Pembunuh Profesional

Pembunuh Profesional
Pengintaian di pelabuhan


__ADS_3

"Baik Bos"


"Aku berharap Villa itu cepat selesai dalam waktu dekat" ucap Christian yang sedang menghabiskan minuman di gelasnya


"Paling hanya sebulan lagi Bos, banyak pekerja yang mendirikan Villa itu dan markas ular cobra, dan mereka juga sangat cepat mengerjakannya"kata Anton


"Hm...aku berharap keluarga ku bisa hidup dengan nyaman saat di sana, dan aku sangat menantikan di hari itu" jawab Christian


"Anton, jual semua rumah ku yang masih di atas namaku, dan semua uangnya masuk ke rekening Cherry, aku tidak mau di saat aku terjadi sesuatu pihak pemerintahan mengambil hartaku, ini hanya untuk antisipasi" pesan Christian


'Siap Bos, akan tetapi bukankah nyonya akan tahu nanti jika ada sejumlah uang masuk ke rekeningnya?" tanya Anton


"Aku sudah menyuruh Thomas membuka rekening baru untuknya dan semua hasil dari jual rumah kirim saja ke rekeningnya, Thomas akan memberitahu Cherry jika benar-benar terjadi sesuatu padaku di saat itu"


"Dan rumah ini juga kau jual saja di saat kami sudah pindah kesana"


"Baik Bos" jawab Anton


Klek


"Christian" suara panggilan Cherry yang masuk dengan mengunakan kursi rodanya


"Cherry" sahut Christian yang meletakkan gelasnya ke atas meja dan berjalan menghampiri istrinya itu


"Sudah malam, kenapa masih belum istirahat?" tanya Cherry dengan senyum


"Sebentar lagi aku sudah mau tidur" jawab Christian dengan mengecup dahi istrinya


"Bos, Nyonya, aku permisi dulu, selamat malam" ucap Anton dengan hormat


"Selamat malam Anton" balas ucapan Cherry


Sesaat kemudian Anton melangkah keluar dari pub mini bosnya itu


"Apa kau masih minum? sudah malam begini, dan lukamu masih belum sembuh sepenuhnya" ujar Cherry


"Hanya minum sedikit saja," jawab Christian dengan senyum

__ADS_1


"Apakah Aaron sudah tidur?" tanya Christian


"Sudah, dia bermain seharian dan merasa lelah maka dia cepat tidur malam ini" jawab Cherry


"Mari kita duduk sambil bercerita dulu" ujar Christian yang mengendong istrinya dan duduk di sofa yang di dalam pubnya itu, Christian memangku istrinya dengan memeluk pinggangnya dengan erat


"Katakan padaku kehidupan apa yang kamu impikan?" tanya Christian dengan senyum


"Kehidupan yang tenang, aku berharap kita bisa tinggal di sebuah tempat yang aman, kita merawat Aaron dan mendidiknya menjadi orang yang baik pada siapapun dan berbakti pada kita" jawab Cherry dengan senyum


"Idaman tempat tinggal mu seperti apa?'


"Tidak perlu besar, cukup 2 kamar saja, dan ada halaman untuk Aaron bisa bermain, dan paling utamanya adalah Aaron bisa mendapatkan pendidikan yang bagus, aku tidak berpelajaran tinggi tapi aku berharap putra kita bisa mendapatkan sekolah yang bagus" jawab Cherry


"Itu sudah pasti sayangku, anak kita akan ku atur ke sekolah yang paling bagus di dunia" kata Christian dengan senyum


"Cherry, Villa kita di pulau itu akan siap dalam sebulan, dan setelah itu kita akan jual rumah ini dan tinggal di sana" kata Christian dengan mencium wajah istrinya


"Villa di pulau?" tanya Cherry dengan heran karena dia tidak tahu jika Christian telah membeli sebuah pulau untuk mendirikan Villa di sana


"Iya, tiga tahun lalu aku sudah membelinya, selain Villa markas saudaraku juga di sana, bukankah kamu berharap kita bisa tinggal di tempat yang tenang dan nyaman dan tidak ada yang mengenal kita?"


