Pembunuh Profesional

Pembunuh Profesional
Niat jahat Angela


__ADS_3

" Ini semua tergantung seberapa dalam kebencian Cherry terhadap Ayahnya itu" jawab Stephen


Rumah sakit..


"Dokter, bagaimana dengan wajah istri ku?" tanya Paolo yang berada di ruang istrinya


"Luka wajah pasien sangat serius, saya hanya bisa menghilangkan sakitnya tapi tidak bisa menghilangkan bekasnya" jawab Dokter dengan menghela nafas panjang


"Dokter, tolong pikirkan cara terbaik agar bisa menghilangkan bekasnya, ini cukup besar bekas lukanya, sehingga mengena ke seluruh wajahnya. istri ku tidak akan bisa memerima cacat di wajahnya ini" kata Paolo dengan memohon


"Tuan Capilo, luka wajah di pasien seperti di serang virus, dengan begitu cepatnya dia menyebar ke seluruh wajahnya, walau bengkak dan merahnya tidak hilang akan tetapi rasa sakitnya bisa hilang secara beransur"


"Bagi wanita penampilan sangat penting, jika dengan kondisi seperti ini mana mungkin istri ku bisa menerimanya dia pasti sangat sedih. Dokter, jika aku mengantarnya ke luar negeri apa mungkin ada harapan?"


"Sebagai dokter saya sarankan jangan operasi, karena bisa saja ini akan membuat wajah pasien semakin parah"


"Tidak mungkin istri ku harus menjalani kehidupan seperti ini untuk selamanya, dia tidak akan bisa menerimanya" kata Paolo yang sedang berdiri di samping ranjang sambil melihat ke arah Angela yang masih belum sadarkan diri


"Satu-satu caranya adalah menemui Cherry memujuknya agar memberikan penawar, aku harus pikirkan cara terbaik agar bisa membuatnya luluh" batin Paolo


Tidak lama kemudian Angela membuka matanya, karena merasakan wajahnya yang sakit dia lalu memegang wajah dan teriak dengan histeris


"Wajaahhh kuu" teriak Angela dengan nada memenuhi ruangan kamarnya itu


"Angela, apa kau merasa sakit?" tanya Paolo dengan khawatir


"Wajah ku! bagaimana dengan wajah ku?" teriak Angela dengan histeris


"Masih dalam pengobatan, kau harus bersabar, Angela" bujuk Paolo yang mencoba menenangkan istrinya itu


"Apakah lukanya bisa hilang?" tanya Angela yang melihat ke arah dokter yang sedang berdiri di samping ranjangnya


"Nyonya, luka wajah mu sangat parah, seperti sudah terinfeksi sejenis virus oleh karena itu sangat sulit di sembuhkan" jelas Dokter


"Apa? tidak bisa sembuh? apakah tidak bisa di operasi? seberapa pun biayanya aku sanggup membayarnya, cepat lakukan operasinya" teriak Angela yang histeris


"Angela, bersikap tenang, luka mu masih sakit" bujuk Paolo yang memegang pundak istrinya

__ADS_1


Plak...


Tamparan Angela mengena wajah Paolo


"Kenapa kau menampar ku?" tanya Paolo dengan kesal yang menerima tamparan dari istrinya itu


"Kenapa? jika bukan karena anak murahan mu itu maka wajah ku tidak akan rusak, ini semua karena dia tapi kau masih diam dan tidak melakukan apa pun" bentak Angela dengan emosi tinggi


"Kau ingin aku melakukan apa? kau sudah tahu jika dia sangat membenci kita, jadi apa yang bisa ku lakukan?"


"Jangan mengira aku tidak tahu apa pikiran mu, kau tidak tega menyalahkan dia, bahkan putri ku di tahan oleh Stephen kau juga tidak peduli, kau biarkan aku dan anak ku di siksa dan kau hanya melihat saja, hanya karena dia adalah anak mu dan pel*cur itu" ketus Angela yang sambil memukul Paolo


"Sudah bertenang, jangan begini lagi" bentak Paolo dengan merasa kesal


"Nyonya, anda harus bertenang jika tidak maka luka di wajah mu itu akan semakin parah" kata Dokter yang mencoba menenangkan pasiennya


"Kalian adalah dokter yang tidak berguna, tidak sanggup menyembuhkan luka ku" teriak Angela dengan tatapan emosi


Mendengar hinaan Angela, dokter itu pun berjalan keluar meninggalkan kamar tersebut


"Apa aku salah? anak mu yang pel*cur itu membuat wajah ku cacat dan kau hanya diam"


"Lalu kau ingin aku melakukan apa? dia ada Stephen yang melindunginya apa yang bisa ku lakukan?"


