Pembunuh Profesional

Pembunuh Profesional
Sonnia mendatangi rumah Stephen


__ADS_3

Keesokan harinya


"Tuan, sesuai perintah Anda foto itu sudah ku sebarkan ke internet, tidak lama lagi ini akan menguncang perusahaan Angela" kata Anton yang berdiri di depan atasannya


"Bagus sekali, hari ini aku masih ingin melihat dengan cara apa mereka menyelesaikan masalah ini" jawab Stephen dengan senyum


Kediaman Paolo


"Aaarrggghhhttt" teriakan Sonnia memenuhi satu rumahnya


Mendengar teriakan putrinya Paolo dan Angela langsung menuju ke kamar Sonnia


"Sonnia, apa yang telah terjadi?" tanya Angela dengan merasa cemas


"Ma, lihatlah di internet ini adalah foto ku" teriak Sonnia dengan histeris


"Apa? foto mu? coba Mama lihat dulu" ucap Angela yang melihat ke handphone milik Sonnia


"Ke-kenapa bisa ada foto ini, Angela?" tanya Paolo dengan rasa tidak percaya


"Siapa yang menyebarkan ini? siapa lagi yang ingin menentang kita?" teriak Angela dengan histeris


"Cepat cari orang yang menyebarkannya dan tuntut dia" ucap Paolo


Sonnia menangis melihat foto dirinya di saat dia bersama dengan seorang pria ke hotel dan bermain di dalam kamar, di dalam foto tersebut menampakkan wajah Sonnia dengan jelas, sehingga membuat dirinya semakin tertekan


"Angela, lihat ini postingan pertama adalah dari orang tanpa nama, dia hanya mengunakan nama samaran dengan inisial A, kita tidak bisa tahu siapa dia" kata Paolo


"Selidiki saja nomornya pasti bisa di lacak" kata Angela


Tidak lama kemudian nada dering masuk ke handphone milik Angela dan Paolo


Di saat mereka melihat nama panggilan mereka seakan-akan sudah tahu apa yang akan mereka hadapi


"Kelihatanya mereka sudah melihat foto itu" kata Paolo


"Kita harus ke perusahaan" ujar Angela


"Tapi wajah mu apakah bisa kau ke sana?"


"Aku bisa menutup wajah ku ini bersangkutan dengan masa depan perusahaan, aku ganti pakaian dulu" kata Angela yang tidak menjawab panggilan tersebut

__ADS_1


"Sonnia, Mama dan Papa akan ke perusahaan dulu, tenanglah kita akan mendapatkan si pelakunya" bujuk Angela dengan menenangkan hati anaknya


"Iya, Ma" jawab Sonnia yang sedang menangis dengan perasaan hancur


"Paolo, aku ingin pergi dulu" kata Angela dengan melangkah ke arah pintu


"Baiklah, aku menemani mu pergi" jawab Paolo dengan ikuti langkah istrinya


"Kenapa nasib ku bisa begitu tragis? aku di ceraikan dan di siksa sehingga cacat dan sekarang bahkan penderitaan ku masih belum berakhir, siapa pelakunya ?" kata Sonnia yang mengeluarkan air matanya


"Foto itu..hanya dia yang memilikinya, apakah dia lagi yang menyebarkannya? aku ingin memastikannya" batin Sonnia yang turun dari kasur dan berlari keluar dari kamarnya


Kediaman Chin


"Stephen, apakah foto Sonnia kamu yang sebarkan?" tanya Cherry yang sedang melihat foto Sonnia yang tersebar di internet


"Benar, ini masih tidak seberapa" jawab Stephen dengan santai


"Tapi bukankah ini agak berlebihan? dia sudah mendapat siksaan mu, dan sekarang foto ini sudah di lihat jutaan orang dan mendapat kecaman dari para netizen"


"Cherry, jangan lembut dengan musuh, mereka bukan siapa-siapa kita, ingat itu"


"Stephen, apa kamu tidak memikirkan jika dia adalah mantan istri mu? kenapa tidak memberikan dia kelonggaran saja, dia sudah menderita"


"Kalian sudah bersama selama 5 tahun, apakah hati mu benar-benar sekeras batu tidak pernah tersentuh olehnya?"


