
"Seharusnya dia sudah sekarat tapi kenapa dia masih sehat-sehat saja? apa gadis itu ketahuan di saat ingin meracuninya atau dia membohongi ku?" batin Ronald dengan merasa terkejut
"Stephen, kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Ronald yang berpura-pura bersikap tenang
"Paman, kenapa melihat ku seperti melihat hantu di siang bolong? apakah kemunculan ku di sini sangat membuat mu ketakutan?" tanya Stephen dengan sengaja
"Tentu saja bukan begitu, hanya saja merasa heran kenapa kamu bisa ada sini?"
"Aku mendengar Paman masuk ke rumah sakit oleh karena itu aku datang menjenguk mu?" jawab Stephen dengan senyum dan menghampiri ranjang Ronald
"Aku baik-baik saja, ini hanya pemeriksaan kesehatan saja" jawab Ronald dengan alasan
"Paman, dokter menjelaskan jika paman terkena serangan jantung apa ini masih di katakan baik-baik saja?" ujar Stephen dengan senyum
"Ini tidak seperti yang kamu katakan, kau juga tahu jika aku ada riwayat jantung, semalam aku terlalu banyak minum alkohol oleh karena itu aku segera ke rumah sakit untuk periksa jantung ku" jelas Ronald dengan alasan
"Apakah paman merasa kecewa karena aku masih baik-baik saja?"
"Apa maksud mu?"
"Maksud ku adalah keinginan mu adalah melihat ajal menjemput ku di hari ulang tahun ku semalam, tapi aku malah hidup sampai hari ini" ujar Stephen dengan tatapan aura membunuh
"Hahahah..Stephen, semakin hari semakin saja kau pintar bercanda" jawab Ronald dengan ketawa kecil
"Paman, apakah hanya sekedar memeriksa kesehatan saja?" tanya Stephen dengan senyum
"Tentu saja! jantung ku selama ini baik-baik saja" jawab Ronald yang memucat
"Paman, ini hadiah kecil yang kamu berikan pada ku sekarang aku kembalikan pada mu" ujar Stephen yang mengembalikan bungkusan kecil yang Ronald berikan pada Cherry sebelumnya
"Ini bukankah racun yang ku berikan kepada Cherry" batin Ronald dengan membulatkan mata besarnya
"Kenapa? apa kau sudah lupa jika ini hadiah yang kau berikan kepada asisten pribadi ku" ucap Stephen dengan senyum tipis
"Aku rasa kau sudah salah, aku tidak pernah memberikan apa pun pada gadis itu" jelas Ronald dengan mengelak
__ADS_1
"Benarkah? apa mungkin Cherry membohongi ku?"sebut Stephen dengan menatap tajam ke arah Ronald
"Anton" ucap Stephen
"Iya Tuan" jawab Anton yang sudah mengerti maksud atasannya itu
Anton mengeluarkan amplop dan memberikan kepada atasannya itu
"Ronald Chin, ini milik mu" kata Stephen yang melemparkan amplop itu ke arah Ronald yang sedang duduk du ranjang
"Tuan Ronald, ini uang yang anda berikan kepada Cherry untuk pembayaran awal jika keinginan mu di lakukan olehnya" ujar Anton dengan tatapan serius
"Aku tidak mengerti maksud mu, gadis itu hanya sembarangan, mana mungkin aku beri dia sejumlah uang ini dan bungkusan kecil ini" jelas Ronald dengan menyangkal
"Paman, tidak perlu menyangkal lagi, kau mengunakan uang untuk mengodanya agar dia meracuni ku, tapi kau tidak menyangka jika gadis itu sama sekali tidak tersentuh dengan tawaran mu yang lumayan menarik itu" ujar Stephen dengan tatapan tajam
"Stephen, jangan menuduh ku hanya karena ucapan gadis yang tidak benar itu, dia hanya ingin memprovokasi kita saja, pecat saja dia" jawab Ronald
"Jangan mengelak dari kesalahan dan melemparkan ke orang lain, Cherry adalah asisten ku aku sangat memahami sifatnya, dan aku juga memahami sifat mu, Ronald Chin"
