
"Kenapa? apakah kau dan Stephen baik-baik saja? kau tidak bekerja di sana lagi?" tanya Monica dengan penasaran
"Kami baik-baik saja, hanya saja aku dan papa ku sudah lama terpisah dan ingin mengunakan lebih banyak waktu untuk menemaninya" jawab Cherry dengan alasan
"Iya juga, apa yang kamu katakan sangat benar sekali, terpisah begitu lama dan pada akhirnya kalian bisa bersatu ini sangat tidak mudah" lanjut Monica dengan senyum
"Kak, tidak tahu kapan kita akan bertemu kembali setelah aku pergi" ucap Cherry dengan merasa sedih
"Kapan pun kau mau kau bisa kembali ke sini dan mencari ku. Cherry, kakak hanya berharap terbaik untuk mu, dan berbahagia bersama orang yang kamu cintai" jawab Monica dengan senyum
"Terima kasih, Kak" ucap Cherry
"Kakak, apa kakak sudah memiliki pacar?"
"Tidak, kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Kakak sangat cantik seperti bidadari, Kakak pasti pemilihkan?" kata Cherry dengan bercanda
"Pujian mu berlebihan, Kakak tidak secantik yang kamu katakan" jawab Monica dengan tertawa kecil
"Aku tidak berbohong ini kenyataan, apa Kakak tidak menyukai pada siapa pun?"
"Kakak ada menyukai seorang pria selama puluhan tahun, tapi dia tidak pernah menyukai ku, dan sekarang dia sudah memiliki kekasih yang cantik dan manis" jawab Monica dengan menyentuh wajahnya Cherry
"Kenapa Kakak tidak mengejarnya?"
"Dia menolak ku beberapa kali selama ini, dan terakhir kali aku juga sudah mencoba untuk mendekatinya agar aku bisa mendapatkan kesempatan, akan tetapi tetap di tolak" jawab Monica dengan merasa kecewa
"Puluhan tahun? perasaan Kakak padanya sangat dalam bisa bertahan sehingga puluhan tahun hanya untuk seorang pria. Kakak, kenapa dia tidak menerima mu?"
"Dia pria dingin dan sekeras batu yang tidak bisa di cairkan sama sekali, akan tetapi dia adalah pria setia" jelas Monica
"Kenapa setia? dia sudah menolak Kakak'
"Gadis polos kau tidak tahu pria seperti dia akan sangat setia pada pasangannya, karena tidak bisa di goda sama sekali, jadi walau dia sudah memiliki seorang istri dia juga tidak akan selingkuh dengan wanita lain" jawab Monica dengan menyubit wajah Cherry
__ADS_1
"Walau begitu dia jahat sama Kakak, selama ini Kakak sudah membuang banyak waktu demi dirinya tapi dia tidak menerima mu malah menolak mu berkali-kali".
"Mungkin saja kami tidak ada jodoh, di dunia ini banyak jenis yang namanya jodoh, jodoh keluarga, jodoh sebagai teman, dan jodoh sebagai sepasang suami istri, jika kita ada jodoh sebagai teman, bayangkan saja kamu yang selama ini tinggal di desa dan Kakak selama ini hanya di sibukkan dengan urusan toko, tapi kita bisa bertemu di tengah jalan itu karena kita berjodoh, sedangkan Kakak dan dia hanya berjodoh sebagai teman oleh sebab itu apa pun yang terjadi kami tetap tidak akan bisa bersama" jelas Monica dengan senyum
"Kakak benar juga, tentang jodoh tidak ada yang tahu" kata Cherry
"Cherry, jika kau ada perlu apa-apa di sana jangan malu untuk menghubungi ku jika butuh bantuan, ingat seberapa lama diri mu di sana jangan lupa sini adalah tempat mu juga" ujar Monica
"Iya Kak, terima kasih" ucap Cherry
"Maaf Kak. aku tidak bisa beritahu mu jika aku akan tinggal di san fransisco. identitas Stephen aku tidak bisa mengatakan pada siapa pun, dan tentu saja kita tidak bisa bertemu lagi setelah kami pergi" batin Cherry
Kediaman Chin
"Chintia, di mana Cherry?" tanya Stephen yang baru pulang dari perusahaannya
"Tuan, nona Cherry keluar sebentar katanya, dia ingin bertemu dengan nona Monica" jawab Chintia dengan sopan
"Monica? apa Cherry sudah lama pergi?" tanya Stephen dengan raut wajah tidak senang
Mendengar Cherry menemui Monica membuat Stephen merasa tidak senang hati, Stephen lalu melangkah keluar dari rumahnya dengan berniat untuk menjemput Cherry, akan tetapi di saat dirinya ingin membuka pintu mobil tiba-tiba saja mendengar suara panggilan istrinya itu
"Stephen"
"Cherry" sahut Stephen yang menghampiri Cherry yang baru masuk ke halamannya
"Kau mau kemana?" tanya Cherry yang berjalan masuk ke halaman
"Aku ingin menjemput mu, apa tadi kau mencari Monica?"
