
Andre menyuruh Arafif, Brandon dan Efrain untuk keluar dari rumah. Emosi Andre yang sudah tidak bisa ia bendungan lagi, jadi dengan amarahnya yang sudah memuncak ia mengusir tiga orang tua. Sedangkan Arafif yang merasa bersalah pada putra angkatnya itu, tapi brandon merasa keheranan dengan sikap andre yang seperti itu. Karena Arafif yang merawat dan menjaga Andre sejak bayi jadi tahu semua tentang Andre, makanya Arafif langsung memahami jika putranya saat ini sedang emosi.
Saat semua pergi dari ruangan, andre menutup pintunya. Dengan sangat keras, terdiam di balik pintu lalu andre langsung pergi keruangan kamar monika disana hanya ada elisa yang menemani monika yang sedang bersedih.
Diluar rumah arafif, tiga pria lanjut usia itu hanya melamun kebinggungan. Kecuali Arafif yang merasa bersalah pada putranya, apa lagi dengan istrinya. Walau andre bukan putra kandungnya dengan monika, tapi andre begitu sangat menyayanginya. Hingga mau capek-capek berdebat dengan fakta kebenaran karena tak mau menyakiti hati monika, mamah yang telah merawat dan menjaga hingga ia merasakan arti kasih sayang seorag ibu.
BRANDON : Huffft! sulit sekali yah untuk menebak sikap anak itu, apa lagi membujuk Andre. Ternyata dia keras kepala juga seperti Rubia. Aaah! Tidak, sepertinya dia keras kepala melebihi Rubia. Dia terlihat seperti Daddy, benarkan Arafif.
Sedangkan Arafif yang sedang di ajak bicara malah sibuk dengan pikirannya, karena ia tidak bisa mempercayai akan sikap yang di tunjukan oleh andre saat ini, arafif baru menyadari yah.
ARAFAIF : Maaf, aku tidak bisa mengantarkan kalian sampai tujuan. Ada yang harus aku bicarakan dengan Andre, semuanya harus di luruskan.
Ucap arafif yang membuka pintu kembali dan masuk kedalam rumah lagi, tak menghiraukan ucapan dan teriakan dari brandon yang memanggil namanya.
BRANDON : Arafif, TUNGGU DULU...
Di dalam kamar andre bersimpuh di pangkuan monika sambil kedua tangan monika di genggam begitu sangat erat, mata andre yang berkaca-kaca menahan air matanya.
"Andre, Andre... Papahmu, bohongkan. Apa yang mereka katakan itu bohong kan?" ujar monika yang sudah tak kuat lagi, hingga nada suara monika terdengar begitu berat sekali.
"Mah, kenapa mama percaya akan kata-kata mereka. Mamah, mamah dengarkan aku. Andre tidak pernah berbohong sama mamah, mamah tahukan. Andre tidak bisa bohong sama mamah, jika andre bohong sama mamah. Mamah juga akan langsung tahu. Iyakan?" ujar andre yang meyakinkan monika akan ucapan semua orang itu salah walau itu adalah fakta kebenaran.
Monika hanya menganggukkan kepalanya, lalu terdiam sambil menatap manik-manik bola mata andre yang juga berkaca-kaca.
"Sekarang mamah tenangkan pikiran dan mamah tenangkan diri dahulu. Tarik nafas, lalu buang pelan-pelan, lalu tarik lagi dan buang. Apakah mamah sudah agak tenang sekarang?" ujar andre yang menanyakan kembali keadaan mamahnya.
Hanya sebuah anggukan kepala sebagai jawaban dari monika, karena suaranya begitu sangat berat untuk mengucapkan, sepatah-duapatah untuk di bicarakan dengan andre, Monika hanya diam.
"Sekarang maukan dengariin ucapan andre. Dengarkan baik-baik yah, apapun yang orang lain katakan entah itu papah atau keluarga terdekat mamah, sekalipun itu elisa. Ingat yah mamah jangan dengarkan. Mamah mengertikan, cukup mamah dengarkan apa yang andre katakan saja. Andre anak mamah. Cukup hanya itu saja, jadi mamah harus yakin itu" ujar andre yang menyakinkan monika, seraya mencium tangan monika bergantian, tangisan monika tidak berhenti-henti.