"Aku tidak akan tersentuh dengan wanita seperti itu"


"Lalu wanita seperti apa yang bisa membuat mu tersentuh?" tanya Cherry tanpa menoleh ke arah Stephen


"Selama hidup ku hanya diri mu yang membuat ku tersentuh" jawab Stephen dengan berisik di telinga Cherry


"Jangan dekat ke telinga ku, geli" teriak Cherry yang kaget dan ingin berdiri akan tetapi lengannya di tarik oleh Stephen sehingga membuatnya kembali duduk di samping kekasihnya itu


"Ingin lari dari ku?" tanya Stephen dengan senyum dan mengoda Cherry


"Aku ingin keluar mencari angin segar" jawab Cherry yang merasa canggung


"Kau sangat pemalu" ucap Stephen dengan mendorong Cherry tiduran di sofa dan langsung mencium bibirnya


Tok...tok...tok..

__ADS_1


"Tuan, nona Sonnia ingin bertemu dengan mu" kata Chintia yang berada di luar ruangan


"Stephen, sudah hentikan, Bibi sedang memanggil" ucap Cherry yang melepaskan ciumannya


"Katakan saja aku sedang sibuk dengan Cherry" jawab Stephen dengan sengaja


"A-apa yang kau katakan ini? nanti Bibi salah sangka" kata Cherry yang merasa malu


"Tuan, tapi nona Sonnia mengatakan jika Anda tidak keluar maka dia tidak mau pergi" ucap Chintia yang masih di luar pintu


"Kalau begitu suruh saja dia berdiri di luar pagar, jangan biarkan dia masuk" perintah Stephen


"Cepat bangun tubuh mu sangat berat" pinta Cherry dengan suara pelan karena takut di dengar oleh Chintia yang masih berdiri di luar pintu


"Jangan bergerak jika tidak mau di dengar oleh Chintia" kata Stephen dengan sengaja mengancam


"Kenapa kau tidak membiarkan aku bangun? dan kenapa tidak mau bertemu dengannya?" tanya Cherry yang masih di bawah Stephen


"Karena yang ku peduli adalah diri mu, oleh sebab itu aku tidak mau melepaskan mu" jawab Stephen dengan senyum dan melanjutkan ciumannya


Sementara Sonnia berdiri di luar pagar dengan harapan bisa bertemu dengan mantan suaminya itu


"Nona, tuan sedang sibuk jadi Anda silahkan pulang saja" ucap Chintia dengan berjalan ke arah pagar yang di mana tempat Sonnia berdiri


"Panggil dia keluar, aku ingin bertemu dengannya, jika dia tidak mau maka aku tetap akan menunggu di sini" bentak Sonnia dengan kesal


"Jika Anda tetap mau menunggu maka silahkan saja, akan tetapi tuan tetap tidak akan bertemu dengan mu" jawab Chintia lalu meninggalkan Sonnia sendirian di sana


"Stephen, aku tahu kau di dalam dan tidak sibuk, keluaaaarr... jika tidak aku tetap akan di sini menunggu sehingga diri mu keluar" teriak Sonnia dengan nada tinggi


"Keluaaaaaarrr..aku tahu kau dengar suara ku. Stepheeeen."teriak Sonnia dengan menangis histeris


"Stephen, jangan mencium ku lagi, apa kau tidak dengan suara teriakannya? cepat keluar" ucap Cherry dengan melepaskan ciumannya


"Biarkan saja, aku tidak peduli wanita gila itu, aku hanya peduli pada istri masa depan ku" ujar Stephen mengecup dahi Cherry


"Cepat bertemu dengannya, dia berteriak terus, nanti di dengar oleh tetangga" kata Cherry yang masih di tindih oleh Stephen


"Biarkan saja, tidak usah pedulikan dia" jawab Stephen dengan mencium wajah Cherry


"Jangan mencium ku lagi, tubuh mu sangat berat, aku ingin bangun"

__ADS_1


"Sudah ku bilang jangan bergerak terus, jika tidak aku akan membuka baju mu" ucap Stephen dengan sengaja mengancam dan melanjutkan ciumannya


__ADS_2