"Walau begitu tidak mungkin pria itu berada di sisinya selama 24 jam kan? pasti ada kesempatan membalasnya, hanya kau mau atau tidak itu saja"


"Apa yang kau harapkan?"


"Upah beberapa pria telanjangi dia dan nodai dia sehingga teriak memohon dan jika bisa sebarkan saat dia di nodai, dan di saat itu apa mungkin Stephen masih peduli padanya"


"Apa kau gila? bagaimana pun dia adalah darah daging ku, jika aku sampai melakukannya hal seperti itu bukankah sama saja aku adalah binat*ng" bentak Paolo dengan merasa kesal


"Kenapa memangnya? jangan lupa anak mu adalah Sonnia, sedangkan dia sudah kau buang dari dulu jadi untuk apa kau peduli padanya, aku ingin melihat dengan mata sendiri di saat dia di nodai aku ingin melihat dia menangis dan memohon dan aku akan tertawa dengan suara keras di sampingnya" ujar Angela dengan nada tinggi


"Angela, kau juga memiliki seorang putri, jika semua ini berbalik terjadi pada Sonnia apa kau bisa tertawa?"


"Kenapa? apakah kau masih sayang sama anak pelac*r itu? sehingga kau tidak tega. Paolo Capilo, kau jangan lupa anak mu hanya Sonnia bukan Cherry si jal*ng itu"

__ADS_1


"Hubungan darah selamanya tidak akan bisa berubah, di dalam tubuhnya mengalir darah ku, walau bukan aku yang besarkan dia tetap saja dalam tubuhnya adalah darah ku, ini tidak akan mengubah apa pun"


"Jika kau memang tidak tega maka biarkan aku yang melakukannya, setelah berhasil aku akan memberikan rekamannya untuk Stephen, dan kau juga bisa melihat rekaman itu" kata Angela dengan niat jahat


"Angela, kau sangat busuk" ketus Paolo dengan kesal


"Seharusnya kau tahu sifat ku, jangan lupa dulu kau yang merayu ku karena istri mu itu tidak bisa memuaskan mu karena dia berpenyakitan, sehingga kau ingin menikahi ku dan meninggalkan dia, jika sudah kau buang wanita itu lalu untuk apa kau peduli dengan anaknya itu"


"Ini urusan kita kenapa harus melibatkan anak-anak, Cherry dia tidak bersalah, salah ku yang menyebabkan dia hidup menderita, aku akan memikirkan cara untuk membujuknya, tapi kau jangan coba-coba melakukan hal bodoh terhadapnya" ujar Paolo yang lalu meninggalkan Angela sendirian di kamarnya


"Jangan melakukannya? aku malah tidak sabar melihatnya di siksa, Cherry wanita murahan kampungan lihat saja hidup mu akan ku hancurkan, selama hidup aku hanya boleh menindas orang dan tidak boleh ada yang menindas ku dan putri ku" gumam Angela dengan berniat jahat


Toko bunga Monica


"Kakak, sudah lama tidak melihat mu, apa asma mu masih kambuh?" tanya Cherry


"Tidak lagi, bagaimana dengan mu selama ini tinggal di sana?" tanya Monica dengan senyum


"Baik-baik saja, semua lancar"


"Bagus jika bisa biasakan diri di sana, apakah dia ada menyulitkan mu?"


"Stephen?"


"Benar, dia sangat pemilih dalam soal makanan, apa dia menyulitkan mu?"


"Tidak pernah, dia baik pada semua orang di sana"


"Aku senang mendengarnya, jika dia baik pada mu ini sangat bagus"


"Kakak, aku mau pergi dulu, aku ingin mencari tanaman herbal" kata Cherry


"Kau ini selalu saja sibuk dengan obat mu, aku yakin rumah Stephen akan di penuhi oleh obat herbal mu itu" ujar Monica dengan seraya bercanda


"Iya...aku pergi dulu, Kak. sampai jumpa" ucap Cherry yang melangkah ke arah pintu


"Kelihatannya dia baik-baik saja di sana, ini bagus juga buat dirinya" gumam Monica dengan senyum

__ADS_1


__ADS_2