
Setelah Anton meninggalkan kamar itu, Angela pun langsung membuka rekaman tersebut, di saat itu Angela dan Paolo melihat siksaan yang di dapatkan oleh putrinya Angela menangis dengan histeris, rasa sakit bagaikan di sambar petir karena melihat putrinya di siksa sehingga seluruh tubuhnya di penuhi darah dan rambut yang kusut, wajah yang pucat serta di ikat ke dua tangannya, dengan kondisi yang lemas
"Anak ku, kenapa mereka masih tidak ingin melepaskannya, dia sudah di siksa seperti ini, aku ingin mencari Stephen memohon padanya agar melepaskan putri ku" teriak Angela dengan histeris dan ingin turun dari ranjang
"Angela, lukau masih sakit jangan bergerak dulu" ucap Paolo dengan menahan Angela turun dari ranjang
"Paolo, bawa aku pergi bertemu dengan Stephen, aku rela ganti dengan nyawa ku untuk menyelamatkan putri ku, tolong bawa aku pergi"pinta Angela dengan menangis histeris
"Angela, walau sekarang kau pergi menemuinya belum tentu dia akan melepaskan Sonnia, kita sudah tahu sifatnya yang keras itu, jika kita salah bicara ini malah akan membuat Sonnia semakin menderita" kata Paolo dengan sambil menahan Angela
"Lalu apa yang harus ku lakukan? wajah ku sudah rusak dan putri ku di siksa seperti ini, aku sebagai orang tuanya tidak mampu untuk menyelamatkannya" ucap Angela sambil menangis
"Bawa aku ke sana, aku ingin bertemu dengannya hari ini, aku ingin tahu apa yang dia inginkan" kata Angela yang memaksa diri turun dari ranjang
"Angela, jaga luka mu itu"
"Jika putri ku meninggal walau wajah ku sembuh juga tidak berguna lagi, cepat bawa aku ke sana jika kau tidak mau maka aku akan pergi sendiri" teriak Angela yang merasa hancur di hatinya
"Baiklah kita pergi, tapi kau harus bersikap tenang dulu" jawab Paolo dengan menenangkan istrinya
Setelah setengah jam kemudian mereka tiba di depan rumah Stephen
Di saat tiba Angela langsung keluar dari mobil dan menghampiri pintu pagar besar rumah itu dengan sambil berteriak dengan histeris.
"Stephen, Stephen, Stephen, tolong buka pintunya, aku ingin bertemu dengan mu" teriak Angela dengan nada tinggi
"Stephen, buka pintunya, aku mohon bebaskan putri ku, hukumlah aku jika aku bersalah pada mu" teriak Angela dengan histeris
"Aku mohon pada mu, kembalikan putri ku, apa pun kau mau kau bisa ambil saja, aku rela berikan semuanya pada mu, tolong kembalikan putri ku, aku mohon" teriak Angela sambil menangis dengan histeris
"Angela, jaga luka mu, luka mu baru di jahit" ujar Paolo yang berdiri di samping Angela
"Cepat panggilkan dia, cepat panggil" ucap Angela dengan histeris melihat ke arah Paolo
__ADS_1
Teriakan Angela di dengar oleh Stephen, Anton dan Cherry yang berada di ruangan tengah..
