
"Nona Cherry, kamu baik-baik saja?" tanya Chintia yang menghampiri Cherry
"Aku ingin keluar berjalan-jalan sebentar" jawab Cherry yang melangkah ke arah pintu besar dengan raut wajah yang sedih
Klek
"Tuan, fotonya sudah dapat" kata Anton yang masuk ke dalam ruang baca Stephen yang sedang duduk bersandar
"Dapat di mana?" tanya Stephen dengan tatapan tajam
"Di tong sampah" jawab Anton dengan singkat
Prak...
Hentakan meja yang di lakukan oleh Stephdn
"Berani sekali foto ini bisa berada di dalam tong sampah, aku tidak peduli siapa orangnya jangan biarkan dia masuk ke ruangan ku lagi" bentak Stephen dengan kesal sambil berdiri
"Tuan, tenang saja. sudah ku beri peringatan pada orangnya" jawab Anton dengan menurut
"Foto ini satu-satunya kenangan Kelly, hanya ini saja yang ku miliki, aku gagal menyelamatkan hidupnya, jika tidak dia tidak akan menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan, seharusnya dia hidup bahagia di sisi ku, aku selalu berharap dia masih hidup dan aku ingin menjaganya dan memberi seluruh kasih sayang ku padanya tapi aku malah gagal" kata Stephen dengan rasa menyesal
"Tuan, kepergian nona membuat mu sangat kehilangan, dendam ini akan kita balas saat tiba waktunya" ujar Anton
"Tentu saja, aku tidak akan melepaskan orang yang menyakiti orang yang di sisi ku" ucap Stephen dengan penuh dendam
Setelah merasa di abaikan Cherry dengan rasa sedih berjalan sambil mengingat kembali semua ucapan Anton tadinya:
("Kau sangat beruntung karena foto ini tidak hilang, apakah kau tahu jika tuan sudah menyimpan foto ini selama belasan tahun, ini sangat penting baginya bahkan lebih berharga dari nyawa mu yang hanya sebagai pekerja di sini, lain kali jangan masuk ke ruang baca tuan lagi, jika ada kehilangan kau tidak bisa mengantinya, dan jangan lupa siapa diri mu di rumah ini kau hanya pembantu yang tidak ada beda dengan lainnya, walau kau adalah asisten pribadi tuan bukan berarti kau istimewa bagi tuan")
"Apakah aku harus tinggal di rumah itu lagi? atau pulang saja ke desa ku dan mulai lagi hidup di sana, lagi pula tidak ada gunanya lagi aku membalas Paolo Capilo, wajah istrinya sudah hancur dan Sonnia juga sudah mendapat balasan, walau aku sudah membuat Angela cacat di wajahnya hati ku tetap tidak senang, karena Mama juga tidak akan kembali lagi, di kota ini aku tidak ada tempat yang harus di tuju" batin Cherry dengan merasa sedih
"Betul kata Anton aku hanya pembantu yang tidak berharga sama sekali, aku sangat bodoh awalnya aku mengira jika Stephen memiliki perasaan terhadap ku ternyata dia hanya bercanda, di hatinya gadis di dalam foto itu yang istimewa baginya, aku terlalu banyak berpikir, untuk apa aku merasa sakit dan sedih karena aku memang tinggal di sisinya hanya sebagai pembantu" gumam Cherry
"Nona Cherry" suara panggilan seorang pria yang tiba-tiba muncul di hadapan Cherry
"Tuan Jhon" balas sapaan Cherry
__ADS_1
"Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini" ucap Jhon dengan senyum
"Tuan Jhon, tapi aku merasa ini bukan suatu kebetulan" kata Cherry yang sudah tahu niat Jhon
"Nona Cherry yang masih begitu muda sudah bisa memahami racun dan penawar ini sangat tidak mudah, apakah diri mu memiliki seorang guru?"
"Tidak ada, aku hanya tinggal di desa, dan hanya bergantung pada obat racikan sendiri di saat aku sakit"
"Nama ku di kenal sebagai peracun iblis, dan hari ini aku berharap kita bisa bertaruh"
"Bertaruh? apa yang harus kita taruhkan? dan atas dasar apa aku harus menerima tantangan mu?"
