Pembunuh Profesional

Pembunuh Profesional
Paolo bertemu dengan Cherry


__ADS_3

"Kenapa harus menyesal jika ada yang mati di antara mereka?" tanya Angela dengan penasaran


Paolo menceritakan hubungan antara Cherry dan Jhon Wilster


Beberapa menit kemudian


"Ternyata begini, aku malah tidak sabar ingin melihat pertunjukan" ucap Angela dengan senyum jahat


"Benar, aku juga tidak sabar, setelah itu aku akan beritahu kebenarannya pada mereka dan di saat itu semua sudah terlambat, mereka hanya bisa menerima apa yang telah terjadi" kata Paolo dengan penuh keyakinan


"Hahahahah..ide yang bagus" kata Angela dengan ketawa kecil


Di sisi lain Owen dan rekan kerja lainnya menemukan jasad Ronald setelah beberapa hari kematiannya, mereka menemukan di lokasi bawah jembatan selain itu semua barang milik Ronald telah hilang tanpa jejak, tentu saja ini adalah bagian dari rencana dari Stephen alias Christian.


"Pak, bukankah dia adalah Ronald Chin pamannya Stephen Chin?" ujar Nicky yang sedang memeriksa tubuh Ronald yang sudah mengeluarkan aroma yang tidak sedap


"Dia di bunuh dengan 3 tikaman, ini seperti di bunuh oleh perampok, semua barangnya telah hilang" kata Jimmy


"Dan sudah terjadi selama dua atau tiga hari" ucap Owen


"Pelakunya cukup kejam, setelah merampok masih tidak cukup dan mengambil nyawanya sekaligus" lanjut Nicky


"Hubungi Stephen" perintah Owen


"Siap Pak" jawab Jimmy


Kediaman Chin


"Tuan, jika detektif Owen mendapatkan jasad Ronald bukankah mereka akan datang mencari Anda?" kata Anton yang sedang berada Di ruang baca Stephen


"Biarkan saja, lagi pula mereka tidak akan mencurigai kita" jawab Stephen dengan bersikap tenang


"Kenapa tidak di buang ke tempat lain saja, Tuan?"


"Jika menghilangkan jejak maka mereka akan curiga pada ku, kenapa aku bisa bersikap santai jika Paman ku hilang, akan tetapi jika biarkan mereka menemukan jasadnya paling mereka hanya akan memberitahu berita ini kepada kita dan menyelidiki tanpa rasa curiga terhadap kita" jelas Stephen


"Benar juga kata, Tuan"


"Tuan Chin, di luar detektif Owen ingin bertemu dengan Anda" kata Chintia yang masuk ke dalam ruangan baca


"Persilahkan dia masuk" jawab Stephen yang bangkit dari kursi dan menghampiri kursi rodanya

__ADS_1


Stephen keluar dari ruangan baca dengan mengunakan kursi rodanya dan di dorong oleh Anton menuju ke ruang tamu yang di mana Owen dan lainnya sedang menunggu dirinya


"Detektif Owen, angin apa yang membawa mu kemari?" tanya Stephen dengan bersikap santai


"Stephen, hari ini kedatangan ku adalah ingin menyampaikan berita buruk" ucap Owen yang bangkit dari sofa


"Berita buruk apa?" tanya Stephen yang sedang berpura-pura


"Kapan terakhir diri mu bertemu dengan Paman mu?"


"Paman ku? kalau tidak salah saat dia masuk rumah sakit, sehari sesudah hari ulang tahun ku" jawab Stephen


"Ini sudah lama juga, kami baru menemukan jasadnya di bawah jembatan, dia di bunuh oleh perampok seluruh barang miliknya telah hilang, dan perkiraan dia telah meninggal selama 3 hari" jelas Owen


"Selama 3 hari di bunuh? detektif Owen, tolong cari sampai dapat perampoknya, jika ada kabar tolong hubungi aku, dia satu-satunya paman ku, melindunginya seharusnya menjadi tanggung jawab ku tapi aku malah gagal" kata Stephen dengan raut wajah yang sedih


"Aku berjanji akan mendapatkannya, ini adalah tugas ku juga. Stephen, jangan bersedih kuat kan hati mu" bujuk Owen


"Aku tahu, dia adalah paman ku dan satu-satunya ahli keluarga ku, dan sekarang dia malah harus menerima nasib tragis seperti ini" ucap Stephen dengan mengeluarkan air mata


"Aku turut berduka atas kejadian ini, kami permisi dulu, istirahatlah" kata Owen dengan pamit dan meninggalkan rumah Stephen


Setelah mereka melangkah pergi raut wajah Stephen berubah menjadi serius dengan tatapannya di penuhi dengan aura membunuh


"Baik Tuan"


Setelah beberapa hari kemudian


Kejadian yang menimpa Ronald telah di ketahui oleh Jhon lewat berita tersebut.