"Stephen, dia datang untuk memohon lepaskan Sonnia" kata Cherry yang menarohkan piring buah di atas meja
"Biarkan saja" jawab Stephen dengan santai
"Anton, usir mereka, jika masih tidak ingin pergi maka semprot air ke arah mereka" perintah Stephen sambil membaca koran
"Baik Tuan" jawab Anton dengan menurut
"Stephen, tolong lepaskan Sonnia, pandanglah hubungan kalian adalah suami istri selama 5 tahun, apakah kau tidak memiliki sedikit pun perasaan terhadapnya, aku mohon pada mu kembalikan putri ku" pinta Angela hingga berlutut sambil menangis dengan histeris
"Anton, mana Stephen?" tanya Anton yang melihat ke arah Anton yang berjalan ke arah mereka
"Sia-sia saja kalian berteriak dan menangis di sini, atasan ku tidak akan bertemu dengan kalian, cepat pergi" ucap Anton dengan nada tegas
"Anton, aku mohon kembalikan putri ku, apa pun yang kalian mau aku bisa berikan pada kalian" pinta Angela dengan sedang berlutut
"Anton, biarkan kami masuk bertemu dengan Stephen" pinta Paolo dengan berharap
"Atasan ku tidak akan ingin melihat kalian, aku di suruh untuk mengusir kalian pergi dari sini" jelas Anton dengan kesal
"Anton, biarkan aku bertemu dengan Sonnia, aku mohon pada mu" pinta Angela dengan menangis tanpa berhenti
"Apa pun yang kalian minta semua tidak akan di kabulkan, jadi percuma kalian berteriak di sini. cepat pergi" bentak Anton yang mulai kesal
"Anton, apa pun yang terjadi aku dan Angela adalah mertua Stephen, dan putri ku juga di dalam, biarkan aku masuk" kata Paolo
"Paolo Capilo, Anda sangat tidak tahu malu, di saat Cherry masih kecil kau menelantarnya demi wanita ini, dan sekarang kau sudah buntu dan beraninya mengatakan jika Cherry adalah anak mu, Cherry memang tinggal di sini, tapi bukan berarti kau bisa bertemu dengannya" ketus Anton dengan tatapan emosi
"Anton, sebenarnya apa yang kalian inginkan dari kami? Sonnia sudah lama di tangan kalian, selama ini dia sudah menderita sehingga wajahnya sudah pucat dan tubuhnya sudah penuh dengan luka, apakah masih tidak cukup kalian menyiksanya?" sebut Paolo dengan merasa cemas
"Paolo Capilo, dia bukan putri mu tapi kau begitu peduli dengannya" ujar Anton dengan tatapan kesal
__ADS_1
"Walau bukan putri kandung ku tapi dia tetap putri ku, tidak ada beda dengan Cherry" jawab Paolo
"Tidak perlu buang waktu di sini, atasan ku tidak butuh apa pun dari kalian, jika kalian masih di sini maka besok kalian hanya bisa melihat jasadnya" kata Anton dengan ancaman
"Jangan melakukannya, tolong jangan, aku mohon jangan membunuhnya" pinta Angela dengan ketakutan
"Jika masih ingin melihat putri mu itu maka segera lenyap dari sini, setelah saat nya tiba maka Atasan ku akan membebaskannya" ujar Anton
"Anton, tolong jangan menyiksannya lagi, siksa saja diri ku" ucap Angela dengan memohon
"Pergi dari sini dari pada besok kalian melihat jasadnya" gertak Anton yang berpaling dari mereka dan melangkah ke arah rumah
"Anton, Anton" teriak Angela dengan menangis tanpa berhenti
"Angela, berdirilah" bujuk Paolo yang memegang lengan Angela dengan membantunya berdiri
Angela yang di bantu Paolo berdiri merasa lemas di sekujur tubuhnya, tidak lama kemudian dirinya pun pingsan di pelukkan Paolo.
"Angela, angela" panggil Paolo yang menguncang pelan tubuh Angela
Pemandangan itu di amati oleh Cherry dari jendela, rasa kecewa dan marah di rasakan oleh dirinya..
"Di saat wanita itu terluka dan pingsan kau begitu cemas, tapi di saat Mama ku sakit kau malah pergi meninggalkannya. Paolo Capilo, sampai sekarang kau bahkan tidak merasa bersalah terhadap Mama ku dan aku, kau sangat keterlaluan" batin Cherry dengan mengepal tangannya
"Cherry" suara panggilan Stephen yang menghampiri Cherry yang sedang melihat ke arah luar jendela
"Iya" jawab Cherry yang sedang mengeluarkan air mata
"Kau menangis karena dia?" tanya Stephen sambil mengusap air mata Cherry
"Aku hanya mengingat Mama ku, semasa hidup pria ini tidak pernah memerhatikannya, di saat sakit dia juga tidak peduli dan meninggalkan mama ku, tapi di saat wanita itu terluka dan pingsan dia sangat cemas" jawab Cherry dengan rasa kecewa
"Jika ingin menangis maka menangislah, jangan menahannya, di sini kau bebas untuk ketawa dan menangis" bujuk Stephen sambil memeluk dan mengelus kepala Cherry
__ADS_1