"Iya, apa kamu suka di sana?'


"Asal bersamamu dimana pun aku tetap suka" jawab Cherry dengan mencium wajah Christian


"Tadi aku mendengarmu mengatakan jika rumah ini mau di jual? kenapa harus di jual?" tanya Cherry


"Karena kita sudah tidak membutuhkannya, aku ingin kita hidup bersama dengan bahagia di pulau sana, dan melepaskan semua yang ada di sini" jelas Christian dengan senyum


"Tapi aku malah merasa sayang, karena sini banyak kenangan kita" ujar Cherry


"Apakah kamu tidak mau aku menjual rumah ini?"


"Apa bisa jangan menjualnya? karena sini banyak kenangan kita" pinta Cherry dengan berharap


"Baiklah, jika kamu tidak mau aku jual maka aku tidak akan menjualnya, dan rumah ini akan menjadi kenangan terindah bagi kita untuk selamanya" jawab Christian dengan mencium bibir istrinya

__ADS_1


"Aku akan menganti nama pemilik rumah ini menjadi namamu, dan untuk selamanya kenangan kita akan kekal abadi" batin Christian


Pelabuhan milik Christian


Di malam itu Owen dan rekannya sedang mengintai pelabuhan itu dari jarak yang cukup jauh, karena rasa curiga pada kapal itu maka mereka pun mengintai sepanjang malam di tempat yang tersembunyi di pelabuhan


Tanpa mereka sadari jika anggota ular cobra, Micheal dan Victor sedang mengamati mereka dari sisi lain


"Betul kata bos, pihak kepolisian tidak akan tinggal diam saja pada pelabuhan ini" ujar Victor yang sambil mengunakan teropong melihat ke arah Owen dan rekannya


"Apakah kapal itu meninggalkan bukti? jika tidak mengapa mereka malah mencurigai kapal itu? lihat saja jika tanpa ada apa-apa tidak mungkinkan mereka mau mengintai di sepanjang malam di sana" kata Micheal


"Kata bos ingin meledakan kapal itu, tapi kita harus mengunakan cara lain agar bisa mendekati kapal itu dan meledakkannya" ujar Victor


"Kau ingin meledakan kapal itu di depan mereka?" tanya Micheal


"Iya, lagi pula mereka tidak akan tahu jika kita pelakunya" jawab Victor


"Kapal itu tidak bisa di biarkan terlalu lama, aku hanya takut jika dalamnya ada sisa-sisa narkotika saja" ucap Micheal yang sambil mengamati Owen dan lainnya


"Baiklah, bagaimana jika kita siapkan dulu peledaknya" ujar Victor


"Mari kita pergi sekarang" ajak Micheal


Setelah beberapa saat kemudian Micheal dan Victor meninggalkan tempat itu, sementara Owen dan rekan lainnya masih tetap di posisi mereka


Mansion Han


Christian mendapat panggilan dari Micheal mengenai pengintaian dari pihak kepolisian di pelabuhan miliknya


"Pasang bom waktu di bawah kapal, dan kemudian ledakkan" perintah Christian


"Siap Bos, bagaimana dengan mereka apakah mau di biarkan saja?" tanya Micheal yang di seberang saja


"Biarkan saja mereka, setelah ledakkan kapal itu mereka juga tidak ada lagi yang mau di intai, lebih bagus jika kapal itu meledak di depan mereka semua"


"Baik Bos"

__ADS_1


Setelah habis perbincangan mereka pun memutuskan panggilannya, sementara Christian masih berdiri di dekat jendela sambil melihat ke arah luar


"Owen, jika kau mengira karena kapal itu kami akan muncul maka perhitunganmu sudah salah, aku hanya perlu meledakkannya saja, walau di dalam kota kalian melakukan pengawasan ketat, tapi di negara lain aku masih bisa melakukan transaksi besar-besaran, kalian semua sangat bodoh sekali" batin Christian


__ADS_2