Pembunuh Profesional

Pembunuh Profesional
Cherry melamun


__ADS_3

Malam hari..


Stephen dan Cherry seperti biasanya makan malam bersama, di saat makan malam Stephen dengan raut wajahnya yang tidak merasa senang.


"Kenapa Tuan tidak bersuara ya? dan wajahnya juga tidak merasa senang? apa karena aku terlambat pulang?" Batin Cherry yang sambil menyantap makanannya


"Tuan, maaf tadi aku kemalaman" ucap Cherry yang merasa bersalah


"Kemana kamu pergi tadi?" tanya Stephen tanpa menoleh ke arah Cherry


"Tuan, tadi aku bertemu dengan Ronald Chin dan dia membawa ku ke restoran" jawab Cherry


"Ronald Chin kenapa dia mencari mu?" tanya Stephen yang menoleh ke arah Cherry


Cherry menjelaskan semua yang di tawarkan oleh Ronald pada dirinya serta menyerahkan amplop dan kemasan kecil yang di berikan oleh Ronald tadi kepada Stephen.


Setelah habis makan malam Cherry dan Stephen berada di salah satu ruangan mewahnya..


"Aku tidak menyangka jika dia ingin meracuni ku dengan cara ini" ujar Stephen sambil melihat kemasan kecil yang di berikan Cherry tadi.


"Tuan, jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Cherry dengan penasaran


"Ikuti saja permainannya" jawab Stephen dengan singkat


"Aku mengerti" jawab Cherry dengan mengangguk


"Tidak menyangka Cherry sama sekali tidak tergoda dengan sejumlah uang, tawaran Ronald sangat lumayan tapi Cherry tidak tertarik sama sekali, gadis ini sangat luar biasa" Batin Stephen


Di malam itu seperti biasa Cherry berada di ruangannya sedang mengolah obat herbal, jam menunjukkan pukul 11 malam. lagi-lagi ada sepasang mata yang sedang mengamati Cherry yang sibuk dengan obatnya, seseorang yang selalu memerhatikan Cherry dari luar pintu kamar tersebut.


"Siapa di sana?" teriak Cherry yang melihat pintu terbuka kecil dan ada bayangan


Cherry langsung berlari ke arah pintu dan di saat keluar dari ruangan dia melihat kesekitaran sana sehingga mencari setiap sudut rumah itu akan tetapi tanpa hasil apa pun.


"Aneh kenapa tidak ada? hah..coba liat kamar Tuan dulu" batin Cherry yang berlari ke kamar Stephen


Klek


"Tuan" panggil Cherry dengan suara rendah


Di saat masuk Cherry melihat atasannya itu sudah tidur pulas


"Untung Tuan aman-aman saja, siapa yang ku lihat tadi? seharusnya bukan pencuri, tapi kenapa orang itu sepertinya sedang memerhatikan ku ya, dan kenapa tidak masuk saja, rumah ini hanya tinggal Tuan dan Chintia, lalu siapa orang tadi itu?" Batin Cherry yang merasa penasaran


Keesokan harinya


Cherry yang sedang duduk melamun mengingat kejadian semalam membuatnya tidak fokus bekerja dengan duduk di halaman itu.


"Apakah rumah ini berhantu ya? kenapa semakin di pikirkan aku semakin takut, rumah ini hanya kami bertiga, sedangkan Tuan sudah tidur, lagi pula tidak ada alasan untuk nya melihat ku apa lagi dia juga tidak bisa berdiri" batin Cherry

__ADS_1


"Cherry" sapa Stephen yang menghampiri Cherry dengan kursi rodanya


Cherry tidak mendengar panggilan dari Stephen


"Cherry"sapa Stephen yang sedang memerhatikan Cherry


Cherry lagi-lagi tidak menyahut panggilan dari Stephen yang sudah berada di sampingnya


"Cherry, ada apa dengan mu?"


"Hah...Tuan, apa ada yang ingin ku siapkan untuk mu?" tanya Cherry yang merasa kaget


"Cherry, ada apa dengan mu? aku sudah memanggil mu berkali-kali, tapi kau malah terdiam saja" tanya Stephen dengan penasaran


"Tuan itu?" ucap Cherry yang ragu ingin melanjutkannya


"Katakan, ada apa sebenarnya?"


