Pembunuh Profesional

Pembunuh Profesional
Teman setia


__ADS_3

Cherry yang merasa pelukan hangat dari Stephen dirinya pun membalas pelukan tersebut.


"Di saat aku sedih setidaknya ada seorang yang memberi ku kehangatan, aku tidak menyangka bahwa ada pria yang seperti dia yang menenangkan ku, biarkan aku bersandar untuk sementara ini" batin Cherry


Paolo sedang menunggu istrinya yang sedang berada di ruang rawat dengan kecemasan meliputi dirinya itu.


"Aku tidak menyangka jika anak ku sudah besar dan dia muncul di kota ini, dendamnya juga sangat dalam terhadap ku. Lionela, dulu aku mengecewakanmu dan sekarang anak kita ingin menentang ku dan keluarga ku, aku harus mengunakan cara apa untuk mengambil hati anak ini agar dia mau memohon Stephen untuk melepaskan Sonnia?" batin Paolo yang sedang duduk di kursi depan ruang rawat itu.


Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruang rawat tersebut


"Bagaimana dengan istriku dokter?" tanya Paolo yang bangkit dari tempat duduknya.


"Tuan, istri anda lukanya sangat parah, ini sangat sulit untuk di sembuhkan," jelas dokter mengeluh.


"Bagaimana jika operasi?"


"Walau operasi juga tidak bisa, luka bengkak sangat besar bahkan ini sangat aneh lukanya itu bisa menjalar ke seluruh wajahnya, seperti terkena sejenis virus, tapi ini belum bisa dipastikan virus apa yang di wajahnya itu."


"Apakah tidak ada cara lain?"


"Saya sudah memberi antibiotik, dan kita tunggu perkembangannya untuk beberapa jam ke depan."


"Jika saja tidak ada kemajuan tindakan apa yang harus kita lakukan?"


"Jika masih gagal wajahnya akan rusak dan tidak bisa di obati lagi, saya mendapati virusnya ini sangat kuat. sebelumnya saya belum pernah melihat kasus seperti ini. tapi saya akan terus memantau kondisi pasien," jelas dokter


"Terima kasih, Dokter!" ucap Paolo dengan merasa khawatir.


"Angela wajahnya terluka, Sonnia juga masih belum di temukan, apa yang harus ku lakukan sekarang, Stephen tentu marah besar. aku tidak menyangka jika Cherry bisa bekerja dengannya dan sepertinya Stephennya sangat peduli dengannya," batin Paolo.


Di sisi lain Anton mendatangi tempat pengurungan Sonnia..


"Anton, wanita itu sudah sekarat, kelihatannya dia tidak bisa bertahan lagi," ujar Micheal yang berdiri di hadapan Anton.


"Jangan sampai dia mati, ambil obat ini masukkan ke mulutnya," kata Anton sambil menyerahkan obat tablet ke tangan Micheal.


"Obat ini untuk?"


"Untuk meredakan sakitnya agar dia bisa bertahan hidup, jika lukanya sudah membaik maka lanjutkan lagi pukulannya" jawab Anton


"Akan ku lakukan," lanjut Micheal.


Anton berjalan menghampiri Sonnia yang posisi terikat dengan berdiri, tangannya di ikat ke atas seperti dia mengikat Cherry sebelumnya, wajahnya memucat dan lemah sehingga membuatnya tidak berdaya.

__ADS_1


"Sonnia, apa kau masih berani bersikap sombong?" tanya Anton dengan memegang kasar dagu wanita itu


"To..long ja...ngan lu...kai a..ku" pinta Sonnia yang suaranya terputus-putus.


"Sekarang kau memohon sudah tidak berguna, keluargamu akan hancur secara perlahan," ujar Anton dengan tatapan tajam.


"Ka-lian siapa sebenarnya?" tanya Sonnia dengan suara kecil.


"Jika kau tahu maka kau akan lebih cepat mati, jangan pernah menyinggung atasanku jika tidak ingin mendapat balasan seperti ini, tapi kau malah berkali-kali menyinggungnya. ini adalah awal kehancuran untuk mu," jelas Anton.


" Aku mohon lepaskan aku, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Sonnia dengan wajahnya yang sudah pucat.


"Kemarahan atasan ku tidak bisa diredakan lagi, perlakukanmu terhadap Cherry sangat keterlaluan, da. bukan dirimu saja bahkan Ayah tirimu dan Ibumu itu juga akan menerima balasannya," kata Anton dengan tatapan aura membunuh.