"Jika aku kalah maka aku akan pergi dari sini, jika aku menang maka diri mu akan mati, alasan kau harus menerima tantangan ku adalah untuk Stephen Chin, jika kau menolak maka aku tetap akan meracuninya dengan segala cara, tapi jika diri mu berhasil maka aku akan pergi dan tidak akan muncul lagi di kota ini" jawab Jhon dengan ingin menguji keahlian Cherry
"Jika aku menolak sama saja aku tidak bisa kabur juga, mau atau tidak aku tetap harus menerima tantangannya" batin Cherry
"Katakan apa mau mu" ucap Cherry
"Mudah saja, jika kita bisa bertahan hidup selama sebulan maka dia yang menang, jika tidak mampu menyingkirkan racun di dalam tubuh dan meninggal sebelum sebulan maka dia kalah" jelas Jhon
"Ini namanya racun melawan racun, racun siapa yang paling kuat maka dia akan mati duluan" ujar Cherry
Jhon dan Cherry saling menguji kehebatan masing-masing dengan mengunakan racun.
"Aku tidak yakin jika aku akan kalah Tuan Jhon" ucap Cherry dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Jhon
"Percaya diri memang sangat bagus, tapi jangan anggap remeh terhadap lawan" ucap Jhon dengan bersalaman dengan Cherry. tentu saja salaman mereka adalah saling meracuni melalui sentuhan
Mereka bersalaman selama beberapa menit
"Racun apa yang di gunakan? kenapa tubuh ku merasa panas dingin?" batin Cherry
"Aku mau melihat apakah dia mampu mengeluarkan racun ku sebelum sebulan, jika dia mampu mungkin saja di ada hubungan dengan orang itu, karena racun ini hanya dia yang tahu cara untuk menyingkirkannya" batin Jhon
Setelah beberapa menit kemudian mereka melepaskan salaman dan sama-sama saling berpaling dan berjalan ke arah lain.
"*Ini adalah racun yang sangat kuat, setelah 2 minggu racun ini akan mulai bekerja di dalam tubuh ku dan secara perlahan akan melukai organ-organ ku setelah 2 minggu kemudian aku akan mati karena racun ini menghancurkan organ ku" batin Cherry yang melihat telapak tangannya berubah menjadi hijau
__ADS_1
"Racun yang di gunakan gadis itu adalah racun apa? kenapa aku tidak bisa mengetahuinya? telapak tangan ku mulai sakit bahkan begitu cepat menyerang ke seluruh tangan kanan ku, tangan ku mulai berubah menjadi warna hitam*" batin Jhon dengan menahan sakit
Cherry berjalan sambil melamun karena dirinya tidak tahu mau ke arah mana, sepertu orang yang tidak memiliki tujuan
"Kemana aku harus pergi? jika aku ingin pergi aku juga harus pamit dengan Stephen, dan semua pakaian ku ada di sana, jika aku tidak pulang ke desa maka aku akan mati, lagi pula jika aku tidak pulang sini juga tidak ada tempat untuk ku" batin Cherry yang masih merasa kecewa
"Nona Cherry" suara panggilan Owen yang menghentikan mobilnya di depan Cherry
"Detektif Owen" ucap Cherry yang heran melihat pria itu mendatanginya
"Apa kita bisa makan siang sebentar?" tanya Owen yang turun dari mobil
"Makan siang? kenapa Anda tiba-tiba saja mengajak ku makan?"
"Bisa di katakan kita adalah teman juga, ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan, aku berharap nona bisa memberi ku waktu selama 30 menit saja" jawab Owen dengan sopan
"Ajakkan detektif sepertinya aku tidak bisa menolak" ucap Cherry yang sudah tahu niat pria itu
Cherry menerima ajakan Owen karena dia tahu jika dirinya menolak maka hanya akan menimbulkan kecurigaan Owen terhadap dirinya
Kediaman Chin
"Cherry, Cherry, suara panggilan Stephen yang baru turun dari lantai dua
"Tuan, ada apa? Nona tadi keluar dan belum pulang" tanya Chintia yang merasa cemas
"Cherry keluar? pergi ke mana?" tanya Stephen dengan heran
"Tidak tahu, dia ingin berjalan-jalan sebentar" jawab Chintia
"Apa sudah lama di keluar?" tanya Stephen yang berjalan ke arah ruangan tengahnya
"Sudah sekitar dua jam, tuan" jawab Chintia yang ikuti langkah Stephen
"Dua jam? itu sudah lama, apa dia baik-baik saja di jalan?" tanya Stephen dengan khawatir dan mengeluarkan Handphonenya dengan niat ingin menghubungi Cherry
"Tuan, nona tidak membawa handphonenya, dan tertinggal di dapur"
__ADS_1
"Kenapa dia bisa begitu lalai sehingga tidak membawa handphone" ujar Stephen yang khawatir