
"Itu karena?" jawab Chintia yang ragu ingin mengatakannya
"Ada apa?" tanya Stephen yang sedang duduk bersandar
"Tuan, tolong jangan marah salahkan nona, dia tidak sengaja" kata Chintia dengan hati-hati
"Marah? kenapa aku harus marah padanya?" tanya Stephen dengan heran
"Mengenai foto itu dia tidak sengaja membuangnya ke tong sampah" jelas Chintia
"Chintia, maksud mu adalah Cherry yang membersihkan ruang baca ku?"
"Benar, di saat tuan Anton mengatakan foto tuan hilang Nona Cherry langsung membongkar tong sampah seberang rumah kita, untung saja dapat" jelas Chintia
"Lalu apa yang terjadi?"
"Saat nona mengembalikan foto itu kepada tuan Anton, nona di marah dan di hina oleh tuan Anton, tentu saja ini sangat menyakitkan baginya" jawab Chintia
"Apa yang di katakan Anton?"
Chintia menceritakan semua ucapan Anton pada Cherry saat di siang tadi
Setelah mendengar semua perkataan Chintia Stephen merasa kesal atas bentakan Anton terhadap Cherry.
"Tuan, Nona tidak sengaja membuang foto itu, dia juga sudah menyesalinya" kata Chintia yang khawatir terhadap Cherry
"Tentu dia merasa marah karena bentakkan Anton" kata Stephen
"Nona tidak marah, hanya saja dia menangis" jawab Chintia
"Menangis?" tanya Stephen dengan perih di hatinya
"Benar Tuan, oleh sebab itu dia keluar berjalan-jalan"
"Chintia, hubungi Anton suruh dia kemari" ucap Stephen yang merasa khawatir dengan Cherry dan kesal terhadap Anton
"Tuan, makan siang sudah siap. tuan ingin kemana?"
"Aku ingin mencari Cherry dulu" jawab Stephen yang melangkah ke arah pintu
Owen dan Cherry makan siang di sebuah warung di tepi jalan besar
"Detektif mengajak ku makan tentu bukan sekedar makan saja kan?" tanya Cherry yang sedang menyantap makanannya
"Nona Cherry, aku langsung ke poin saja, sebenarnya aku hanya ingin bertanya sesuatu" jelas Owen
"Apa yang ingin Anda tanyakan?"
"Apakah kamu mengenal King Devil?"
"King Devil? bukankah dia adalah pembunuh yang anda cari?"tanya Cherry dengan berpura-pura
"Benar, aku sudah mengincarnya selama 5 tahun, akan tetapi belum tahu keberadaannya di mana"
"Tapi aku tidak pernah melihatnya, bagaimana aku bisa mengenalnya?" jawab Cherry dengan santai
"Ini kartu ku, jika nona mengingat sesuatu maka hubungi aku" kata Owen dengan memberikan kartu namanya di atas meja
"Dia adalah pembunuh sementara aku adalah pembantu di rumah bos ku bagaimana aku bisa melihatnya?" ujar Cherry yang berpura-pura
"Tidak apa-apa, nona. simpan saja kartu ku ini jika butuh bantuan bisa hubungi aku' jelas Owen
__ADS_1
"Baiklah"
Setelah selesai makan Cherry tidak langsung kembali ke rumah Stephen, melainkan mencari Monica di toko bunganya.
"Kakak" sapa Cherry yang masuk ke dalam toko bunga itu
"Cherry, kau datang" ucap Monica yang tersenyum
"Benar, aku berjalan-jalan, lalu aku ke sini" jawab Cherry dengan senyum
"Cherry, kau keluar apa sudah minta izin sama bos mu itu?'
"Aku sudah mengatakan pada bibi Chintia, jadi dia pasti sudah tahu"
"Baguslah dia sudah tahu, kalau tidak dia akan khawatir" jawab Monica dengan seraya bercanda
"Khawatir? dia tidak akan karena aku bukan siapa-siapanya" batin Cherry
"Dia adalah bos ku, jika dia tidak tahu paling dia akan memarahi ku bukan khawatir dengan ku" sebut Cherry dengan merasa sedih
"Cherry, kenapa sepertinya kamu ada masalah? apa kalian bertengkar? dia menindas mu?" tanya Monica yang khawatir
"Tidak Kak, aku ingin pulang ke desa"
"Kenapa?"
"Sudah lama aku di kota, dan tiba-tiba saja aku merindukan tempat tinggal lahir ku, jadi aku ingin pulang" jawab Cherry dengan alasan
"Iya juga, Kakak mengerti perasaan mu, kamu di lahirkan di sana dan di besarkan di sana, tentu saja kau akan merindukan kampung halaman mu"
"Mungkin saja aku tidak cocok hidup di kota"
"Bukan tidak cocok, hanya saja kamu belum bisa menyesuaikan diri"
"Gadis bodoh, ini karena diri mu belum mengenal orang lain, katakan kapan kamu ingin berangkat? jangan mengatakan jika kau akan berjalan kaki pulang ke sana?"