"Micheal, lanjutkan siksaannya! jangan sampai dia tewas!" pesan Anton yang berbalik ke arah Micheal.


"Baiklah, tenang saja, dia akan hidup dengan menderita!" jawab Micheal.


Sonnia yang kondisinya sudah lemah dan di ujung tanduk hanya bisa pasrah dan menangis, dia di paksa menelan obat yang diberikan Anton tadi agar bisa meredakan rasa sakit pada lukanya. setelah itu mereka akan melanjutkan siksaan tersebut.


Mansion Stephen


"Cherry, lukamu masih belum sembuh, jadi jangan bergerak dulu!" kata Stephen yang sedang duduk bersama Cherry di ruangan.


"Lukaku sudah baikkan, Tuan itu?"


"Kakimu, Tuan?"


"Kakiku sudah sembuh, maka aku tidak butuh kursi roda lagi."


"Sudah sembuh? kapan sembuhnya, Tuan?" tanya Cherry dengan penasaran.


"Sudah lama, aku hanya ingin mengelabui Ronald, dan sekarang tidak perlu lagi"


"Bagaimana dengannya, Tuan?"


"Panggil aku nama saja!"


"Tapi?"


"Cherry, kita adalah teman, kau bukan karyawan ku tapi temanku," jawab Stephen dengan senyum


"Tapi aku memang pekerja sini"

__ADS_1


"Cherry, apa kau mau jadi teman setiaku?"


"Teman setia?"tanya Cherry dengan penasaran.


"Benar, teman setia, itu maksudnya kau tetap tinggal di sini saja. dan kau bisa tinggal sampai kapanpun kau mau," jelas Stephen.


"Apakah maksudnya tuan aku bisa bekerja di sini untuk selamanya?"


"Benar, kau bisa kerja selama yang kau mau," jawab Stephen dengan tatapan dalam.


"Terima kasih, Tuan, setidaknya aku memiliki 2 teman di kota ini, sama kakak Monica," ucap Cherry dengan senyum.


"Jangan memanggilku tuan lagi, panggil saja namaku."


"Baiklah, Stephen, aku berjanji akan bekerja dengan baik."


"Aku percaya kau bisa jadi teman ku yang setia selamanya, bukan?"


"Teman setia? maksudmu adalah teman selamanya seperti dirimu dan Kakak Monica?"


"Iya."


"Ini ide bagus, jika ada waktu aku berharap kita bertiga bisa makan bersama!"


"Tunggu lukamu sudah sembuh, maka kita akan makan bersama!"


"Baiklah aku mengerti!" jawab Cherry dengan senyum.


"Teman setia adalah pasangan hidup bukan sekadar teman seperti ku dan Monica, dirimu beda dengannya, dirimu istimewa bagiku. oleh karena itu kau adalah teman setiaku," batin Stephen.


Tidak lama kemudian Cherry kembali ke kamarnya dan langsung berbaring dengan perlahan di kasur empuknya itu..


"Aneh kenapa aku malah merasa sakit saat dia mengatakan jika ingin aku menjadi teman setianya? mengenai tinggal dan makan aku tidak perlu khawatir lagi, dan seharusnya aku senang karena memiliki teman baru. apa lagi adalah bos sendiri. tapi kenapa aku malah sedih ya? walau teman tapi dia adalah bosku. aku tidak boleh ada perasaan apapun terhadapnya," batin Cherry.


"Tuan, obat itu sudah berikan pada Sonnia," lapor Anton yang baru kembali ke rumah Stephen.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Stephen yang duduk di kursi ruang bacanya itu.


"Lemah, pucat, jika tanpa obat paling hanya bisa bertahan sampai besok saja."


"Jangan biarkan dia mati! buatlah dia hidup dalam penderitaan, dan bagaimana dengan Angela?"


"Kata dokter wajahnya sulit di sembuhkan, kelihatannya racun yang di gunakan Cherry sangat kuat, dan wajah wanita itu pasti hancur"

__ADS_1


"Aku yakin saat ini Paolo pasti akan pikirkan cara untuk mendekati Cherry supaya bisa memujuknya menyerahkan penawar" kata Stephen


"Apakah Paolo akan berhasil memujuk Cherry? bagaimana pun mereka ada hubungan darah?" tanya Anton yang penasaran


__ADS_2