"Berapa kali saat kau ingin mengambil nyawa ku gadis itulah yang menyelamatkan ku, tentu saja aku lebih percaya pada nya" jelas Stephen
"Tuan Stephen, silahkan keluar dulu, Tuan Chin ingin istirahat" ujar Steve yang ingin mengusir Stephen keluar dari kamar Ronald
"Apa kau mengira kau layak mengusir Tuan kami keluar dari sini? kau hanya bawahan tidak berguna" gertak Anton yang menarik baju Steve dengan kasar
"Tuan, aku akan membawa bocah ini keluar dulu" Kata Anton dengan menarik paksa Steve melangkah ke arah pintu
"Lepaskan tangan mu" pekik Steve yang terpaksa ikuti langkah Anton
"Stephen, apa yang kau lakukan?" tanya Ronald yang merasakan cemas
"Tidak ada! hanya beri pelajaran kecil untuk dirinya, agar ke depannya jangan pernah berani mengusir ku" kecam Stephen dengan tatapan aura membunuh
"Dia masih muda, tidak perlu di simpan dalam hati karena ucapannya"
__ADS_1
"Aku hanya membantu paman untuk beri pelajaran padanya, agar ke depannya dia tahu jaga sikapnya" kata Stephen dengan ancaman
"Stephen, aku juga sudah lelah, aku ingin istirahat" ucap Ronald yang mulai merasa takut
Sesaat kemudian Stephen pun bangkit dari kursi rodanya dan berjalan mendekati Ronald, tentu saja ini membuat Ronald hampir tidak percaya dengan tatapannya yang sangat ketakutan
"Kau? kenapa?" ucap Ronald dengan heran
Stephen mendekati Ronald dan menatapnya dengan jarak yang sangat dekat sehingga membuat Ronald gemetaran yang melihat tatapan Stephen yang seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup
"Apakah kau tidak senang melihat ku bisa berdiri di depan mu? atau kau merasa kecewa karena keponakan mu ini sama sekali tidak cacat?" tanya Stephen dengan senyum sinis
"Kau ti..dak ca..cat?"
"Siapa yang mengatakan aku cacat? hanya karena aku suka duduk di kursi roda makanya kau mengira aku cacat?"
"Step...kau hanya berpura-pura selama ini?"
"Tidak bisa di katakan berpura-pura, karena aku lebih suka berakting di hadapan mu" jelas Stephen dengan tatapan aura membunuh
Tangan Stephen lalu menyentuh leher Ronald yang sedang duduk di ranjang itu dan kemudian Stephen pun mulai menggengam kuat leher Ronald sehingga membuatnya susah bernafas
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Ronald yang menahan sakit dan sesak
"Paman ku yang baik, jangan coba-coba untuk menentang ku lagi jika kau masih ingin hidup" kecam Stephen yang mengenggam kuat leher Ronald dan sambil mengancam dengan senjatanya
"Kau?" ucap Ronald yang kesakitan sehingga tidak bisa berkata apa pun
"Ingat satu hal, jika kau berani meracuni ku lagi atau ingin melawan ku maka aku tidak akan segan menembak kepala mu sehingga otak mu keluar, Ronald Chin, aku bukan keponakan mu yang cacat lagi, aku tidak segan pada orang yang ingin menentang ku" kecam Stephen dengan tatapan aura membunuh
Sesaat kemudian Stephen pun melepaskan gengamannya dan kembali menyimpan senjatanya.
Ronald yang di kejutkan oleh perbuatan Stephen membuatnya pucat dan gemetaran, bagaimana tidak orang yang selama ini cacat akan tetapi tidak cacat, dan selain itu juga memiliki senjata yang bisa mencabut nyawanya kapan pun.
"Apa kau masih berniat menentang ku, Ronald Chin?" tanya Stephen dengan senyum dan tatapan tajam
__ADS_1