__ADS_1
Monika agak tenang saat putranya yang mengatakan hal itu. Mata Andre juga menandakan adanya ketenangan untuk menyakinkan Monika.
"Sayang, ambilkan air minum" ucap Andre yang menyuruh Elisa keluar untuk ambil air minum, Andre bangkit dari tempatnya berjalan menuju laci untuk mencari obat milik Monika.
"Iya mas" ucap Elisa yang langsung pergi saat di suruh Andre.
Tak lama Elisa kembali lagi ke kamar memberikan segelas air putih. Monika sudah bersandar diding ranjang, seraya Andre yang ada di sampingnya.
"Mas ini airnya" ucap Elisa memberikan segelas air putih.
"Iya, terimakasih. Mah, minum obat dulu yah" ucap Andre yang menyodorkan obatnya.
Monika langsung menurut dengan apa yang di katakan oleh Andre ia langsung meminum obatnya.
"Sekarang mamah istirahat yah, udah malem. Mamah udah makan malam belum?" tanya Andre yang ingin tahu, karena andre pulang lewat jam makan malam.
"Tadi sudah makan malam dengan papah dan yang lainnya, besok lagi saja ya andre makan kita bertiga saja. Mamah gak mau makan bersama papah mu, mamah hanya mau makan dengan kalian saja, besok mamah ingin ke rumah Bu siti" ucap Monika yang nada masih berat.
"Kerang saos tiram, dan steak daging merah" ucap Monika seraya manja sekali pada putranya.
"Baiklah, nanti Andre buatkan yang spesial buat mamah. Sekarang mamah tidur yah" ucap Andre yang meluruskan tubuh Monika dan menaikan selimut.
"Sayang kalau kamu sudah ngantuk mendingan kamu naik saja duluan. Aku akan di sini dulu menemani mamah," ucap Andre yang melihat Elisa udah ngantuk berat.
"Tapi mas—" Elisa tidak mau meninggal suaminya sendirian saat sedang masalah seperti ini.
"Elisa!" Andre menekan nada suaranya menjadi berat, agar Elisa faham dengan apa yang di maksud oleh Andre.
"Baiklah" Elisa langsung keluar dari dalam kamar Monika.
__ADS_1
Setelah Elisa keluar dari dalam kamar Monika, Andre menidurkan Monika dulu sesekali nafas Monika agak berat karena menangis. Tak lama setelah Monika tidur, Andre keluar dari kamar tersebut saat di lihat Monika sudah lelap.
Terlihat Arafif berdiri di belakang Andre saat Andre dengan hati-hati menutup pintunya, dengan wajah murung dan penuh dengan penyesalan.
"Andre," panggilan yang khas dengan suara yang lemah.
"Ada apa?" tanya Andre, tapi tak mau melihat wajah Arafif.
"Maafkan aku, tapi..." ucapan Arafif yang terpotong.
"Jika ingin bicara besok saja, mood Andre hari ini gak baik. Satu hal lagi, malam ini papah nggak usah tidur dengan mamah dulu, papah di kamar samping saja. Besok kita bicarakan lagi, ingat jangan bahas-bahas masalah yang melibatkan soal anak atau lainnya yang menyakiti hati mamah. Andre capek, mau tidur. Good night!" Ucap Andre seraya langsung pergi tanpa melihat Arafif yang wajahnya penuh rasa bersalah.
Melihat Elisa yang mondar-mandir di dalam kamarnya saat Andre masuk Elisa juga masih sibuk dengan pikiran yah, seraya mengigit ujung kukunya.
"Kenapa kamu belum tidur, cepat cuci muka dan kakimu" ujar Andre saat masuk ke dalam kamarnya.
"Mamah gimana?" tanya Elisa langsung lari mendekat kearah Andre.
"Sudah tidur kok. Aku mau mandi dulu, besok aku mau mengantar mamah ke rumah ibu, kamu mau ikut?" ucap Andre yang mengambil handuk.
"Emang jadi kerumah ibunya?" tanya elisa yang penuh dengan pertanyaan.
"Iya terus gimana lagi, mamah mau kesana" ucap Andre yang langsung masuk kamar mandi, tanpa kata.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Senin 18 JULI 2022.