"Aku akan menaiki bus"
"Apa perlu aku mengantar mu?"
"Tidak perlu kak, kampung ku sangat jauh"
"Jadi berapa lama kamu akan di sana?".
"Aku tidak berencana untuk kembali ke kota lagi"
"Apa? kau ingin berhenti bekerja dengan Stephen?"
"Benar, tapi kak jangan mengatakan padanya jika aku tidak kembali ke kota lagi"
"Kenapa? apa ada masalah di antara kalian?"
"Tidak ada, hanya saja aku sebagai asisten pribadinya aku takut jika dia tidak mengizinkan ku pulang jika di tahu aku tidak kembali ke kota lagi"
"Aku mengerti maksud mu, apa ini adalah pertemuan terakhir kita?" tanya Monica yang merasa sedih
"Iya, tapi kakak jangan sedih, suatu saat aku akan datang mencari mu"
Karena merasa berat Monica memeluk Cherry dengan erat, dirinya selama ini telah menganggap Cherry sebagai adiknya sendiri
"Kakak, jangan sedih, aku pasti datang mencari mu lagi" kata Cherry dengan senyum
__ADS_1
"Baik-baik di sana, jika butuh sesuatu hubungi Kakak" pesan Monica yang merasa berat
"Iya Kak! Kak, aku ingin membeli bunga untuk rumah bos ku"
"Baiklah, biar Kakak memilih yang sesuai dengannya" jawab Monica yang sambil pergi memilih bunga tersebut
Tidak lama kemudian Stephen datang ke toko Monica, di saat turun dari mobil Stephen langsung berlari ke arah toko bunga itu
Di saat membuka pintu Stephen melihat Cherry berdiri di samping Monica yang sedang memilih bunga
"Cherry" suara panggilan Stephen dengan tatapan dalam
"Stephen" ucap serentak Cherry dan Monica
"Aku ingin membeli bunga dan meminta kakak untuk memilih" jelas Cherry dengan alasan
"Monica, kirim saja bunganya ke alamat ku nanti" kata Stephen yang menghampiri Cherry
"Iya aku tahu" jawab Monica dengan singkat
"Mari kita pulang" Ajak Stephen yang memegang tangan Cherry dan berjalan keluar dari toko bunga itu
"Kakak, aku pergi dulu" pamit Cherry yang di ikuti langkah Stephen
"Iya, hati-hati" jawab Monica
Stephen mengendarai mobilnya sementara Cherry duduk di sampingnya tanpa bicara sepatah kata pun.
"Cherry, maaf" ucap Stephen sambil mengendarai mobilnya
"Maaf? untuk apa kamu minta maaf?" tanya Cherry dengan penasaran
"Mengenai foto itu"
"Tidak, jangan minta maaf pada ku, karena ini memang kelalaian ku, seharusnya aku yang meminta maaf dengan mu, maafkan aku" ucap Cherry yang merasa bersalah
"Perkataan Anton sangat keterlaluan tentu ini sudah menyakiti hati mu"
"Dia tidak salah, ucapannya memang benar jadi jangan salahkan dia" jawab Cherry yang merasa sadar diri jika dirinya hanya pembantu
"Tapi dia tidak berhak memarahi mu"
"Kau salah, dia bisa di bilang adalah atasan ku juga, lagi pula aku juga sadar diri jika aku bukan siapa-siapa di rumah itu, jadi kalau aku salah dia berhak memarahi ku" kata Cherry
Stephen menghentikan mobilnya di saat mendengar perkataan Cherry.
"Cherry, mengenai foto itu aku tidak menyalahkan mu sama sekali, ini bukan salah mu, kau hanya melakukan kerja mu saja aku tahu kau tidak bersalah" kata Stephen dengan menatap ke arah Cherry
"Apa benar kau tidak marah? foto itu sangat penting bagi mu jika saja aku sampai menghilangkannya aku tidak tahu cara untuk mengantikannya" ucap Cherry dengan merasa sedih karena gadis di foto itu
"Foto itu memang penting bagi ku, tapi bukan berarti aku harus menyalahkan mu, bukan? maaf, karena foto ini membuat mu di marah oleh Anton"
"Jangan minta maaf dengan ku, dia hanya melakukan tugasnya saja"
"Aku tahu kau menangis, karena hinaan Anton, Cherry. tapi kau malah masih berpura-pura di depan ku walau sebenarnya kau sedih, maafkan aku Cherry aku tidak bisa menjelaskan tentang foto itu, karena jika aku menjelaskan maka kau pasti tahu jika aku bukan Stephen Chin, aku akan mengunakan cara ku untuk meminta maaf dengan mu" batin Stephen
Bab selanjutnya
Stephen marah besar terhadap Anton
Cherry pulang ke desanya dengan hanya meninggalkan sepucuk surat
__ADS_1
Maaf teman-teman jika ada salah menulis atau salah tanda bacaya, karena Author hanya kelas 5 sd tidak tamat, makanya kadang ada kalimat yang kurang lengkap, silahkan berkomentar jika ada kesalahan ya..terima kasiih😍😍