanya ada masuk koran selama berbulan-bulan, putra ku yang bekerja di kota sering membaca koran, nama Christian sudah tidak asing, hanya saja tidak pernah ada yang melihat wajahnya"


"Ada baiknya kita tidak kenal jika kita kenal bisa jadi kita jadi korbannya"


"Tentu! dia adalah penjahat yang paling menakutkan"


Beginilah perbicaraan tentang warga desa sana yang di dengar oleh Cherry. tanpa Cherry sadari Stephen telah berdiri di belakangnya selama beberapa menit dan tentu saja dirinya juga telah mendengar semua pembicaraan warga desa sana mengenai identitas aslinya


"Cherry" suara panggilan Stephen yang menyentuh pundak Cherry


"Stephen"


"Kelihatannya hasil padi nya sangat lumayan" kata Stephen dengan melihat ke arah kebun padi yang di depan matanya


"Setiap tahun menghasilkan banyak padi, setelah memanen maka mereka akan menjualnya di pasar dekat sini, dengan itulah mereka membiayai keluarga mereka"


"Apa kau sudah pernah melakukannya?"


"Pernah, sangat menyenangkan dan tidak merasa lelah. Stephen, apa kau pernah mendengar tentang Christian Han?"

__ADS_1


"Kenapa tiba saja kau menyebut nama itu?"


"Aku hanya penasaran seperti yang di katakan mereka tadi, apakah di kota besar ada penjahat seperti dia yang membunuh tanpa ragu?"


"Di kota pasti ada, tapi aku merasa dia tidak akan membunuh orang tanpa alasan"


"Bukankah jika membunuh ini tetap sangat kejam, bagaimana pun setiap manusia memiliki nyawa"


"Cherry, tidak perlu memikirkan itu, aku yakin dia pasti ada alasan untuk membunuh, dan kita tidak tahu tentang dirinya, mari kita berjalan-jalan ke tempat lain" ucap Stephen yang memegang tangan Cherry sambil berjalan ke arah lain


Keesokan harinya


Cherry dan Stephen kembali ke kota, Cherry yang di ancam oleh Stephen membuat dirinya terpaksa harus mengikuti pria itu, walau dia sangat mencintai Stephen akan tetapi perasaan ragu masih di rasakan olehnya.


Kediaman Chin


"Cherry, kau sudah lelah pergilah istirahat dulu, nanti setelah Chintia sudah siapkan makan siang aku akan memanggil mu" kata Stephen yang baru turun dari mobil


"Iya" jawab Cherry yang sama-sama melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu


"Tuan, Nona, sudah pulang" sambut Chintia dengan sopan


"Bibi, iya kami baru dari desa" jawab Cherry dengan senyum


"Baik, Bi" jawab Cherry dengan berjalan menuju ke kamarnya


"Chintia, masakkan sop walet untuk Cherry, dia baru sembuh kondisi tubuhnya masih belum begitu sehat" kata Stephen


"Baik Tuan" jawab Chintia dengan menurut


"Tuan, semalam tuan Poalo datang ingin menemui nona Cherry"


"Kenapa dia datang lagi? apa niatnya?"


"Sepertinya dia kelihatan dalam kondisi yang tidak baik, wajahnya pucat dan lemas"


"Biarkan saja, jika dia datang lagi usir saja, Cherry sedang istirahat jadi jangan ganggu dia"


"Baik Tuan"


"Ada apa lagi dengannya? apakah ingin meminta penawar untuk istrinya? Paolo Capilo, jika bukan karena diri mu adalah papa kandung Cherry maka aku tidak akan segan untuk mengambil nyawa mu" batin Stephen


Cherry masuk ke kamar dan menghempaskan diri ke atas kasur empuknya

__ADS_1


"Awalnya mengira tidak ingin kembali ke sini lagi, tapi pada akhirnya aku masih di sini, aku tidak tahu ini awal yang terbaik atau terburuk" gumam Cherry


"Aku rasa Jhon pasti bisa menghilangkan racunnya, seharusnya dia tidak mati karena aku tidak berniat untuk membunuhnya hanya ingin memberi pelajaran padanya" batin Cherry


Kediaman Paolo


"Jika saja anak itu tidak pulang lagi aku harus bagaimana? tidak bisa aku harus mencoba ke sana lagi besok, seluruh tubuh ku sudah merah dan sangat menyakitkan, jika tidak segera di singkirkan racunnya maka aku akan mati secara perlahan" kata Paolo yang sedang bersendirian di kamar


"Paolo" suara panggilan Angela yang masuk ke dalam kamarnya


"Angela, bagaimana dengan Sonnia?"


"Walau sakitnya sudah berkurang tapi bekas luka tetap ada, ini membuatnya sangat tertekan, dokter mengatakan tidak bisa di operasi, ke depannya bagaimana lagi dia harus berhadapan dengan orang lain, di seluruh tubuh di penuhi oleh bekas luka" jawab Angela dengan merasa sedih


"Apa sampai begitu serius? operasi juga tidak bisa membantunya?"


"Tidak bisa sama sekali, masa depannya sudah hancur, tidak akan ada pria yang mau bersamanya lagi"


"Bagaimana jika aku mencari Cherry bisa saja dia ada obat untuk menghilangkan bekas"


"Kenapa sampai saat ini kau masih sebut namanya? apakah tidak cukup apa yang dia lakukan pada wajah ku? apa kau tahu setiap aku keluar aku harus menyembunyikan wajah ku ini, aku tidak bisa lagi berdepan dengan orang lain, sekarang Sonnia juga sama" teriak Angela dengan emosi


"Aku tahu perasaan mu, tapi jika dia bisa membantu kenapa harus menolak? dia ahli dalam obat-obatan jika saja dia bisa maka wajah mu dan juga bekas luka Sonnia masih bisa di sembuhkan, bukankah ini bagus?"


"Aku tidak butuh bantuannya, jika aku melihatnya lagi maka aku akan membunuhnya"


"Dia tidak beda dengan Jhon, jika kau menyentuhnya maka diri mu sendiri yang akan terkena racunnya, apa kau masih ingin mencari masalah dengannya?"


"Aku tidak bisa, tapi aku bisa membeli orang untuk menghajarnya"


"Maksud mu?"


"Sonnia telah hancur maka aku ingin membalas, dan di saat itu apakah Stephen masih mau dengan wanita cacat? sehebat apa pun dia tetap akan kalah sama beberapa pria, aku Angela tidak akan berdiam diri saja"


"Jika Stephen tahu maka kita akan kena imbasnya"


"Dia tidak akan ada bukti, kurung wanita itu di sebuah tempat, lalu siksa dia selama berhari-hari, setelah cacat baru lepaskan"


"Untuk sementara ini jangan melakukan apa pun, karena anak ini masih berguna untuk aku pergunakan"


"Apa yang kau inginkan?"


"Aku ingin membuatnya luluh dan benci pada Jhon si peracun itu, lalu biar dia melawan Jhon mereka sama-sama ahli racun siapa pun yang mati tetap kita yang jadi pemenangnya, dan bagi mereka yang masih hidup maka akan menderita karena menyesal" ucap Paolo dengan niat jahatnya

__ADS_1


__ADS_2