"Tuan, jika aku bertanya jangan marah ya?"


" Kenapa aku harus marah?"


"Tuan, apakah rumah ini ada hantu?"


"Hantu? kenapa kau bisa bertanya seperti itu?"tanya Stephen dengan ketawa kecil


"Cherry, mungkin saja kamu kelelahan, begini saja untuk memastikan bagaimana jika kita lihat saja rekaman cctv nya?"


"Rekaman?"


"Iya, mari ikut aku" ajak Stephen yang menekan tombol kursi roda menuju ke dalam rumahnya


Setelah di ruang baca Stephen membuka rekamannya untuk memperlihatkan kejadian malam itu.


"Tuan, ini rekaman semalam tapi kenapa tidak melihat sesiapa pun yang berdiri di sana?" tanya Cherry yang menunjukan ke arah rekaman tersebut


"Karena ini memang hanya diri mu saja yang salah melihat" jawab Stephen yang menoleh ke arah Cherry yang berdiri di belakangnya


"Apa hanya khayalan ku ya?"


"Cherry, kelihatannya kamu kelelahan, pagi kau harus mengurus semua kebutuhan rumah dan malam kau memaksakan diri untuk meracik obat, bukankah ini hanya membuat mu kelelahan?"


"Tapi aku sudah kebiasaan melakukannya"


"Dulu kau di desa, tapi sekarang kau sudah di sini, aku juga tidak ingin asisten ku memaksakan diri untuk mengerjakan semuanya, ini hanya melelahkan mu"


"Tuan, aku masih muda jadi aku tidak merasa lelah" jawab Cherry yang menyakinkan Stephen


"Begini saja, lain kali aku tidak mengizinkan mu meracik obat di malam hari, karena malam hari seharusnya kamu istirahat dan bukan bekerja lagi, apa kamu mengerti?"

__ADS_1


"Tapi Tuan?"


"Sudah! ikuti kata ku saja, jangan membantah ku jika tidak maka aku akan potong gaji mu" kata Stephen dengan tegas


"Iya aku mengerti" jawab Cherry menurut.


Prak...


Hentakan meja yang di lakukan oleh seorang wanita yang ingin menculik Cherry


"Apa di bunuh? siapa pelakunya?"


"Nona, Tidak tahu. aku hanya melihat dari jauh, pria itu berpakaian jaket kulit dan masker kelihatannya sangat akrab dengan wanita itu" jawab bawahannya


"Samuel, maksud mu wanita itu ada yang menjaganya?"


"Benar Nona"


"Ini merusakkan rencana ku saja"


Tidak lama kemudian seorang pria paruh baya masuk ke dalam kantor wanita itu


Klek


"Sonnia" sapa pria paruh baya itu yang baru masuk ke dalam kantor Sonnia


"Pa, ada urusan apa mencari ku?" tanya Sonnia yang menghampiri Paolo


"Samuel, kau keluar dulu" perintah Sonnia dengan dingin


"Baik" jawab Samuel yang meninggalkan kantor Sonnia


"Aku mendengar kabar kau pergi mencari Stephen lagi?"


"Pa, aku hanya tidak puas saja, aku di nikahin setelah itu di ceraikan" jawab Sonnia dengan merasa kecewa


"Sonnia, kau seharusnya tahu apa sebabnya dia menceraikan mu di saat itu" jelas Paolo yang duduk di sofa kantor itu


"Pa, bagaimana pun aku memiliki latar belakang yang bagus, aku berpendidikan tinggi tentu saja aku tidak puas" kata Sonnia dengan kesal


"Sudahlah, jangan semakin terjerumus, kita bukan tandingannya" ucap Paolo yang menghela nafas panjang


"Pa, di rumahnya sekarang ada wanita muda yang tinggal bersamanya, aku merasa jika Stephen sangat peduli padanya, ini aneh"


"Kalian sudah bercerai untuk apa kau peduli ini lagi?"


"Aku hanya tidak ingin ada wanita lain berada di sisinya" jawab Sonnia dengan tidak senang hati


"Mengenai latar belakang aku lebih bagus, tapi kenapa si cacat itu hanya melihatnya, aku yang menjadi istrinya selama 5 tahun tapi di abaikan dia"

__ADS_1


__ADS_2