"Tewas di bunuh? ini sangat tidak bisa di percaya? apa mungkin hanya kebetulan atau ada hubungan dengan Stephen?" kata Jhon yang sedang menonton berita mengenai kematian Ronald


"Tuan, ini bukankah agak aneh, di hari itu bukankah dirinya menuju ke desa itu, hari kematiannya sama dengan di hari dia pergi ke desa?" ucap Alex dengan penasaran


"Aku tetap merasa Stephen agak misteri, dia beda dengan pengusaha lainnya, dia memiliki tatapan yang sangat kejam, aku malah curiga jika Ronald di bunuh olehnya" ujar Jhon dengan merasa lemas di tubuhnya


"Tuan, Anda masih lemah sampai kapan harus melawan sakit ini? tuan, juga jarang tidur semenjak terkena racun, kalau begini terus maka Anda tidak akan bertahan" kata Alex dengan merasa khawatir


"Ini sangat menyiksa ku, semua penawar ku tidak bisa menyingkirkan racun di dalam tubuh ku ini"


"Aku akan mencoba menyelidiki gadis itu apakah dia sudah pulang ke rumah Stephen atau belum"

__ADS_1


"Tidak perlu, walau dia pulang tetap saja aku tidak akan meminta penawar darinya"


"Tapi mau sampai kapan tuan bertahan seperti ini?"


"Tenang saja, aku masih kuat dan bisa menahan sakit"


"Jika saja sampai aku harus meminta penawar dengan anak itu sama saja menjatuhkan nama ku sendiri, aku harus menahannya dan sambil menciptakan penawarnya sampai berhasil" batin Jhon


Kediaman Chin


Di siang itu Stephen dan Cherry sedang makan bersama


"Stephen, setelah pulang beberapa hari ini kenapa kau tidak ke perusahaan?" tanya Cherry sambil menyantap makanannya


"Anton yang mengurus semuanya" jawabnya dengan santai


"Kamu adalah atasan mereka mana bisa tidak masuk kerja"


"Perusahaan tanpa ku juga baik-baik saja, lagi pula Anton setiap hari memberi ku laporan, jadi tetap saja aku bisa memeriksanya di rumah"


"Tuan, Nona, di luar tuan Paolo ingin bertemu dengan mu" ucap Chintia dengan sopan


"Usir saja dia" perintah Stephen dengan tegas


"Tuan, dia mengatakan jika Nona tidak keluar bertemu dengannya dia akan tetap berdiri di luar"


"Biarkan saja" jawab Stephen dengan menahan emosi


"Kenapa dia mencari ku lagi? Bibi, apa yang dia katakan?" tanya Cherry dengan penasaran


"Dia hanya ingin bertemu dengan nona, dan tidak beritahu alasannya" jawab Chintia dengan sopan


"Tidak usah pedulikan dia, niatnya memang hanya ingin meminta penawar untuk istrinya itu" ujar Stephen


"Aku dan dia tetap harus berhadapan, aku tidak ingin mengelak, yang seharusnya di hadapi maka akan ku hadapi"


"Pergilah jika ingin bertemu dengannya"


"Iya" jawab Cherry yang bangkit dari tempat duduknya


Cherry berjalan menuju ke pagar yang di mana tempat Paolo sedang menunggu untuk bertemu dengannya

__ADS_1


"Cherry, Cherry, akhirnya kau sudi bertemu dengan ku" panggil Paolo dengan yang merasa senang


"Kenapa wajahnya pucat dan seperti tubuhnya agak bengkak, matanya juga seperti orang yang sedang sakit parah" batin Cherry yang sedang menghampiri Paolo yang sedang berdiri di luar pagar


__ADS_2