"Iya, aku ingin bertemu dengannya sebelum kita berangkat"
"Ternyata begitu"
"Ayo kita masuk, aku sudah lapar, aku akan memasak untuk mu" ajak Cherry dengan mengandeng tangan Stephen sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya
__ADS_1
"Aku yang akan memasaknya untuk mu" ucap Stephen dengan senyum
Di saat masuk ke dalam rumahnya Stephen dan Cherry melangkah ke dapur untuk persiapan makan siang mereka
"Stephen, bibi sudah masak lauk untuk kita, bagaimana kita makan hidangan ini saja" kata Cherry yang melihat beberapa hidangan lezat di atas meja makan
"Tidak, aku ingin masak untuk mu" jawab Stephen dengan senyum
"Tidak perlu ini sangat banyak, tidak bisa habis untuk kita berdua, makan ini saja semua masakan bibi sangat lezat" kata Cherry yang duduk di kursi makan dan sambil menyantap makanannya
"Kau menyukainya?" tanya Stephen dengan senyum melihat istri yang sedang menyantap makanan
"Iya, mari makan bersama" ajak Cherry yang menarik lengan Stephen yang berdiri di sampingnya
"Kalau begitu aku mendengarkan mu" jawab Stephen dengan duduk di samping istrinya
"Lauknya terlalu banyak kalau untuk kita berdua, bisa di makan untuk nanti malam" ujar Cherry
"Kau sangat menghemat" ucap Stephen sambil menatap senyum
"Makanan itu tidak boleh di buang, di saat aku masih di desa banyak dari kami menghasilkan sebutir beras dengan cara bekerja keras dan seharian, lihat saja para petani yang di sawah mereka berada di bawah panas terik matahari demi sesuap nasi, dan para warga desa lainnya juga bekerja keras demi gaji yang tidak seberapa agar bisa untuk membeli beras, apa kau tahu di saat itu kebanyakan dari kami hanya makan bubur, upah yang kami dapat hanya bisa membeli satu tekong beras dan hanya bisa di masak jadi bubur, itu pun airnya lebih banyak dari pada buburnya" kata Cherry dengan panjang lebar
"Apakah itu kehidupan mu di masa kecil?" tanya Stephen dengan iba
"Iya, desa sangat berkekurangan, mama ku bekerja demi setekong beras jadi dia bekerja dengan warga desa kami sehingga seharian, di saat itu aku masih kecil, setelah aku dewasa aku tidak mau lagi mama ku hidup susah, makanya aku bekerja"jawab Cherry
"Kehidupan desa kelihatan sangat sederhana tapi kenyataannya mereka hidup serba kekurangan, akan tetapi senyum bahagia masih di rasakan mereka walau mereka tidak memiliki harta berlimpa" ucap Stephen
"Harta tidak membuat kita bahagia, tapi keluargalah yang membuat kita bahagia, uang bisa di cari tapi keluarga adalah satu-satunya di dunia, makanya aku sangat menghargai papa ku, walau bukan dia yang membesarkan ku tapi dalam tubuh ku mengalir darahnya" jelas Cherry
"Apa kau ingin tinggal bersama papa mu?"
"Iya, tapi apa aku boleh tinggal di desa bersamanya?"
"Tidak bisa jika kau ingin menjauh dari ku, tapi kita bisa ajak papa mu untuk bersama kita ke san fransisco, aku ada Villa lain dan bisa untuk papa mu tinggal di sana, pemandangan sana sangat indah sesuai untuk papa mu menikmati di masa tuanya, dan semua kebutuhannya kita akan menyediakan untuk papa mu" jawab Stephen dengan senyum
__ADS_1